
Wushhh...
Crank... Crank... Crank...!!!
Memanfaatkan lengahnya dewa Zei, Alvin langsung mendatangi dan menyerangnya dengan membabi buta.
Ia berusaha untuk bisa melukai dewa Zei dengan pasak besi, bermaksud hendak meninggalkan tanda pada dewa dari pusaran ungu itu.
"Brengsek! Kau berani mengganggu..."
Srattt...
Alvin akhirnya berhasil menggores punggung tangan dewa Zei yang menggenggam gagang pedang setelah ia memutar-mutarkan pasak besi di dekat pedang dewa itu.
"Makhluk hina ini!"
Srat... Srat...!
Alvin melukai lengan dewa Zei lagi tepat saat dewa itu mengumpat padanya.
Tidak sampai di situ, Alvin terus mendesak dewa kuat itu dengan manuver-manuver serangan yang terus bersambung tanpa jeda.
Menyadari jika ia sama sekali tidak bisa lepas dari ancaman kedua pasak besi lawan yang beberapa kali juga terarah ke jantung dan lehernya, kedua mata merah dewa Zei melebar.
Ia akhirnya menyadari jika teknik bertarung lawan jauh lebih baik dari teknik bertarungnya.
.........
"Ternyata teknik bertarungmu biasa saja," ucap Alvin sambil terus mendesak dewa Zei yang sedang berusaha untuk menjauh darinya, saat melihat sekilas rasa terkejut lawan dari sinar matanya.
"Kau som..."
Crakkk... Crakkk... Crakkk...!
Alvin berhasil menyarangkan tiga tusukan lagi pada paha, pinggang dan punggung dewa Zei saat makhluk itu kehilangan sedikit konsentrasi akibat berbicara.
Untungnya, sebagai salah satu sosok dewa perang terkuat, dewa Zei memiliki sihir pertahanan yang luar biasa kuat. Jika tidak, tubuhnya pasti akan langsung meledak saat menerima tikaman-tikaman fatal itu.
.........
Dewa Zei memusatkan fokusnya pada pertarungan jarak dekat itu setelah menyadari lagi efek dari critical damage dari serangan lawan yang baru saja menghujam tubuhnya.
Ia sadar, jika dirinya sampai kehilangan fokus, bisa saja lawan yang memiliki teknik bertarung yang sangat baik itu mencelakainya.
.........
Bisa merasakan arah serangan dari besarnya energi sihir yang mengarah padanya pun sudah tidak cukup lagi untuk dewa Zei bisa menebak arah datangnya serangan dengan benar seperti pada pertarungan jarak dekat mereka di awal tadi.
Hal itu karena Alvin juga memiliki kecepatan yang sangat mengerikan, yang hampir tidak bisa dewa Zei imbangi.
Karena itulah, dewa Zei mulai terdesak dan mendapatkan banyak luka tikaman.
'Dia... Bagaimana dia bisa secepat...'
__ADS_1
Stab... Stab... Stab...!
Alvin berhasil mendaratkan tiga tusukan lagi di pangkal lengan, pundak dan punggung dewa Zei.
'Jadi dia tadi masih melakukan pemanasan saja? Inikah kecepatan asli...'
Stab... Stab... Stab...!
Dewa Zei bahkan tidak bisa berpikir hal lain lagi selain harus fokus pada pertarungan.
Tiap ia sedang berpikir untuk menebak-nebak kemampuan lawan, ia langsung kehilangan fokus dan menderita luka-luka yang pada akhirnya dapat membuat kecepatannya semakin menurun.
Tiap ia sedang memikirkan sesuatu, Alvin selalu berhasil mendaratkan serangan padanya.
Sampai setelah merasa dirinya tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi jika harus terus bertarung dalam jarak dekat, dengan mengesampingkan rasa malu, dewa Zei akhirnya menggunakan sihir untuk melarikan diri.
Sraaaattt...
Pasak besi Alvin membelah jubah hitam yang dewa Zei kenakan. Namun, dewa Zei telah lenyap dari dalam jubah tersebut.
Dewa Zei berpindah ke darat, dari dalam selembar kain hitam yang tiba-tiba muncul di sana.
Dewa Zei langsung merapalkan sihir, menciptakan pelindung tebal mengelilingi diri untuk menangkis dagger rain yang sudah Alvin arahkan padanya.
Baaaaaannnnngggg!!!
Ledakan besar terjadi setelah beradunya belati sihir Alvin dan sihir pelindung dewa Zei. Menenggelamkan daratan lebih jauh lagi, juga menciptakan gempa yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya terjadi.
