
Tidak sempat menghindari serangan itu, Alvin harus merelakan tubuhnya terpenggal menjadi dua bagian.
Sraaaaaaattttt...!
Pedang raksasa dewan Re jatuh di pundak kiri Alvin dan membelahnya sampai ke bagian pinggang.
Bahkan, serangan dewan Re bukan hanya berhasil memenggal tubuh Alvin saja. Laser keperakan itu juga membelah daratan dan pada akhirnya membelah planet monster menjadi dua bagian.
'Untung saja aku berhasil menyelamatkan jantung dan inti Manaku.'
Bersamaan dengan terbelahnya planet monster, gerbang cincin hitam yang melingkari planet juga runtuh secara perlahan.
......................
Alvin memerhatikan gerbang cincin yang runtuh bersamaan dengan terpenggalnya planet monster.
Ia awalnya mengira jika runtuhnya gerbang adalah akibat dari sihir dewan Re.
Namun, setelah ia perhatikan dengan seksama, ia tahu bahwa hal itu bukanlah penyebabnya.
'Apa Reno sudah mati?'
Alvin mengalihkan pandangannya, menatap pedang besar di genggaman dewan Re yang sudah bergerak lagi menuju ke arah kepalanya.
Ia mengerahkan kekuatannya untuk sekali lagi menghindari pedang agar tidak membelah kepala, jantung dan inti Mananya.
Sratttt...!
Pedang itu mengenai dan memenggal pundaknya yang lain, hingga Alvin kini hanya memiliki kepala dan sebagian kecil tubuhnya yang menyimpan jantung dan inti Mananya saja.
Seluruh bagian tubuhnya yang memiliki kaki dan tangan telah terpisah, terdorong jauh dan melayang-layang di luar angkasa mengikuti bekas lintasan orbit planet monster.
Setelah berhasil menghindari satu serangan dewan Re lagi, Alvin menyerap tubuh yang terpisah-pisah itu untuk menyatu kembali.
Sat...
......................
Dewan Re yang baru saja menebas tubuh Alvin, melihat penyatuan tubuh lawan dengan mata menyipit.
"Kemampuannya sudah seperti para dewa saja."
Dewan Re menghentakkan kakinya di ruang hampa udara, di mana mereka kini berada, lalu melesat untuk memberikan serangan yang ia arahkan pada kepala Alvin.
Hancurkan dulu kepalanya, baru ledakkan jantung dan inti Mananya.
Dewan Re bisa melihat apa yang sejak tadi Alvin lindungi.
'Salah satu dari ketiganya pastilah kelemahannya.'
Sama seperti para dewan pengawas yang memiliki kelemahan pada otak mereka, dewan Re juga yakin jika makhluk ciptaan berkekuatan dewa itu pasti memiliki satu kelemahan di antara 3 organ vital yang sudah dapat ditebaknya.
......................
Saat tubuhnya telah kembali menyatu, Alvin mengerahkan semua kekuatan untuk membuka kekuatan tersembunyi yang Lorelei berikan dan tersimpan di dalam inti Mananya.
Setelah kekuatan pada inti Mana terfokus, kekuatan tersembunyi yang Lorelei berikan bereaksi pada aliran energi Mana diseluruh tubuh Alvin.
Energi Mana itu memendar, mengeluarkan cahaya biru yang terang-benderang dan memancar keluar dari pori-pori tubuhnya.
Ziiiiiiiiinnnnngg...!
Getaran hebat terdistorsi di ruang hampa udara.
Tiap bagian dari dua planet monster yang sudah terbelah, hancur berkeping-keping setelah Alvin menggunakan kekuatan tersembunyinya.
__ADS_1
Tahu jika kekuatan itu bisa meledakkan sebuah planet, Alvin sebenarnya tidak ingin menggunakannya karena ia yakin bisa mengalahkan dewan Re jika ia sedikit lebih bersabar untuk memikirkan taktik dalam bertarung.
Lorelei juga sudah memberinya peringatan untuk tidak menggunakan kekuatan itu kecuali dalam keadaan terdesak.
Tapi, karena dewan Re sudah terlebih dahulu menghancurkan planet dewa Voxa yang 'berwajah kasihan' itu, Alvin jadi tidak merasa bersalah jika harus melenyapkan sisa planet tersebut.
'Lagian aku sekarang sedang dalam keadaan terdesak.'
......................
Wusssssshhhhh...
Alvin menghindari tebasan pedang raksasa yang hampir mengenai kepalanya.
Dengan wujud yang kini dipenuhi cahaya biru, ia melesat mengejar dewan Re yang baru melintas di sampingnya, menggunakan 6 sayap Serafim yang tumbuh di punggungnya.
"The Art Of Killing, part 3..., End of Life!"
Pedang bercahaya biru yang terbentuk dari energi Mana muncul di kedua genggaman tangan Alvin.
