
Alvin hanya menggunakan job Warrior nya saja di 3 lokasi berikutnya. Ia melakukan hal itu karena Sistem mengingatkan bahwa perusahaannya akan kehilangan lumayan banyak keuntungan jika kulit-kulit monster terbakar.
.........
Melihat Alvin sudah tidak lagi menggunakan skill Mage, para penguntitnya tampak sangat lega. Awalnya mereka melihat cara Alvin membakar dan membekukan tubuh semua high orc itu dengan mata terbelalak. Mereka belum pernah melihat seorang Mage bisa menggunakan sihir Mage sehebat Alvin.
"Mungkin dia membutuhkan banyak energi Mana untuk melakukannya," ucap Lex sambil mengusap-usap janggut putihnya.
"Yah, kalau dia bisa menggunakannya terus-menerus di semua lokasi monster, saya mungkin akan pensiun." Ivory menanggapi sambil tersenyum kaku.
"Apa Anda sedang menyindir saya, nona Cruz?" sahut Robbie yang kemudian menghela nafas panjang.
Ia sejak tadi sudah sangat malu saat melihat kemampuan Alvin sebagai seorang Warrior. Ia berpikir bahwa skill bertarungnya mungkin akan susah untuk ditandingi oleh peringkat A manapun di negara mereka ini. Tapi, saat ia melihat cara Alvin menggunakan pedang, ia merasa bahwa kemampuannya selama ini hanyalah sebatas Warrior pemula.
Yang paling bisa merasa lega di antara mereka hanyalah Revi. Dia sangat lega karena Alvin tidak bisa menggunakan kemampuan bertarung seorang Assassin. Karena dengan begitu dia masih menjadi satu-satunya hunter tipe Assassin terkuat di Kota T.
......................
Setelah berkeliling ke 5 lokasi keberadaan monster dan menghabisi lebih dari 500 high orc yang setara dengan peringkat A dan B, Alvin akhirnya memasuki wilayah dimana bos Dungeon berada.
Lokasi keberadaan bos Dungeon itu berada di dalam sebuah gua yang sangat gelap dan pengap.
Sejak ia baru memasuki mulut gua, Alvin juga sudah bisa mencium aroma busuk yang sepertinya berasal dari mayat-mayat hewan buas.
Tapi saat ia sudah masuk semakin dalam, ia akhirnya menemukan ada banyak bangkai orc yang telah dikuliti disana.
'Apa mereka membunuh orc-orc ini?'
["Mereka membunuh orc-orc ini untuk diambil inti Mana nya."]
'Apa mereka juga bisa menyerap inti Mana seperti yang Rimi lakukan?'
["Ya. Monster peringkat tinggi melakukan itu."]
"Apa?!"
Alvin terdiam sebentar saat mendengar gema suaranya memantul di dinding gua.
'Berarti mereka juga bisa menaikkan peringkat?!'
["Ya. Karena itulah tidak ada lagi monster peringkat S di masa depan. Kekuatan mereka mungkin puluhan kali lipat dibandingkan monster peringkat S. Mereka sangat tidak masuk akal untuk dilawan."]
'Jadi kau datang ke masa kini untuk mencegah hal itu terjadi...'
["Ya. Sudah ku katakan, kan? Kau harus bisa menjadi lebih kuat sebelum monster-monster peringkat S itu bertambah kuat."]
Alvin mengangguk pelan. Hanya dari informsi itu saja ia sudah bisa membayangkan bagaimana beratnya kehidupan umat manusia di masa depan.
["Nanti saja memikirkan itu. Cepatlah, Dungeon Break akan segera dimulai. Walaupun bos nya tidak bisa kemana-mana karena kau ada disini, orang-orang diluar sana pasti sangat khawatir."]
'Ya.'
Setelah berjalan selama 15 menit dengan menggunakan skill night vision yang Sistem berikan padanya, Alvin akhirnya tiba di dekat ruangan bos.
Ruangan itu tidak memiliki pintu dan hanya ada tirai yang terbuat dari kulit-kulit orc saja yang memisahkan antara ruangan bos dan lorong gua yang Alvin masuki.
