
Vina baru menyadari bahwa wanita yang tadi ia lihat berjalan di sebelah Alvin itu ternyata benar-benar sedang berjalan bersama Alvin. Tadinya, ia mengira mereka hanya kebetulan saja berjalan beriringan mengingat jarak di antara mereka terlalu jauh untuk dikatakan sedang jalan bersama.
Hal itu diketahuinya ketika ia melihat ekspresi dan gerak-gerik Ivory yang terlihat salah tingkah dan langsung mundur menjauh.
"Oh, hai...," sapa Vina cepat, sambil mengulurkan tangannya mengajak Ivory untuk berjabat tangan.
"Ah... Y-ya... H-hallo... Maaf saya hanya bertemu tuan Rufino di toko perlengkapan raid disana." Ucap Ivory, sambil menunjuk ke arah toko perlengkapan raid dengan sikap canggung. Ia bahkan tidak melihat Vina sedang mengajaknya untuk berjabat tangan.
Saat Vina menatapnya sambil terus tersenyum, ia akhirnya baru melihat bahwa Vina menunggunya untuk menyambut tangannya.
"Ah... Y-ya... Maaf...," ucap Ivory tergagap sambil menjabat tangan Vina.
"Saya Vina Rufino," ucap Vina.
"Ah... Y-ya... Saya Ivory Cruz," sahut Ivory, sambil melirik pada Alvin dan menatapnya dengan perasaan kecewa.
'Ternyata dia sudah memiliki istri.'
Melihat perubahan pada ekspresi wajah Ivory, Vina bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran wanita itu. Ia pun tertawa.
"Saya kakaknya, bukan istrinya."
"Y-ya...," sahut Ivory pelan. Ia tiba-tiba kehilangan semangat.
"Saya kakaknya," ulang Vina, saat melihat wajah Ivory yang semakin tampak kecewa.
Ivory mengangguk pelan, sambil memaksakan sebuah senyum.
Tapi, saat ia sudah berhasil mencerna kalimat itu, kedua matanya tiba-tiba melebar. Ia pun menjabat tangan Vina lagi dan menggoyang-goyangkannya naik turun dengan lebih bersemangat.
"Oh... Senang berjumpa dengan Anda, nona Rufino."
Melihat perubahan ekspresi lagai pada wajah Ivory, Vina kembali tertawa.
"Tolong panggil saja dengan nama depan," ucap Vina di sela tawanya.
Sementara itu, Alvin yang tidak menyadari pertukaran perasaan antara dua wanita itu hanya menggaruk-garuk kepalanya. Malu karena orang-orang kini mulai memerhatikan mereka.
'Apakah wanita yang baru berkenalan memang biasanya seberisik ini?'
["Tsk... Kau tidak tahu perang batin yang terjadi di hati wanita manis itu?"]
'Hah?'
["Sudahlah. Anggap saja ini pertemuan nona Cruz dan calon kakak iparnya."]
'Kau konyol. Nona Cruz bahkan lebih tua satu tahun dari kakakku. Bagaimana dia bisa menjadi adik?'
["Lebih baik menjadi orang konyol daripada orang bodoh."]
'Rimi, apa Mina biasanya berbicara kasar?'
'A-apa?!'
["Ya, kan? Dan tolong jangan memanggilku dengan nama itu."]
'Aku akan memanggilmu Mina mulai sekarang.'
["Aku akan mengabaikanmu."]
__ADS_1
'Apa kau lebih senang kupanggil dengan sebutan ibu?'
["Mina saja. Terima kasih."]
......................
"Alvin?"
"Ya?"
"Kau melamun?"
"Tidak. Hah? Kemana dia?"
Alvin menoleh ke kanan kirinya, mencari Ivory yang sudah lenyap dari hadapannya saat ia masih berbicara pada Mina sambil melihat beberapa orang yang sedang melakukan atraksi jalanan.
"Bukankah dia tadi pamit padamu?"
"Benarkah?"
"Kau bodoh!"
Walaupun ia mengumpat, tapi Vina juga tersenyum cerah sambil menatap wajah adiknya lekat-lekat.
"Apa kau menyukainya?" tanya Vina tiba-tiba.
"Hah?"
"Ivory."
"Ya. Dia wanita yang ramah dan baik."
"Tsk... Bukan itu maksudku."
"Sudahlah. Biar semuanya berjalan secara alami. Tidak seru kan kalau aku membantumu?"
"Bicaralah dengan jelas."
["Dia sudah berbicara dengan sangat jelas. Kau saja yang bodoh."]
'Nah, Mina kita marah lagi, Rimi.'
["Racun akan dilepaskan dalam 5... 4... 3..."]
'Hei! Jangan bercanda!'
......................
Malam harinya, Alvin kembali melakukan raid untuk menaikkan experience point agar bisa cepat mencapai level 78. Ia sangat ingin bisa segera mengambil quest level 71 dan mengumpulkan Hunter Equipment spesial yang memiliki status sangat luar biasa itu.
