Hunter System

Hunter System
Bab 208 - Raid Di Era Baru


__ADS_3

Sebagai hunter yang sudah berpengalaman bertarung melawan dewa dan sudah berkali-kali bertempur di sebuah planet, Alvin memiliki metode baru dalam berperang.


Dulu, dia akan menghadapi pasukan monster dari lokasi termudah hingga tersulit sebelum mendatangi lokasi keberadaan bos Dungeon.


Hal itu memang biasa dilakukan juga oleh para hunter pada umumnya, untuk menghindari situasi berbahaya di awal raid, juga untuk menilai sejauh apa kekuatan monster dalam sebuah Dungeon.


Tapi sekarang, lokasi keberadaan bos lah yang Alvin datangi terlebih dahulu.


Dengan membunuh bos di awal pertempuran, mental bertempur pasukan musuh akan menurun.


Apalagi bos yang kini dhadapi di setiap planet adalah sosok dewa perang, bukan bos antah berantah dari sebuah Dungeon berwilayah kecil.


Melihat dewa perang mereka binasa, tentu saja akan membuat mental para makhluk ciptaan jatuh.


Itulah yang sudah Alvin pelajari sejauh ini.


......................


Setelah melepaskan Raymond yang bergelantungan di kakinya untuk ikut terbang bersama, Alvin menatap wajah dewa perang yang sudah mengenakan armor tempurnya.


["Kenapa kau lepaskan dia? Jarak ini cukup tinggi."]


Alvin melihat ke bawah, pada Raymond yang bergulingan sembari memegangi salah satu kakinya yang patah karena salah mendarat.


"Biarkan saja, aku akan menyembuhkannya nanti. Aku akan menghitung berapa banyak foto yang sudah dia unggah dan akan menghukumnya seperti ini, sebanyak foto itu."



"Bukan dendam. Itu seperti menagih utang."


Wushhh...


Alvin sedikit bergeser dari tempatnya semula, menghindari panah yang dewa perang lontarkan dengan kemarahan besar setelah ocehannya tidak Alvin dengarkan.


"Dagger rain."


Cahaya kebiruan muncul dari salah satu telapak tangan Alvin yang ia arahkan pada dewa perang itu.


Cahaya biru kemudian berubah menjadi ribuan belati sihir dan terbang mengejar dewa perang, yang langsung melarikan diri setelah tahu sekuat apa energi sihir yang terdapat dalam tiap belati.


Dewa perang yang Alvin hadapi hanyalah dewa yang berasal dari kasta ketiga di dunia para dewa.


Jika dewa Zei yang berasal dari kasta tertinggi saja bisa dikalahkannya, tentu saja dewa perang malang yang kini dihadapinya tidak akan bisa berbuat banyak pada sihirnya.


Selain kekuatan, dengan perbedaan kecepatan yang sangat jauh, dewa perang itu sudah tewas hanya dalam waktu 2 menit sejak belati-belati sihir mengejarnya.


Dengan tambahan waktu 1 menit lagi, Alvin juga sudah menghabisi puluhan ribu malaikat pelindung planet yang akan selalu ada untuk mendampingi dewa perang.


.........


Seperti biasa, setelah lawan terkuat dari sebuah planet tewas, barulah Rimi dan pasukan serangga mengambil alih pertempuran.


Rimi dan pasukan serangga yang sudah bertambah kuat mengelilingi planet, mencari dan menghabisi semua makhluk ciptaan yang tersisa, walaupun jumlah makhluk yang tersisa jauh lebih banyak, dari yang para hunter Bumi tinggalkan.


Rimi dan pasukan serangga juga melakukan penyusuran wilayah dengan sangat rapi.


Mereka membersihkan area dalam garis lurus hingga helikopter penambang bisa bekerja dengan aman tepat di belakang mereka.


.........


Alvin masih harus berada di planet jajahan selama 3 hari lagi, menunggu Rimi dan pasukan serangga menyelesaikan pekerjaan mereka membersihkan monster dari seluruh daratan dan lautan yang ada di planet.


Rimi juga akan menyerap semua inti Mana makhluk yang telah tewas dan inti Mana itu pada akhirnya membuat Alvin menjadi jauh lebih kuat lagi.


Sedangkan Raymond dan timnya biasanya akan menghabiskan waktu 1-2 minggu untuk mengeruk semua kriatal sihir yang disisakan para hunter sebelum mereka menyerahkan bagian tersulitnya pada Alvin.

__ADS_1


Yang paling direpotkan tentu saja Mina. Pekerjaannya untuk memurnikan kristal sihir tidak ada habisnya.


.........


