Hunter System

Hunter System
Bab 85 - Raid Pertama Bersama Cyntia


__ADS_3

"Aku berencana mengajaknya untuk mengikuti raid bersamaku," Cyntia kembali menjawab untuk Alvin, sembari menatap George dengan tatapan dingin.


"Tia. Kenapa kau langsung mengajaknya bersama tim raid kedua? Kau bisa membuat hunter muda lain iri jika Alvin tidak ikut dalam tim junior terlebih dahulu," ucap Chris.


Ia tidak ingin anak dari Marco yang dibencinya itu dekat pada pewaris utama keluarga Maxwell sama seperti kedekatan yang terjadi antara Marco dan kakaknya.


"Kenapa kita tidak meminta jawaban darinya saja?" ucap Felix Xavier. Wakil dari guild Maximus yang juga ayah dari Robert dan Erfhina.


Semua orang kini menatap pada Alvin.


Alvin tersenyum kaku. Ia menunduk, menatap piring makan di hadapannya sambil meletakkan kedua tangannya yang sedang memegang garpu dan pisau makan, ditepian meja.


'Ternyata begini suasana politik yang terjadi diantara keluarga hunter ternama.'


Mina terkekeh dengan nada mengejek, ["Melihat sifat kaptennya, kau mungkin akan membuat masalah baru jika mengikuti tim junior."]


'Aku tahu itu. Dia agak mirip Brondy. Pelajaran melatih kesabaranku mungkin tidak akan berguna jika bertemu manusia sejenis Brondy lagi. Tapi...'


Alvin menoleh dan menatap Arthur sekilas, sebelum menundukkan kepalanya lagi.


Ia hampir menangis saat melihat skor kesukaan pria paruh baya itu padanya.


Sebelum Alvin mengambil keputusan, dia hanya ingin memastikan apakah ia layak membalas budi pada keluarga Maxwell atau tidak. Karena itulah dia ingin memeriksa skornya dulu.


Siapa tahu kebaikan Arthur selama ini hanyalah topeng palsu, kan? Bisa saja Arthur ingin mengikat ayahnya, juga dia dan kakaknya sebagai budak seumur hidup dengan berpura-pura memberikan perhatian seperti yang Shiva lakukan.


'Mina. Apakah tidak apa-apa jika aku sedikit membantu mereka?'


["Apa masalahnya?"]


'Bukankah kau sedang mempersiapkanku untuk menjadi seorang hunter demi memburu monster-monster yang akan menjadi masalah dimasa depan?'


["Akan bagus jika kau tetap berada di sekitar keluarga ini. Karena salah satu sumber masalah yang terjadi di masa depan berasal dari keluarga ini."]


'A-apa?!'


["Dan lagi, yang akan kita buru bukan hanya monster. Manusia yang lebih jahat dari monster juga akan kita buru."]


'Tunggu. Apa maksudmu dengan sumber masalah di masa depan juga ada di keluarga ini?'


["Kau akan tahu nanti."]


.........


Alvin akhirnya mengangkat kepalanya lagi. Pertama-tama, ia menatap pada ayahnya, sebelum menatap pada Arthur yang duduk di ujung sisi meja, sebagai seorang kepala keluarga.


Alvin memberikan senyum tulusnya pada Arthur yang memiliki skor kesukaan 4 padanya, sebelum menjawab pertanyaan Felix Xavier, orang yang memiliki skor kesukaan 3 pada dirinya.


"Saya pernah berjanji pada paman Arthur bahwa saya akan mengabdi pada pewaris keluarga Maxwell. Walaupun mungkin akan berat nantinya, tapi saya harus ikut belajar dalam tim raid nona Tia," ucap Alvin sembari menatap pada Arthur, Felix dan Alan yang memiliki skor kesukaan 3 juga padanya.


Ia mengabaikan Chris dan George yang langsung terlihat tersenyum kaku saat ia berbicara.

__ADS_1


Terlihat jelas senyuman cerah di wajah Arthur, Alan dan Felix.


Demikian juga pada Sam, walaupun senyumnya hampir tidak terlihat. Putra satu-satunya Alan Maxwell yang menjadi pendukung setia Cyntia itu juga memiliki skor kesukaan 3 pada Alvin. Ia terlihat menghela nafas lega saat mendengar Alvin memberikan jawaban yang sesuai dengan apa yang dia inginkan.


Para pendukung setia Arthur itu sudah sejak awal ingin agar Alvin berada di sisi Cyntia untuk menjaganya. Mereka menginginkan seorang tulus dan setia seperti Marco, yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri dengan kesetiaan penuh pada keluarga Maxwell.


Tentu saja, mereka tidak melihat peringkatnya. Peringkat dapat dibeli dengan uang dan Arthur tidak kekurangan itu.


Hanya Alvin dan Vina lah calon suksesor Marco dan Felix yang cocok di mata Alan dan Felix. Mereka sudah memantau kehidupan kedua bersaudara itu sejak lama, sejak keduanya pergi meninggalkan benteng.


Alvin, walaupun lemah, tapi dia terlihat jelas sangat setia, jujur dan pemberani. Ia bahkan berani bersitegang melawan Brondy yang jauh lebih kuat dan berkuasa darinya.


