
Alvin segera menyembunyikan diri dengan menggunakan ghost skill saat gadis remaja itu menoleh ke arahnya.
Setelah menutup seluruh gerbang raksasa yang berada di pulau Borneo, ia langsung pergi ke Beijing, bermaksud membantu para hunter yang berada di tempat itu untuk menutup 99 gerbang yang ada di sana.
Tapi, saat ia tiba di sana, seluruh gerbang sudah menghilang.
Alvin bisa menebak siapa yang telah membantu hunter-hunter untuk menutup gerbang-gerbang saat melihat Anna Lloyd ada di sana.
'Jadi dia sudah kembali...'
Pada saat itulah Anna menoleh dan menatap lurus padanya dan ia dengan cepat menyembunyikan diri menggunakan ghost skill.
Tapi...
Deg...
'Dia bisa melihatku?'
Alvin mengernyitkan keningnya, menatap Anna yang masih saja menatap lurus padanya yang harusnya tidak bisa terlihat. Ia juga tidak memancarkan aura sihir sama sekali, hingga tidak masuk akal jika gadis itu bisa merasakan kehadirannya.
["Tidak usah pedulikan itu. Ayo kembali saja ke Kota S. Kita tidak tahu apa ada malaikat lain lagi yang akan membuka gerbang di sana."]
Alvin mengangguk pelan namun ia masih diam beberapa saat, menatap seorang wanita berambut pirang nan cantik yang berdiri di dekat Anna.
["Dia nona Lo."]
'Ya?'
["Wanita yang sedang kau perhatikan."]
Glup...
'Kenapa dia...'
["Mirip dengan Cyntia?"]
'Ya.'
["Aku juga kaget saat melihat Cyntia untuk pertama kalinya. Mereka berdua sangat mirip..., bahkan menurutku wajahnya sama persis dengan wajah nona Lo."]
'Apa mereka saudara kembar?'
["..."]
'...Cuma sebuah pikiran yang melintas.'
["Orang kembar tidak akan memiliki wajah yang sama persis."]
'Kau benar. Selain warna rambut, wajah mereka benar-benar sama persis.'
["Sudahlah, ayo kembali."]
__ADS_1
Alvin pergi ke tempat yang sangat sepi dan membuka sebuah gerbang di sana dengan menggunakan skill Art of Killing. Ia kemudian masuk ke dalam gerbang itu dan muncul di gerbang lain yang ia tinggalkan di bekas area pertempurannya melawan malaikat dari pusaran ungu, di Kota S.
.........
Sudah ada banyak hunter dari Asosiasi dan pihak militer yang berkumpul di tempat itu untuk membersihkan area yang sudah hancur, juga menjaga gerbang yang Alvin tinggalkan.
Hunter-hunter Asosiasi yang sedang menjaga gerbang terperanjat ketika gerbang itu tiba-tiba saja menghilang, lalu wajah mereka terlihat lega setelahnya.
Lowe Frostman yang tahu jika itu adalah gerbang buatan Alvin hanya meminta mereka untuk berjaga saja tanpa memberitahu apa pun hingga mereka mengira jika itu adalah gerbang dari sebuah Dungeon.
'Kasihan sekali.'
["Mereka pasti merasa ngeri untuk menjaga gerbang akhir-akhir ini."]
'Kau benar.'
Alvin tersenyum pahit, mengingat seberapa sering Dungeon Break akhir-akhir ini yang membuat hunter dan warga Kota S hidup dengan perasaan takut dan tidak nyaman.
...****************...
Setengah bulan berlalu setelah 5 gerbang raksasa hadir di pulau Borneo.
Walaupun Mina menutup semua informasi yang berada di pulau itu agar tidak bisa di akses dunia, namun warga di 5 kota yang berada di pulau tersebut masih bisa mengakses informasi yang terjadi di sana.
Karena itulah Alvin yang dianggap sebagai pahlawan di pulau tersebut menjadi perbincangan hangat di antara para warga dan seluruh hunter.
Walaupun tidak ada video dan foto yang beredar, namun semua saksi yang berada di sekitar gerbang, yang terus membicarakan bagaimana dia menghabisi seluruh monster, terus-terusan membicarakan hal itu sampai pada akhirnya Alvin menjadi buah bibir dimana-mana.
Selain Alvin, Lowe Frostman yang sangat sigap menghadapi situasi juga mendapatkan respek dari warga dan hunter di 5 kota.
Karena itulah, saat Asia Tenggara disibukkan dalam mencari pengganti ketua Asosiasi Pusat yang telah tewas, warga dan para hunter di 5 kota mengirimkan suara mereka untuk dukungan pada Lowe Frostman agar bisa menjadi ketua Asosiasi Pusat.