"Ray, aku keluar sekarang!" seru Alvin dari udara pada Raymond yang sedang memantau pekerjaan helikopter tanpa awak sambil berkomunikasi dengan para pilot yang berada di SUV di luar gerbang.


Raymond mengangkat tangan dan mengacungkan ibu jarinya.


"Serahkan sisanya padaku!"


......................


Saat baru keluar dari gerbang, Alvin langsung melihat Cyntia yang tampak sudah menunggunya dengan wajah murung, yang sempat dilihatnya sebelum wanita itu tersenyum sumringah setelah melihat dirinya keluar dari dalam gerbang.


"Apa ada masalah?"


"Ya?"


"Wajahmu tampak murung."


"Apa aku terlihat begitu?"


Alvin mengangguk. Walaupun ekspresinya sudah berubah, tetap saja Alvin sempat memerhatikannya.


Cyntia menghela nafas sebelum menceritakan apa yang mengganggu pikirannya dalam 3 hari belakangan.


"Kami kehilangan jejak paman Chris."


"Sayang sekali. Harusnya aku mengejarnya terlebih dahulu saat itu."


"Itu bukan salahmu. Sam dan timnya sudah mencari di seluruh Kepulauan Seribu. Hanya saja mereka belum berhasil menemukannya."


Sigh...


'Kau juga belum menemukannya Rimi?'


'Maaf merepotkanmu.'



"Ada apa?" tanya Alvin, melihat Cyntia yang tampak diam seperti tidak ingin mengganggunya.


"Kau sedang berbicara pada Rimi dan Mina?"


"...Ya... Maaf."


"Tidak... Tidak masalah."


"Pembicaraan kami sudah berakhir."


Cyntia tersenyum, "Tidak apa-apa. Pasti ada hal penting yang kalian bicarakan, kan?"


"...Y-ya..., tapi kami benar-benar sudah selesai."


"Baiklah."


Alvin tersenyum kaku.


Belakangan ini, hal seperti inilah yang membuatnya selalu mendiamkan Mina dan Rimi setiap sedang bersama Cyntia.


Cyntia terlalu pengertian dan menghargai Mina dan Rimi yang sebenarnya tidak terlalu ia kenal.


Itu karena Cyntia menganggap Mina dan Rimi sebagai sosok penting dalam kehidupan Alvin, yang telah membuat Alvin berkembang hingga menjadi dirinya yang sekarang.


__ADS_1


'Rimi...'


["Kau membuat kami malu."]


<...Maafkan saya>


"Baiklah. Kalau begitu, ayo kita ke studio," ucap Cyntia dengan nada riang.


"Ya. Hah? Studio?"


"Ya. Kau lupa?" Cyntia mengernyitkan keningnya.


Glup...


"A-aku ingat."


Hari ini adalah janji mereka untuk membuat foto prewedding dan mencoba gaun pengantin.


'Sial..., aku belum berlatih tersenyum dengan benar.'



'Tidak!'


......................


Tidak seperti yang Alvin kira, proses pemotretan berjalan dengan sangat lancar.


Mina yang biasanya selalu mengejek pun kali ini memuji apa yang telah Alvin lakukan dalam pemotretan tersebut.


["Ternyata perasaan cinta bisa membuat batu yang keras menjadi tampak indah."]


'Apa maksudmu?'


["Itu pujian."]


Sampai saat pemotretan selesai, barulah Alvin kembali berwajah kaku.


Hal itu terjadi saat juru foto dan krunya meminta untuk berfoto bersamanya.


Saat tidak sedang berfoto bersama Cyntia, senyuman anehnya pun kembali.


["Batu tetaplah batu. Sangat keras."]


'...Jika orang sepertiku menjadi batu, aku pastilah sebuah batu permata, kan?'



'Apa kau sangat merindukan menghukumku jika gagal melakukan quest, Rimi?'


<...>


Sejak saat itu, Alvin bersumpah jika ia tidak akan mau difoto lagi selain bersama Cyntia.


.........


"Kenapa kau murung? Padahal kau terlihat bahagia saat pemotretan tadi."


"Tidak apa-apa."


"Kau tidak terlalu suka berfoto dengan orang lain?"


Alvin tersenyum kecut.


Sambil membagi konsentrasi dengan mobil yang dikendarainya, Cyntia memerhatikan profil samping wajah Alvin dan ia pun tersenyum.

__ADS_1


Walaupun Alvin tidak terlihat senang saat melayani permintaan berfoto orang lain, dia tahu jika Alvin terlihat bahagia saat sedang berfoto bersamanya, dan itu membuatnya sangat senang.


......................


__ADS_2