Hunter System

Hunter System
Bab 219 - Rencana Mina


__ADS_3

Hanya dalam waktu kurang dari 10 menit, kerumunan warga akhirnya bubar. Mereka pulang dengan membawa boks kayu bersama senyum sumringah di wajah.


Tapi, boks kayu yang sebelumnya memenuhi jalan setapak di depan rumah Mina, masih saja bertumpuk di halaman dan teras rumahnya.


Mina akhirnya berbalik.


"Anda tidak mengambil juga?" tanya Mina pada pria yang sejak tadi menyaksikan pembagian boks ransum dari belakang Alvin.


Wang Liu Gong segera menggelengkan kepala. "Saya ada dapat beberapa dari hadiah," sahutnya kemudian.


"Kalau begitu apa Anda memiliki sebuah urusan dengan saya? Saya memerhatikan Anda sudah membuntuti kami sejak kami memasuki gerbang desa."


Sambil menunduk dan tertawa canggung, Liu Gong menggaruk-garuk kepalanya. "Apa Anda lupa pada saya?" tanyanya.


Mina menyipitkan kedua matanya, menatap Wang Liu Gong sembari mengingat-ingat memori lamanya, kalau-kalau dia pernah melihat Liu Gong juga seperti Miyuki yang pasti mengenalnya di kehidupan ketujuh.


"Maaf saya tidak mengingat Anda."


Alvin melihat kekecewaan tampak pada sorot mata Liu Gong.


"Saya Wang Liu Gong, instruktur di Akademi Hunter, teman Anna," ucapnya memperkenalkan diri.


Mina mengangguk pelan. "Maaf jika saya lupa."


"Oh... Tidak..., tidak apa-apa..."


Pria itu beralih pada Alvin.


"Anda mungkin sudah tahu jika saya mengikuti kalian sejak tadi. Tapi tolong jangan salah paham. Saya hanya ingin menanyakan kabar Anna dan Gina."


Alvin menyahutinya dengan ramah, "Tidak masalah."


"Saya hanya mengenalnya secara tidak sengaja, tapi saya bukan sedang menguntitnya. Jadi Anda tidak perlu khawatir."


Alvin melirik Mina, ia tidak terlalu yakin pada maksud di balik kata-kata pria itu.


"Kami bukan pasangan seperti yang Anda kira," sahut Mina. "Dia kakakku," tambahnya.


......................


Mina mengambil salah satu boks kayu lalu membawanya ke dalam rumah, membuka isinya dan membagi roti dan daging di dalam boks itu pada Alvin yang ia tahu tidak suka makan terlalu banyak.


Alvin mengambil makanan dari tangan Mina lalu memerhatikan roti di tangan kiri dan daging kering di tangan kanannya.


Ia kemudian melihat Mina menyantap roti dan daging kering itu dengan lahap tanpa bersuara sama sekali.


"Kenapa kau melihatku begitu?"


"Caramu makan juga sangat senyap. Padahal roti dan daging ini keras. Apa kau juga berlatih untuk makan tanpa bersuara?"


"Coba makan saja."


Alvin mengangguk pelan lalu menyantap makanannya.


Berbeda dari rasanya yang keras saat dipegang, tekstur roti dan daging itu sangat lembut ketika digigit dan sudah dikunyahnya. Terlebih, rasanya juga sangat enak.


"Wow..."


Mina tertawa.


"Berlatih makan tanpa bersuara? Pemikiran macam apa itu?"

__ADS_1


Alvin akhirnya menyadari jika orang seperti mereka berdua tidak perlu mengkhawatirkan hal remeh seperti itu.


Mereka tidak perlu bersembunyi dari para monster apalagi makan sambil sembunyi-sembunyi seperti yang pernah Rimi ceritakan tentang kehidupan para hunter di masa depannya.


Alvin akhirnya tertawa canggung dan melanjutkan makannya.


"Jadi aku sekarang kakakmu?" goda Alvin.


Ia sedikit kaget saat Mina mengatakan bahwa dia adalah kakaknya pada Wang Liu Gong, yang tak lain adalah saudara sepupu dari Wang Zhu Ming, yang juga tewas bersama hunter ternama itu.


"Dia tidak akan langsung pergi jika aku tidak mengatakannya begitu. Dia pasti akan memberikan waktu pada dua bersaudara malang yang dikiranya baru meninggal, kan?"


"Dan pasti akan kembali lagi besok," sahut Alvin.


"Terserah. Yang pasti, kita tidak akan kembali dalam waktu dekat."


Mina kemudian menatap roti dan daging kering lezat di tangannya. "Aku tidak menyangka rasanya akan seenak ini. Mengingatkanku pada masakan..."


"Hm...?"


"Tidak. Tidak apa-apa."


Mina menghabisian makanannya dengan cepat lalu pergi keluar dan mengambil beberapa boks makanan lalu pergi ke rumah yang berada di seberang jalan rumahnya.


Alvin mengintip dari jendela, melihat Mina memberikan boks-boks makanan itu pada Ronald Stewart yang secara kebetulan tinggal berseberangan rumah dengannya dan tadi tidak mengambil boks ransum pembagian darinya.


