
"Mina, apa maksudmu?!"
["Bertahan saja, jangan sampai mati."]
.........
Alvin dilemparkan tepat disamping kuburan raksasa.
Di tempat itu, sudah ada satu pria bertubuh kekar lagi yang menunggunya.
"Jadi mereka ini pendamping bos, kan? Bagaimana bisa mereka tadi bersembunyi dari peta Dungeon?"
["Mereka tidak bersembunyi. Lihat kuburan itu."]
Alvin menoleh, menatap kuburan. Ia melihat ada sebuah lubang disana.
Kedua pria itu sebenarnya berada di dalam satu liang lahat bersama bos Dungeon dan mereka tadi keluar dari sisi-sisi berbeda gundukan itu setelah Alvin mencabut pilar sihir.
"Pantas saja energi sihirnya sangat besar. Ternyata mereka bertumpuk di satu tempat."
.........
Tak lama kemudian, tanah di sekitar tempat itu bergetar sebelum akhirnya sosok berjubah hitam keluar dari dalam lubang besar yang sebelumnya adalah letak kuburan berada.
"Apa dia ini necromancer nya?"
["Ya. Tapi tidak ada yang bisa dibangkitkannya selain dua lich ini. Jadi kau hanya harus bertahan dari kedua lich ini saja sampai batas waktu yang tersisa."]
"A-apa? Maksudmu sampai gerbangnya tertutup? Kau ingin menyuruhku menahan mereka disini? Lalu, bagaimana aku keluar?"
["Bukan itu. Jangan panik dan bertahan saja."]
"Apa maksudmu?"
["Rimi, berapa lama waktu yang tersisa?"]
<5 menit>
"Hah? Ada apa dengan lima menit?"
Saat Alvin masih berbicara, lich bertubuh kekar yang tadi menunggu di dekat kuburan mulai menyerang dengan pedangnya.
Lich Warrior itu menebaskan pedangnya dari jarak jauh dan petir menyambar dari jalur lintasan pedang.
Kecepatan sambaran petir itu hampir tidak bisa ia ikuti dengan indra pengelihatannya. Untungnya, dia memiliki kepekaan yang bagus, yang membantunya terhindar dari bahaya.
Tapi, Alvin tidak melihat datangnya serangan dari lich yang tadi mengejar dan menangkapnya. Lich Assassin itu sudah berada didekatnya dan berhasil menyarangkan belatinya ke perut Alvin, lalu merobeknya.
Srrraaaaattttt...!
"Arghhh... Sialan!"
Setelah terkena serangan itu, Alvin menembakkan spider webs pada lich Assassin. Tapi, jaring-jaring itu tak pernah sampai ke tubuh lawannya.
Jaring yang baru saja ia tembakkan melayang-layang di atas kepalanya, lalu jatuh menimpa tubuhnya sendiri hingga ia terperangkap didalamnya.
Alvin ingin menggunakan insect conqueror, tapi Mina melarangnya.
["Jangan korbankan mereka."]
"Apa...?! Tapi..."
["Jika mereka mati, lich Mage itu akan membangkitkan mereka sebagai pasukannya. Kau malah akan rugi. Bertahanlah dalam 5 menit. Jangan sampai mati."]
__ADS_1
Alvin memang disarankan untuk bertahan untuk jangan sampai mati. Tapi, ia merasa bahwa dirinya mungkin tidak akan pernah bisa mewujudkannya.
Tubuhnya tiba-tiba melayang di udara tanpa ia kehendaki.
Alvin melihat lich Mage yang merupakan bos Dungeon itu sedang mengarahkan telapak tangan padanya dan ia tahu bahwa yang membuat tubuhnya terbang terangkat dan kini berangsur-angsur pergi menghampiri lubang kuburan itu adalah lich Mage.
"Aku tidak bisa bergerak. Sihir apa ini?"
["Telekinesis."]
.........
Lich Assassin kembali menyerang. Kali ini ia menghujamkan banyak serangan hingga menghancurkan armor dan berhasil menebas satu tangan Alvin.
Tapi, Alvin tidak mengkhawatirkan hal itu. Ia lebih khawatir pada tubuhnya yang tidak bisa dikuasainya setelah terkena sihir lawan.
Alvin akhirnya tiba di atas liang lahat dan dilemparkan kedalam lubang itu oleh lich Mage.
Lich Mage kemudian mengarahkan kedua telapak tangannya kedalam lubang itu. Lalu, dari kedua tangannya muncul badai api yang menyambar-nyambar dan membakar Alvin, yang hanya bisa bertahan dengan self defence.
"Ini panas sekali...," gumam Alvin, sambil memfokuskan diri untuk memperkuat self defence dengan energi Mana nya, karena ia merasa akan mati terbakar jika tidak memfokuskan diri pada pertahanan saja. Ia memperkuat sihir pertahanan itu dengan menambahkan banyak energi Mana kedalamnya.
Setelah pembakaran selesai, Alvin buru-buru mengganti job ke Healer dan menggunakan regeneration skill, yang ia dapat setelah menyelesaikan quest level 71, untuk meregenerasi tangannya yang baru saja putus.
Melihat kemampuan lawan, lich Mage tersenyum. Ia menarik Alvin dari dalam lubang, lalu melemparkannya ke tanah, di dekat lich Warrior.
Lich Warrior mengangkat pedang, lalu mengarahkannya ke leher Alvin.
Wussshhhh...
Alvin tentu saja langsung menghindarinya. Ia bergulingan, mengganti job ke Assassin, lalu kabur dengan cepat menuju gerbang Dungeon.