Baru berada di depan tirai itu saja, Alvin sudah bisa merasakan tekanan dari aura sihir milik ketiga monster yang saat ini sedang duduk di singgasana mereka. Ia jadi sedikit bergidik merasakan tekanan itu.
["Mereka bertiga ini sangat kuat,"] Sistem mengingatkan, saat Alvin membuka peta Dungeon untuk memerhatikan 3 titik merah yang besarnya hampir sama.
__ADS_1
Biasanya ia hanya melihat 1 titik merah besar yang lebih menonjol dari dua lainnya di Dungeon peringkat B. Tapi kali ini ia hampir tidak bisa membedakan ukuran titik merah tersebut yang artinya dua pendamping bos Dungeon juga memiliki kekuatan yang hampir sama besar dengan bos nya.
'Ya. Aku juga sudah bisa merasakan aura sihirnya dari sini.'
Sebelum ia masuk ke dalam ruangan bos, Alvin mengganti set armor yang ia gunakan dengan set armor yang lebih baik. Set armor itu adalah set terbaru yang Sistem buat setelah ia mendapatkan bahan-bahannya di dalam Dungeon yang berada di quest terakhirnya.
'Ini sangat bagus. Aku merasa statusku naik berkali lipat. Kau...'
["Luar biasa, kan?"]
'Rimi, berapa lama lagi waktu sebelum kunci gerbang terbuka?'
<3 menit>
'Baiklah... Aku akan masuk sekarang.'
["Hei... Kau belum menyelesaikan kalimatmu."]
'Kita tidak punya waktu,' ucap Alvin dalam hatinya, sembari menyibak pelan tirai dihadapannya.
......................
Setelah Alvin akhirnya berhadapan dengan bos dan dua pendampingnya, ia merasa sedikit heran karena ketiga makhluk itu tidak beranjak sama sekali dari singgasana mereka.
'Tidak mungkin mereka tidak merasakan kehadiranku, kan?'
Ketiga high orc itu masih duduk diam dengan tenang di tempat mereka sambil menatap Alvin yang baru saja muncul dari satu-satunya lorong yang berada di ruangan itu.
'Kenapa mereka diam saja?'
["Hati-hati. Pasti ada yang mereka rencanakan. Dan mereka juga..."]
Ziiiiinnngggg...
Alvin yang sudah terlanjur menggunakan skill night vision tentu saja langsung mendapat kebutaan, seketika gua itu menjadi terang karena cahaya yang sangat menyilaukan itu.
["Awas...!"]
Wusshhh... Wussshhh... Wushhh... Wushhh...
Stab... Stab... Stab...!!!
"Argh...!"
Karena kilatan cahaya yang tiba-tiba itu, Alvin benar-benar tidak bisa melihat datangnya serangan.
Jika Sistem dan indra nya tidak merasakan kehadiran serangan, tubuhnya mungkin sudah terkena hujaman puluhan pasak tulang yang barusan terbang ke arahnya.
Alvin memang hanya terkena 3 dari pasak itu namun tidak dengan hunter-hunter yang membuntutinya. Tidak ada di antara mereka yang bisa menghindari pasak tulang itu sama sekali.
'Ah, aku melupakan mereka karena terlalu fokus pada aura sihir bos Dungeon.'
"Pergilah! Disini berbaha..."
Wushhh...
Bakkkk...!!!
Belum selesai Alvin memperingatkan para hunter itu, bos Dungeon sudah menerjang dan menendangnya.
__ADS_1
Tapi, Alvin juga bukan hunter peringkat rendah dan bukan hunter biasa lagi.
Dengan status sense nya yang tinggi, ia bisa menangkis tendangan itu sebelum berhasil menghujam tubuhnya.
Wusshhh...
Crankkk...
Melihat serangan pertamanya berhasil ditangkis, bos Dungeon mencabut kedua belati di pinggangnya dan menyerang lagi dengan bertubi-tubi.
