
Setelah menyelesaikan semua urusan yang harus diselesaikannya sebelum mengambil quest dari Rimi, Alvin akhirnya pergi ke gudang baru dimana Vina sudah menunggunya di tempat itu.
.........
"Urusanmu sudah selesai?"
Alvin mengangguk pelan. Ia juga berusaha untuk tersenyum walaupun ia kini tidak memiliki suasana hati yang baik untuk melakukannya.
"Ya." Sahut Alvin singkat.
Melihat ekspresi wajah adiknya, Vina yang sudah hidup bersamanya sejak kecil tentu tahu jika adiknya pasti memiliki suatu masalah yang ingin disimpannya sendiri.
'Aku dulu sering melihat eskpresi ini saat dia pulang dari pelatihan di Akademi. Aku tidak tahu kalau waktu itu dia dirundung Brondy Lewis.'
Tapi kali ini Vina sudah tahu apa yang sedang adiknya pikirkan. Walaupun demikian, dia tidak ingin langsung membahasnya dan lebih memilih saat yang tepat untuk menanyakannya.
.........
Alvin memerhatikan ruangan yang masih kosong dan baru memiliki satu set meja kerja di sana.
"Apa kau menyukainya?" tanya Alvin pada Vina, sambil melangkah menuju salah satu dinding ruangan yang kesemuanya terbuat dari kaca.
Ia kemudian berdiri di depan dinding itu untuk melihat pemandangan sungai yang sangat indah di bawah sana.
"Sesuai dengan harga sewanya," sahut Vina setelah ia berdiri di samping Alvin, juga sambil melihat kapal-kapal turis yang melintas di sungai di bawah sana.
Vina kemudian menelengkan kepalanya untuk memerhatikan Alvin.
"Aku akan menggunakan lantai satu sampai lantai empat sebagai tempat penyimpanan."
"Kau hanya memerlukan dua lantai untuk kantor?"
"Ya."
"Kau atur saja. Aku hanya penyuplai."
Vina sedikit kesal saat mendengar itu. Ia sudah tahu bahwa Alvin lah yang telah membunuh semua monster untuk suplai produk perusahaan mereka.
Ia baru merasa sedikit tenang saat Raymond mengatakan bahwa Alvin sebenarnya sangat kuat dan hanya menyembunyikan kekuatannya.
Vina akhirnya menarik nafas panjang dan berusaha untuk memuji adiknya itu atas kerja kerasnya selama ini.
"Hei..., kau tahu... Kau tampak lebih dewasa sekarang."
"Tsk... Kenapa kau baru menyadarinya?"
Plak...
"Aduh...!" keluh Vina, saat merasakan sakit di telapak tangannya setelah ia memukul punggung Alvin.
"Jangan memukul ku lagi. Kau lupa? Aku ini seorang hunter," ucap Alvin yang kemudian memaksakan tawanya ditengah perasaan gugup karena ingin pergi melakukan quest setelah ini.
"Tapi, tubuhmu dulu tidak sekeras ini."
Alvin menyeringai lebar. Sebenarnya, bukan karena tubuhnya yang mengeras. Dia kini memiliki insting yang sudah lebih baik dibandingkan dulu. Ia tadi dapat merasakan datangnya serangan dan secara refleks memperkuat pertahanannya.
"Ngomong-ngomong, apa benar yang Ray katakan bahwa ada gerbang peringkat A akan muncul di sekitar sini besok?"
"Dia mengatakannya juga padamu?" tanya Alvin dengan ekspresi wajah yang sedikit marah. Ia agak jengkel saat Raymond membocorkan pada Vina tentang dia melakukan raid seorang diri dan kini dia juga memberitahukan hal yang pasti akan membuat kakaknya khawatir.
"Ya. Dia hanya ingin melakukan hal yang baik. Dia memintaku untuk mengungsi sementara waktu," sahut Vina. Ia tahu Alvin tampak kesal dan tidak mau adiknya nanti akan marah pada Raymond, mata-matanya.
__ADS_1
"Ya. Seperti yang Ray katakan."
"Bukankah itu sangat berbahaya? Aku membaca tentang itu di internet."
Alvin menoleh padanya sekali lagi sebelum kembali menatap kapal-kapal yang berlalu-lalang di bawah sana.
"Tidak ada yang tidak berbahaya di dunia ini selama kita masih hidup berdampingan dengan gerbang Dungeon."
Vina mengangguk pelan. Apa yang adiknya katakan memang benar. Ibu mereka juga tewas karena sebuah Dungeon Break yang telah dilewatkan oleh Asosiasi Kota S.
"Kau akan ikut bersama mereka untuk mencoba menangani Dungeon itu?"
"Ya. Walaupun belum terdaftar secara resmi, kita sekarang adalah warga Kota T. Jadi aku harus membantu sebisaku."
Vina menghela nafas panjang. Walaupun ia khawatir karena adiknya mungkin bisa saja celaka, namun ia tidak bisa melarangnya juga karena adiknya adalah seorang hunter yang memiliki kewajiban untuk membantu dunia membasmi sebuah Dungeon.
"Kau harus berhati-hati, ok?"
"Tentu."
