
"Apa ini nyata?"
["Ya."]
"Tapi..., kenapa warnanya abu-abu?"
["Karena mereka belum aktif. Semua status itu akan aktif saat kau sudah memiliki satu set dari perlengkapan hunter ini."]
"B-begitu...," gumam Alvin sembari menatap semua status yang berada di layar transparan dihadapannya.
Skill yang akan ia dapatkan tidak banyak. Tapi pasti akan sangat luar biasa jika pada akhirnya nanti dapat diaktifkannya semua. Hanya membayangkan jika semua status itu aktif, dia tidak tahu apa akan ada hunter yang bisa menandinginya di dunia ini?
.........
Alvin juga melihat ada tombol untuk pilihan menghilangkan dan menampilkan wujud item yang sedang ia kenakan itu pada layar. Saat Alvin memilih untuk menghilangkan, ia tidak melihat sepatu itu berada di kakinya lagi. Saat ia pilih tampilkan, wujud sepatu kembali terlihat.
'Jadi ini maksudnya..., karena sepatu ini tidak bisa kurasakan sedang menempel di kakiku, jadi aku tinggal menghilangkannya saja.'
Alvin akhirnya memilih untuk tetap mengenakan sepatu itu, tapi tidak menampilkan wujudnya.
'Lagian akan aneh dilihat orang jika aku memakai sepatu norak berwarna emas kemana-mana...'
["Itu tidak norak. Itu keren."]
"Itu menurutmu."
["Seleramu yang buruk."]
"Diamlah dan berhenti membaca pikiran yang kupikirkan untuk diriku sendiri. Kau mengganggu privasiku."
["Pikiranmu itu menggangguku."]
"Kenapa kau menyalahkanku? Kenapa kau tidak menutup telingamu saja?"
["..."]
"Ngomong-ngomong..., dimana aku bisa mendapatkan sisa perlengkapannya?"
["Dari quest level 71, 81, 91 dan 101"]
"101? Sampai mana batas level ku?"
["Jalani dan nikmati saja."]
"Hei..., tidak bolehkan aku mengetahuinya? Aku yang menjalankannya."
["Sudah kukatakan, nikmati saja perjalanan indahmu selagi kau bisa. Kau akan merindukan masa-masa tenang ini suatu saat nanti."]
"Tenang katamu? Aku sudah hampir mati beberapa kali!"
["Karena itu, teruslah berlatih. Terutama quest harian dan pengontrolan energi Mana. Sudahlah. Aku ingin menyatukan dua belati milik si wanita gila dan high orc supaya kau bisa memiliki belati yang jauh lebih baik untuk digunakan pada quest level 71."]
"Menurutmu, kapan sebaiknya aku mengambil quest level 71 nya? Bukankah aku sekarang sudah berada di level 76?"
["Sebaiknya saat kau sudah berada di level 78. Jangan lebih dari itu. Saat kau mengalami kenaikan level sebelum quest itu selesai, kau akan kehilangan rewardnya."]
"Baiklah..."
Alvin menghabiskan sisa hari itu untuk menyelesaikan semua quest harian yang telah menumpuk. Untungnya dia tidak dikenakan hukuman karena Rimi tahu ia sedang berada dalam quest lain.
Ia juga berusaha untuk mengejar ketertinggalan waktu dalam quest mingguan dan bulanannya setelah berada terlalu lama didalam quest level 61.
......................
Esok harinya, saat masih jam 1 dini hari, Alvin sudah berangkat menuju Asosiasi untuk memenuhi janjinya, sekalian melakukan quest jogging.
Kali ini ia berlari sejauh 81 kilometer untuk memenuhi target jogging harian yang telah meningkat sampai 27 kilometer perhari karena kenaikan levelnya.
__ADS_1
Walaupun untuk seorang hunter jarak itu sebenarnya agak jauh dan sedikit menyiksa juga, dengan stamina dan recovery point dari Sistem, Alvin dapat melaluinya dengan tanpa kelelahan.