Belum lagi, mereka juga menilai Alvin sebagai orang yang sangat cerdik setelah berhasil lolos dari kecelakaan Dungeon yang melibatkan Brondy Lewis, juga berhasil mengecoh Miranda Lewis dan melarikan diri dari Dungeon peringkat tinggi bahkan mengubur Miranda dan para pengikutnya disana.


Itulah penilaian mereka pada Alvin selama ini.


.........


Cyntia tiba-tiba saja berdiri dari kursinya.


"Tia?"


"Saya mau mempersiapkan tim raid kami, ayah," ucap Cyntia dengan ekspresi datar.


Mendengar itu, Alvin juga langsung berdiri dari kursinya. Ia tadi sudah mengatakan bahwa dirinya akan bergabung bersama Cyntia. Karena itulah dia juga ingin ikut membantu persiapan raid.


Tapi, Cyntia menolaknya bahkan berbicara tanpa menatap wajahnya.


"Y-ya..."


Alvin akhirnya duduk kembali dan lanjut menyatap makanannya yang langsung terasa hambar saat melihat ekspresi dingin Cyntia.


["Tsk... Kau ditolak mentah-mentah."]


'Apa dia sebenarnya tidak menyukaiku?'


["Yang terpenting itu kau menyukainya atau tidak. Jika kau suka, buatlah dia menyukaimu."]


Sigh...


["Kenapa kau tidak melihat skor nya saja?"]


'Kurasa akan berada di angka dua atau satu berdasarkan sikapnya padaku.'


["Yah... Tebakanmu hampir benar. Bersabar saja."]


Alvin menghela nafas panjang.


......................


Alvin pergi ke dekat gerbang tembok bersama Robert dan Erfhina, yang juga baru bergabung dalam tim raid kedua yang dikapteni Cyntia.

__ADS_1


Berbeda dengan Alvin yang akan dipersiapkan untuk pengawal pribadi Cyntia, Robert dan Erfhina dipersiapkan untuk pendukung utama guild Maximus.


Cyntia ada di dekat gerbang bersama 3 pengawalnya, Brooklyn, Vernon dan Sarah.


Anehnya, saat Alvin memerhatikan skor mereka, ketiga pengawal itu sudah memiliki skor 3 juga pada dirinya sedangkan umumnya seseorang yang belum pernah bertemu harusnya memiliki skor 2 pada awal pertemuan, menurut apa yang Mina jelaskan.


Ketujuh hunter itu akhirnya pergi menuju gerbang Dungeon peringkat C yang sudah Robert pesan pada pihak Pemerintah secara paksa, karena Asosiasi yang sebenarnya menjadi penanggung jawab penjualan hak raid itu tentu saja selalu menolak permintaan guild Maximus untuk membeli hak raid sebuah Dungeon.


.........


Keenam hunter itu sebenarnya agak bingung ketika melihat Alvin sepertinya tidak terganggu saat melihat mereka masuk ke dalam Dungeon hanya dengan 7 anggota saja.


Karena menurut mereka, Alvin harusnya curiga dan was-was. Sebagai seorang hunter prifesional lulusan Akademi, Alvin harusnya bertanya kenapa anggota tim itu kurang dari 20 orang, seperti yang disarankan.


Padahal, Alvin hanya sudah terbiasa melakukan raid seorang diri selama dua bulan ini. Jadi, dia bahkan sudah lupa akan aturan itu.


"Kau tetaplah berada di dekatku bersama Fhina," ucap Cyntia, saat mereka sudah berada di dalam Dungeon. Ia merasa Alvin sepertinya sangat tidak berpengalaman.


Tapi Cyntia juga tidak bisa menyalahkan seorang Healer peringkat F yang tanpa pengalaman itu karena dia tahu pasti susah bagi Alvin untuk mendapatkan pekerjaan.


Alvin mengangguk, lalu beralih ke belakang Cyntia dan berjalan berdampingan dengan Erfhina.


......................


Ketujuh hunter itu akhirnya tiba di wilayah pertama keberadaan monster.


Melihat monster berjenis orc itu berbicara, Alvin agak sedikit marah saat mengetahui apa yang mereka bicarakan. Mereka sedang berkompromi agar bisa menangkap Cyntia dan Erfhina tanpa membunuh, untuk 'santapan' mereka.


'Brengsek-brengsek itu!'


"Tetap dibelakangku," ucap Cyntia tegas, sambil menghalangi Alvin, yang ingin maju menyerang, dengan tangannya.


"Kita tetap disini. Berbahaya bagi seorang Healer untuk maju mendekati monster," ucap Erfhina pelan.


"Ah... Y-ya. Kau benar," sahut Alvin pelan. Ia lupa bahwa semua orang mengenalnya sebagai seorang Healer peringkat F.


.........


Robert, Tanker tim, langsung maju dan memancing semua monster untuk menyerang padanya seorang.


Sementara itu, Brooklyn yang memiliki tipe job Warrior, langsung menghabisi 30 orc yang setara dengan hunter peringkat C itu dengan sangat mudah dan cepat.



Alvin mendengar notifikasi itu di dalam kepalanya. Saat itu juga ia langsung mengumpat di dalam hatinya.


'Rimi! Kalau kau bisa melakukannya? Kenapa kau dulu tidak melakukannya saat aku meminta?'


<...>


Hanya suara tawa nyaring Mina yang Alvin dengar setelah itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2