Dengan bantuan yang Mina berikan secara diam-diam, Lowe Frostman akhirnya terpilih menjadi ketua Asosiasi Pusat.
Mina meretas sistem pemilihan elektorik dengan sangat rapi, hingga suara pemilih Lowe mengalahkan para pesaingnya yang berasal dari kota-kota lain.
'Apa yang kau lakukan itu tidak akan ketahuan?'
["Kecuali diriku di masa ini menyelidikinya, semuanya akan aman."]
'Kau sangat mendukung tuan Frostman.'
["Sudah kukatakan bahwa dia adalah hunter yang memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat baik dan berdedikasi tinggi. Kau bisa melihat hasilnya nanti. Bukan cuma 5 kota di pulau ini. Asia Tenggara akan lebih maju di bawah kepemimpinannya."]
'...Kau sudah menceritakannya berkali-kali.'
["Karena itu, percaya saja padaku."]
.........
"Agak sulit untuk bisa berjalan-jalan dengan tenang," ucap Cyntia saat ia tiba di atas puing bangunan tinggi tempat Alvin bersembunyi setelah berhasil melarikan diri dari kejaran hunter-hunter muda yang kebetulan memergokinya sedang berjalan-jalan dengan Cyntia, untuk minta berfoto bersamanya.
__ADS_1
Alvin menanggapinya dengan sebuah senyuman tipis. Ia mengingat bagaimana dulu dirinya selalu dicemooh hunter-hunter yang bertemu dengannya kemanapun ia pergi karena dirinya yang sangat lemah.
"Kalau kau mengalami kebangkitan di peringkat F, setidaknya jangan menjadi seorang Healer. Kau benar-benar tidak berguna dan akan membawa sial untuk rekan dalam timmu."
Ia selalu mendapatkan ejekan yang senada. Ejekan yang Brondy ciptakan dan menyebar dengan sangat cepat di antara hunter-hunter Asosiasi dan siswa-siswi Akademi Hunter.
Pada akhirnya, setelah mendapatkan Main Jobs, Alvin tahu jika peringkat-peringkat itu tidaklah terlalu berarti.
Dari pengalaman bertarung dengan para monster dalam 9 bulan belakangan, ia menyadari jika teknik bertarung yang baik dan kecepatan dalam membunuh adalah segalanya. Tentu saja, energi Mana yang besar juga dibutuhkan.
Beragam skill tidak terlalu dibutuhkan. Yang terpenting adalah kecepatan seorang hunter untuk dapat membunuh mangsa sebelum buruan itu menyadarinya.
Pertempuran berkepanjangan dengan menggunakan terlalu banyak skill, akan menghabiskan energi Mana, juga dapat merusak alam jika itu dilakukan di Bumi.
......................
"Sudah jarang sekali ada Dungeon yang muncul belakangan ini," ucap Cyntia, membuyarkan lamunan Alvin.
Alvin mengangguk pelan dan tersenyum tipis.
Ia ingat apa yang dikatakan makhluk hitam legam pada Li Wen Xia yang meminta wanita itu untuk menghentikan kegiatan mereka di pulau ini dan menyerahkan pulau padanya.
Pada akhirnya, makhluk dari pusaran ungu dan pusaran putih itu tewas, hingga Dungeon jarang bermunculan.
"Karena pembuat Dungeon sudah mulai berkurang," sahut Alvin.
"Pembuat Dungeon?"
"Ya."
"Maksudmu?"
Alvin menarik nafas panjang dan menghembuskannya lagi selambat caranya menarik nafas.
Ia kemudian menceritakan pengalamannya selama ini dan apa yang diketahuinya tentang para pembuat Dungeon dan bagaimana Dungeon itu terbentuk pada Cyntia.
Alvin menceritakan semuanya secara detail, sampai ia berhenti saat merasakan adanya aura sihir mengerikan berasal dari tempat yang sangat jauh.
Alvin berdiri dengan wajah mengeras, merasa tidak nyaman dengan aura sihir yang terlalu berlebihan itu.
'Apa ini? Apa ada gerbang raksasa lagi?'
Alvin mengambil ponselnya dan pergi ke saluran WABC.
Ia dan Cyntia kemudian melihat siaran langsung dari kota pelabuhan di Tiongkok, di mana sebuah gerbang merah yang sangat besar dan sudah mengkristal muncul di sana.
'Ini mengerikan. Aku harus kesana.'
["Jangan tinggalkan kota ini."]
__ADS_1
'Kenapa? Gerbang itu sangat berbahaya!'
["Gerbang itu memang sangat berbahaya. Tapi akar masalahnya akan muncul di sini."]