Ia terus mendesak Alvin dengan membabi-buta hingga Alvin hanya bisa menangkis serangan-serangan makhluk itu sampai ia harus terdesak terus ke dinding gua.
Alvin mengganti job nya dengan cepat. Ia membuka portal serangga dan memanggil belalang-belalang untuk melindunginya, sementara ia sendiri berusaha menjerat monster itu dengan jaring-jaring yang ia arahkan pada kedua kakinya.
Setelah ia menjerat high orc itu, Alvin juga menembakkan jaring-jaring pada hunter-hunter yang kini terluka parah oleh pasak high orc yang masih duduk di singgasana untuk melekatkan hunter-hunter itu jauh di mulut lorong gua agar tidak terkena serangan menyasar lagi.
.........
Saat belalang-belalang berhasil menghadang bos Dungeon, Alvin pergi berlari menuju dua high orc pendamping yang masih duduk tenang di singgasana.
["Kau harus membunuh yang duduk di sebelah kanan terlebih dahulu. Dia penyihir tipe Healer."]
"Ya..."
Tapi, saat Alvin baru berada di tengah jalan menuju monster itu, langkah kakinya tiba-tiba terhenti saat ia merasakan kedua kakinya seakan tertusuk sesuatu yang tidak terlihat.
"Ugh...! Ada apa?!"
Alvin langsung duduk saat ia baru saja terjatuh. Ia juga langsung menoleh pada kedua kakinya yang ia rasa baru saja menerima serangan beberapa senjata tajam namun ia tidak menemukan senjata apa pun yang melekat disana.
Saat ia masih memerhatikan kedua kakinya, bos Dungeon yang berhasil lolos dari kepungan 20 belalang menerjangnya lagi dengan mengarahkan dua pisaunya ke leher Alvin.
Tapi, Alvin yang sudah bisa melihat dengan baik, langsung menembakkan jaring-jaringnya lagi menuju high orc tipe Assassin itu.
Srattt... Srattt...
Alvin langsung berlari menuju bos Dungeon yang baru saja terjatuh akibat kedua kakinya telah terjerat jaring laba-laba untuk segera memenggal kepalanya. Namun, Alvin lagi-lagi terjatuh saat ia merasakan belasan tusukan senjata tajam di kedua pahanya.
["Sihir voodoo. Monster yang di sebelah kiri itu tipe Mage."]
"Voodoo?"
["Pasak yang ia tembakkan padamu tadi dan ditariknya setelah itu. Lihat, dia menorehkan darahmu pada boneka ditangannya."]
"Begitu..."
Alvin mengarahkan salah satu tangannya pada high orc Mage, ingin menembakkan sihir es padanya. Tapi, high orc itu selangah lebih cepat. Ia menusukkan pasak ke tangan boneka yang mengakibatkan arah serangan Alvin meleset saat ia tiba-tiba merasakan tangannya sakit seakan baru saja ditusuk-tusuk sebilah pedang.
["Susah menahan serangannya karena dia menyerangmu dari dalam. Racun sihirnya sudah masuk kedalam darahmu karena pasak tadi. Hei awas dibelakangmu...!"]
Wushh...
Berkat peringatan dari Sistem, Alvin berhasil menghindari serangan bos Dungeon yang datang dari arah belakangnya.
Ia kemudian menembakkan sihir es pada makhluk itu setelah ia tahu bahwa bos Dungeon lebih kuat menahan serangan sihir bersifat fisik dari jaringnya.
Setelah setengah tubuh bos Dungeon itu membeku, Alvin hendak menembakkan sihir lidah api padanya, tapi kedua tangannya lagi-lagi terkena sihir voodoo dari high orc penyihir hingga arah lidah apinya melenceng jauh dari lawan.
Tidak sampai disitu, high orc penyihir itu kemudian menusuk-nusukkan pasak tulang di tangannya ke perut boneka hingga Alvin merasakan sakit yang amat sangat di dalam perutnya.
__ADS_1
"Gahhh...! Brengsek! Voodoo ini benar-benar sangat merepotkan..."
......................