Hunter System

Hunter System
Bab 58 - Sepatu Pemburu


__ADS_3

...



Bagian 4 : Perlengkapan Pemburu...


...☆ ☆ ☆...


"Bro, apa tidak masalah kalau mereka mengambil fotomu?" tanya Jack sesaat setelah ia dan Alvin keluar dari gerbang Dungeon. Ia baru sadar bahwa Alvin adalah seorang buronan dari Asosiasi kota lain.


Tapi, ia terkejut saat melihat Alvin sudah lenyap dari sebelahnya padahal mereka tadi masih berjalan berdampingan.


"Kemana dia pergi?" gumam Jack setelah ia kembali masuk kedalam gerbang untuk memeriksa apakah Alvin kembali kedalam, tapi Alvin ternyata tidak berada di dalam Dungeon.


"Dimana dia?" tanya Ivory setengah berbisik. Ia langsung menghampiri Jack saat mengiranya akan keluar bersama Alvin.


"Dia...," Jack menatap Ivory dengan bingung. "Dia menghilang."


"Huh?"


"S-saya tidak yakin..., nona Cruz."


"Yah..., baguslah kalau dia tidak keluar dulu."


"Ya?"


"Dia buronan, kan? Lihat mereka." Ucap Ivory sembari menoleh puluhan kamera yang terus menyorot ke arah gerbang.


Pada saat itu juga, para jurnalis berusaha menerobos pagar hidup dari anggota militer, tepat saat Lex menjawab pertanyaan salah satu wartawan yang menanyakan apakah Jack Paul yang sebenarnya menghabisi para monster itu.


"Apakah sebenarnya tuan Paul yang mengatasi Dungeonnya, tuan Brown? Apakah dia selama ini menyembunyikan kekuatannya?"


"Ya... Sebenarnya dia menyembunyikan kekuatannya." Sahut Lex sembari menatap Jack dengan tersenyum penuh arti.


Di seberang sana, Jack menatap bos nya dengan wajah linglung.


'Saya tahu Anda sedang ingin melindunginya agar dia bisa tinggal di kota kita dengan aman, tuan Brown. Tapi kenapa harus saya?'


'Karena hanya kau satu-satunya hunter Asosiasi di antara mereka. Jadi harus ada yang menjadi seorang pahlawan. Tidak mungkin aku, kan?'


Seperti itulah pembicaraan kedua hunter Asosiasi itu. Walaupun mereka tidak bisa berbicara dengan menggunakan telepati tapi, dari tatapan mata saja, mereka sudah bisa saling mengerti.


Para jurnalis awalnya mencurigai pria yang datang dengan penampilan lusuh dan berwajah pucat itu sebagai hunter yang telah membantu Kota T mengatasi Dungeon peringkat A. Tapi, Robbie Cale yang tahu jika Asosiasi Kota S akan mengejar Alvin, langsung membantahnya juga.


"Tidak. Dia sebenarnya hanya masuk kedalam gerbang untuk menjaga perbekalan kami." Sahut Robbie.


"Tapi, dimana hunter itu?" tanya wartawan.


"Kami memintanya untuk menjaga mayat monster," sahut Robbie lagi sambil tersenyum kaku.


Pada saat itulah Lex menegaskan bahwa Jack Paul lah yang sebenarnya membantu mereka semua.


.........


"Kenapa kau melindunginya?" bisik Revi yang tampak tidak suka dengan ucapan Robbie.


Robbie hanya tersenyum tipis, tidak menggubris pertanyaan itu. Ia kemudian pergi meninggalkan Revi yang kini menatapnya dengan marah.


"Sialan. Dia pasti ingin merekrutnya!" umpat Revi yang kemudian langsung menghubungi sekretaris guildnya untuk mencari informasi mengenai Alvin, juga untuk menemuinya secara pribadi.


"Hei, ingat. Kau harus bisa merekrutnya berapapun bayaran yang ia minta!" perintah Revi dengan sangat tegas pada sekretarisnya.


Sebagai seorang hunter kuat, dia tentu tahu jika Alvin jauh lebih kuat darinya.


