Hunter System

Hunter System
Bab 209 - Cerita Yang Tidak Bermanfaat


__ADS_3

Alvin dan Cyntia pergi ke kastil keluarga Maxwell setelahnya dan ini adalah pertama kalinya bagi Alvin menginjakkan kaki di kediaman keluarga Maxwell setelah selama dua bulan belakangan sibuk dengan urusan perusahaannya.


Semua orang yang tinggal di dalam benteng, yang sudah Cyntia kabari tentang kedatangannya dengan membawa Alvin, menyambut kedatangan mereka sejak sedan yang mereka kendarai memasuki gerbang benteng.


Para hunter muda yang tinggal di barak-barak berbaris di sepanjang jalan hanya untuk melihat Alvin.


"Tuan Rufino!"


"Tuan Rufino, senang bertemu Anda...!"


Hampir semua hunter berusia belasan tahun itu memanggil namanya dan menatap kagum padanya.


Sementara Alvin sendiri merasa kebingungan untuk menanggapi sambutan mereka yang ia anggap terlalu berlebihan.


Beberapa dari hunter remaja pernah dilihatnya dan dulu mereka tidak bersikap seperti ini padanya.


'Bukankah dulu kami sering bertemu? Kenapa mereka berubah begini?'


Sam bahkan sampai kerepotan menghalau para hunter remaja yang bergerombol ingin ikut masuk ke dalam kastil demi melihat Alvin dari jarak yang lebih dekat lagi.


Selain itu, semua hunter remaja juga ingin mendengarkan cerita Alvin. Tentang pertarungannya melawan musuh-musuh kuat yang selama ini hanya mereka dengar dari orang tua dan senior-senior mereka saja.


Mendapatkan cerita dari pelakunya langsung tentu akan lebih menarik.


Tapi, bukan cuma para remaja itu saja yang ingin mendengar cerita perjuangan Alvin saat ia berada di planet monster dua bulan lalu. Keluarga utama Maxwell juga ingin mengetahuinya.


Karena itulah, mereka 'menyingkirkan' hunter remaja yang hendak memaksa masuk ke dalam kastil.


Sebenarnya Alvin juga belum pernah menceritakan pengalamannya itu pada siapa pun termasuk pada Cyntia yang memang tidak ingin menanyakan hal yang sepertinya tidak ingin Alvin ceritakan padanya.


Karena itulah, sejak Alvin berada di sana, semua mata langsung tertuju padanya setelah Sam menanyakan mengenai pengalaman yang telah dilaluinya.


Glup...


Alvin menatap semua orang dengan perasaan bercampur aduk.


Senang karena diperhatikan, namun gugup dan merasa canggung juga di saat yang bersamaan.


Rasa haus informasi mereka, membuat tatapan orang-orang itu tampak jauh lebih buas dibandingkan tatapan dewan Re saat hendak membunuhnya.


"Jadi...," Alvin mulai membuka mulutnya setelah menelan seteguk minuman untuk membasahi tenggorokannya, seakan cerita yang akan dibeberkannya adalah sebuah cerita yang sangat panjang.


Alvin melanjutkan, "Dia makhluk yang mengerikan. Dia menyerangku... sat... sat... sat... Lalu aku membunuhnya," ucap Alvin dengan gugup.


Ceritanya berakhir hanya dalam satu kalimat.


Suasana hening cukup lama.


Orang-orang yang berharap akan mendapatkan cerita seru mulai saling melirik setelah Alvin tidak melanjutkan ceritanya lagi.


'Sat... sat... sat... dan langsung selesai?'

__ADS_1


'Apa hanya itu yang terjadi?'


'Apa dia benar-benar pernah bertarung dengan monster mengerikan seperti yang diberitakan stasiun WABC?'


'Pertarunganku menghadapi monster kodok di Dungeon peringkat D dulu jauh lebih menegangkan.'


Semua orang yang berada di sekeliling meja makan masih saling bertatapan sembari larut dalam pikirannya masing-masing, sebelum akhirnya menatap Alvin dengan wajah berkerut.


Mereka tampak tidak puas dengan cerita itu.


Mendapatkan tatapan seperti itu, Alvin dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Cyntia yang sedang mengulum senyumnya.


Mengira Alvin ingin meminta bantuan padanya untuk mengatasi suasana aneh di meja makan, Cyntia pun langsung memperbaiki ekspresinya.


Dengan ekspresi dingin, Cyntia menatap balik semua orang yang duduk di sekeliling meja makan bundar itu dengan sorot mata mengancam.


Sebagian besar dari mereka adalah anggota keluarganya sendiri.


Hanya ada Marco Rufino, Vina dan Jack saja yang bukan merupakan bagian keluarga langsung.


Tahu dengan arti tatapan Cyntia yang mereka segani, semua orang langsung menundukkan kepala.


"Haha... Kita belum makan malam. Ayo... Ayo kita makan dulu...," ucap Sam sembari mengambil beberapa hidangan yang ada di atas meja.


