
Asap hitam yang menyerupai bayangan dari wujud roh monster yang telah dipanggil dewa Zei kembali dari alam baka, melayang-layang mengepung Alvin yang justru masih diam di tempatnya berdiri alih-alih pergi menghindari kepungan mereka atau memikirkan cara untuk menghadapinya.
'Aneh. Kenapa aku merasa pertarungan ini akan berjalan sedikit lebih mudah?'
["Aku malah sudah memikirkan sihir untuk menghadapinya. Dia salah karena menggunakan skill seperti ini padamu."]
Alvin tertawa.
'Ini sangat mudah dihadapi, kan?'
Sementara Alvin masih memerhatikan pasukan lawan yang tak terhitung itu dan sudah terpikirkan cara untuk mengatasinya, sebuah portal sihir tiba-tiba terbuka di hadapannya.
Justru Alvin lebih penasaran dengan kemunculan portal tersebut, yang sudah ia kenali juga sangat sering digunakannya.
Sosok avatar hunter, disusul oleh Cyntia, akhirnya keluar dari dalam portal yang tak lain adalah pintu keluar masuk ruang hologram inventory.
"Apa inventory sebenarnya bisa digerakkan?"
"Bisa, tuan."
"Kenapa kalian tidak memberitahunya padaku sejak dulu?"
"Cuma bisa dijalankan jika saya yang menggunakan sistemnya, tuan."
"Begitu... Pantas saja."
"Mereka mirip monster-monster tadi, kan?" ucap Cyntia sambil mengamati sosok-sosok monster dalam wujud asap hitam yang sedang mengepung mereka.
"Mereka roh dari monster-monster itu," sahut Alvin.
Tatapan Cyntia akhirnya beralih ke daratan dimana ia juga berdiri di atasnya, melihat genangan mayat monster yang tak terhitung jumlahnya.
'Dia menghabisi mereka semua sendiri? Ku kira ada hunter dari Kota C yang membantunya.'
"Saya akan memanggil pasukan serangga untuk menjadi pelindung di bagian luar, tuan," ucap Rimi.
Belum sempat Alvin menanggapinya, bermaksud untuk melarang Rimi melakukan niat tersebut, Rimi sudah terlebih dahulu memanggil 500 serangga utama yang belakangan ini berjuang bersama dengannya.
Tapi tidak dengan jutaan lalat yang Rimi anggap tidak memiliki kekuatan cukup untuk bisa bertahan dari lawan.
.........
Rimi memerintahkan pasukan serangga untuk menyebar membentuk sebuah lingkaran dengan jarak yang agak jauh dari tempat mereka bertiga berada, sementara ia sendiri langsung bergerak menyerang pasukan roh monster yang berada di dalam lingkaran pengepungan serangga.
Rimi bisa menghabisi pasukan roh dengan sangat cepat hanya dengan menggunakan spiderwebs, sementara Cyntia menyerang pasukan bayangan dengan serangan langsung.
Karena Rimi dan Cyntia sudah terlanjur menyerang, Alvin pun pada akhirnya hanya mengamati mereka saja.
'Kebetulan aku juga belum pernah memerhatikan cara mereka bertarung dengan benar.'
Setelah hampir satu menit berlalu, Alvin mulai takjub dengan cara Rimi memadukan semua skill yang pernah digunakannya juga sebelum mendapatkan The Art Of Killing.
Rimi menggunakan gabungan antara spiderwebs, thunderbolt, flame dan shuriken dengan sangat baik dan sistematis.
Bahkan, menurut Alvin, Rimi menggunakan semua skill itu jauh lebih baik dari pada dirinya sendiri.
__ADS_1
'Jadi begitu cara memadukan serangan dengan semua skill itu.'
["Dia sudah bertarung dalam banyak pertempuran menggunakan semua skill itu. Jadi wajar jika dia sudah sangat mahir memadukannya."]
'Berapa lama?'
["Ya?"]
'Waktu yang Rimi habiskan untuk membela Bumi dari para monster.'
["Tidak kurang dari 15 tahun."]
Alvin terdiam.
Kini ia tahu selama apa Rimi dan Mina telah berjuang di masa lalu.
'...Aku menghormati kalian berdua.'
["F**k!"]
'Aku mengatakannya dengan tulus.'
Alvin berpaling pada Cyntia.
Ia menelengkan kepala saat merasa sudah sangat familiar dengan gerakan dari gaya bertarung Cyntia yang menyerang semua bayangan hitam pengeroyoknya menggunakan belati dan kedua kakinya yang sangat lincah.
'Entah kenapa..., sepertinya teknik bertarung Tia sangat tidak asing...'
["Itu gabungan dari tarian girl group yang biasa kau tonton."]
Alvin mengernyitkan alis, memerhatikan beberapa gerakan pendek pertama dan beberapa gerakan pendek berikutnya yang Cyntia gunakan.
Glup...
'Kau benar.'
["Dia sangat kreatif. Bisa menciptakan gaya bertarung dari sebuah tarian."]
'Y-ya...'
.........
Hanya dalam waktu kurang dari 3 menit, ribuan roh monster berwujud asap hitam yang berada di dalam lingkaran pembatas yang dibuat pasukan serangga telah menghilang.
