
"Ada apa?"
"Kau bisa ketahuan," ucap Mina dengan nada suara yang jauh lebih rendah dibandingkan suara seseorang yang sedang berbisik.
Ia sengaja berbicara dengan nada yang sangat rendah agar tidak ada seorangpun yang bisa mendengar ucapannya. Tapi, ia tahu jika Alvin bisa mendengarnya.
"Apa akan menjadi masalah jika aku ketahuan?" sahut Alvin dengan suara bernada rendah yang sama.
"Akan menjadi masalah besar untukmu."
"Kenapa baru kau katakan sekarang?"
"Aku... Sebenarnya ada banyak visi dan peraturan yang sejak tadi dikirimkan kedalam kepalaku."
"..."
"Itu seperti pengetahuan mengenai tempat ini dan segala peraturan yang berlaku. Aku tadi juga memintamu menunggu karena aku ingin semua visi itu kuterima secara menyeluruh dulu dan mempelajarinya. Bersabarlah."
"...Baiklah."
"Mengenai Chris Maxwell, kita mungkin akan tahu tidak lama lagi."
"Maksudmu?"
"Para penyerang itu. Kita mungkin akan melihatnya di sana. Jika tidak ada, berarti dia benar-benar masih hidup."
Alvin menoleh, melihat puluhan ribu pasukan yang datang dari kejauhan dengan membawa senjata lengkap di tangan mereka.
"Apa maksudmu?"
"Para penyerang itu datang dari desa lain."
Alvin mengangguk.
Mina melanjutkan, "Jadi, orang-orang yang semasa hidupnya tidak melakukan banyak kejahatan dan orang yang melakukan banyak kejahatan akan dikirim ke desa berbeda. Mereka dikelompokkan menurut perbuatannya selama hidup."
"Begitu... Jadi paman Chris tidak ada di sini karena dia orang yang semasa hidupnya telah berbuat banyak kejahatan, kan?"
"Ya. Dan para penyerang itu berasal dari desa dengan kejahatan tinggi semasa hidupnya."
"Begitu..."
"Kalau kau tadi meneruskan pertanyaanmu pada mereka, mereka tentu akan kebingungan dan mencurigaimu."
"Karena semua pengetahuan itu sudah dikirimkan ke dalam ingatan semua orang yang telah mati?"
"Ya. Mereka akan merasa bingung jika kau menanyakan hal yang seharusnya sudah kau ketahui."
"Apa itu sebuah pelanggaran? Maksudku, bisa saja kan ada orang selain aku yang tersesat ke tempat ini?"
Mina mendongak, menatap Alvin dengan ekspresi sedih sembari menggelengkan kepalanya.
"Planet ini adalah tujuan akhir dari semua makhluk hidup di alam semesta yang telah mati. Tidak satupun selain itu yang diizinkan masuk ke sini. Bahkan dewa pun tidak. Jika seseorang yang seharusnya masih hidup tiba-tiba terjerumus ke planet ini. Maka mereka tidak diizinkan untuk pergi dan harus menetap di sini."
"Apa? Jadi..., bagaimana denganku?"
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa keluar dari sini jika sudah masuk ke tempat ini. Hal itu tertulis dalam visi yang kuterima di dalam kepalaku."
Glup...
"Brengsek... Siapa sebenarnya yang sudah membawa kita kesini?"
"Bersabarlah. Aku akan mencari tahu apa kau memiliki cara untuk pergi dari sini setelah aku mempelajari semua visi yang masih sedang terkirim kedalam ingatanku."
"Kau sejak tadi mengatakan cara untukku kembali..."
"Mereka mulai menyerang."
Alvin menatap Mina dengan perasaan sedih setelah Mina memotong ucapannya. Bukan karena memikirkan dirinya, namun karena Mina seakan tahu jika dirinya tidak akan pernah bisa kembali bersamanya ke Bumi.
"Tsk... Kau suka sekali memotong ucapan orang lain."
"Kali ini benar-benar darurat."
......................
Sementara itu, pasukan penyerang yang datang ke desa di mana Alvin dan Mina berada, sudah berbaris dan meletakkan menara-menara serangan mereka di bagian terdepan barisan.
Sama seperti para penduduk desa yang berada di dalam benteng, pasukan penyerang itu juga terdiri dari berbagai macam ras campuran yang juga tidak memerdulikan perbedaan ras mereka dan saling bekerjasama.
.........