Setelah membicarakan hal itu, mereka kemudian membahas berbagai hal mengenai dekorasi kantor dan gudang baru selama hampir 1 jam sebelum Alvin akhirnya pamit.
.........
"Kau mau pergi ke Dungeon lagi?" tanya Vina dengan kening mengerut. Ia agak tidak tenang setiap Alvin pergi ke Dungeon.
"Ya."
Vina Mendengus pelan.
"Oh, jika Jack menghubungimu dan menanyakan apa aku bisa membantu mereka, katakan saja aku akan membantu."
"Kenapa aku? Kau bisa mengatakannya sendiri, kan?"
"Apa yang ingin kau lakukan?"
Alvin tersenyum kaku. "Maaf tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang."
"Tsk... Kau sok misterius. Apa kau akan ke Kota S?"
"Tidak. Aku pergi ke kota lain."
Alvin sebenarnya hanya ingin pergi ke Dungeon quest dari Rimi. Terakhir kali dia berada di sana, ia membutuhkan waktu dua hari untuk menyelesaikannya. Jadi berpikir bahwa kali ini mungkin akan memakan waktu lebih lama lagi.
Alvin juga tidak mungkin mengatakan hal itu pada siapa pun. Jadi alasan yang paling tepat adalah mengatakan bahwa ia akan pergi ke luar kota.
"Berhati-hatilah, ok?"
"Tentu."
......................
"Baiklah, sekarang ayo kita selesaikan quest nya, gumam Alvin sembari membuka jendela quest dan mengaktifkannya, sesaat setelah ia keluar dari ruang kerja Vina.
["Hei, kau tahu? Kau terlalu berlebihan. Kau melakukan banyak hal dan berpesan banyak hal pada orang lain seperti kau akan mati saja."]
"Apa aku terlihat seperti itu?"
["Ya. Kau sangat tidak menyenangkan selama dua hari belakangan ini."]
"Apa karena kau tidak bisa mengerjaiku? Apa kau sesenang itu mengerjaiku?"
__ADS_1
["Tsk... Kau melakukannya karena kau takut pada quest nya, kan?"]
"Aku hanya khawatir."
["Bukankah kami sudah membantumu sejauh ini? Kau juga sudah melakukan banyak latihan setiap hari. Walaupun masih sedikit, tapi kemajuanmu sudah sangat baik. Apa yang kau khawatirkan?"]
"Aku ini manusia, ok? Walaupun aku juga tahu tentang kemajuanku, tapi manusia tetap memiliki rasa khawatir."
["..."]
"Yah, kau tidak akan mengerti karena kau Sistem."
["..."]
"Ngomong-ngomong, kenapa peta menuju gerbang Dungeonnya tidak muncul? Aku sudah mengaktifkan quest nya."
["Quest ini tidak diambil dari Dungeon masa depan. Kau bisa membuka gerbangnya dimana saja. Kau tinggal sebutkan kata kunci 'Job Training' maka gerbangnya akan terbuka."]
"Begitu..."
Alvin kemudian pergi ke lantai 5 lalu masuk ke dalam toilet dan membuka gerbangnya disana.
......................
Awalnya Alvin membayangkan akan masuk ke dalam sebuah tempat seperti Dungeon. Tapi, setelah ia memasuki gerbang sihir kecil itu, ia ternyata berpindah ke sebuah ruangan hologram yang di dalamnya juga berisi dua makhluk hologram menyerupai robot.
Melihat dua makhluk hologram sebagai lawan, tentu saja Alvin langsung mendengus kesal.
"Makhluk hologram lagi."
Ia cukup trauma bertarung dengan makhluk hologram yang sepertinya sudah diprogram dengan sangat baik untuk bertarung. Mereka bisa menggunakan energi sihir yang dipadukan dengan teknik bertarung dengan sangat baik. Hal itu benar-benar sangat merepotkan baginya.
Jika disuruh memilih, ia lebih suka bertarung melawan puluhan monster sekaligus yang bertarung secara berkeroyok.
Hal yang paling membuatnya tidak menyukai lawan seperti ini adalah karena mereka tidak memiliki darah dan jaringan otot yang membuatnya tidak bisa bertarung menggunakan poison skill.
"Apa kali ini kau akan membantu?"
["Tentu. Karena aku tidak ikut bertarung, aku akan membantu saat kau hampir mati. Aku sudah mengatakannya, kan? Kau masih punya dua kesempatan untuk menggunakan kekuatan tersembunyi Sistem."]
"Hanya itu?"
["Apalagi yang kau harapkan?"]
"Bukankah kau dulu datang dengan membawa slogan 'aku adalah Sistem Pemburu dari masa depan yang akan membantumu bla bla bla'. Tapi kau bahkan tidak membantuku saat aku menghadapi lawan yang sukar untuk dikalahkan!"
["Aku tidak pernah mengatakannya. Bimi yang mengatakan itu."]
"..."
["Dan lagi, aku sudah membantumu."]
"Tidak sama sekali."
["Lepaskan semua set armor dan pedangmu."]
"Kenapa?"
["Karena itu adalah salah satu bantuanku."]
"..."
__ADS_1
......................