Ia mengayunkan pedang sihir itu dengan kedua tangannya, memenggal-menggal tubuh raksasa dewan Re mulai dari bagian kaki sampai ke pinggangnya, sebelum akhirnya menancapkan pedang sihirnya tepat di jantung raksasa itu.
Craaaakkkk...!
.........
Srrrrraaaaaaaakkkk...!!!
Alvin mengepakkan sayap-sayap sihir di punggungnya, bergerak menarik pedang sihir ke atas dengan garis vertikal.
Ia membelah tubuh raksasa dewan Re dari bagian jantung menuju kepalanya, dengan tujuan untuk menghancurkan otak dewan Re yang merupakan sumber kehidupan dan titik kelemahan makhluk tersebut.
Tapi, sebelum cahaya kebiruan itu melintasi mulut dewan Re, sebuah mantra sihir terlontar dari mulut dewan pengawas para dewa itu.
"Black hole!"
Sraaaaaaattttt...!!!
Pedang sihir Alvin berhasil melintasi otak dewan Re.
Tubuh raksasa dewan pengawas para dewa itu bersinar terang sebelum akhirnya meledak bersama dengan isi kepalanya.
Dewan pengawas para dewa yang telah membuat keonaran di dunia para dewa dan beberapa galaksi hanya untuk sebuah pengakuan bahwa ia lebih kuat dibandingkan dewa perang legendaris Ann Arnix itu akhirnya binasa.
BBBBBBAAAAAAAAAANG...!!!
......................
'Kita berhasil...'
["...Tapi..., kau sekarang sedang berada di dalam lubang hitam..."]
Alvin bisa merasakan kegugupan Mina dari getaran suaranya.
Ia kemudian menatap sekitar, di mana hanya ada kegelapan saja di sana.
Alvin akhirnya menatap lagi ke arah cahaya dari ledakan tubuh raksasa dewan Re yang berangsur-angsur menghilang, menyisakan satu titik terang, pintu tempat semua benda langit yang berada di sekitar mulai masuk setelah terhisap oleh kegelapan tersebut.
'Black hole? Maksudmu benda luar angkasa itu?'
["Ya."]
Glup...
'Dia menciptakan black hole dengan sihir?'
__ADS_1
.........
Alvin memberikan tenaga pada kedua kakinya untuk dapat pergi meninggalkan kegelapan mengerikan yang menyelimutinya, menuju cahaya remang yang mulai menjauh dari tempatnya berada.
Namun, kegelapan itu menelan semua kekuatan, juga menelan cahaya dari energi sihir yang sebelumnya menyelimuti tubuhnya.
'Apa-apaan ini?'
["Kegelapan ini menelan energi Mana yang kau keluarkan dari tubuhmu. Hentikan dulu usahamu atau kau akan membuang energi Mana dengan sia-sia."]
'Ayo pikirkan cara untuk keluar dari sini. Kau jenius, kan?'
["...Setahuku tidak ada. Kecuali black hole ini runtuh."]
'Kalau begitu akan ku coba.'
Alvin mengerahkan kekuatannya, bermaksud untuk meledakkan black hole.
Namun, kekuatannya langsung lenyap begitu saja sebelum berhasil terkumpul di kedua tangannya.
'Sial, kegelapan ini benar-benar menyerap energi Mana.'
["Tsk... Baru saja aku memberitahumu."]
'...Airbender juga tidak bekerja.'
["Tapi Hunter Equipmenmu masih bisa diaktifkan."]
Alvin menepuk-nepuk lengannya dan merasakan benda keras di balik sarung tangan yang digunakannya.
'Kau benar...'
.........
Alvin mengayuh kedua tangan dan kakinya, berusaha berenang menuju titik terang yang berada di kejauhan.
Saat itu, tanpa sengaja tubuhnya berputar dan sebuah bayangan hitam yang muncul di hadapannya membuatnya terkejut setengah mati.
'Astaga...!'
Alvin memicingkan kedua matanya, memaksakan pengelihatannya untuk dapat menembus gelapnya lubang hitam.
'Dewa planet monster?'
Dewa itu menggerak-gerakkan mulutnya, berusaha untuk berbicara, namun suaranya tidak pernah sampai ke telinga Alvin.
'Rimi, apa yang dia... Astaga, Rimi juga pasti kehilangan fungsinya di sini...'
'Bagus! Apa yang dia katakan?'
'Dengan senang hati.'
["Kau tidak kasihan padanya?"]
'Dia mungkin sudah putus asa juga. Ingat, planetnya sudah meledak. Dia mungkin berpikir kalau hidupnya sudah tidak berguna lagi.'
["Kesimpulan macam apa itu? Kau cuma ingin menyelamatkan dirimu saja, kan?"]
'Aku sedang berusaha menyelamatkan kita bertiga. Ingat, lebih baik mengorbankan satu daripada tiga.'
["Sigh..."]
__ADS_1
'Aku bukan super hero, ok. Aku juga... belum menikah.'
["..."]