Selama ia tidak berlari dengan bantuan energi sihir, karena tujuan quest adalah untuk membentuk fisiknya, itu tidak masalah.
Sebenarnya, selain untuk melakukan quest jogging, Alvin memilih berlari menuju Asosiasi dengan memutar lebih jauh, juga untuk memeriksa dua hal yang sejak malam sebelumnya agak mengganggu pikirannya.
Ia memutar agak jauh sampai tiba di sebuah kawasan rumah elit, juga ke daerah perkantoran yang ada di pusat kota, hanya untuk memeriksa dua lokasi tempat dimana bakal gerbang dua Dungeon peringkat A berada.
.........
Alvin baru tiba di tempat tujuannya tepat pukul 9 pagi. Saat seorang petugas keamanan di gedung Asosiasi baru saja membuka pintu utama gedung untuk hunter umum yang memiliki urusan di Asosiasi.
Pria paruh baya itu terkejut saat melihat Alvin yang berambut gondrong dan penuh dengan peluh di wajah tiba-tiba berdiri dihadapannya dengan tatapan yang menakutkan.
"Astaga! Kaget aku!"
"Oh, maaf."
"S-siapa? Apa Anda salah satu pegawai?"
"Bukan. Saya ada keperluan dengan ketua Asosiasi."
"Keperluan dengan ketua? Apa Anda sudah membuat janji?"
"Ya."
"Siapa nama Anda?"
"Alvin. Alvin Rufino."
Pria paruh baya itu mengangguk pelan lalu memanggil salah satu rekannya yang lebih muda untuk melaporkan hal itu pada seorang resepsionis. Tapi, Alvin tidak diizinkannya untuk masuk ke lobi karena ia tampak tidak berniat untuk menunjukkan tanda pengenalnya.
"Tapi... Apakah Anda memintanya untuk mengecek di daftar janji bertemu?" tanya Alvin.
"Ya."
"Apa Anda seorang hunter, tuan?" tanya pria paruh baya itu lagi.
Alvin mengangguk pelan. Ia tidak merasakan adanya energi sihir pada pria paruh baya itu, jadi ia bisa mengerti kenapa pria itu menanyainya demikian. Jika dia seorang hunter juga, dia pasti akan langsung tahu kalau dirinya adalah seorang hunter.
Tak lama kemudian, rekan pria paruh baya itu kembali lalu mempersilahkan Alvin untuk pergi mengikutinya.
"Tuan, tolong ikuti saya."
"Apa? Apa Anda sudah menghubungi tuan Brown?"
"Nama Anda ada di daftar pertama janji temu dengan ketua."
Alvin agak kaget.
'Apa Jack yang mendaftarkannya?'
"Apa tuan Brown sudah datang?" tanya Alvin lagi, mengingat ia tadi melihat mereka baru saja membuka pintu utama.
"Ya, tuan. Tuan Brown sudah berada di ruangannya sejak dua jam lalu. Silahkan ikuti saya. Saya akan mengantarkan Anda."
"Baiklah. Terima kasih."
Saat Alvin memasuki lobi, ia melihat semua hunter yang berada disana langsung menatap dirinya dan menundukkan kepala mereka sedikit untuk memberikan salam padanya.
Mendapat perlakuan yang sangat sopan seperti itu justru membuat Alvin yang selama hidupnya selalu diabaikan, malah menjadi salah tingkah.
["Tegakkan tubuhmu lalu balas sapaan mereka dengan cara serupa. Berikan juga senyuman ramah."]
'Apa aku harus melakukannya?'
["Tentu saja. Jadilah hunter hebat yang bermartabat. Tidak... Tidak... Jangan tersenyum seperti itu. Astaga... Senyumanmu sangat jelek!"]
__ADS_1
'Darimana kau tahu? Bukankah kau berada di dalam kepalaku? Bagaimana kau bisa melihat senyumanku?'
["..."]
'Hei... Apa kau sebenarnya tidak berada di dalam kepalaku?'
["Kau akan tahu suatu saat nanti."]
'Kau selalu menghindar dengan cara seperti itu. Kuharap umurku panjang sampai aku bisa mengetahuinya.'
