Hunter System

Hunter System
Bab 212 - Tempat Semua Makhluk Ciptaan Berakhir


__ADS_3

"Wang Zhu Ming dan Ronald Stewart," ucap Alvin dalam hatinya, menatap dua hunter terkenal yang juga berasal dari negara yang sama dengannya.


Jauh sebelum nama Anna Lloyd, Miyuki Nakano dan Gina Stewart melambung, Wang Zhu Ming adalah hunter peringkat S yang sangat ternama di Asia Tenggara.


Hunter muda itu terkenal karena sifat ksatrianya yang sering membantu kota kecil untuk mengatasi Dungeon peringkat A bahkan tanpa meminta bayaran seperti hunter peringkat tinggi pada umumnya.


Ia juga tidak memonopoli hasil raid sama sekali walaupun dialah yang menutup Dungeonnya.


Begitu pula dengan Ronald Stewart. Seorang ketua Asosiasi Hunter Kota C yang terkenal lurus, berwibawa dan bijaksana dalam memimpin Kota C hingga sangat jarang terjadi Dungeon Break di sana.


Sayangnya mereka harus tewas akibat kelicikan Chris Meyers, yang dikenal sebagai Chris Maxwell di Kota S.


Pria itu menjebak Zhu Ming dan Ronald di saat mereka sedang menyelidiki keberadaan pasukan lich di pelabuhan Kota C.


Wang Zhu Ming, Ronald Stewart, dan beberapa hunter lain tewas di saat yang bersamaan. Alvin pernah membaca berita tentang kejadian naas yang terjadi di Kota C itu.


Anehnya, ia bertemu dengan kedua hunter, yang seharusnya sudah tewas, tersebut di tempat ini.


.........


Alvin juga memerhatikan beberapa orang yang duduk di dekat Zhu Ming.


Walaupun tidak mengingat nama mereka, namun ia yakin jika beberapa orang itu adalah hunter-hunter yang tewas bersama Zhu Ming di saat yang bersamaan. Hal itulah yang membuatnya heran.


'Kenapa hunter-hunter yang sudah tewas itu ada di sini?'


......................


Sementara Alvin memerhatikan hunter-hunter yang duduk dengan tanpa semangat di pojok ruangan, Mina terlihat sibuk mengikuti apa yang sedang makhluk-makhluk kuat di menara itu diskusikan.


Karena tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan, Alvin pun memerhatikan situasi di dalam ruangan menara setelah mengamati Zhu Ming dan rekan-rekannya.


Di dalam ruangan itu ada banyak benda menyerupai papan pengumuman.


Dari tiap papan pengumuman, ia juga melihat ada banyak lembaran-lembaran tertempel dengan tulisan yang juga tidak dapat ia mengerti.


'Seperti papan pengumuman sayembara.'


Saat ia menggeser pandangannya, ia melihat ada sebuah mini bar. Sosok elf cantik tampak melayani pelanggan yang terdiri dari makhluk dari berbagai macam jenis ras yang sedang memesan minuman.


Di sisi lain, ia melihat beberapa makhluk yang tampak sedang berjudi menggunakan dadu dan berkumpul mengelilingi sebuah meja perjudian.


'Apa ini sejenis sarang penyamun atau cuma tempat hiburan?'


.........

__ADS_1


Alvin menoleh pada Mina yang tiba-tiba menarik lengannya.


"Ikuti aku," ucap Mina yang kemudian menariknya, berjalan pergi keluar dari pintu gerbang menara.


Tanpa bicara apa pun, Mina terus menuntun Alvin pergi menjauhi menara sampai akhirnya tiba di depan sebuah rumah sederhana yang tadi, saat dalam perjalanan menuju menara, diperhatikan Mina cukup lama.


"Kita masuk dulu," ajak Mina yang langsung berjalan menghampiri pintu rumah tanpa menunggu tanggapan Alvin.


"Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Alvin penasaran. "Apa kita sedang menyusup ke rumah seseorang?"


Mina meletakkan tangannya di gagang pintu. Alvin bisa merasakan aura energi sihir samar yang tiba-tiba saja meluap dan menguap dari pintu tersebut, seolah-olah ada sihir penyegel pintu yang baru saja Mina buka.


Mina kemudian masuk, memerhatikan sekeliling ruangan beberapa saat, lalu duduk di ranjang kayu yang menjadi satu-satunya perabotan di ruangan tersebut.


