Hunter System

Hunter System
Bab 203 - Menjadi Seorang Penjahat?


__ADS_3

Alvin menatap wajah dewa Voxa. Ia merasa sedikit tidak tega pada dewa berwajah kasihan itu.


Tapi hanya dengan menjadikannya lontaran sajalah cara untuknya agar bisa keluar dari lubang hitam.


Tidak ada benda lain yang bisa ia jadikan pijakan. Benda langit apa pun yang masuk ke dalam lubang hitam telah pecah menjadi partikel kecil.


Mereka berdua bisa bertahan hanya karena memiliki energi Mana kuat yang sanggup menahan energi penghancur di dalam lubang hitam tersebut.


["Lakukan saja."]


'Ya?'


["Kau sedang memikirkan hal-hal untuk membela dirimu sendiri agar kau tidak tampak seperti penjahat."]


'Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku memikirkannya hanya karena ingin menyelamatkan kita bertiga.'


["Sudahlah. Cepat lakukan. Lama-lama aku tidak tega melihat wajahnya. Lihat, dia seperti ingin menangis."]


'Baiklah...'


Alvin hendak memejamkan kedua matanya sebelum menendang dewa Voxa, namun ia segera menghentikan niatnya itu saat sempat melihat ekspresi sedih dewa Voxa mendadak berubah ceria.


Alvin juga melihat mulut dewa Voxa berkomat-kamit seperti sedang berbicara padanya.


'Rimi, apa yang dia katakan?'



'Hah?'



Dewa Voxa mengangkat tangan dan menunjukkan ujung jarinya ke arah Alvin.


Alvin tahu jika jari telunjuk itu tidak dimaksudkan untuk menunjuk dirinya. Ia pun memutar tubuhnya dan ekspresinya berubah cerah seketika.


'Syukurlah. Hampir saja aku menjadi seorang penjahat.'


.........


Sosok wanita cantik berambut pirang-platinum berenang memasuki kegelapan.


Cahaya keemasan mengitari seluruh tubuhnya dan menyebar di dalam lubang gelap itu.


Cahaya emas itu menangkap tubuh Alvin dan dewa Voxa, lalu menyerapnya hingga datang mendekati wanita itu, yang tak lain adalah dewi Ann.


'Kenapa energi sihir dan cahaya miliknya tidak menghilang?'


"Sihir biasa seperti ini tidak berpengaruh padaku," sahut dewi Ann dengan senyum menawan di akhir kalimatnya.


'Anda bahkan bisa mengeluarkan suara?'


"Karena sihir rendahan ini tidak bisa memengaruhiku," sahut dewi Ann lagi.


Wusssssssshhh...


Dewi Ann membawa Alvin dan dewa Voxa keluar dari black hole.


Mereka mengambang-ambang di ruang hampa udara, menatap lubang hitam raksasa menakjubkan yang sedang berusaha menyerap mereka untuk kembali ke dalamnya.


Namun, karena mereka berada di dalam shield sihir berbentuk gelembung keemasan milik dewi Ann, daya hisap black hole itu tidak berhasil menyerap mereka kembali ke dalamnya.


.........

__ADS_1


Dewi Ann mengarahkan salah satu telapak tangannya pada black hole.


"Conqueror of Darkness, part 2... Light in the Darkness."


Setelah mantra terucap, cahaya menyilaukan muncul di sisi telapak tangan dewi perang itu.


Cahaya itu menelan black hole raksasa di hadapan mereka, bersama dengan seluruh benda angkasa yang berjarak puluhan ribu tahun cahaya dari tempat mereka berada.


Alvin dan dewa Voxa hanya bisa melihat fenomena ajaib itu dengan mulut menganga.


Menyaksikan benda-benda angkasa raksasa yang datang dari berbagai arah dan tertelan ke dalam cahaya keemasan berbentuk oval yang dewi Ann ciptakan.


Glup...


'Apa-apaan ini?'


["Lihat ke sebelah kiri."]


Alvin menoleh ke arah yang Mina sebutkan dan melihat dewa Voxa yang sedang memerhatikan benda-benda angkasa yang datang dan menghilang ke dalam piringan cahaya keemasan dengan mulut dan mata yang terbuka sama lebarnya.


["Kalau dewa saja bereaksi seperti itu, apalagi kita."]


Alvin mengangguk tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun lagi, walau cuma di dalam hatinya.


......................


'Kalau dia bisa melakukan hal seperti ini, kenapa dia baru datang sekarang?'


"Ini adalah hal paling kecil yang bisa kulakukan," sahut dewi Ann.


"Maksud Anda..."


"Aku bahkan berusaha setengah mati untuk menyimpan energiku saat menyentuh pundakmu dulu."