Tapi, tanpa Alvin sadari, selama ia melakukan raid di Dungeon yang belum terbuka pada umum itu, secara tidak langsung ia sebenarnya telah mengurangi kemunculan gerbang Dungeon di Kota T.
Karena itu, guild-guild kecil di Kota T yang setiap harinya hidup dari melakukan raid di Dungeon peringkat D, mulai kebingungan karena jatah raid mereka tiba-tiba berkurang drastis.
Merasa pendapatan mereka menurun secara signifikan, pemimpin-pemimpin dari guild kecil yang tidak tahu kenapa Dungeon peringkat rendah tidak lagi bermunculan, segera menghubungi Asosiasi untuk meminta bantuan agar Asosiasi mencari kontrak kerjasama dengan kota lain agar mereka bisa mendapatkan pekerjaan kembali.
Hal itu sebenarnya terjadi juga pada guild besar. Bukan hanya gerbang Dungeon peringkat rendah saja yang berkurang. Sebenarnya, semua gerbang Dungeon dari peringkat B sampai E benar-benar hanya sedikit yang bermunculan.
Guild-guild besar pada akhirnya menghubungi Asosiasi juga untuk meminta bantuan agar mereka dicarikan pekerjaan untuk melakukan raid di kota lain.
.........
__ADS_1
"Sepertinya karena tuan Rufino melakukan raid terlebih dahulu sebelum gerbangnya muncul, maka gerbang-gerbang baru tidak muncul," ucap Lex pada Jack yang sedang menemaninya mengobrol sambil menikmati secangkir kopi di kafe Asosiasi.
Jack yang tidak tahu harus menanggapinya bagaimana, hanya tersenyum canggung.
"Tolong kau carikan saja pekerjaan untuk mereka di kota lain," perintah Lex yang sebenarnya tidak terlalu peduli pada bisnis para hunter. Ia justru senang jika gerbang-gerbang itu menghilang selamanya dan mereka semua bisa hidup dengan tenang.
"Tapi, bukankah akan sangat berbahaya kalau hunter-hunter itu pergi keluar kota? Bukankah dua gerbang peringkat A itu akan segera muncul?"
Lex tersenyim miris, "Walaupun mereka ada, mereka juga tidak akan mampu melakukan raid di dua Dungeon itu. Kau ingat apa yang terjadi kemarin, kan?"
"A-anda benar..."
"Selama tuan Rufino ada, kita tidak perlu terlalu khawatir."
"Tapi, kedua gerbang akan muncul dalam waktu berdekatan di hari yang sama. Bagaimana dia bisa menangani keduanya sekaligus?"
"Kita akan berjaga dulu di salah satu gerbang sambil menunggu tuan Rufino menyelesaikan Dungeon lainnya."
"Baiklah. Kalau begitu saya akan mencarikan kontrak kerjasama dengan Asosiasi di kota lain."
"Sebenarnya yang membuatku khawatir adalah tempat kemunculan gerbangnya. Aneh, kenapa tempatnya kebetulan sekali bisa berada disana?"
Saat Lex hendak membahas lokasi kemunculan dua gerbang itu, ponselnya tiba-tiba berdering.
Melihat siapa yang menghubunginya, Lex pun langsung menerima panggilan dengan cepat.
"Billy?"
《"Paman Lex... Kenapa dia berbuat seperti itu pada kami?"》
"Y-ya?"
《"Buronan Asosiasi Kota S itu. Apa yang dia pikirkan? Dia sudah mencelakai bawahanku dan mengancam kami dengan sihir voodoo jika gerbang itu kami tutup. Kenapa Anda membiarkannya?"》
"Tunggu dulu. Apa maksudmu?"
《"Apa? Apa Anda belum mengetahuinya, paman?"》
Mendengar itu, Lex melirik pada Jack dan melihat Jack langsung menundukkan kepalanya.
"Aku akan menghubungimu nanti setelah tahu masalah yang terjadi."
《"Tsk... Saya akan kembali ke Kota T dalam dua hari. Saya harap Anda bisa menyelesaikannya sebelum saya pulang, paman."》
"Y-ya... Aku mengerti."
《"Paman. Ingat, saya sangat berharap gerbang itu ditutup sebelum saya kembali."》
Setelah penelepon itu memberikan ultimatum, ia langsung menutup sambungan telepon ssbelum Lex menanggapinya.
Lex langsung menatap Jack dengan kedua alis mengernyit.
"Jack. Apa yang terjadi? Kenapa CEO ZC group marah-marah padaku?"
Jack menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menghela nafas panjang.
Ia mengambil kotak rokok dari balik kantong jas sebelum akhirnya menarik sebatang rokok dan meletakkannya di mulut.
Lex segera menyambar rokok itu dan mengembalikannya kedalam kotak rokok Jack.
"Disini ruangan bebas rokok." Ucap Lex.
__ADS_1
Dari tingkah Jack itu saja, Lex tahu bahwa ada masalah besar yang telah terjadi.
...****************...