Hunter System

Hunter System
Bab 142 - Makhluk Purba


__ADS_3

Titik hitam di langit akhirnya mengembang. Bersamaan dengan itu, awan hitam bermunculan di sekitar titik hitam, yang kini sudah berwujud gerbang hitam, yang masih terus saja mengembang hingga akhirnya berhenti saat diameternya sudah mencapai 100 meter.


Alvin mengira hunter-hunter itu, yang baru saja berhasil membunuh raja goblin, akan tercengang dan terdiam saja menyaksikan gerbang besar di atas kepala mereka dan gemetar ketakutan saat merasakan gelombang dari aura energi sihir yang berasal dari gerbang.


Ia tidak menyangka bahwa mereka dengan sigap dan sangat rapi sudah langsung melarikan diri menuju gerbang untuk segera keluar dari Dungeon.


'Apa hal seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya? Mereka seperti sudah tahu dan langsung lari tanpa terpana karena terkejut dan penasaran.'


["Ku rasa mereka sepertinya sudah tahu. Ada banyak jejak pertempuran di sini. Mungkin ada hunter kuat yang sebelumnya membunuh monster-monster berlevel sama yang sebentar lagi akan keluar dari gerbang."]


'Jadi sudah ada pertempuran sebelumnya... Tapi kenapa hunter itu pergi meninggalkan Dungeon ini padahal masih banyak monster di atas sana?'


["Dia sepertinya tidak menyadari jika lawan belum habis sepenuhnya dan meninggalkan goblin yang sangat lemah pada mereka."]


Alvin mengusap-usap dagunya. Saat masih berada di luar gerbang tadi ia merasakan adanya gerbang sihir dan energi Mana dari monster-monster lain berkekuatan besar di tempat yang agak jauh. Ia menebak, hunter kuat itu pasti pergi kesana.


Ia kemudian mendongak menatap gerbang raksasa di langit, di mana makhluk-makhluk purba sudah mulai bermunculan dari balik gerbang hitam yang berada di tengah awan kelabu.


'Dinosaurus?!'


["Sama seperti lich. Mereka diciptakan dari DNA."]


'Tapi, energi Mana nya sangat aneh.'


["Kau tidak bisa menyerap inti Mana mereka.']


'Ya, aku bisa merasakannya. Mereka seperti tidak memiliki raga.'


["Mereka cuma terbentuk dari energi sihir. Tubuh dan inti Mana mereka akan menguap begitu kau membunuhnya."]


'Aku mengerti.'


Alvin juga dapat merasakan energi tarikan kuat dari awan kelabu yang kini sudah mengembang hingga hampir memenuhi seluruh area Dungeon, menarik energi dari tanah, menciptakan petir berkilauan yang menyambar-nyambar dan menyasar para hunter.


'Armor dan helmnya sudah selesai?'


["Ambil di jendela inventory."]


Alvin mengambil jubah hitam dan sebuah topeng kulit dari dalam jendela inventory yang Mina buat untuk penyamaran agar identitas Alvin tidak diketahui hunter-hunter Kota C.


'Ini mirip seperti milik hair dryer.'


["Pakai saja. Itu yang paling mudah dan cepat dibuat."]


Setelah mengenakan jubah dan topengnya, Alvin pergi menuju tim raid yang kini sudah dikejar oleh ribuan Raptor dan ratusan Ty-Rex yang baru saja mendarat di tanah setelah mereka keluar dari lubang hitam raksasa di langit.


Bukan hanya itu, ratusan Pterodactyl yang beterbangan memenuhi langit Dungeon di bawah awan kelabu juga mulai menghampiri mereka.


Di daratan, seorang gadis remaja berusia 18 tahun, yang bertugas sebagai kapten tim, tampak sibuk menghalau puluhan Raptor yang menyerang rekan-rekannya yang terjatuh saat sedang melarikan diri.


Walaupun energi sihirnya tidak bisa menghalau sekuruh makhluk purba yang rata-rata memiliki energi Mana setara dengan hunter peringkat A dan S itu, namun Alvin sangat takjub dengan teknik berpedangnya yang sangat baik.

__ADS_1


'Remaja yang hebat. Sepertinya dia akan bisa bertahan.'


["Teknik bertarungnya bahkan sangat jauh di atasmu saat aku pertama kali bertemu denganmu."]


'Kau membandingkanku saat itu dengannya yang sudah berperingkat S?'


["...Nah, biarkan saja mereka. Ayo kita pergi ke dekat gerbang dan cegah Pterodactyl itu keluar dari gerbang."]


'...Ya.'


.........


Lucy Logan menjadi satu-satunya hunter yang bertugas untuk menghalau monster-monster yang membuntuti tim raid, karena dia adalah satu dari 3 hunter yang sejak awal memang belum bertarung sama sekali.


Bersama dua wakil kapten, Ren dan Yola, yang juga seusia dengannya, Lucy memang menyimpan energi Mana untuk berjaga apabila ada kondisi darurat terjadi. Sialnya, mereka benar-benar mengalami keadaan darurat itu sekarang.


"Cepat lari, tidak usah membantuku!" seru Lucy saat melihat hunter-hunter yang baru saja bangun dari tanah sudah mulai membantunya menghadapi ratusan Raptor yang menerjang mereka dengan sangat brutal.


"Tapi ketua..., mereka sangat berbahaya!"


"Aku akan pergi juga setelah kalian pergi! Jangan khawatir!"


Hunter-hunter itu akhirnya berbalik dan pergi menyusul rekan-rekan mereka yang sudah berada jauh dan di kejar puluhan Pterodactyl dari udara.


