Hunter System

Hunter System
Bab 190 - Dipermainkan Lawan


__ADS_3

Tapi, untuk sementara waktu, dewa Zei harus menepikan keinginannya terlebih dahulu, saat melihat Alvin menunjuk ke arahnya.


Tepatnya ke bagian atas kepalanya.


Dewa Zei mendongak dan tersentak melihat ada banyak belati sihir yang sedang berputaran di atasnya.


'Aku tidak bisa merasakan aura energi sihir belati-belati itu?!'


Ia mengalihkan pandangannya lagi dengan cepat pada Alvin, yang kini sedang berdiri di daratan yang sedang mengamuk, bergetar hebat karena tak sanggup menahan kekuatan sihir dari wujud Hunter Equipmentnya.


"Kau lumayan ju..."


Wusssshhhh... Wushhhhh... Wusssshhhh...


Jutaan belati sihir terbang menyambar tubuh dewa Zei secara bersamaan.


Dewa Zei yang tampak tak akan bisa lolos, dengan cepat membuka gerbang sihir berbentuk kain hitam, bermaksud untuk menelan dan melontarkan belati sihir itu lagi pada Alvin.


Namun, ia sangat terkejut saat semua belati sihir itu terbang menembus gerbang sihir yang ia ciptakan dan melesat tak terhenti ke arahnya.


......................


Alvin menajamkan panca indranya setelah melenyapkan belati sihir yang hanya terbang melewati dewa Zei setelah dewa itu lenyap entah kemana.


Ia terus bersiaga di tempatnya, tahu jika lawan pasti tidak akan pergi jauh dari tempat pertempuran mereka.


Dugaannya memang benar.


Dewa Zei akhirnya muncul kembali di tempatnya semula setelah beberapa puluh detik berlalu.


"Kau benar-benar memiliki sihir yang sangat luar biasa," ucap dewa Zei, memuji Alvin dengan sungguh-sungguh. Namun setelahnya ia terkekeh.


Kali ini, saat dewa itu tertawa, Alvin dapat merasakan tekanan sihir di udara.


Tanah yang sejak tadi bergetar dan hancur karena energi sihir dari Hunter Equipment, terperosok lebih dalam lagi setelah dewa Zei menggunakan sihir kuat pada suara tawanya.


Wurrr... Wurrr... Wurrr...


Gemuruh dari daratan yang terbelah menggema nyaring bercampur dengan desiran angin ribut yang terbentuk oleh sihir yang mendistorsi udara.


Alvin yang tahu jika dirinya kurang leluasa andai harus bertarung di udara, terpaksa meninggalkan daratan yang beriak bagaikan gulungan ombak di laut lepas untuk menghindari dirinya terperosok dan tenggelam ke dalam Bumi.


.........


"Harus kuakui kalau kau benar-benar makhluk ciptaan yang luar biasa. Aku tidak ingat pernah melihat wajah dewa yang mirip denganmu di dunia kami. Tapi, apa kau salah satu demigod? Apa kau makhluk ciptaan duplikat dewa?"


'Hah? Demi apa deh... Dia pikir aku Anna?'


["Sepertinya dia tidak tahu tentang keberadaan Anna. Jika tidak, dia mungkin akan memilih menyeberang ke sisi lain gerbang cincin dibandingkan harus melawanmu disini."]

__ADS_1


'Serendah itukah manusia di mata mereka?'


["Aku saja bisa merendahkanmu. Kenapa dewa tidak?"]


'Kau f**k!'


["..."]


'Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan mereka?'


["Dagger rainmu juga sampai ke sana dan sudah menghabisi raksasa terbang itu."]


'Baguslah.'


["Rimi dan Cyntia juga sudah membawa mereka kembali ke bunker."]


'Tolong sampaikan rasa terima kasihku pada mereka.'


......................


Alvin menepis energi sihir yang dewa Zei tembakkan padanya setelah bosan menunggu jawaban Alvin atas pertanyaannya.


Energi sihir yang langsung buyar saat beradu dengan lengan besinya, membuat seluruh tubuhnya sedikit bergetar.


'Dia benar-benar kuat.'


Alvin tahu, berada dalam balutan kostum yang wujudnya aktif, tidak akan baik untuk Bumi.


Karena itulah ia berusaha menyimpannya saja sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengaktifkannya saat memiliki kesempatan baik untuk langsung memberikan serangan mematikan.


.........