"Pertarungan itu berlangsung dengan sangat cepat...," ucap Alvin tiba-tiba.


Gerakan semua orang berhenti dan mereka menatap kembali padanya.


Alvin tidak berbohong.


Beberapa menit yang ia lalui dalam pertarungan hanyalah saat ia dan lawan sedang saling mengamati kekuatan masing-masing.


Saat mereka bergerak, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk saling bertukar serangan.


Karena itulah dia sulit menceritakan seperti bagaimana seorang hunter biasanya menceritakan pengalaman mereka saat bertarung, untuk dijadikan pelajaran bagi hunter lain apabila suatu saat bertemu lawan yang sama.


Ketika orang-orang itu menatapnya dengan ekspresi tidak percaya, Alvin menunjuk piring di hadapannya.


"Pertarungan menghadapi para dewa akan sangat intens dan cepat seperti ini," ucap Alvin. "Lengah sedikit saja maka kita akan binasa," tambahnya.


Hanya itu informasi yang bisa ia berikan pada mereka sebagai pengetahuan bagaimana hebatnya dewan Re. Juga dirinya sendiri.


Semua orang awalnya tidak mengerti dengan maksud perkataannya.


Namun, saat mereka melihat tumpukan piring di hadapan Alvin, barulah mereka mengerti apa yang dimaksudkannya.


Cyntia yang memiliki kecepatan bergerak di luar nalar saja sampai terkejut dibuatnya.


Ia tidak tahu kapan Alvin bergerak mengumpulkan semua piring makan dari hadapan puluhan orang yang ada di sana dan memindahkan semua piring itu menjadi satu tumpukan di depannya.


"Jadi aku agak... melupakannya," ucap Alvin lagi.

__ADS_1


Di mata mereka, Alvin hanya sedang berbicara. Namun, tanpa mereka sadari, saat ada sedikit jeda pada kalimat yang Alvin ucapkan, Alvin sudah mengembalikan semua piring ke hadapan orang-orang itu lagi.


Hunter-hunter itu berkeringat dingin.


Kini mereka menyadari kenapa tidak ada yang tampak spesial dari Alvin.


Mereka mengingat kembali bagaimana Alvin menghabisi pasukan lich tanpa sempat mereka sadari.


Karena itulah tidak banyak hal menarik yang bisa dipelajari dari pertarungannya.


"Dia sangat cepat. Kami bahkan tidak menyadari kapan dia memenggal leher monster-monster itu."


"Apa?! Bagaimana dia melakukannya?"


"...Kami tidak tahu. Hanya saja... Kepala mereka sudah berserakan di tanah."


Itulah yang selalu para saksi ceritakan pada hunter-hunter yang tidak berada di tempat kejadian.


"Benar juga. Tidak ada yang bisa dipelajari dari caranya bertarung, juga bagaimana cara menghadapi lawannya. Toh kami tidak akan bisa menghadapi mereka jika mereka masih ada," pikir Sam, menyimpulkan.


......................


Hari-hari berikutnya Alvin habiskan untuk melatih para hunter remaja di benteng keluarga Maxwell.


Berbekal dari apa yang sudah ia latih selama melakukan quest yang Rimi berikan, ia mengajarkan teknik berpedang dan teknik menggunakan belati pada hunter muda bertipe Warrior dan Assassin.


Pada hunter bertipe Tank, Mage dan Healer, ia mengajari mereka cara mengontrol energi Mana dan cara pendistribusian energi Mana yang benar agar mereka bisa memaksimalkan kapasitas energi Mana yang dimiliki dan tidak kehabisan energi Mana saat pertempuran sedang berlangsung.


Bukan hanya hunter-hunter pemula saja yang belajar padanya, hunter-hunter senior pun ikut belajar darinya.


Apa yang Alvin lakukan pada semua hunter keluarga Maxwell itu pada akhirnya akan membuat mereka unggul dibandingkan hunter-hunter yang belajar di Akademi.


......................


Waktu terus berlalu, sampai akhirnya tibalah hari dimana Alvin dan Cyntia akan melangsungkan pernikahan.


Di malam itu, satu malam sebelum acara pernikahan diselenggarakan, Alvin tampak sangat gelisah.


Di dalam kastil khusus pria, ia membolak-balik tubuhnya di atas tempat tidur dengan sangat gelisah.


"Apa orang yang akan menikah memang segelisah ini?" tanya Alvin pada Mina dan Rimi yang ia tahu sudah pernah menikah di kehidupan mereka.



["Aku memang jarang tidur dan selalu sibuk dengan penelitianku. Aku tidak tahu."]


Alvin akhirnya bangkit, memutar tubuhnya, hendak duduk di tepi ranjang.


Tapi, sebelum ia sempat meletakkan bokongnya dengan benar, sebuah gerbang sihir tiba-tiba muncul di bawah tubuhnya dan membuatnya terjerumus masuk ke dalam gerbang sihir tersebut.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2