
"Pulanglah jika kalian tidak ingin mati," ucap wanita itu pada Duncan Lewis.
Suaranya terdengar lembut. Tapi, kalimat ancaman yang diiringi dengan nada dingin dari suaranya, membuat Duncan dan semua pengawalnya terdiam, bahkan membuat beberapa dari mereka gemetar ketakutan.
Saat Duncan sadar bahwa apa yang baru saja ia lakukan bisa membuatnya malu di hadapan para pengawalnya, Duncan buru-buru menegakkan tubuhnya, walaupun ia masih sedikit gemetar.
Duncan mengatur nafas dan detak jantungnya yang memburu gelisah dengan cepat, saat adrenalinnya terpacu oleh kengerian yang baru dirasakannya.
Setelah beberapa detik berlalu, Duncan berdehem, lalu berbicara pada wanita berekspresi dingin itu.
"Ehm... K-kau..."
Tapi, Duncan tiba-tiba kehilangan kata-katanya.
Ia hendak mengancam wanita itu. Tapi ia sadar bahwa ia telah kehilangan nyali saat tatapan mereka saling bertemu kembali.
Duncan tahu, itu adalah tatapan seorang pemangsa. Tatapan yang mirip seperti seorang pembunuh liar berdarah dingin dari guild nya, The Destroyer.
Tanpa berani melanjutkan kalimatnya lagi, Duncan akhirnya menatap kembali pada Alvin, bermaksud hendak mengancamnya.
"Kau..."
"Kau akan mati jika berani mengganggunya lagi," ucap wanita itu, sebelum Duncan sempat mengeluarkan kalimat ancaman.
Mendengar ancaman mengerikan itu, tubuh Duncan gemetar. Dia tahu, apa yang wanita itu katakan bukan hanya sebuah ancaman kosong. Aura membunuh dan energi sihir mengerikan yang ia rasa menekan dirinya, mendukung ancaman tersebut.
Duncan yang merasakan sesak nafas akhirnya berbalik dan pergi dengan langkah lebar, sambil memendam kemarahan yang amat sangat di hatinya.
Setelah kepergian Duncan, wanita cantik itu akhirnya menoleh lagi pada Alvin.
Melihat tatapan dingin mematikan dari wanita itu, Alvin dengan refleks mundur menjauhkan tubuhnya sampai ia hampir jatuh terbalik dari kursinya.
Sigh...
"Kau takut padaku?"
"..."
"Tsk... Kau bahkan tidak mengenalku, kan? Ini sangat memalukan."
Setelah mengucapkan dua kalimat tersebut, wanita itu akhirnya berdiri dan pergi meninggalkan Alvin, yang baru bisa bernafas lega saat aura menekan yang sejak tadi dirasakannya seakan hendak menelan dirinya, menghilang bersama kepergian wanita bertubuh ramping itu.
"Astaga... S-siapa dia?" ucap Alvin, sembari menggosok-gosok kedua lengannya yang merinding. Ia merasa kedinginan hanya dengan bertatapan mata dengan wanita beraura pembunuh itu.
["Kau menyedihkan. Kau tidak tahu siapa dia?"]
Alvin menggelengkan kepalanya. Ia masih syok. Kedua kakinya bahkan gemetar.
"Gila. Itukah pancaran sihir dari hunter peringkat SSS?"
Tapi, tak lama kemudian, Alvin tiba-tiba mengingat wanita itu.
"Ah... Y-ya... Aku ingat dia..."
["Tsk... Sudah terlambat. Harusnya kau menyapanya sejak tadi."]
"Hah? Haruskah aku menyapanya?"
["Huh? Kenapa tidak?"]
"Dia cuma orang yang kulihat di dalam mini market yang mengambil minuman kaleng di lemari pendingin sebelum aku."
["... Aku ingin meracunimu."]
"Ya?"
"A-apa? Rimi?"
Dihadapan Alvin, tiba-tiba muncul sebuah layar transparan yang menampilkan foto wanita tadi.
Alvin tentu saja terkejut saat foto wanita cantik itu tiba-tiba muncul dihadapannya.
__ADS_1
"H-hei... Kenapa kalian... I-ini seperti penguntit..."
Alvin hendak protes. Tapi ia kemudian terdiam saat tampilan foto di hadapannya berubah.
Di bagian bawah foto, ada usia wanita itu yang juga berubah-ubah mengikuti perubahan wajahnya yang semakin muda, semakin lebih muda, sampai akhirnya berhenti saat informasi usia pada foto berada di usia 7 tahun.
Mengenali wajah gadis berusia 7 tahun itu, Alvin tiba-tiba berdiri dari kursinya, hingga membuat kursi yang tadi didudukinya terbalik.
"Cyntia?!"
["Tsk... Kau sampai harus melihat semua profil wajahnya dulu baru bisa mengingatnya?"]
"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak tadi?"
["Itu bukan tugasku. Dan lagi, aku sudah memberitahumu."]
"Apa? Kapan kau memberitahuku?"
["Aku memberitahu bahwa dia sangat berbahaya. Ingat? Itu tugas Sistem Pemburu."]
"..."
["Ada yang salah?"]
"K-kau benar. Tapi, kenapa ekspresinya menyeramkan seperti itu? Bukankah dia dulu sangat manis...?"