Melihat Alvin menyimpan kekuatan, dewa Zei tertawa.


"Kenapa kau harus menyembunyikan kekuatanmu?"


Alvin tidak memerdulikan pertanyaan itu. Perhatiannya tertuju pada garis gelap melengkung yang baru saja muncul dari dalam gerbang. Invasi monster berlanjut lagi.


"Walaupun kau tidak menjawab pertanyaanku, aku tahu kalau kau bukan demigod. Demigod bisa menghilangkan energi Mananya seperti kami. Tidak seperti kau yang energi Mananya terpampang jelas bagiku."


'Jadi dia bisa merasakan energi Mana ku? Pantas saja dia selalu bisa melarikan diri dari seranganku!'


"Kau sudah tahu dan kau masih bertanya? Kau benar-benar jenius," sahut Alvin. Dengan kalimat sarkas, ia berusaha memancing kemarahan lawan.


Satu hal yang ia tahu dari para entitas tinggi itu. Mereka mudah marah dan terhina jika menerima kata-kata yang sedikit menyinggung perasaan.


Tapi, tanpa Alvin tahu, dewa Zei malah tersenyum sinis di balik topengnya.


Ia tahu jika makhluk ciptaan itu sedang berusaha memancing kemarahannya seperti sebelumnya.

__ADS_1


'Kau pikir bisa memancing kemarahanku? Ayo kita lihat sejauh apa kau bisa bertahan.'


Dewa Zei menengadahkan kedua tangannya ke langit.


Bersamaan dengan itu, monster-monster yang baru saja keluar dari gerbang cincin berpindah ke langit.


Alvin mendongak, menatap pada hujan monster yang turun dengan derasnya ke Bumi, sebelum akhirnya memacu airbender, melesat menghampiri puluhan juta monster di langit.


"Dagger rain!"


Walaupun tidak bisa menghabisi monster sekaligus seperti saat Hunter Equipment aktif, serangan itu cukup untuk mengurangi hampir seperempat dari monster yang berjatuhan.


Setelah menghabisi sebagian monster yang masih berada di udara, Alvin meluncur turun ke darat, menghabisi sisa pasukan monster yang lolos dari serangan awal.


.........


Di udara, dewa Zei tertawa riang.


Melihat bagaimana makhluk ciptaan itu sibuk dengan permainan yang sedang dimainkannya, ia justru melupakan tujuan utamanya yang datang untuk mengumpulkan semua makhluk ciptaan di Bumi untuk di bawa ke planet monster.


"Ini benar-benar menyenangkan!" seru dewa Zei yang kemudian tertawa riang.


Setelah Alvin hampir menghabisi seluruh monster di darat, Dewa Zei memindahkan lagi puluhan juta monster yang baru saja keluar dari gerbang, ke udara.


Sama seperti sebelumnya, Alvin memberikan serangan udara terlebih dahulu sebelum menghabisi sisa monster yang lolos dari serangan udaranya di darat.


Hal itu berulang sebanyak 3 kali lagi, sampai akhirnya tidak ada satupun monster yang keluar dari gerbang.


"Monster-monsternya sudah habis?" dewa Zei sedikit menyayangi saat tahu ia telah kehabisan amunisi.


Ia menatap beberapa saat pada gerbang, lalu mendecak saat sudah memastikan jika tak ada satu monster pun yang keluar lagi dari sana.


Dewa Zei akhirnya menoleh pada Alvin lagi, yang berdiri tegak di atas genangan mayat monster di bawah sana.


"Dia lumayan juga. Kapasitas energi Mananya bahkan masih..."


Dewa Zei menelengkan kepala, memerhatikan aliran samar dari aura inti Mana yang terbang ke satu titik.


Ia baru menyadari jika ada makhluk lain yang mungkin memanfaatkan inti Mana monster yang telah mati dan menyerap inti Mana itu untuk mengembangkan kapasitas energi Mana.


"Siapa yang menyerap semua inti Mana monster-monster itu? Apa masih ada makhluk ciptaan lain yang sekuat dia ini?"


.........


Dewa Zei tadinya agak penasaran dengan bagaimana kecepatan Alvin dalam mengisi kembali energi Mana yang terpakai untuk menghabisi ratusan juta monster.


Namun, saat ia melihat aliran inti Mana yang terserap ke satu arah, ia mengabaikan rasa takjubnya pada Alvin.


......................

__ADS_1


__ADS_2