Alvin melihat beberapa makhluk menaiki masing-masing menara sihir dan langsung meletakkan telapak tangan mereka pada sebuah bola kristal besar yang terdapat di puncak menara.
Tak lama kemudian, bola kristal itu memancarkan energi sihir bersamaan dengan api atau es yang tiba-tiba saja menyala mengelilinginya.
Setelah bola api atau bola es itu mengembang seukuran cukup besar, bola api dan itu pun terlontar ke arah tembok tempat Alvin dan Mina berada.
.........
Jika disamakan dengan para hunter, mereka adalah hunter-hunter bertipe Mage.
Saat mereka melepaskan tangan dari permukaan bola kristal, energi sihir yang membentuk bola api dan bola es itu melesat mengarah pada bola api atau bola es yang berdatangan ke arah tembok, yang dikirimkan pihak penyerang.
Bammmm... Bammmm... Bammmm...!!!
Ledakan dari beradunya sihir-sihir menggema di udara.
Selain suara ledakan yang sangat nyaring, Alvin juga bisa merasakan dampak sihir dari ledakan yang sampai ke atas tembok dan menggetarkan tembok kokoh yang terbuat dari kayu-kayu hutan tersebut.
......................
"Apa yang akan mereka dapatkan dari perang ini?" tanya Alvin pada Mina.
"Stok makanan."
"Cuma itu?"
"Ya. Tidak ada ladang pertanian atau hal yang bisa menghasilkan makanan di tempat ini selain dari berperang, sedangkan semua orang harus bertahan hidup."
"Bagaimana dengan rusa-rusa di hutan sana? Bukankah orang-orang bisa memburu mereka untuk makan?"
__ADS_1
"Daging semua makhluk hidup yang ditangkap di tempat ini akan berubah menjadi racun saat dikosumsi."
"Apa? Jadi...," Alvin menghentikan kalimat saat hendak mengatakan untuk apa mereka ada jika dagingnya tidak bisa dimakan, namun membatalkannya, "Apa mereka itu hewan liar yang mati dan pindah ke sini juga?"
"Ya. Mereka juga sama seperti kami. Harus bertahan hidup sampai waktu penghakiman tiba."
"...Tolong jangan berbicara seperti itu. Kau tidak akan."
Mina tersenyum pahit.
"Aku... Tidak bisa..."
"Sudahlah. Kita belum tahu, kan?"
"Tidak... Kali ini..."
Alvin berbicara lagi, memotong apa yang hendak Mina katakan. "Apa ada hal lain yang para penduduk lakukan selain berperang?"
"Tidak ada. Misi utama makhluk hidup di tempat ini hanya untuk berperang dan bertahan hidup selama mungkin sampai hari penghakiman tiba."
"Tsk... Bukankah itu sudah seperti hidup di neraka saja?"
Mina menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak berpikir kenapa mereka harus repot-repot berperang hanya untuk makan? Bukankah semua makhluk hidup yang tampak putus asa ini sebaiknya bunuh diri saja daripada harus hidup seperti itu?"
Alvin diam beberapa saat sebelum merasakan bulu-bulu halus di tengkuknya berdiri.
"Apa maksudmu ada tempat tujuan lain lagi setelah makhluk hidup di sini mati? Apa tempat itu lebih buruk?"
Mina mengangguk, "Bukan tempat tujuan. Tepatnya, tempat pembuangan."
"Ya?"
Mina mendongak, menatap bulan merah besar yang ada di langit.
"Setelah mati, para penduduk planet ini akan di kirim ke sana."
Alvin ikut mendongak, menatap bulan merah besar yang baru memancarkan sinar kemerahannya sejak senja.
Bulan itu seperti sebuah Matahari. Hanya ada lautan api saja disana.
Walaupun demikian, anehnya, cahaya Bulan itu tidak turun sampai ke planet tempat mereka berada.
"Mereka akan dikirim ke Bulan merah itu?"
Mina menghela napas panjang, seolah tidak ingin mengeluarkan kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya.
"Itu bukan Bulan. Itu neraka," ucap Mina akhirnya.
"Apa?!"
Sttt...
"Maaf."
__ADS_1
Alvin menoleh ke kanan kirinya. Ia melihat tatapan kesal semua orang, terutama mereka yang sedang berperang menggunakan sihir di depan bola kristal.
"Karena itulah semua makhluk hidup yang berada di sini tidak ingin mati. Mereka akan berakhir di neraka yang menyala-nyala itu sampai saat hari penghakiman datang."