["Manis?"]
"... Y-ya..."
Dug dug... Dug dug... Dug dug...
["H-hei... Ada apa denganmu? Suara detak jantungmu semakin nyaring. Ini sangat mengganggu."]
......................
Alvin langsung berlari mengejar ke arah dimana Cyntia pergi.
Sayangnya ia sudah kehilangan jejak wanita cantik itu.
Mina tertawa.
["Astaga. Kau putus asa? Kau bahkan tidak seputus asa ini saat disiksa lich."]
"Tsk... Apa yang kau tahu?"
Alvin akhirnya berjalan dengan langkah gontai, pergi menuju rumahnya.
Setelah ia berada di sekitar komplek rumahnya, ia mendengar suara seorang wanita memanggilnya.
"Alvin?"
Alvin berbalik, lalu menatap wanita yang berdiri diam di bawah cahaya lampu itu dengan tatapan dingin.
Wanita itu berlari kecil menghampirinya. Ekspresinya terlihat sedih saat akhirnya bertemu kembali dengan teman masa kecil yang sudah selama dua bulan belakangan ini tidak ia ketahui keberadaannya.
"Sudah lama ya..."
Alvin hanya diam, menatap wajah sedih Shiva Kania yang sepertinya ingin menangis saat bertemu pandang dengannya.
Karena Alvin tak kunjung merespon ucapannya, Shiva akhirnya kembali berbicara.
"Bagaimana kabarmu?"
"Bagaimana kelihatannya?"
Shiva mundur beberapa langkah. Ia kemudian memerhatikan Alvin dari ujung kaki, sampai kembali ke wajahnya sebelum akhirnya tersenyum lembut.
"Kau sepertinya baik-baik saja, kan?"
"Tentu."
Shiva mengernyitkan kedua alisnya, saat mendapat jawaban yang singkat dan dingin itu.
__ADS_1
"Ada apa denganmu? Kenapa kau sangat dingin?"
Alvin tersenyum sinis.
"Tanyakan pada dirimu sendiri."
"Alvin?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Selamat malam."
Alvin akhirnya berbalik dan pergi dengan langkah lebar meninggalkan Shiva. Tapi, Shiva langsung menyusul dan berjalan disampingnya.
"Alvin!"
"Pergilah."
"Ada apa denganmu? Kenapa kau..."
"Aku seorang buronan Asosiasi. Kau lupa?" ucap Alvin, sembari menunjuk ke atas.
Shiva terdiam. Ia menghentikan langkah kakinya lalu mendongak, menatap ke arah kamera CCTV yang berada di sepanjang jalan komplek perumahan itu.
'Brengsek...!'
Shiva mendengus pelan, berusaha menekan kekesalan di hatinya sebelum ia hendak mengejar Alvin lagi. Namun, Alvin sudah menghilang dari hadapannya.
.........
"Gila, skor kesukaannya pada ku nol?! Duncan saja masih memiliki skor satu!" umpat Alvin, setelah ia melarikan diri dari Shiva. "Apa pertemanan kami selama ini hanya sandiwara? Bagaimana bisa dia membuat ekspresi seperti itu saat memiliki skor kesukaaan nol?"
["Apa kau pernah menyakiti hatinya? Dia sangat membencimu."]
"Kau lupa? Dia yang dulu..."
Alvin menghentikan kalimatnya, saat ia ingat Mina tidak mengetahui apa yang terjadi antara dia dan Shiva. Saat kejadian itu, Bimi masih menjadi Sistem Pemburu yang menemaninya.
["Hnnn?"]
"Tidak apa-apa."
Alvin menghentikan langkah kakinya, saat melihat ada puluhan hunter berdiri di depan rumahnya.
Awalnya ia ragu untuk menghampiri kerumunan itu. Ada lumayan banyak hunter peringkat A dan B yang harus ia bunuh jika mereka adalah hunter-hunter kiriman keluarga Lewis. Tapi, ia akhirnya merasa lega saat melihat Erfhina berlari keluar dari kerumunan.
"Syukurlah. Mereka dari keluarga Maxwell, kan? Ku kira aku harus membunuh banyak orang di depan rumahku."
["Kau ingin membunuh manusia?"]
"Jika mereka orang-orang suruhan keluarga Lewis, kenapa tidak?"
Erfhina langsung menghampiri Alvin. Ia memegang kedua pangkal lengan Alvin, sambil memeriksa kondisinya.
"Kau tidak apa-apa? Apa kau tidak bertemu Duncan Lewis?"
"Aku tidak apa-apa."
"Jangan pergi sendirian lagi. Untung saja kau tidak bertemu dengannya. Dia sedang mencarimu."
"Aku tahu itu."
"Ya?"
"Sebenarnya aku bertemu dengannya."
"A-apa?!"
Semua hunter langsung pergi menghampiri Alvin saat mereka mendengar pembicaraan itu.
......................
Cyntia langsung berbalik pergi meninggalkan tempat itu saat melihat Erfhina dan banyak hunter peringkat tinggi sudah berada disekitar Alvin.
Ia tadi mengikuti Alvin secara diam-diam menuju rumahnya. Khawatir jika Duncan datang dan mengejar Alvin setelah kepergiannya.
__ADS_1
...****************...