
"Lorelei?"
["Yang dia maksud mungkin nona Lo."]
"Siapa itu?"
["Wanita yang memberikan inti Mana padaku dan mengajariku teknik bertarung yang juga kau pelajari dari quest bulananmu."]
"Kalau begitu dia pasti malaikat juga."
["Aku tidak tahu, kami jarang berbicara. Tapi sepertinya begitu."]
.........
Zlarrr... Zlarrr...!!!
Petir besar menyambar tubuh Alvin. Setelahnya, lidah api raksasa yang tiba-tiba saja muncul di atas kepalanya juga ikut membakar seluruh tubuhnya yang tidak bisa digerakkan akibat terkekang oleh asap tebal keunguan.
Angin ****** beliung juga tiba-tiba muncul di bawah kakinya, hingga membuat nyala api bertambah besar.
Serangan yang sama terus berulang.
Petir hadir setelah angin. Lidah api setelahnya dan angin kencang yang berputar-putar datang belakangan untuk memperbesar dan memperkuat energi sihir dari dua sihir sebelumnya.
Sementara berada di dalam api yang menyala-nyala itu, Alvin juga mendengar suara tawa dari malaikat pemilik sihir yang terdengar sangat senang melihatnya tak bisa bergerak dan menghindari serangan-serangannya itu.
"Kenapa dia tertawa? Aneh."
["Serangannya sangat mengerikan. Lihatlah sekitarmu."]
Alvin memerhatikan lingkungan tempat mereka berada dan ia tidak melihat lagi adanya bangunan yang berdiri dalam radius beberapa kilometer.
Yang tersisa hanyalah puluhan hunter Asosiasi yang berada di dalam pelindung buatannya dan kini sedang menatap khawatir pada kobaran api di mana ia berada di dalamnya.
......................
Di udara, malaikat tertinggi dari pusaran ungu tak henti-hentinya tertawa sembari terus mengulangi serangan sihirnya pada Alvin.
Selama ini ia sangat ingin bertarung melawan malaikat tertinggi dari pusaran putih yang memiliki sihir sama seperti yang Alvin miliki. Namun, malaikat tertinggi dari pusaran ungu itu tidak memiliki kesempatan karena dunia para dewa sudah terlalu damai dalam miliaran tahun belakangan ini.
Dari apa yang kini dilihatnya, malaikat hitam legam itu bisa memastikan jika Lorelei, malaikat tertinggi dari pusaran putih, pasti akan mengalami nasib sama dengan yang terjadi pada Alvin.
Kekuatan utama Lorelei adalah kecepatan. Sedangkan dia memiliki sihir untuk mengatasi kecepatan itu.
Dia memiliki sihir pembatas gerak, sihir yang membuat Alvin kini tidak bisa beranjak pergi dari tempatnya.
"Sayang sekali aku tidak bisa menggunakan langsung padanya," gumam malaikat itu sembari menatap pada kobaran api yang menyala-nyala di bawahnya.
Tapi, tidak sampai satu detik berselang, pemandangan di sekitar malaikat itu berubah.
Ia melihat kobaran api besar di sekitarnya. Kedua matanya melebar, menyadari bahwa ia kini telah berada di dalam kobaran api buatannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, ia merasa tubuhnya bergerak sendiri dan berputar lalu, di hadapannya, muncul wajah musuh yang sedang menyeringai padanya.
"Pantas saja wanita itu tidak memerdulikanmu. Ternyata kau terlalu lemah," ucap Alvin yang kemudian melepaskan kepala malaikat itu saat sebuah kekuatan menarik kembali kepala yang baru saja ia penggal itu.
'...Kepalanya sangat keras.'
["Karena kelemahannya berada di kepala, tentu saja dia melindunginya."]
......................
Setelah kepala sang malaikat menyatu kembali dengan tubuhnya, malaikat hitam legam itu memanggil kembali ratusan monster raksasa dari dalam gerbang sementara ia sendiri langsung melarikan diri masuk ke dalam gerbang.
Setelah berada di dalam Dungeon, ia membalikkan tubuh dan menatap ke arah gerbang dengan jantung yang berdetak sangat cepat akibat adrenalinnya yang terpacu sedemikian rupa setelah ia mendapatkan serangan yang tidak disadarinya sama sekali.
Malaikat itu memegang jantungnya yang berdebar kencang.
"Bagaimana dia bisa lolos dari sihirku?"
Saat ia masih merasa heran tentang hal itu, sebuah gerbang biru tua muncul dihadapannya dan menghisap tubuhnya masuk ke dalam gerbang tanpa bisa ia cegah sama sekali.
......................
Di Bumi, Alvin yang sudah terlepas dari sihir pembelenggu dan memadamkan kobaran api raksasa, melesat menghabisi ratusan monster yang baru saja keluar dari gerbang.