.........


"Berbagi makanan dengan tetangga?"


"Gina selalu memasakkan makanan enak untukku dan Rimi. Dia tidak bisa lagi memasakkan makanan untuk ayahnya karena ayahnya juga sudah meninggal sejak lama di kehidupan kami."


Alvin terdiam saat Mina masih sedang berbicara.


"Rimi... Kenapa kita tidak melihatnya? Tidak mungkin kan dia masuk desa orang jahat? Atau jangan-jangan..."


"Rimi sangat baik semasa hidupnya. Tidak mungkin dia masuk desa lain. Aku juga sudah memikirkannya sejak tadi."


"Apa ada desa untuk orang yang jauh lebih baik lagi?"


"Tidak ada desa dengan penduduk yang jauh lebih baik dibandingkan desa ini. Ku rasa karena Rimi sudah mati di kehidupanku dan hidup kembali saat dewi Lyn mengulang kehidupan,"


"Berbeda dengan mereka, aku pergi meninggalkan tubuhku menggunakan sihir dan tersesat ke kehidupan baru saat dewi Lyn kebetulan mengulang kehidupan. Sedangkan Rimi, aku cuma mengambil ingatan dan inti Mananya saja."


"Ku rasa itu memang alasannya."


"Tapi... Ada satu hal yang tidak kumengerti."


"Apa itu?"


"Saudara kembar Rimi tidak ada disini."


"Rimi punya saudara kembar?"


"Dia punya saudara kembar laki-laki."


"Hah? Kenapa dia tidak pernah menceritakannya?"


"Rimi meminta padaku untuk menghapus memori tentang adiknya. Dia tidak ingin tugasnya terganggu karena mengkhawatirkan adiknya."


"Begitu... Bisa saja adiknya masih hidup, kan?"

__ADS_1


Mina menggeleng.


"Adiknya sudah mati. Kau ingat video konferensi pers perusahaan 9 AM yang pernah kita tonton?"


"Konferensi yang membahas tentang malaikat jatuh untuk pertama kali, kan?"


Mina mengangguk, "Adik Rimi tewas dalam serangan pertama itu."


"Begitu..."


Alvin menundukkan kepala dan menghela napas panjang. Ia ingat Rimi juga tidak bereaksi apa pun pada saat itu.


"Sayang sekali...," ucap Mina pelan.


"Jadi...," Alvin mengangkat kepalanya kembali, "Kau ingat cerita Anna tentang kehidupan yang telah dewi Lyn ulang sebanyak 7 kali, kan?"


Alvin melanjutkan setelah Mina mengangguk, "Apa kau mendapatkan petunjuk tentang kehidupan yang bertumpang tindih? Misalnya, seseorang sudah meninggal di kehidupan pertama sampai keenam. Bagaimana saat dewi Lyn mengulang kehidupan? Apa mereka menghilang dari sini dan kembali ke Bumi?"


"Sepertinya begitu. Hal itu tidak dituliskan dalam visi yang kuterima. Mungkin mereka yang ada di sini mengetahuinya saat teman-teman mereka tiba-tiba menghilang."


"Ku rasa memang begitu. Aku juga berpikir akan ada makhluk yang bertumpang tindih karena kehidupan telah terulang sebanyak enam kali jika mereka tidak diambil lagi dari kehidupan ini untuk kembali ke Bumi."


Mina tiba-tiba tersenyum, "Kita akan menemukan jawabannya saat aku sudah menyelesaikan beberapa quest," sahut Mina dengan yakin.


"Benarkah?"


"Lihat saja nanti."


"Bisa kau beritahukan sekarang saja?"


"Tsk... Rencanaku mungkin akan terbongkar jika aku mengatakannya sekarang."


......................


Mina mengajak Alvin untuk pergi meninggalkan desa di pagi hari.


Mereka akan pergi menjalankan semua quest yang Mina ambil dari petugas menara.


"Apa tidak masalah meninggalkan semua boks makanan ini di sini? Kita bisa memindahkan semuanya ke dalam selama kita pergi."


"Mencuri ransum orang lain akan langsung dikirim ke neraka."


Glup...


"Begitu..."


Mina mendengus, sembari menatap Bulan besar di langit. Bulan itu akan terlihat berwarna abu-abu di pagi sampai sore hari. Api neraka akan padam selama waktu itu.


Selama masa penghakiman belum tiba, api neraka hanya akan menyala membakar 'Bulan' dan penduduknya dalam 12 jam saja.


"Ayo pergi. Perjalanan kita sangat panjang. Kita harus menyelesaikan semua quest atau aku akan dihukum."


"Ya."


"Ingat, biarkan aku yang mengerjakan semua questnya."


Alvin tertawa.


"Tentu, jangan khawatir. Quest tidak akan dianggap selesai jika bukan kau yang melakukannya sendiri, kan?"


"Kau akhir-akhir ini sudah bertambah pintar."

__ADS_1


"Tsk... Kau meremehkanku."


...****************...


__ADS_2