Tapi, telekinesis dari lich Mage benar-benar mengganggu. Alvin ingin melarikan diri, namun tubuhnya tiba-tiba melayang lagi lalu dibanting kembali dengan sangat keras.
Bammmmm!!!
["Tidak ada. Mereka selevel dengan hunter peringkat SS di zaman ini. Lich Mage itu bahkan hampir mendekati peringkat SSS."]
"..."
Sementara itu, lich Mage terus saja mengangkat dan membanting tubuh Alvin berkali-kali.
Setelah puas membantingnya, lich Mage kembali melemparkan tubuh Alvin pada lich Warrior, yang langsung menghujamkan pedangnya lagi ke leher Alvin.
Tidak sempat menghindarinya, Alvin menangkap pedang itu dengan kedua tangannya.
Tapi, lich Assassin sudah datang dan langsung menendang kepalanya.
Buakkkkkk...!
"Kau brengsek! Sial, aku benar-benar benci pada Assassin ini!"
Dengan sekuat tenaga, Alvin kemudian menarik pedang yang digenggamnya. Ia bermaksud ingin membanting lawannya, namun lich Assassin kembali menyerangnya.
Stab!
Belati yang dialiri sihir itu meledakkan tanah tempat belati menancap, setelah Alvin hindari.
Melihat serangan kawannya dihindari, lich Warrior akhirnya melepaskan pedang dari genggamannya, lalu menangkap kedua kaki Alvin.
Lich Warrior menarik Alvin lalu memutar-mutarkan tubuhnya sebelum membantingnya lagi ke tanah.
Baaaammmmm!
__ADS_1
"Mereka sengaja ini ingin menyiksa sebelum membunuhku, kan?"
Lich Assassin kembali menyerang.
Alvin dapat melihat belasan bayangan belati datang menghampirinya. Secara refleks, ia langsung menggunakan flame yang sangat besar untuk berusaha menyingkirkan lawan dari hadapannya.
Wooooossshhhhh...
Ia kemudian melompat dan berlari menjauh dengan tertatih-tatih. Tapi, lagi-lagi lawannya menyergap dengan sihir telekinesis dan membantingnya lagi kehadapan lich Warrior.
Alvin menembakkan thunderbolt secara sembarangan ke depan tubuhnya. Ia tahu, musuh pasti akan datang lagi setelah ia terkapar.
Idenya memang bagus. Kedua lich yang sedang menghampiri dan ingin menyiksanya lagi itu, tentu saja langsung melompat mundur karena thunderbolt yang menyambar-nyambar.
Sementara kedua lich menjauh, Alvin mengganti job nya lagi ke Assassin dan berlari dengan kecepatan penuh, walau dengan sebelah kaki pincang.
Kali ini ia tidak berusaha untuk melarikan diri, tapi langsung mendatangi lich Mage yang pasti akan menangkapnya lagi jika ia bermaksud untuk melarikan diri.
"Sekalian saja. Jika harus mati, aku harus membawanya bersamaku!"
Alvin hampir mencapai tujuannya saat ia tiba-tiba terhenti dan terbang menjauh karena lich Mage mementalkan tubuhnya dengan telekinesis.
Dasshhhh...!
Ia terpental jauh dan jatuh bergulingan, sebelum diterbangkan lagi dan ditarik menuju kedua lich yang sudah menantinya untuk disiksa kembali.
"Mina... Apa yang harus ku lakukan? Ini membuatku frustasi!"
["Aku tahu. Kau sudah berjuang dengan baik."]
"Apa maksud... Wooooaaaahhh...!"
Baaaammmm!!!
Tubuhnya kembali dibanting keras ke tanah. Tapi, kali ini Alvin langsung lompat dan pergi menjauh dari kedua lich yang kaget karena Alvin bisa menghindar dengan sangat cepat.
Lich Mage juga terkejut saat telekinesis nya tidak bisa menguasai tubuh mangsanya lagi.
......................
Tidak seperti sebelumnya, Alvin kini menatap ketiga lich itu dengan tatapan dingin yang mengerikan, membuat ketiga lich bergidik ketika tatapan mereka saling bertemu.
Ia kemudian mengambil belati dari jendela inventory.
"Lihat. Begini harusnya seorang Assassin itu," ucap Mina pelan, sambil mengembalikan belati lagi kedalam jendela inventory.
Mina telah mengambil alih tubuh Alvin secara paksa sebelum ia sekarat, dengan bantuan Rimi. Karena itulah Mina tadi meminta Alvin menunggu dan bertahan selama Rimi melakukan proses pengambilalihan paksa.
["Hah? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengembalikan belatinya lagi?"] tanya Alvin bingung.
Mina menggerakkan tangan Alvin dan menaikkannya sampai sedikit lebih tinggi dari posisi kepalanya.
Alvin terkejut saat melihat ketiga kepala lich yang rambut-rambutnya saling bertaut menjadi satu, sudah berada di genggamannya.
["Ap... K-kapan kau..."]
Merasa tidak percaya, Alvin pun menatap pada tiga sosok tubuh lich yang sudah tidak memiliki kepala.
["B-bagaimana bisa kau bergerak tanpa kusadari?!"]
"Tsk... Padahal itu masih sangat lamban."
["..."]
__ADS_1
Mina mengembalikan tubuh Alvin padanya lagi. Saat mereka sudah bertukar posisi kembali, Alvin akhirnya kehilangan kesadaran karena seluruh energi Mana nya terkuras habis. Mina telah menggunakannya dengan semaksimal mungkin, dengan sangat efektif.
...****************...