Setelah menyelesaikan tugas mereka, Rimi dan Cyntia kembali lagi ke sisi Alvin.
"Ternyata mereka bisa dibunuh," ucap Cyntia yang langsung bisa mengatur kembali nafasnya dengan cepat setelah berdiam diri beberapa saat.
"Aku sudah khawatir jika kita tidak bisa membunuh mereka," tambah Cyntia.
Alvin mengangguk pelan sebagai tanggapan. Pandangannya kemudian beralih, menatap dewa Zei yang sedang melayang tinggi di luar lingkaran penjagaan pasukan serangga.
Dari seringai dewa Zei, Alvin bisa menebak jika permainan dewa itu belum selesai.
Benar saja. Saat dewa Zei mengucapkan kata 'bangkitlah' sekali lagi, pasukan roh monster yang sebelumnya menghilang, naik dan muncul kembali dari dalam tanah.
__ADS_1
Bahkan, mereka bukan hanya kembali lagi. Alvin bisa merasakan energi Mana berlipat dari pasukan itu setelah mereka kembali untuk yang kedua kalinya dari alam kematian.
"Hati-hati. Mereka bertambah kuat," Alvin mengingatkan.
"Aku bisa merasakannya. Sebaiknya kau istirahat dulu. Biar kami yang menghadapi pasukan bayangan ini," ucap Cyntia sebelum bergerak ke sisi kanan Alvin sementara Rimi bergerak di sisi kirinya.
'Mereka terlalu bersemangat.'
["Biarkan saja."]
'Padahal masih ada yang ingin kusampaikan pada mereka.'
......................
"Mari kita lihat, seberapa lama kalian bisa bertahan dari pasukanku ini!" seru dewa Zei dari kejauhan. Suara tawa nyaring mengakhiri ucapannya.
Alvin mengikuti arah tatapan mata dewa itu, memerhatikan pasukan serangga yang mulai terdesak mundur oleh serangan lautan pasukan roh monster yang datang dari arah luar lingkaran yang pasukan serangga bentuk.
Pasukan serangga yang hanya berjumlah 500 itu memang sudah lebih kuat sejak Rimi melakukan upgrade kapasitas energi Mana pada mereka. Namun, pasukan lawan yang memiliki jumlah jauh lebih besar, pada akhirnya berhasil mendesak mereka.
Belum lagi pasukan roh monster akan bertambah kuat tiap kali dibangkitkan ulang oleh dewa Zei. Hal itu membuat lingkaran yang mereka bentuk semakin mengecil, menyempit ke arah Alvin yang berdiri memantau pertempuran di tengah-tengahnya.
......................
"Sejujurnya, aku dulu merasa bingung dengan kegunaan The Art Of Killing bagian keempat. Tidak ada di antara monster yang pernah kuhadapi yang bisa merespon skill itu."
["Aku dulu juga berpikiran sama denganmu."]
"Karena kau tidak pernah melawan arwah seperti mereka?"
["Cuma pasukan lich yang pernah kuhadapi. Mereka masih memiliki wujud solid."]
Alvin tersenyum tipis.
"Ayo kita masuk dalam permainannya dulu. Aku akan menguras energi Mananya."
Alvin menggunakan airbender untuk pergi menghampiri dewa Zei.
Ia langsung menyerang dewa itu dengan dagger rain dalam jumlah kecil untuk bisa mempersempit jarak.
Dewa Zei sudah tahu jika ia akan sangat dirugikan jika harus bertarung dalam jarak dekat melawan musuh yang sangat ahli dalam pertarungan jarak dekat, walaupun dirinya juga sudah dilindungi oleh kabut hitam sihir pelindung.
Oleh sebab itu, dewa Zei memerintahkan pasukan roh monster dari ular naga raksasa dan wyvern yang sejak tadi masih dalam posisi siaga, untuk bergabung dalam pertempuran.
Dewa Zei membagi pasukan raksasa terbang itu dalam dua bagian. Setengahnya ia perintahkan untuk menyerang pasukan serangga, sementara setengahnya lagi ia tempatkan di sekelilingnya agar Alvin tidak bisa mendekat.
Melihat pasukan roh dari ular naga dan wyvern yang kini menghadangnya, Alvin justru bertambah senang. Ia langsung menyerang semua raksasa dalam bentuk asap hitam itu dengan sangat cepat, menghabisi mereka semua dengan brutal menggunakan dagger rain.
'Bagus, ayo bangkitkan mereka terus.'
Alvin meningkatkan kecepatan dagger rain tiap kali dewa Zei membangkitkan ulang para monster raksasa.
Ia tidak merasa terganggu sama sekali dengan kekuatan mereka yang terus bertambah tiap dibangkitkan ulang, karena ia bisa menghabisi mereka lagi hanya dengan menambah kecepatan serangan.
Bagi Alvin, tidak ada gunanya pasukan arwah itu memiliki kekuatan menyerang berkali lipat, selama mereka tidak dilindungi sihir pertahanan sekuat milik dewa Zei karena Dagger rain yang memiliki daya hancur sangat kuat, akan tetap bisa dengan mudah menghabisi pasukan roh tersebut.
__ADS_1