
"Apa yang kau katakan? Darimana kau tahu itu?" Cyntia akhirnya bertanya setelah bisa menguasai dirinya dari rasa terkejut.
"Seseorang memberitahukannya padaku," sahut Alvin.
"Siapa?"
Alvin memikirkan bagaimana cara memberitahu bahwa Mina lah yang sebenarnya memberitahu hal itu padanya.
["Jangan katakan apa yang kau pikirkan!"]
"Hantu itu," sahut Alvin pada Cyntia.
"Ya?"
"..."
["Kau f**k!"]
"Dia..., tahu darimana?" tanya Cyntia penasaran. Ia memang selalu memercayai Alvin. Tapi, untuk hal seserius ini, dia harus memastikan bahwa apa yang Alvin katakan adalah hal benar.
"Dia bisa bergentayangan berkeliling dunia."
["Kau bodoh! Orang sepintar dia tidak akan..."]
"Begitu... Pantas saja," sahut Cyntia sambil mengangguk-angguk pelan.
["F**k!"]
Mereka diam beberapa saat, larut dalam pikiran masing-masing sembari memerhatikan riak air yang mengalir di permukaan sungai.
"Apa kau akan mendatanginya ke Kota A?" tanya Cyntia setelah mereka diam selama beberapa menit.
"Ya. Tapi tidak untuk saat ini."
"Kalau begitu aku akan ikut denganmu."
"Ya?"
"Aku akan membantumu."
"Sebaiknya kau tinggal di Kota S saja untuk sementara waktu. Kau sudah tahu Asosiasi Pusat pasti akan mengirimkan hunter baru sebagai pengganti Norman Lewis, kan?"
Cyntia mengangguk. "Lalu, apa masalahnya?"
"Sebagai salah satu keluarga terpandang di sini, tolong bantu suarakan agar hal itu tidak terjadi. Ayo kita lindungi kota kita dari penjahat baru yang akan menggantikan Norman Lewis. Minta pemilihan umum saja seperti yang biasa Kota S lakukan dan menunjuk salah satu hunter Kota S sebagai ketua baru. Kurasa paman Arthur adalah yang paling cocok."
"Kurasa ayah tidak akan mau. Paman Alan juga."
"Kenapa?"
"Mereka cuma ingin melindungi keluarga dan rekan-rekan bisnis tanpa mau ikut campur dengan urusan politik para hunter lebih dalam."
"Begitu... Sayang sekali."
"Tapi..., apa kau tidak memikirkannya lebih matang dulu? Jika kau sampai membuat masalah dengan Asosiasi Pusat, tidak akan ada yang bisa menutupi apa yang kau lakukan. Asosiasi Dunia akan memburumu."
"Jangan khawatir. Aku tidak akan seceroboh itu. Aku sudah memiliki rencana untuk itu."
Cyntia hanya terdiam dan terpaksa mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kalau begitu..., tolong beritahu aku jika kau sudah ingin pergi, ok?"
"Tentu."
...****************...
Li Wen Xia, ketua Asosiasi Hunter Asia Tenggara tertawa terkekeh setelah melihat video citra satelit bagaimana Alvin masuk ke dalam gerbang benteng keluarga Lewis.
Walaupun ia tidak memiliki rekaman tentang apa yang terjadi di dalam kastil, karena CCTV bagian dalam kastil tidak terkoneksi dengan satelit, video itu saja sudah cukup untuk membuktikan siapa pelaku pembunuhan pada keluarga Lewis.
"Dia malah membantu kita menyingkirkan ketua Asosiasi pembangkang itu," ucap Wen Xia yang kemudian tersenyum riang.
Norman Lewis selama ini membuatnya sedikit terganggu karena pria paruh baya itu tidak pernah mau tunduk di bawah kakinya.
"Menurutmu, apa dia ini entitas lain selain kita?" tanya Wen Xia, pada pria tampan yang menonton rekaman itu bersamanya.
"Tidak mungkin. Dan lagi, walaupun dugaanmu benar, dia bukanlah lawan yang bisa mengganggu kita. Kau bisa mengalahkannya dengan mudah, kan?" ucap Brian McLoren.
Brian adalah orang terdekat Li Wen Xia. Seorang pengusaha kaya raya berwarga negara Inggris yang menjalankan bisnis dari hasil raid dengan jaringan pemasaran sangat luas.
Li Wen Xia menyipitkan kedua matanya, mengingat kembali aura energi sihir mengerikan yang saat itu ia rasakan saat berada di dalam Dungeon sebelum energi Mana itu lenyap entah kemana.
"Tapi..., waktu itu aku sempat merasakan sebuah kekuatan sihir yang sangat besar sebelum akhirnya lenyap entah kemana."
Brian mengernyitkan keningnya. "Apakah dia sengaja menyimpan kekuatannya?"
"Aku juga curiga begitu."
"Kenapa kau tidak membunuhnya saja?"