.........
Kedua petarung itu mengambil jeda untuk mengembalikan energi Mana mereka yang baru saja terkuras, sambil menunggu kabut debu tebal menghilang, juga menunggu gempa besar yang melanda daratan mereda.
......................
Setelah kabut debu menghilang, Alvin akhirnya bisa melihat wujud di balik jubah dewa Zei.
Tubuhnya yang hitam mengkilap bahkan lebih hitam dari langit malam tanpa adanya Bulan dan Bintang itu tampak berkelap-kelip antara ada dan tiada.
'Apa tubuhnya terbuat dari asap? Roh, mungkin?'
["Gabungan antara asap dan bayangan."]
'Tapi kenapa aku bisa merasakan jika tubuhnya memiliki wujud yang dapat kusentuh saat aku menikamkan pasak besi tadi.'
["Mungkin itulah wujud seseorang jika memiliki energi Mana dalam jumlah sangat besar."]
'Begitu...'
["Mungkin. Aku cuma menebak-nebak saja. Dewi Ann memiliki tubuh solid, kan?"]
'Kau benar.'
......................
__ADS_1
"Siapa yang mengajarimu?" tanya dewa Zei penasaran, setelah merasakan sendiri bagaimana hebatnya teknik bertarung lawan.
Sambil memperhitungkan sekuat apa dinding pelindung berwujud gelembung bercahaya ungu yang mengitari tubuh kelap kelip dewa Zei, Alvin tersenyum sinis.
"Kalau kau sudah hidup miliaran tahun, harusnya kau tahu darimana aku dan guruku mendapatkan teknik bertarung yang kugunakan," sahut Alvin.
Dewa Zei mendengus kasar.
Kemarahannya mulai terpancing karena jawaban itu seakan meremehkannya.
"Untuk ukuran makhluk ciptaan, kau terlalu tidak sopan," ucap dewa Zei sambil menatap Alvin tajam dari dua celah pada topengnya. "Sekarang, mari kita lihat bagaimana kau akan menghadapi keputusasaan yang akan ku berikan."
Dewa Zei menangkupkan satu tangannya pada topeng di wajahnya, lalu menanggalkan topeng yang tak pernah dilepasnya selama miliaran tahun itu.
.........
Alvin merasa sedikit ngeri setelah melihat wajah dewa Zei yang berada di balik topeng.
Dewa Zei memiliki dua bola mata merah yang tidak berisi manik mata. Ia memiliki mulut lebar yang membentang dari bagian bawah telinganya yang panjang dan runcing dan menampakkan gigi-gigi merah lancip di celah mulutnya.
'Dia ini dewa atau iblis, sih?'
["Mungkin dia ini dewa iblis."]
'...Masuk akal.'
Setelah menghancurkan topeng di genggamannya, dewa Zei menengadahkan kedua tangannya ke langit.
Sambil menatap Alvin dengan menyeringai lebar, dewa Zei mengucapkan sebuah mantra, sebelum akhirnya berseru nyaring, "Bangkitlah!"
.........
Suara gemuruh menggema nyaring terbawa udara memenuhi Bumi, saat energi Mana para monster yang sebelumnya lenyap terserap entah kemana, telah kembali.
Alvin bisa merasakan inti Mana yang lenyap itu tiba-tiba muncul kembali.
Bersamaan dengan suara gemuruh yang mengiringi gempa besar yang kembali terjadi, Alvin juga melihat asap hitam tebal menutupi seluruh daratan, dimana genangan mayat monster berada.
Tak lama berselang, Alvin mendengar suara jeritan dari seluruh daratan, saat bayangan-bayangan ungu gelap merangkak keluar dari dalam mayat seluruh monster yang ada di sana.
'Dia memanggil roh para monster yang telah mati ini?!'
Alvin kemudian mendongak, menatap ratusan ribu gumpalan asap hitam yang beterbangan mendekat.
Gumpalan asap hitam berwujud monster yang merupakan roh dari ular naga raksasa dan wyvern itu datang dari segala arah dan terus beterbangan sampai akhirnya tiba di atas kepalanya, menutupi cahaya Matahari yang menyinari Bumi.
Kegelapan mencekam pun terjadi di tempat itu.
.........
Di darat, roh dari ratusan juta monster sudah berbaris mengepung Alvin, menunggu perintah untuk menyerangnya.
"Bagaimana caramu menghadapi roh-roh yang telah kembali dari dunia kematian ini?" ucap dewa Zei yang kemudian tertawa nyaring seolah sedang mengumandangkan kemenangannya.
__ADS_1
......................