Ia tidak mau Ribbie atau Ivory mendapatkan tanda tangannya lebih dulu karena dengan demikian posisi guild akan menjadi terbalik.


......................


Sesaat sebelum keluar dari gerbang, Alvin menggunakan stealth, skill yang baru ia dapatkan, untuk menghindari para awak media yang pasti akan menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan.


Selain itu, televisi lokal sedang melakukan siaran langsung hingga akan sangat berbahaya jika wajahnya tersorot kamera para awak media. Ia masih tidak ingin berurusan dengan keluarga Lewis yang pasti akan langsung mencarinya ke Kota T jika tahu dia berada di kota tersebut.


Untungnya, kemunculannya sebelum masuk ke gerbang Dungeon membuat semua awak media kaget karena penampilannya hingga mereka lupa untuk mengambil foto dirinya. Dengan demikian, Alvin masih bisa menyembunyikan diri dari keluarga Lewis.

__ADS_1


......................


"Alvin?!" seru Vina yang sangat cemas dengan tidak adanya kabar dari adiknya itu.


Ia langsung berdiri dari sofa dan berlari menghampiri Alvin, saat melihat adiknya itu muncul dari balik pintu.


Sebenarnya, Vina sangat ingin mengomeli Alvin. Tapi saat melihat penampilan adiknya yang sangat kacau balau, ia mengurungkan niatnya.


"Kau... Apa kau terluka?"


"Tidak. Aku baik-baik saja," sahut Alvin sambil menatap tubuhnya juga, yang dibaluti oleh pakaian yang sudah sangat hancur.


Akibat level serangan monster yang lebih tinggi dari ketahanan armornya, ia mengalami cukup banyak luka saat bertarung melawan bos Dungeon. Armor yang berstatus jauh lebih rendah dari daya serang lawan itu memang bisa mengurangi dampak energi sihir dari serangan, namun tidak bisa menahan agar senjata lawan tidak menembus sampai ke tubuhnya.


Vina langsung mengangkat pakaian Alvin untuk memeriksa tubuhnya sampai memutarinya juga. Ia baru lega saat melihat Alvin tidak terluka sama sekali.


"Syukurlah kalau kau tidak terluka."


"Aku seorang Healer. Apa kau lupa?"


"Y-ya... Tapi tetap saja kau terluka parah sebalum kau menyembuhkannya, kan? Itu pasti sangat sakit," ucap Vina sambil menarik pakaian Alvin, mengencangkannya untuk melihat bekas belati yang berada di bagian perut.


"Lumayan. Tapi aku sudah terbiasa. Jadi jangan khawatir."


"Tapi, kau darimana saja? Jack menghubungiku sampai puluhan kali untuk menanyakan keberadaanmu."


Alvin tidak menjawabnya. Ia berjalan melewati Vina dan menatap ke arah televisi yang sedang menayangkan berita tentang raid yang baru ia selesaikan.


"Mereka berhasil mengalahkan monsternya. Syukurlah. Aku sangat cemas karena hari ini akan terjadi Dungeon Break jika tidak berhasil diatasi," ucap Vina, sambil menatap televisi dari tempatnya berdiri.


"Ya. Aku tahu," sahut Alvin pelan. Ia kemudian berbalik untuk pergi menuju ke kamarnya.


Vina mengerutkan keningnya. "Kau sudah tahu? Apa kau sebenarnya dari Dungeon itu juga?"


"Ya."


"A-apa?! Tapi...," Vina tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia ingat Alvin sudah mengatakan bahwa dia akan membantu hunter-hunter kota ini.


Alvin menghentikan langkah kakinya dan berbalik untuk menatap Vina lagi.


"Jack?"


"Ya. Mereka mengatakan bahwa dia yang paling berkontribusi dalam raid."


"Siapa yang mengatakannya?"


"Ketua Asosiasi. Tuan Brown."


Alvin tersenyum tipis.


'Mereka ingin melindungiku.'


"Apa itu tidak benar?"


"Tidak. Itu benar. Dia sangat kuat."


