Hunter System

Hunter System
Bab 108 - The Brain Dance


__ADS_3

Alvin menarik dua kursi yang berada agak jauh dari mereka lalu meletakkannya dengan posisi saling berhadapan. Ia kemudian mendudukkan George di salah satu kursi lalu ia duduk di kursi lainnya.


“Begini. Aku cuma mau bertanya. Apa ada orang lain yang menyuruhmu melakukan ini? Seperti ayahmu, mungkin?”


George menatapnya dengan marah. Ia ingin menyumpah namun tak berani, takut Alvin memukulnya lagi.


Melihat tatpan itu, dengan inisiatif sendiri Alvin mengambil sebuah pisau kecil dari jendela inventory, lalu menancapkan pisau itu sampai seluruh bilahnya masuk ke paha George.


Crakkkk…!


“Huaaaaaaaaaa…!!! Kau breng..."


Plak…!


“Jangan teriak berlebih. Aku pernah disiksa monster dan si brengsek bertopeng itu tapi tidak berteriak seperi kau. Kau berlebihan!” bentak Alvin setelah menampar pipinya.


George akhirnya terdiam dengan nafas memburu, merasakan sakit di pangkal pahanya yang tertembus pisau berbilah tipis itu.


“Jawab pertanyaanku tadi.”


“…”


Alvin mengambil belati lagi dari jendela inventory. Ia memegang dagu George, menarik pelan dagu itu ke bawah hingga membuka mulutnya lebar. Setelah itu Alvin mengiris dua sudut bibir George dengan belati tersebut.


"Huaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhh...!!!"


Apa yang Alvin lakukan itu membuat semua orang yang menyaksikan penyiksaan tersebut memalingkan wajah sambil memegangi mulutnya masing-masing. Mereka merasa ngilu dan merinding saat tidak sengaja melihat pemandangan mengerikan itu.


George berteriak histeris. Ia sampai menangis merasakan sakit yang tak terkira akibat sudut-sudut mulutnya yang tersayat belati.


Akibat dari sayatan itu, otot-otot di kedua pipi Geore putus dan ia kini tidak bisa mengatupkan mulutnya lagi hingga membuat rahangnya terjatuh dan mulutnya terbuka lebar.


Alvin menatap George, yang tubuhnya naik turun akibat bernafas dengan sangat cepat karena merasakan sakit dan menangis histeris, dengan tatapan simpatik.


‘Bisa kembalikan tanganku sekarang?’


[“Ok.”]


Alvin langsung memulihkan kondisi George setelah Mina mengembalikan penguasaan tangan padanya.


“Sekarang katakan padaku semuanya. Apa ada orang lain yang bekerjasama denganmu?”


George langsung mengangguk.


Setelah ia merasa mulutnya telah pulih dan gigi-giginya telah utuh kembali, ia pun segera membocorkan rahasianya.


“Duncan… Duncan Lewis.”


"Apa?!"


"Aku dan Duncan Lewis yang telah berencana untuk membunuhmu dan membunuh seluruh keluarga utama Maxwell."


Alvin tercengang. Ia tidak menyangka seorang keluarga Maxwell yang ia kenal dengan sangat baik rela mengkhianati keluarga utama.


Ia menoleh, menatap hunter-hunter muda yang tampak tidak kaget saat mendengar hal itu dari mulut George.

__ADS_1


'Astaga. Mereka sudah tahu? Bukannya keluarga Maxwell sudah menjaga dan membantu mereka dengan sangat baik?'


["Tidak semua orang memiliki rasa utang budi seperti dirimu."]


Alvin menundukkan kepalanya sembari mendengus kesal.


Ia kemudian berdiri dari kursi lalu menendang kursi yang tadi didudukinya itu dengan sangat keras hingga kursi itu hancur sebelum serpihannya berhamburan di dalam ruangan tersebut.


Ia menjambak rambut George, menarik kepalanya hingga menengadah.


“Kau harusnya tidak bekerjasama dengan musuh besar keluargamu, kan?”


“Kau mengirim pembunuh untuk menghabisi seluruh anggota keluarga kakak ayahmu sendiri bahkan kau bekerjasama dengan musuh bebuyutan keluargamu. Kau benar-benar gila!”


George ingin menyelanya, namun Alvin memukul mulutnya lagi hingga giginya kembali patah lalu tertelan olehnya.


"Kau bodoh!"


Bammmm...!


Alvin meninju wajahnya dengan keras hingga tulang hidungnya amblas ke dalam wajahnya.


Alvin buru-buru memulihkan wajahnya, lalu memukulinya lagi dengan lebih lembut, hingga hanya mengakibatkan kulit wajahnya pecah-pecah saja dan banyak meninggalkan retak di tulang pipinya.


Bakkk... Bakkk... Bakkk...!


Apa yang dilakukan Alvin kali ini adalah kehendaknya sendiri. Mina tidak campur tangan lagi.


Saat mulut George terbuka, Alvin mendekatkan jari telunjuknya kesana.


"Buat dia seperti Brondy Lewis."


Mina mengambil alih tangan Alvin lalu meneteskan sedikit darah yang mengandung poison skill pada George.


