Hunter System

Hunter System
Bab 151 - Terdampar Di Planet Monster


__ADS_3

Alvin berputar-putar mencari lokasi keberadaan gerbang dengan kedua matanya saat ia tidak bisa merasakan energi sihir dari gerbang.


"Dia pasti menutup gerbangnya. Aneh. Kenapa kita tidak menyadarinya?"



["Tsk..., ini sangat buruk."]


Mendengar perkataan Rimi, Alvin segera membuka peta Dungeon dan kaget saat tidak melihat adanya lanskap lingkungan Dungeon, juga tidak ada titik merah lokasi keberadaan monster. Padahal ia merasakan adanya energi sihir dari monster dalam jumlah banyak dan sangat besar yang sedang bergerak menuju ke arahnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Dungeon macam apa ini?"


["Kita sepertinya tidak sedang berada di Dungeon."]


"Ya?"


["Sepertinya... ini planet asing."]


"...Jangan bercanda."



Glup...


"Lalu, bagaimana cara kita kembali?" Alvin mulai khawatir.


Ia memang bisa membuat gerbang, namun itu adalah gerbang skillnya, bukan gerbang untuk keluar masuk sebuah Dungeon.


["Sudah pasti kami tidak mengetahuinya. Hal seperti ini belum pernah terjadi di masa depan. Jika ada hunter yang terjebak di dalam sebuah Dungeon, dia tidak akan pernah kembali. Karena itulah solusi untuk masalah seperti ini belum terpecahkan."]


Alvin mendengus.


"Kenapa aku selalu sial?"


["Kau tidak sial. Hanya sedikit tidak beruntung dan sedang mengalami cobaan."]


"Apa bedanya?"


["Jika kau selalu sial, kau sudah mati sejak lama. Kau hanya sedikit tidak beruntung karena terus mendapatkan cobaan."]


"...Kau sedang minghibur atau mengejekku?"


["Bagaimana menurutmu?"]


"Kau sedang mengejekku."


["Bukan aku yang mengatakannya."]


"..."


["..."]


"F**k!"


["...Jangan terlalu kesal. Kau selalu bertambah kuat saat kau berhasil melewati sebuah masalah, kan? Jadi yakinlah, kau sebenarnya tidak pernah mengalami kesialan."]


"Tsk..., padahal aku masih harus membunuh Chris Maxwell."


["Sudahlah. Kesampingkan dulu orang tidak penting itu. Ayo kita jalan-jalan dulu."]


"..."

__ADS_1


["Ini bagus untuk diteliti."]


"Apa yang ingin kau teliti? Sejak kapan kau jadi peneliti?"


["Daripada kau berdiam diri di sini. Lagian monster-monster itu sudah dekat."]


"Ayo kita tunggu sebentar lagi. Siapa tau si botak lain akan membuka gerbang di sini."


["Tinggalkan dulu tempat ini. Ayo kita kembali lagi nanti."]


"Aku sedang tidak mood."


["Turuti saja!"]


"...Kau f**k! Sejak kapan Sistem memerintah-merintah tuannya?!"


["Aku bukan bawahanmu!"]


"..."


["Sudahlah. Ayo kita berkeliling."]


Alvin akhirnya menuruti permintaan Mina. Ia mengaktifkan ghost skill, lalu terbang dengan menggunakan airbender.


......................


"Biasanya..., dalam novel-novel, Sistem akan menuruti semua keinginan tokoh utama. Kenapa kau terlalu galak pada sang tokoh utama?"


["Kau masih ingin membahasnya?"]


"Bukan begitu. Hanya saja..., sebagai pemilik tubuh tempat kita tinggal bersama... Ya, begitulah."


["Jika kehidupanmu adalah sebuah novel, maka judul novelnya sudah pasti Hunter System. Nah, kalau begitu, akulah tokoh utamanya."]


"..."


["Hnnn?"]


"...Kenapa pembuat Sistem harus membuat Sistem wanita?" gumam Alvin.


["Apa yang salah dengan wanita?"]


"Pria agak sedikit lebih mudah diajak berbicara. Tsk..., entah kenapa aku merindukan Bimi...," Alvin tiba-tiba teringat kembali pada Tanker yang tadi ditemuinya. "Mina, bukankah Tanker tadi..."


["Ini benar-benar planet asing. Lihat, ada banyak sekali monster,"] potong Mina, seolah tidak mau membahas hal itu.


Alvin bisa merasakannya. Sudah dua kali Mina mengabaikannya saat ia ingin membahas tentang Tanker tersebut.