"Begitu...," gumam Vina. "Kau mandilah dulu. Aku akan memasakkan makan malam untukmu nanti."


Vina kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi kembali menuju sofa untuk melanjutkan menonton siaran berita.


Tapi, Alvin sempat melihat ada sedikit perubahan pada wajah kakaknya yang memerah sesaat sebelum ia berbalik tadi.


'Kenapa wajahnya tampak bodoh seperti itu?'


["Kaulah yang bodoh."]


'Hah? Kenapa kau tiba-tiba berbicara padaku?'


["Karena kau bodoh. Kau perlu seseorang untuk membantumu berpikir agar tidak tersesat!"]


'Ya. Terserah.'


["Hei, ada apa denganmu?"]

__ADS_1


'Aku tidak akan menang berdebat denganmu.'


["Siapa yang mengajakmu berdebat?"]


'...'


......................


Setelah mandi, Alvin akhirnya membuka kembali statusnya untuk melihat perkembangan yang sudah didapatkannya.


"Level 76. Apa aku sekarang sejajar dengan seorang hunter peringkat A?"


["Ya."]


Alvin mengangguk-angguk pelan. Ia memerhatikan semua kenaikan status dasarnya sebelum menutup jendela status itu untuk membuka hadiah yang ia dapatkan setelah menyelesaikan quest level 61.


Dia punya sebuah hadiah tersembunyi yang belum sempat dibukanya karena terburu-buru pergi untuk membantu hunter-hunter Kota T.


...°•°•°•°•°•°•°...


...Item Name : Hunter Boots...


...Rarity : Infinite...


...Item Level : 1/5...


...Function : Increase speed by 5 times top speed...


...•°•°•°•°•°•°•...


"Sepatu? Tapi kelangkaannya tidak terbatas? Apa maksudnya?"


["Item ini sangat langka. Ini adalah item terbaik yang hanya ada satu di alam semesta."]


Alvin cukup bangga saat mengetahui item yang dimilikinya ini hanya ada satu. Tapi saat Sistem mengatakan 3 kata terakhir, ia hampir tertawa.


"Darimana kau tahu bahwa item ini hanya ada satu di alam semesta?"


["Karena aku dari masa depan."]


"Ok...," Alvin mengangguk pelan. Itu adalah kalimat andalan yang Sistem selalu ucapkan, yang membuatnya selalu terbungkam.


'Aku juga akan percaya kalau kau mengatakan bebek akan musnah di masa depan.'


["Mereka masih ada di masa depan."]


"..."


Alvin kemudian mengambil item yang baru muncul di dalam jendela inventory nya itu.


"Astaga! Bagaimana aku memakai benda ini? Ini sangat berat. Bagaimana juga kecepatan ku akan bertambah lima kali lipat dengan memasang besi ini di kakiku?"


["Tsk... Pakailah dulu sebelum kau melakukan protes."]


Alvin memasangkan sepatu itu di kakinya. Lalu, ia mendengar notifikasi dari Rimi.



Setelah Rimi memberi notifikasi, rasa berat sepatu besi berwarna keemasan itu menghilang. Alvin bahkan tidak merasa seperti menggunakan sesuatu di kakinya. Sepatu itu kini bahkan lebih ringan daripada sehelai bulu.


"W-wow... Bagaimana bisa sepatu ini tiba-tiba seperti tak berasa di kakiku?"


["Setelah pemiliknya teridentifikasi, sepatu itu sepenuhnya telah menyatu dengan tubuhmu."]


"A-apa?! Jadi aku tidak bisa melepasnya?"


["Itu hanya kata-kata kiasan. Maksudnya, hanya kau yang bisa menggunakannya. Kau bisa melepasnya kapan saja. Tapi sebaiknya kau selalu mengenakannya."]


"Bagaimana mungkin aku selalu memakainya? Bagaimana jika aku mandi dan tidur?"


["Aktifkan jendela status Hunters Equipment."]


Setelah Sistem mengucapkan kalimat itu, dihadapan Alvin muncul status dari item yang membuat Alvin terbelalak.

__ADS_1


__ADS_2