
"Ya?" ucap Arthur, saat mendapatkan jawaban tidak jelas dari Alvin.
Alvin merasa bingung. Ia tidak yakin bahwa Cyntia mau jika dia bekerja dibawahnya, mengingat Cyntia yang sepertinya tidak menyukai dirinya.
Cyntia tadi tidak mau menatapnya, juga, wanita itu barusan langsung memalingkan wajah saat tatapan mereka saling bertemu.
"Untuk itu..., bagaimana kalau paman tanyakan terlebih dahulu pada nona Tia?"
Arthur kembali tertawa.
"Tia tidak mempermasalahkannya."
"Ya?"
"Paman sudah membicarakan itu padanya tadi. Tia tidak mempermasalahkannya."
"B-benarkah?"
Alvin menoleh lagi, menatap Cyntia yang sepertinya sedang belajar memasang umpan pada kail.
'Jadi, dia baru belajar memancing?'
"Dan lagi, putra sulung keluarga Lewis itu mungkin tidak akan berani mendekatimu jika kau selalu berada di sekitar Tia, nak," ucap Arthur lagi. Alvin bisa mendengar nada kekhawatiran dari ucapan itu saat Arthur mengatakannya.
Alvin mengangguk pelan. Senyuman tulus muncul secara alami di wajahnya, saat ia mendapat perhatian itu dari Arthur.
Pada saat itu, pelayan datang menghampiri untuk menyampaikan bahwa makan siang sudah tersedia.
Arthur berdiri dengan semangat, lalu mengajak Alvin untuk pergi bersamanya.
......................
Alvin mengira itu hanyalah makan siang biasa seperti yang sering diikutinya saat masih tinggal di kastil ini. Namun, ia melihat hampir semua keluarga Maxwel hadir di situ.
Ada dua adik Arthur Maxwell beserta istri-istri mereka, juga tiga orang keponakan Arthur yang berusia satu tahun di atas Alvin, juga ada dua orang yang lebih muda darinya.
.........
"Bagaimana persiapan pesta penyambutan Tia, Alan?" tanya Chris Maxwell, adik bungsu Arthur, pada kakak keduanya yang ia tahu telah mempersiapkan pesta penyambutan kembalinya Cyntia Maxwell sekaligus untuk memperkenalkannya sebagai ahli waris keluarga pada semua mitra bisnis Maximus group.
__ADS_1
"Kau seperti tidak mengenalku saja. Tentu saja semuanya lancar." sahut Alan Maxwell, yang kemudian tersenyum bangga.
Dia sangat antusias akan kembalinya keponakan tercintanya itu. Jadi, dia sudah menyiapkan sebuah pesta besar di pusat Kota S, juga sudah mengundang banyak tamu penting untuk hadir dalam acara tersebut.
"Tapi, bagaimana denganmu sendiri Tia? Apakah kau sudah memiliki calon orang-orang yang nanti akan membantumu?" tanya Chris lagi sambil menatap Cyntia dengan tatapan penuh selidik.
Cyntia yang lagi menyantap hidangan langsung mengangguk. Saat ia sudah menelan makanan dimulutnya, barulah ia menjawab pertanyaan itu.
"Ya, paman. Saya sudah memiliki beberapa orang untuk menjadi suksesi para pendukung ayah. Tapi, saya masih mencari dua orang lagi sebagai pendukung utama."
Chris menegakkan tubuh tambunnya. Ia tampak lebih bersemangat lagi.
"Apakah kau mencari orang sebagai pengawal pribadimu?" Tanya Chris lagi sambil melirik pada George Maxwell, putra sulungnya, yang memiliki usia 1 tahun lebih muda dari Cyntia dan Alvin.
"Ya, paman."
"Apa kau sudah menemukan calonnya? Bagaimana jika kau jadikan sepupumu George sebagai pengawal pribadimu?" ucap Chris, sambil memerhatikan ekspresi Cyntia dengan hati-hati.
"Kenapa George harus bekerja dibawah Tia? Bukankah dia baru saja diangkat sebagai kapten tim raid junior?" ucap Alan, yang sudah tahu maksud dibalik tawaran adiknya itu.
"Alan..., kau tahu, kan? George saat ini sudah berperingkat A. Kau tahu juga kalau putra sulung keluarga Lewis itu sudah kembali. Aku cuma ingin Tia mendapatkan pengawalan yang lebih ketat lagi," sahut Chris dengan raut wajah khawatir yang senada dengan suaranya.
Alan tersenyum. Ia kemudian melirik pada Cyntia, lalu pada Arthur.
