Hunter System

Hunter System
Bab 119 - Para Pembuat Dungeon


__ADS_3

"Jadi sihir itu cuma bisa dilepaskan jika 3 hal dilakukan bersamaan?" tanya Alvin sembari berlari menuju lokasi bos Dungeon berada.


["Ya. Yang pertama kau harus sudah menyadari jika kau sedang dalam pengaruh hipnotis. Yang kedua harus ada yang memukulmu dengan keras saat kau sudah tersadar. Yang ketiga, kau harus langsung membunuh pengguna sihir di bawah satu menit setelah kau sadar."]


"Itu hal yang sangat sulit."


["Karena itulah di masa depan banyak hunter peringkat tinggi yang terkena sihir itu. Mereka biasanya di kurung dalam penjara khusus sampai kematian menjemput. Hampir tidak ada yang bisa keluar dari sihir itu."]


"Karena memecahkan hal pertama itu terlalu sulit, kan?"


["Kau benar. Hunter-hunter masa depan yang sudah tahu cara menangkal sihir itu saja tidak bisa lolos dari hal pertama walaupun mereka sudah tahu. Kau cukup hebat bisa menyadarinya."]


"Yah... Itu karena..."


["Karena kau orang mesum, kan?"]


"A-apa? Aku tidak...," Alvin mengingat kembali gambaran tubuh Cyntia yang selama ini ada di dalam hayalannya.


["Tsk... Lihat, kau membayangkannya lagi."]


"Tapi, sejak kapan aku terkena hipnotis itu?" tanya Alvin, mengalihkan pembicaraan karena ia merasa malu."


["Sejak kau tiba di lokasi monster pertama dan kau secara kebetulan menatap monster yang salah."]


"Cuma dari menatapnya saja?!"


["Bukan hanya karena tatapan mata. Tentu saja harus ada mantra sihirnya juga. Kau ingat suara desiran angin aneh saat kau baru masuk ke Dungeon ini?"]


"Ya."


["Setelah kupikir-pikir, sepertinya itu mantra sihirnya dan sihir itu langsung bekerja saat kau menatap salah satu monster."]


"Sial. Jadi aku sudah terhipnotis sejak awal?"


["Ya."]


"Setalah ku ingat-ingat, memang agak aneh saat kau mengatakan kalau kau tidak tahu jenis monsternya padahal kau datang dari masa depan."


["Harusnya kau sudah sadar sejak saat itu. Aku dan Rimi tidak mungkin tidak tahu jika kami sudah melihat wujud monsternya."]


Alvin mendengus kesal.


"Dan mereka juga bisa mati. Tsk... Kenapa aku berhayal mereka tidak bisa mati?"


["Karena kau ingin terlihat keren di depannya."]


'...'


["Kau ingin terlihat sebagai orang yang bisa memecahkan masalah. Sayangnya monster yang menghipnotismu ikut campur dan memodifikasi pikiranmu,"] Mina tertawa nyaring setelah mengatakan hal itu.


"..."


["Jujur saja, kau sebenarnya sedikit cerdas untuk ukuran manusia normal, juga sangat beruntung. Jika tidak, kau mungkin akan mati di dalam dunia ilusi itu."]


["Andai aku tidak ada bersamamu, tidak akan ada yang memberitahu wanitamu untuk memukulmu di saat yang tepat. Dia juga tidak langsung membunuhmu walau kau menyerangnya dengan sangat brutal, skor 7 itu benar-benar menyelamatkanmu."]

__ADS_1


"..."


["Untung saja wujud Hunter Equipment belum aktif saat itu. Jika tidak, dia mungkin akan mati. Untungnya lagi dia seorang Assassin peringkat SSS yang bisa mengimbangi kecepatanmu,"]


["Yah... Skill itu memang sangat berbahaya sih..."]


"Tepatnya, skill yang membuat frustasi. Seandainya aku bisa mendapat skill itu... Oh..., Rimi, kenapa aku tidak mendapat experience point dari mereka tadi?"



"Disaring?"



"Baiklah... Terima kasih, Rimi>


......................


Alvin hampir tiba di lokasi bos Dungeon saat Mina tiba-tiba menyuruhnya berhenti.


["Berhenti!"]


"Ya?"


["Berhenti dulu!"]


Alvin akhirnya menghentikan langkah kakinya saat Mina berteriak memintanya untuk berhenti.


"Ada apa?"


["Nonaktifkan wujud Hunter Equipment. Cepat."]



["Kau benar. Ini aura sihir milik salah satu pembuat Dungeon."]


"Apa?!"