Li Wen Xia menggelengkan kepalanya. "Si brengsek itu tidak mengizinkanku melakukannya," sahut Wen Xia dengan sedikit menggeram, mengingat bagaimana makhluk bertubuh gelap itu mencegahnya. "Dia malah meminta kita untuk memberikan pulau itu untuk tempatnya bermain-main."
Brian mendengus kesal. Jika makhluk itu mengatakan seperti apa yang Li Wen Xia katakan, mau tak mau mereka harus merelakan satu pulau itu padanya.
Saat mereka masih berbicara, asisten pribadi Li Wen Xia masuk.
"Nyonya Li, coba Anda lihat ini," ucap sang asisten sembari menunjukkan video di tabletnya."
"Apa ini?"
"Ini Dungeon Break di Kota C."
Li Wen Xia menerima tablet dari asisten pribadinya lalu menyaksikan video itu.
Di sana ia melihat seseorang berkostum beruang sedang menghabisi monster-monster high orc yang keluar dari sebuah gerbang Dungeon Break dengan sangat mudah hanya menggunakan sebatang stand hanger.
"Apa-apaan ini?" gumam Wen Xia.
Brian juga heran dengan apa yang ia juga ikut saksikan.
"Apa hunter-hunter di Asia Tenggara sudah sekuat ini?"
Saat mereka masih membicarakan video itu, sekretaris Asosiasi masuk.
"Nyonya Li, pria bertopeng itu sudah datang," ucap sekretaris dari dekat pintu tanpa berani mendekat setelah melihat Brian juga berada di ruangan itu.
"Benarkah?" Li Wen Xia langsung berdiri dari sofa. Raut wajah kusamnya berubah 180°. Ia kini nampak ceria. "Akhirnya ada kabar menyenangkan juga. Dimana dia?"
"Saya memintanya menunggu di tempat rahasia."
__ADS_1
"Baiklah," sahut Wen Xia. Ia kemudian menoleh pada Brian, "Ayo kita ke sana. Ini akan sangat menarik."
"Apa lagi permainan yang sedang kau lakukan?" tanya Brian dengan menatap curiga.
"Ayo ikut saja. Kita mungkin tidak bisa membuka gerbang di Kota S, tapi kita bisa bermain-main dengan Kota S melaluinya," sahut Wen Xia dengan senyum licik.
...****************...
Alvin hendak mengambil quest level 101 setelah ia kembali ke kamarnya di kastil, sehabis berbicara dengan Cyntia. Tapi, Jack tiba-tiba saja menelepon hingga ia harus menunda untuk mengambil quest tersebut.
"Ya?"
《"Bro...,"》Jack terdengar ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
Alvin menghela nafas panjang. Bisa menebak apa yang kira-kira ingin Jack katakan padanya.
'Pasti prihal pemanggilanku ke Asosiasi, kan?'
"Ada apa? Katakan saja."
《"Begini. Apa kau sudah menyaksikan berita Dungeon Break di Kota C?"》
"Ya? Tidak..., aku belum menyaksikannya." Alvin tentu belum melihat berita yang Jack maksud. Ia tidak mau repot-repot mengikuti berita dari sebuah kota yang berada di luar pulau.
《"Begini. Ada Dungeon Break yang terjadi pada sebuah gudang penyimpanan di Kota C."》
"Hah? Apa bisa terjadi yang seperti itu juga? Bukannya monster-monsternya harusnya sudah diatasi?"
《"Sudah. Tentu saja sudah. Tapi, monster-monster itu tiba-tiba saja bermunculan kembali dan keluar dari Dungeon."》
'Apakah di masa depan monster-monster Dungeon bisa respawn?'
["Tidak."]
'...'
《"Bro?"》
"Ya. Jadi, apa yang ingin kau katakan? Tidak mungkin kau cuma ingin memberitahuku tentang hal itu saja, kan?"
《"Ya. Sebenarnya..., bisakah kau menutup gerbang gudangmu yang berada di Kota T?"》
Alvin terdiam. Masih ada banyak mayat monster peringkat E dan D yang ia taruh di sana.
《"Hunter dari Asosiasi Kota T akan membantumu untuk menyimpan barang-barangmu di gudang Asosiasi untuk sementara waktu. Para warga meminta tuan Brown untuk menutup gerbangnya."》
"Baiklah kalau begitu," sahut Alvin.
《"Terima kasih. Aku akan menghubungi tuan Brown sekarang."》
Setelah Jack memutuskan sambungan telepon, Alvin buru-buru memeriksa berita yang Jack maksud.
Alvin mengira Jack menghubunginya untuk meminta bantuan agar ia bisa membantu Kota C. Tapi, saat ia melihat berita itu, ia cukup terkejut.
Alvin menatap video di ponselnya dengan kening berkerut, melihat sosok berkostum beruang mengamuk menghabisi pasukan high orc hanya dengan sebatang besi gantungan mantel.
"Siapa dia ini? Apa hunter-hunter masa depan juga mengirimkan Sistem lain selain kau dan Rimi?"
["Aku tidak tahu. Tapi seharusnya tidak ada lagi selain kami."]
__ADS_1
"Lalu, siapa dia ini? Dia sangat brutal."
......................