Chris juga tidak mengetahui peringkat mereka karena Cyntia dan ketiga pengawalnya selalu menyamarkan energi Mana.
Cyntia hanya menunjukkan aura seorang hunter peringkat A, sementara ketiga pengawalnya menyamarkan energi Mana mereka sampai ke peringkat C. Itulah keunggulan seorang hunter peringkat S ke atas. Mereka bisa menyamarkan energi Mana.
Tidak ada yang tahu itu selain Alan, karena dia dan putranyalah yang selama ini melindungi dan membantu Cyntia selama keponakannya itu tinggal di Berlin.
Bahkan, keluarga Xavier yang merupakan orang dekat kepercayaan Arthur pun hanya tahu sebatas Cyntia berada di peringkat S. Itu pun mereka tidak pernah membahasnya di luar keluarga Xavier.
"Terima kasih untuk perhatian Anda paman. Tapi saya sedang menunggu jawaban seseorang untuk menjadi pengawal pribadi saya. Hal yang sama juga sedang saya usahakan untuk asisten pribadi saya di bidang administrasi," sahut Cyntia, menggantikan Alan untuk menjawab Chris.
Chris tersenyum kaku mendengar itu. Ia akhirnya menoleh pada Alvin, yang duduk di sebelah ayahnya di bagian paling pojok meja persegi panjang itu.
Ia tahu, seseorang yang Cyntia maksud pastilah Alvin, putra Marco, sahabat Arthur. Informannya mengatakan jika para pengikut setia kakaknya sedang mengawasi dan memerhatikan Alvin sejak lama.
"Kau... Alvin, kan?" tanya Chris sambil menatap Alvin dan terseyum lebar padanya.
__ADS_1
Alvin yang sejak tadi hanya menyantap makan siangnya sambil berbicara pada Mina membahas bagaimana caranya dia menyimpan hasil raidnya di Kota S ini nanti, mendongak untuk menatap Chris.
Ia awalnya tersenyum untuk membalas senyuman Chris, namun senyumnya memudar saat melihat skor kesukaan Chris padanya.
'Skornya 0?!'
"Ya, paman Chris," sahut Alvin beberapa detik kemudian.
"Dimana kau bersembunyi selama ini?"
Senyum Alvin langsung menghilang sama sekali setelah Chris menanyakan hal itu.
Ia menoleh pada kedua putra Chris yang diduk di sebelah pria paruh baya bertubuh tambun itu dan melihat skor kesukaan mereka padanya, yang hampir sama buruknya dengan ayah mereka.
'Satu.'
Tidak sampai disitu, Alvin juga melihat skor Alan dan putranya Sam dan ia agak terkejut saat melihat skor 3 pada mereka. Bahkan istri Alan pun memiliki skor yang sama.
["Kenapa kau sejak tadi tidak mencoba melihat skor Arthur dan Cyntia? Apa kau takut kecewa jika skornya satu atau bahkan nol?"]
Alvin tersenyum pahit. Apa yang Mina tebak memang sangat tepat. Ia khawatir jika tahu orang-orang yang selama ini dianggapnya sebagai penyelamat keluarganya itu ternyata memiliki skor yang sama dengan teman masa kecilnya, Shiva.
'Ya.'
Alvin bisa mendengar suara helaan nafas panjang Mina di dalam kepalanya.
.........
"Sudahlah. Itu bukan urusanmu," ucap Arthur memotong pembicaraan Chris. Ia dapat melihat senyuman pahit di wajah Alvin. Ia mengira Alvin tidak menyukai pertanyaan itu.
Cyntia juga menoleh pada Alvin, yang duduk agak jauh darinya, di barisan yang sama dengannya, saat Alvin diam setelah Chris menanyakan pertanyaan tersebut.
"Tapi aku penasaran. Apa kau masih melakukan raid?" tanya George, sambil menatap lurus pada Alvin.
"Ya. Terkadang."
"Apa itu baik-baik saja?" tanya George lagi dengan memasang ekspresi khawatir di wajahnya. Ia melanjutkan, "Jika kau mengalami kesulitan, kenapa kau tidak bergabung saja di tim raid junior guild Maximus? Aku baru saja diangkat sebagai kapten tim junior. Aku akan melindungimu."
"Itu tidak..."
__ADS_1
"Kami akan melakukan raid sore ini. Ayo ikut bersama ku. Kau pasti akan cepat akrab dengan tim kami," ajak George dengan cepat sebelum Alvin menolak. Ia menebak, Alvin sepertinya ingin langsung menolak.
George tahu, Alvin pasti tidak akan enak hati untuk menolak jika ia memintanya di hadapan keluarga besar Maxwell.