Setelah itu, ia menggunakan bagian keenam dari skill Main Jobs.
"The Art of Killing, part 6... Gates of the Death."
Kedua mata malaikat itu bergetar saat tahu di mana ia muncul.
Bola matanya yang bergetar ketakutan karena tahu jika ia sudah di tandai oleh sihir gerbang kematian, menatap pasak besi di tangan Alvin yang kini sedang membumbung tinggi di atas kepalanya.
"The Art of Killing, part 3... End of Life."
Alvin menurunkan tangannya yang teracung di atas kepala sang malaikat.
Cahaya kebiruan melintas melewati tubuh malaikat itu dari bagian atas sampai ke bawahnya.
Cahaya itu bagaikan tembakan laser yang memendar keluar dari pasak besi di tangan Alvin dan memanjang jauh sampai melintasi gerbang Dungeon raksasa yang berada di belakang sang malaikat.
Cahaya itu membelah dua tubuh malaikat tersebut, juga membelah gerbang Dungeon raksasa.
Bukan hanya itu, kekuatan sihir itu bahkan membelah daratan yang dilewatinya, hingga gempa Bumi besar terjadi dalam beberapa menit setelah sihir itu digunakan.
.........
Alvin melompat menjauhi area itu setelah tubuh sang malaikat meledak. Ia pergi menghampiri puluhan hunter yang tercengang dengan apa yang dilakukannya, lalu memindahkan tubuh semua hunter dengan sangat cepat untuk menghindari area gempa.
'Aku tidak menyangka efeknya akan seperti ini.'
["Sudah kukatakan, gunakan 20% energi Mana saja. Tsk... Kau memboroskan energi Manamu."]
__ADS_1
'Tapi itu cuma 50%.'
["Lain kali dengarkan nasehatku."]
'...Baiklah...'
["Yah, lagian kau tidak salah. Karena kita tidak bisa merasakan kapasitas energi Mananya, kau jadi tidak tahu seberapa besar kekuatan untuk bisa menghabisinya."]
Dari kejauhan, Alvin memerhatikan gerbang Dungeon raksasa yang perlahan mulai menghilang.
Jangankan hunter-hunter Asosiasi yang menyadari bagaimana gerbang itu bisa menghilang tanpa pilar sihirnya dihancurkan, Alvin sebagai pengguna sihirpun kagum dibuatnya.
'Apa gerbang memang bisa di hancurkan dengan skill ku?'
["Harusnya tidak bisa...,"] sahut Mina yang juga merasa heran dengan fenomena itu.
["Kemungkinan besarnya seperti itu. Energi Mana mu sudah bercampur dengan milik mereka dan kau bisa menangkal sihirnya hanya dengan menggunakan kekuatan energi sihir yang jauh lebih besar dibandingkan sihir gerbang."]
'Jadi begitu...'
["Sepertinya selama itu gerbang yang berasal dari sana, kau tinggal langsung menebas gerbangnya saja dan gerbang itu akan langsung menghilang."]
'Kalau begitu kita bisa menghancurkan empat gerbang lain dengan cepat.'
.........
"T-tuan Rufino..."
Alvin menoleh, menatap Lowe yang baru memanggilnya dari balik kabut asap tipis kebiruan yang membatasi dirinya dan semua hunter dari energi sihir yang berada di luar gelembung itu.
Alvin menyerap kembali semua pelindung yang membungkus tubuh semua hunter. Pada saat itulah kaki mereka gemetar dan jatuh terduduk setelahnya.
Hanya Lowe yang masih bisa bertahan berdiri walaupun sisa-sisa energi sihir dari skill Alvin masih terasa sangat kuat di sekitar mereka.
"Tuan Rufino... Terima..."
"Jangan pikirkan itu," ucap Alvin, memotong ucapan Lowe.
Ia merasa tidak nyaman menerima ucapan terima kasih setelah ia juga ikut menghancurkan Kota S yang daratannya terbelah dan hancur sejauh puluhan kilometer saat ia menggunakan skill untuk menghabisi malaikat terakhir tadi.
"Saya permisi dulu," ucap Alvin sebelum akhirnya lenyap dari hadapan Lowe dan para hunter Asosiasi yang masih gemetar hebat akibat pengaruh energi sihir di udara.
.........
Dari Kota S, Alvin pergi ke 4 kota lain untuk menutup semua gerbang yang masih berada di sana.
Benar saja. Hanya dengan menggunakan bagian ketiga dari Art of Killing skill yang digunakannya hanya dengan 5% dari kapasitas energi Mana, ia bisa melenyapkan semua gerbang tanpa perlu repot-repot masuk ke dalam Dungeon untuk menghancurkan pilar sihir.
...****************...
__ADS_1