Beberapa saat setelah itu, George mengalami kejang-kejang. Tubuhnya bergetar dengan sangat hebat di atas kursi itu. Busa hitam mulai keluar dari mulut, hidung dan lubang telinganya.


Hunter-hunter muda yang berada disitu gemetar ketakutan. Mereka tidak tahu apa yang telah Alvin lakukan pada George hingga membuatnya tampak menyedihkan seperti itu.


Beberapa saat kemudian gemetar hebat George berangsur-angsur menyurut.


Setelah kejang-kejang George itu berhenti sepenuhnya, Alvin tiba-tiba menghilang, menyebabkan semua orang yang sedang memerhatikan George dengan ketakutan itu menjadi semakin takut lagi.


“Cyntia Maxwell akan datang sebentar lagi." Ucap Alvin tiba-tiba.


Suaranya terdengar sangat dekat dengan kerumunan hunter muda yang sedang gemetaran itu.


Mendengar suara tanpa wujud itu berada di dekat mereka, hunter-hunter muda itu langsung berlutut sembari berteriak histeris memohon pengampunan. Takut Alvin akan melakukan apa yang dilakukannya pada George, pada mereka.


"Aku tidak berhak menghukum kalian, keluarga Maxwell yang selama ini merawat kalian. Merekalah yang akan menghukum kalian semua."


Alvin membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan mulutnya pada telinga hunter yang sejak tadi merekam apa yang ia lakukan pada George.


"Berikan ponsel yang kau pegang itu Cyntia. Katakan padanya untuk mengirinkan ponsel itu pada Asosiasi dengan tujuan Norman atau Duncan Lewis. Kau mengerti?"


"Y-ya, tuan!"

__ADS_1


"Kalian semua ingat ini. Jika keluarga Maxwell sampai mengampuni kalian, jangan pernah merundung hunter lemah lagi! Aku tahu orang-orang seperti kalian ini pasti mendukung hunter-hunter senior di Akademi untuk merundung hunter lemah. Jika kalian masih melakukannya, aku akan melakukan apa yang ku lakukan pada ketua kalian itu."


Semua hunter muda itu mengangguk-anggukkan kepala dengan sangat cepat.


“Kalian tidak ingin menjawab?!"


“Y-ya… tuan! Kami mengerti!" sahut mereka bersamaan, setelah mendengar Alvin membentak.


.........


Tak lama kemudian, pintu vila hancur berantakan, saat seseorang menendangnya lalu masuk dengan cepat, bermaksud untuk menyergap semua orang agar tidak ada yang melarikan diri.


Brooklyn menatap semua hunter muda yang sedang berlutut sambil menangis itu dengan heran.


Ia tadinya ingin menggertak mereka namun sepertinya semua hunter muda itu sudah kehilangan nyali terlebih dulu.


Cyntia berjalan melewati Brooklyn, menatap semua hunter muda yang juga sedang menatapnya dengan ketakutan. Tangis mereka semakin menjadi-jadi saat melihat tatapan marah Cyntia.


Cyntia mengabaikan semua hunter muda itu dan


pergi menghampiri George yang duduk pingsan di kursi dengan kepala terjuntai pada sandaran kursi.


Ia telah mengalami kelumpuhan pada seluruh tubuhnya seperti yang terjadi pada Brondy setelah Mina meneteskan racun paadanya.


Cyntia menatap hunter-hunter muda itu kembali.


“Apa yang terjadi disini?” tanya Cyntia sambil menatap mereka dengan penuh selidik.


Sambil takut-takut, salah seorang hunter yang tadi diminta Alvin untuk merekam semua tindakannya maju dan menyerahkan ponsel George pada Cyntia.


Cyntia mengambil dan memeriksa video rekaman pada ponsel. Ia tersenyum ceria setelah tahu Alvin yang telah membuat George pingsan.


“Dia melakukannya sendiri…,” gumam Cyntia yang kemudian menatap hunter-hunter muda itu dengan senyum merekah diwajahnya.


Melihat senyum ceria Cyntia, bukannya membuat hunter-hunter muda itu merasa lebih tenang. Senyuman itu justru membuat mereka lebih ketakutan lagi, lebih takut dibandingkan saat ia menatap mereka tadi dengan tatapan marah.


“Kalian semua, pergi ke benteng dengan berjalan kaki. Jika ada satu orang saja yang tidak sampai di benteng, aku akan menguliti kalian. Mengerti?!” bentak Cyntia.


"Kami mengerti, nona Tia."


......................


Glup…


[“Kenapa kau seperti orang ketakutan?”]


"Dia… menakutkan. Dia bahkan tidak merasa ngeri setelah melihat video kau menyayat pipi George?" ucap Alvin dalam hatinya, sembari menatap punggung Cyntia yang sudah pergi menjauh.


[“Aku menyukainya.”]


“…”


["Hnnn? Dia membuat mereka ketakutan hanya dengan senyumnya. Dia telah mempermainkan pikiran dan perasaan mereka. Seperti judul lagu kesukaannya, The Brain Dance."]


'Kalian psikopat gila.'

__ADS_1


["Tsk... Itu tidak pantas disebut tindakan psikopat. Itu masih sebuah hukuman ringan."]


...****************...


__ADS_2