Tahu jika Mina sepertinya sengaja menghindari membahas hal itu, ia akhirnya menatap ke bawah, pada berbagai jenis monster yang sedang berjalan kaki, menunggangi hewan tunggangan, juga yang sedang terbang dengan sangat rapi seperti sedang berbaris ingin mengantri pada suatu hal.


Alvin menghentikan laju terbangnya dan diam melayang di lokasi itu beberapa saat untuk memerhatikan keadaan di bawah sana.


"Ada berapa banyak monster-monster itu, Rimi?"



Alvin ikut merasa sedih mendengar suara sedih Rimi.


"Tidak apa-apa, Rimi. Jangan pikirkan itu."


["Mereka mungkin ada puluhan juta."]

__ADS_1


Alvin menoleh ke kanan dan kiri, menatap monster-monster yang sedang berada di bawah sana, lalu mengangguk pelan, "Sepertinya begitu."


["Tapi ini sedikit aneh. Monster-monster jenis mereka ini bahkan tidak pernah muncul sampai tahun 2110."]


"Apa mereka muncul di Dungeon setelah tahun 2110?"


["Aku tidak tahu. Kami pergi ke zaman sekarang pada tahun itu. Kami tidak tahu apa yang terjadi di atas tahun itu."]


"Begitu... Tapi, beberapa dari mereka pernah kulihat gambarnya di situs resmi Asosiasi Dunia. Apa Azazel itu yang menceritakannya?"


["Sudah pasti. Mereka ada tapi hanya belum pernah..."]


"Ada apa?"


["Sialan. Mereka benar-benar hanya ingin bermain-main dengan manusia. Ku rasa, mereka belum membuat Dungeon untuk monster-monster jenis ini karena belum ada hunter masa depan yang sanggup melawan mereka."]


Sigh...


Di bawah sinar rembulan yang redup itu, Alvin memerhatikan jenis-jenis monster yang memang sangat beragam. Entah itu jenis raksasa atau monster yang hanya seukuran manusia, juga dengan ras yang berbeda-beda.


"Apa ini planet monster?"


["Sepertinya begitu."]


"Jika tim raid sampai tersesat ke planet ini, mereka pasti akan putus asa hanya saat melihat jumlah monsternya saja. Belum ditambahkan dengan aura sihir mereka yang sangat mengerikan, juga dengan rupa mereka yang menakutkan."


["Jika mereka ini yang tersesat ke Bumi..."]


"Bumi akan hancur."


["Kau beruntung karena memiliki ghost skill."]


Alvin tersenyum getir. Ia kini menyadari bahwa dirinya selalu beruntung, terutama setelah bertemu Bimi yang sudah membawa Mina dan Rimi padanya.


["Jangan membayangkan hal itu. Kau mungkin akan menangis."]


"Kau f**k!"


......................


Alvin mengalihkan perhatiannya pada ribuan monster terbang bertubuh raksasa yang baru tiba.


Tidak ingin bersinggungan dengan monster-monster itu, ia terbang mendaki lebih tinggi lagi, membiarkan makhluk-makhluk yang sedang terbang ke arahnya itu untuk lewat.


Di antara mereka, ada dua jenis monster yang sudah dikenal oleh penduduk Bumi namun selama ini tidak pernah ditemukan di dalam Dungeon. Mereka adalah wyvern dan ular naga raksasa.


Ratusan wyvern itu masing-masingnya memiliki panjang tubuh seperti sebuah pesawat komersial dengan lebar tubuh sebesar gabungan dari lebar tiga pesawat komersial.


Wyvern tersebut memiliki dua kaki, juga sepasang sayap yang panjang dan lebarnya hampir menyamai ukuran tubuhnya.


Sementara ular naga yang tidak memiliki sayap itu juga terbang dengan meliuk-liuk menembus udara malam.


Alvin sedikit ngeri dengan ukuran ular naga itu. Dengan lebar tubuhnya yang sama dengan gabungan lebar tubuh 6 wyvern, Alvin yakin sebuah kota akan langsung musnah saat ular naga itu masih baru merengangkan tubuhnya saja.


Sementara gerombolan wyvern sudah pergi melewatinya, tubuh ular naga yang sangat panjang masih berada di bawah Alvin.


"Tubuhnya panjang sekali," ucap Alvin di dalam hati, tidak ingin sampai monster-monster itu mendengar suaranya dan mengetahui keberadaannya.


["Energi sihir yang ular naga pancarkan juga lumayan besar. Jika ia terbang sedikit lebih rendah saja, pasti akan terjadi gempa di tiap jalur yang dilewatinya."]


'Jika ada dua saja dari mereka yang sampai berhasil menyeberang ke Bumi...," Alvin tidak melanjutkan ucapannya. Membayangkannya saja sudah membuatnya ngeri.

__ADS_1


__ADS_2