"Jika aku menggunakan kekuatan dalam sebuah pertarungan di luar dunia para dewa, aku mungkin bisa menghancurkan sebuah alam semesta," ucap dewi Ann lagi sembari tersenyum, seolah apa yang ia katakan bukanlah apa-apa.


"A-ak... Sa-saya mengerti... Maaf..."


"Tidak masalah. Aku juga berterima kasih padamu karena sudah membantuku melakukan hal yang tidak bisa ku tangani dengan baik."


Alvin tertawa canggung sembari menggaruk-garuk kepala.


"Ayo kita pindah dulu."


Wushhh...


......................


Ketiganya menghilang dari angkasa luas itu.


Dewi Ann membawa mereka pindah ke sebuah planet, di mana tak tampak satu pulau pun selain lautan luas.


Saat baru tiba di tempat itu, Alvin dan dewa Voxa sama-sama terkejut ketika langsung disuguhkan pemandangan dari ribuan kepala yang membatu dan melayang-layang di udara.


Dewa Voxa adalah yang paling terkejut dengan pemandangan itu, terutama setelah ia mengenali wajah dari salah satu kepala.


"Dewan pengawas agung?!" dewa Voxa memekik, mengenali wajah dari kepala tanpa tubuh di hadapannya.


"Mereka yang membuatku datang terlambat. Aku harus mengurus mereka terlebih dahulu," ucap dewi Ann.


Setelah bisa menguasai rasa terkejutnya, Alvin melayang mendekati dewa Voxa.


"Siapa itu?"

__ADS_1


Dewa Voxa berpaling padanya lalu menjawab dengan suara gemetar, "Beliau dewan pengawas agung. Pemimpin seluruh dewan pengawas para dewa."


"...Lalu... Apakah kepala-kepala lain itu dewan pengawas para dewa?"


Dewa Voxa mengangguk, "Satu dari mereka sekuat dewan Re."


Glup...


Alvin menatap ribuan kepala itu lagi, sebelum melirik pada dewi Ann yang melayang-layang di samping dewa Voxa.


'Menghabisi satu saja sangat merepotkan. Bagaimana bisa dia menghabisi semua dewan pengawas dan pemimpinnya ini?'


Dewi Ann tentu bisa mendengar apa yang Alvin ucapkan di dalam hatinya.


"Yang tersulit adalah saat harus menghabisi mereka di luar dunia para dewa. Kami berterima kasih padamu karena kau telah membantu kami menyelesaikan urusan di luar dunia kami."


"Ti-tidak masalah...," sahut Alvin sembari mengalihkan tatapannya, kembali memerhatikan ribuan kepala yang ada di hadapan mereka.


"Tapi, aku sebenarnya masih punya tugas lain untukmu," ucap dewi Ann.


Alvin kembali menatap dewi berparas cantik dan anggun itu. "Tugas lain?"


Dewi Ann tersenyum dan mengangguk.


"Tidak terlalu sulit. Kau bisa menyelesaikannya dengan mudah jika kau mau."


...****************...


Cyntia berlompatan kesana kemari, menghindari serangan-serangan jarak jauh yang sedikit merepotkan baginya.


Tapi, Cyntia juga tidak pergi menghindar terlalu jauh dari malaikat yang bertarung dalam jarak dekat melawannya.


Ia berusaha menghindari serangan jarak jauh, namun tidak ingin melepaskan lawan yang berada di hadapannya. Ia sedang menunggu sebuah peluang sambil menjaga jarak.


Dan peluang itu datang beberapa saat kemudian...


.........


Melihat lawan sepertinya tidak menguasai banyak ilmu sihir, malaikat yang menyerang dari jarak jauh akhirnya mendekat.


Ia mencabut pedangnya, lalu bergabung untuk mendesak Cyntia dalam pertarungan jarak dekat.


Melihat itu, malaikat yang sejak tadi meladeni Cyntia dari dekat, merasa tidak suka dengan apa yang dilakukan rekannya.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mendekat?!"


"Dia tidak menguasai banyak sihir. Dia cuma lincah."


"Apa?! Menjauh sekarang! Tetap lakukan serangan jarak jauh!"


"Kita akan menghabisinya lebih cepat jika mengeroyoknya dari jarak..."


Mata malaikat itu melebar saat merasakan energi sihir yang sangat besar tiba-tiba meluap dari dalam tubuh Cyntia.


Terlambat menyadari kebodohannya, sebuah belati sihir sebesar papan luncur sudah melayang dan memenggal tubuhnya, juga tubuh rekannya.


Slash...!


Setelah membelah tubuh kedua lawan dengan belati sihir, Cyntia berputaran di udara, di antara kedua malaikat.


Ia kemudian melemparkan kedua belati di tangannya pada masing-masing malaikat dengan mengucapkan mantra sihir andalannya.


"Death dagger!"

__ADS_1


Srattt... Srattt...!


__ADS_2