Lucy memang bisa menghalau Raptor, tapi tidak dengan Ty-Rex yang memiliki level jauh di atasnya. Ty-Rex yang memiliki kekuatan setara dengan hunter peringkat S itu mulai mendesak Lucy dengan sangat ganas.


Jika bukan karena teknik berpedangnya yang sangat baik, Lucy pasti sudah mati sejak tadi. Gadis remaja itu bergerak dengan sangat efisien melompat dari satu kepala Raptor ke kepala Raptor lainnya untuk menghindari amukan Ty-Rex.


Lucy tahu, dengan kekuatan mereka yang sama, sihirnya tidak akan bisa langsung membunuh Ty-Rex yang sebenarnya lebih mengancam. Karena itulah ia lebih memilih untuk menyerang Raptor saja.


Tapi, lama kelamaan, Lucy mulai kelelahan juga. Akibatnya, kelincahannya mulai menurun drastis dan ia kini hanya bisa bertahan dari serangan Ty-Rex saja.


Untungnya Ren dan Yola datang membantu.


"Kenapa kalian kembali?"


"Mereka semua sudah keluar gerbang bersama tuan Liu," sahut Yola.


"Apa?! Mereka bisa keluar secepat itu?!"


Lucy menatap ke arah gerbang yang sebenarnya ia tidak tahu dimana letaknya karena tidak sedang melihat alat penunjuk arah. Jadi, dia menatap ke sekitar area Dungeon saja untuk memastikan tidak ada anggota timnya lagi disana.


"Ada seorang hunter kuat yang datang membantu," ucap Ren, sembari menghalau Raptor dengan bilah-bilah es nya.


"Siapa?"


"Tidak tahu. Dia memakai topeng dan jubah panjang."


"Ayo kita pergi dulu. Dia meminta kami untuk menjemputmu sementara dia menjaga di depan gerbang," ucap Yola dengan setengah berteriak.


"Baiklah."

__ADS_1


Ketiga hunter yang baru saja naik ke peringkat S itu mulai mencoba membuka jalan untuk keluar dari kepungan monster-monster purba.


Dengan teknik bertempur yang sangat baik dan sudah terlatih, ketiga remaja berusia 18 tahun itu berhasil keluar dari kepungan tanpa membutuhkan banyak waktu.


Setelah mereka berhasil keluar dari kepungan itu, mereka mulai berlari tanpa menghiraukan makhluk-makhluk purba yang berusaha mengejar mereka.


Tapi, saat mereka sudah hampir mencapai gerbang, mereka juga mulai mendapatkan serangan udara dari gerombolan Pterodactyl yang sejak tadi hanya bisa terbang mengitari area gerbang setelah mereka tidak bisa menembus pertahanan Alvin.


Saat mereka sudah mulai kewalahan, sosok berjubah hitam muncul di dekat mereka dan menghalau ribuan makhluk purba itu bahkan menewaskan mereka semua hanya dengan satu serangan saja.


"The Art of Killing, part 2... Hunter Daggers."


Setelah Alvin mengaktifkan skillnya, ratusan belati tiba-tiba bermunculan dari sekitar tubuhnya.


Ratusan belati yang terbentuk dari energi Mana yang berpendar di sekujur tubuh Alvin itu kemudian beterbangan menyasar semua makhluk purba yang berada dalam radius 50 meter dengan dia sebagai pusatnya.


Dengan jarak yang cukup, belati-belati sihir yang beterbangan itu juga berhasil mencegah makhluk-makhluk purba yang sedang terbang dan berlarian menuju gerbang untuk keluar dari Dungeon.


"Tetap berada di dekatku," pinta Alvin pada 3 hunter yang melongo melihat skill aneh yang baru saja digunakannya.


Untuk pertama kalinya, mereka melihat sebuah sihir yang bisa mengikuti kemanapun monster pergi dan memenggal kepala mereka tanpa pernah meleset sekalipun.


Hanya dalam hitungan detik saja, seluruh makhluk purba yang berada di sana tewas tak bersisa.


.........


"Apa Anda hunter bantuan dari Asosiasi Pusat, tuan?" tanya Lucy dengan sopan setelah semua monster itu tewas dan tubuh mereka mengepul menjadi asap hitam lalu menghilang.


Walau penampilan Alvin yang sedang mengenakan topeng kulit dan jubah hitam panjang sedikit mencurigakan, Lucy tahu bahwa pria itu sepertinya berada di pihak mereka.


"Aku tidak dikirimkan dari manapun," sahut Alvin.


Alvin menatap Lucy dengan seksama, mengingat wajah seseorang yang sangat mirip dengannya.


'Dia mirip Nathan Logan.'


Apa kau memiliki hubungan dengan Nathan dan Gary Logan?" tanya Alvin padanya.


Ia melihat mata bulat gadis itu melebar saat ia menyebutkan nama dua hunter Asosiasi Kota S yang menjadi kaptennya saat mereka mengalami kecelakaan raid dulu.


"Anda mengenal kakak-kakak saya?"


Alvin tersenyum pahit dari balik topengnya.


"Saya tidak terlalu mengenal mereka."


"B-begitu," Lucy tertunduk. Alvin dapat melihat kepalan di kedua tangan gadis itu mengeras.


"Kakak-kakakmu adalah hunter yang baik dan bertanggung jawab," ucap Alvin lagi dan ucapannya itu membuat Lucy mendongak dan menatapnya lagi dengan ekspresi terkejut.


.........

__ADS_1


__ADS_2