Alvin mencoba memfokuskan indranya untuk merasakan aura sihir yang Rimi dan Mina maksud.


Glup...


Ia langsung menelan ludah saat merasakan aura sihir yang sangat mengerikan yang berada jauh di luar akal sehatnya.


"A-apa aku harus melawan monster ini?"


["Tidak mungkin. Ayo berharap mereka belum menyadari energi sihir yang berasal dari Hunter Equipment. Jika mereka sudah menyadarinya, mereka mungkin akan mendatangimu."]



Alvin agak gugup saat mendengar pembicaraan mereka. Terutama saat mendengar Rimi berbicara terlebih dahulu sebelum ia atau Mina bertanya. Rimi biasanya jarang sekali berbicara.


["Tidak sekarang. Dia cuma seorang diri dan masih ada satu lagi yang lebih kuat darinya yang aku tidak tahu siapa. Aku khawatir jika aku salah membunuh makhluk yang bukan targetku. Kesempatanku hanya tersisa satu kali."]


"Tunggu dulu. Apa yang sebenarnya sedang kalian bicarakan?"

__ADS_1


Mina dan Rimi diam agak lama sebelum Mina akhirnya berbicara kembali.


["Ayo pergi dulu. Keluar dari Dungeon ini."]


"Keluar?"


["Ya."]


Alvin tahu jika dia kini sedang berada dalam ancaman bahaya yang bisa mempertaruhkan nyawanya. Tapi ia merasa khawatir juga jika monster-monster yang memiliki aura mengerikan itu sampai keluar dari Dungeon dan menyerang puluhan hunter di depan gerbang, juga membantai warga Kota T.


"...Tapi bagaimana jika mereka keluar dan menyerang Kota T?"


["Kita terpaksa harus mengorbankan Kota T."]


"Itu agak... Akan ada banyak hunter dan warga yang mati, kan?"


["Kau tinggal memilih. Ingin mengorbankan satu kota atau satu negara?"]


["Bahkan jika 5 kota di pulau ini menjadi korban, itu tidak masalah dibandingkan kau mati terlalu cepat sebelum bisa menguasai semua kemampuan dan pengetahuan yang kami bawa dari masa depan."]


Alvin menghela nafas panjang. Ia menatap ke arah dimana bos Dungeon harusnya berada sebelum akhirnya mengangguk pelan dan menanggapi permintaan Mina.


"Baiklah."


["Pilihan bijak. Kau bisa mengajak mereka yang di depan lari. Jika mereka tidak mau, itu bukan salahmu."]


Alvin akhirnya berbalik arah dan pergi berlari menuju tempat dimana Cyntia berada untuk mengajaknya segera pergi dari Dungeon.


Tapi, ia langsung mengerem laju larinya saat sebuah gerbang hitam seukuran sebuah pintu rumah tiba-tiba muncul dihadapannya.


["Tsk... Kau disergap."]


"Ya?"


["Terus lari saja!"]


"Y-ya..."


Alvin berlari lagi, melewati gerbang yang baru muncul itu secepat mungkin menuju lokasi Cyntia berada sembari mengirimkan pesan telepati pada pasukan serangganya untuk pergi juga ke lokasi itu.


["Yah..., tidak mungkin mereka tidak menyadari energi sihir dari Hunter Equipment saat kau mengaktifkannya. Auranya pasti menyebar ke seluruh Dungeon karena Rimi tidak bisa menyembunyikannya."]


"Harusnya aku menggunakan ghost skill."


["Sudah terlambat. Lain kali selalu gunakan ghost skill sebelum kau mengaktifkan Hunter Equipment."]


.........


Dari gerbang yang Alvin tinggalkan itu, keluar sosok wanita cantik berambut pirang dengan jubah putih panjang yang berkibat-kibar tertiup angin gurun.


Ia menatap jejak langkah kaki samar yang Alvin tinggalkan di atas pasir sembari tersenyum jahat.


"Kau pikir bisa lari dariku? Kau hanya bisa hidup jika aku ingin," gumam wanita itu sembari mengeluarkan sepasang sayap lebar yang mencuat keluar dari bagian bawah kedua pundaknya.


Saat ia mengepakkan kedua sayap lebar berbulu abu-abu muda itu, ia langsung terbang tinggi ke udara.

__ADS_1


Tiap satu kali kepakan sayap, wanita itu sudah pergi sejauh beberapa kilometer. Ia bahkan sudah melihat Alvin yang berlari dengan sangat cepat di bawahnya hanya dalam beberapa detik saja.


.........


__ADS_2