Ruangan itu tidak terlalu besar, juga tidak terlalu sempit.


Sama seperti bentuknya yang terlihat dari luar, tempat itu seperti sebuah kamar studio yang hanya berukuran 5x5 meter.


"Apa yang kita lakukan disini?" tanya Alvin lagi.


"Menunggu malam tiba," sahut Mina.


"Ya?"


"Kemarilah," pinta Mina sembari menepuk tempat kosong di sebelahnya.


"Kau tidak memikirkan hal aneh, kan?" tanya Mina dengan nada datar.


"Ku kira kau lah yang memikirkan hal aneh itu."


"Kau bodoh."


"...Baiklah kalau begitu."


Alvin akhirnya pergi menghampiri Mina dan duduk di sebelahnya.


"Apa tidak apa-apa kita di sini?"


"Jangan khawatir, kita tidak sedang menerobos rumah seseorang atau sejenisnya."


Alvin menatap Mina beberapa saat, berusaha mencerna maksud dari perkataan gadis manis itu, juga merangkaikan apa yang sudah dilihatnya di dalam menara ditambah dengan sikap Mina yang tampak aneh.


Alvin kemudian melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan sembari mengingat sihir penyegel pintu yang tadi Mina buka, juga papan nama di depan pintu dengan sebuah tulisan yang tidak ia mengerti.


'Tempat ini bukan sekedar planet makhluk ciptaan biasa.' Alvin melirik, menatap Mina yang sedang menatap ke arah jendela dengan tatapan sayu. 'Sepertinya dugaanku benar. Sial...'

__ADS_1


.........


"Ngomong-ngomong, bukankah kita harus segera mencari jalan untuk kembali?" ucap Alvin, membuka pembicaraan lagi.


Dia menanyakan hal itu bukan karena buru-buru ingin kembali. Ia hanya ingin memastikan kebenaran dari pemikirannya tentang di mana mereka berada dari jawaban yang akan Mina berikan.


"Aku masih memikirkan caranya," sahut Mina. Ia berusaha tersenyum di akhir kalimat.


Alvin mengangguk pelan. Sikapnya yang tenang membuat senyuman Mina sedikit menghilang.


Sebagai orang yang akan segera menikah dengan wanita yang sangat dicintai, Alvin harusnya panik.


Alvin biasanya juga panik saat terjebak dalam keadaan yang mirip seperti yang terjadi pada mereka saat ini.


Namun, kali ini, ia tampak tenang seakan sudah tahu apa yang sedang terjadi dan di mana mereka berada.


Justru karena Alvin sepertinya sudah bisa menebak tempat keberadaan mereka, ia malah terlihat tenang, sekaligus terlihat serba salah.


.........


Merasa canggung duduk berduaan di dalam sebuah kamar bersama seorang gadis remaja, Alvin akhirnya berdiri dan pergi ke satu-satunya jendela yang berada di dalam ruangan itu.


"Sepertinya mereka akan mengira aku lari dari pernikahan."


Mina yang sedang merenung, tertawa secara refleks mendengar kalimat yang Alvin ucapkan.


"Tidak ada yang bisa kau lakukan tentang itu, kan?"


"Ya."


Mina tersenyum canggung sembari menatap punggung Alvin yang sedang membelakanginya.


"Yang terpenting, dia pasti tidak akan berpikiran seperti itu."


"Aku tidak tahu."


"Aku yakin tentang hal itu. Dia selalu berpikir positif tentangmu. Yah... Kecuali Ivory secara kebetulan juga sedang menghilang dari Bumi."


Alvin akhirnya menoleh, hanya untuk melihat Mina yang sedang tertawa di sela perasaan sedih yang ia tahu sedang melanda gadis itu.


Sebenarnya, Alvin juga sedang merasakan rasa sedih yang sama.


.........


"Sebenarnya...," Alvin menghentikan kalimatnya. Rasa sedih itu bertambah besar saat ia baru memikirkannya saja, bahkan belum mengucapkan pemikiran itu langsung dari mulutnya.

__ADS_1


Sigh...


"Tidak apa-apa. Lanjutkan apa yang ingin kau katakan," pinta Mina. Ia bisa menangkap kesedihan dari sorot mata Alvin.


__ADS_2