["Kau akan berumur panjang. Kau memiliki banyak nyawa. Kau lupa?"]
'...'
......................
Alvin langsung disambut hangat oleh Lex dan Jack, yang langsung datang ke ruang ketua Asosiasi saat tahu Alvin sudah datang.
"Anda sudah datang, tuan Rufino... Silahkan duduk...," ucap Lex, yang langsung berdiri dari kursinya untuk menyambut Alvin.
Pria paruh baya itu kemudian mengarahkan Alvin sendiri ke sofa yang berada di pojok ruangan dan mereka bertiga duduk dengan nyaman disana.
Sementara ketiganya sedang membuka sebuah pembicaraan ringan, seorang wanita masuk kedalam ruangan untuk membawakan dokumen-dokumen kontrak yang akan mereka tanda tangani bersama, lalu meletakkan dokumen itu di atas meja, dihadapan ketiga hunter itu.
"Apa Anda habis berolahraga?"
"Ya. Kebetulan sekali saya terbiasa melakukan lari pagi jadi sekalian saja saya kesini."
"Kau berlari dari tempat tinggalmu kesini?" tanya Jack penasaran.
"Ya."
"Kau berlari sejauh 30 kilometer?!"
"Sebenarnya 81 kilometer. Aku tadi sempat berkeliling sambil menunggu matahari naik."
"Kau gila. Untung saja kau memiliki energi Mana. Jika tidak, besok kau sudah pasti tidak akan bisa bangun."
"Aku melakukannya setiap hari. Jadi tidak akan ada masalah seperti itu."
Lex dan Jack saling bertatapan tak percaya.
"Luar biasa. Anda sangat disiplin. Jarang sekali ada hunter sekuat Anda yang masih mau melakukan latihan fisik," puji Lex dengan sungguh-sungguh.
"... Itu hanya rutinitas biasa," sahut Alvin sambil tersenyum canggung. Ia sebenarnya tidak akan melakukannya juga jika tidak ada hukuman yang akan diterimanya dari Rimi.
Pernah satu hari dia mencoba untuk tidak melakukan quest harian hanya untuk tahu hukuman seperti apa yang akan diterimanya.
Ia mengira akan dikirimkan ke sebuah Dungeon untuk melawan monster-monster. Tapi, hukuman yang diterimanya sama sekali jauh dari yang ia bayangkan.
Saat itu, selama seharian penuh, tubuhnya menjadi sangat berat bahkan hampir tidak bisa digerakkan. Untuk pergi ke toilet pun dia tidak bisa. Sampai akhirnya, selama seharian itu, ia harus buang air kecil dan buang air besar di atas ranjangnya, hingga Vina mengira adiknya itu terkena stroke.
Setelah hari itu, Alvin berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah melewatkan quest hariannya lagi.
.........
Setelah menandatangani kontrak dan penerimaan reward dari ZC group, Alvin masih berada di ruangan ketua itu selama satu jam lagi.
Banyak hal yang ketua Asosiasi ceritakan padanya mengenai keadaan di Kota T, juga ada beberapa hal yang Alvin beritahukan mengenai dua gerbang peringkat A yang akan muncul secara bersamaan dalam beberapa hari kedepan.
Hal itu tentu saja membuat Lex dan Jack terkejut, terutama saat mereka tahu dimana dua lokasi bakal munculnya gerbang.
Setelah semua urusan dan pembicaraan dengan ketua Asosiasi selesai, Alvin dan Jack akhirnya pergi ke gerbang Dungeon untuk mengecek keadaan disana sekalian Alvin juga meminta Raymond dan anak buahnya datang untuk mengangkut mayat-mayat monster juga menambang semua kristal sihirnya.
Pada saat itu, salah satu orang kepercayaan dari ZC group kebetulan datang untuk mencari tahu kapan gerbang itu akan ditutup. Karena dengan adanya gerbang itu, sudah 10 hari ini ZC group tidak nyaman dalam menjalankan bisnis mereka.
......................
__ADS_1