
Billy tahu Alvin sedang berada di Kota S. Vina yang memberitahunya. Tapi, saat ia melihat Alvin muncul dari pintu aula itu, dia tetap kaget juga, terutama saat tatapan mereka saling bertemu.
'Apa pria ini yang dia suka?'
...…...
Alvin langsung menghampiri kelompok orang paling berpengaruh yang menjadi pusat perhatian di dalam aula tersebut dan langsung membuat orang-orang penting itu terkejut saat melihat orang yang ia sapa terlebih dahulu.
“Nona Cruz,” sapa Alvin pada Ivory, sambil tersenyum ramah.
Ivory yang juga sudah berharap akan bisa bertemu Alvin, tentu saja membalas sapaannya dengan ramah pula.
Orang-orang dapat melihat sikap ceria Ivory yang tidak nampak pada dirinya sejak tadi.
“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Arthur sambil menatap Alvin dan Ivory bergantian.
“Ya, paman,” sahut Alvin.
Sementara Ivory, ia hanya mengangguk dengan wajah tersipu.
Ivory kemudian menatap Vina, yang mengatakan bahwa ia akan mempertemukannya dengan Alvin di tempat ini. Ivory ingin mengucapkan terima kasih dengan tatapan mata pada Vina karena sudah membuat Alvin datang dengan berpura-pura memintanya untuk mengantarkan sampel produk mereka.
Namun, Ivory terkejut saat melihat wajah dan tatapan dingin wanita di samping Vina, yang menatap tajam padanya hampir tak berkedip.
‘Ada apa dengannya?’
Cyntia bahkan masih menatap marah padanya, walaupun Ivory sudah mencoba untuk tersenyum pada wanita itu.
“Aku sepertinya merusak suasana,” pikir Alvin yang juga bisa melihat ekspresi kemarahan Cyntia begitu ia berada di situ.
Tapi, dia tidak memiliki pilihan lain. Ia kesini awalnya memang untuk menjaga Vina jika ada penyerangan dari George dan orang-orang sewaannya. Tapi sekarang ia datang untuk berbicara hal penting pada Cyntia.
Alvin akhirnya pergi mendekati Cyntia, yang langsung berwajah tegang saat Alvin menatap kedua matanya dengan wajah serius.
"Nona Tia. Bisakah kita bicara?"
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka kembali, Cyntia akhirnya menatap kedua mata Alvin dengan benar.
Cyntia merasa senang saat Alvin akhirnya mengajaknya bicara. Tapi, suasana saat ini benar-benar tidak mendukung untuk mereka dapat berbicara berdua saja. Dia sedikit menyesali hal itu.
......................
Sekitar 20 menit sebelumnya...
Alvin baru saja turun dari taksi saat Mina memintanya untuk mengecek peta bakal gerbang Dungeon.
Ada hal baru yang Alvin lihat saat ia melihat peta transparan itu. Ada 4 titik berwarna ungu disana, yang sebelumnya tidak pernah dilihatnya di kota manapun yang pernah ia datangi.
“Apa yang berwarna ungu ini?”
[“Bakal gerbang yang harusnya hanya ada di atas tahun 2080,”] sahut Mina.
Anehnya, Alvin dapat mendengar suara Mina tertawa setelah itu.
“Kenapa kau tertawa?”
[“Karena aku sangat senang.”]
“… Apa yang membuatmu senang? Apa bakal gerbang ungu ini sejenis gerbang harta karun?”
[“… Kenapa yang kau pikirkan hanya harta saja?”]
“Karena itulah yang membuatmu senang, mungkin?”
[“Itu kau! Jangan samakan aku denganmu.”]
“… Lalu, apa arti titik ungu ini?”
__ADS_1
[“Itu gerbang yang dapat dibuka kapan pun. Pembuat Dungeon bisa langsung mengeluarkan monster saat ia ingin, dari gerbang itu. Maksudku, tidak ada sihir pengunci gerbang.”]
“Apa?!”
Saking terkejutnya, Alvin bahkan sampai berteriak. Hal itu membuat orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya langsung menoleh padanya.
‘Kalau begitu, bukankah 4 titik ini sangat berbahaya bagi warga kota?’
Alvin kemudian mengecek kekuatan sihir gerbang yang menunjukkan bahwa keempatnya adalah gerbang peringkat A.
["Sangat berbahaya jika orang-orang tidak segera dievakuasi. Terutama jika itu gerbang peringkat S. Untung saja itu peringkat A."]
‘Apa aku masuk ke gerbang ini dulu saja sebelum mereka membukanya?’
[“Jangan. Jika kau masuk ke salah satu gerbang, makhluk yang membuat gerbang mungkin akan langsung membuka 3 gerbang lainnya. Sebaiknya kau beritahukan hal ini terlebih dahulu pada orang-orang di hotel itu agar mereka bisa mengevakuasi warga. Mereka orang-orang penting di kota ini, kan? Orang-orang pasti akan mendengarkan mereka."]
'Kau benar.'
Alvin dengan cepat berlari menyeberangi jalan menuju Royal Hotel.
[“Temuilah Cyntia. Minta dia dan ketiga pengawalnya untuk memberitahukan hal ini pada semua orang. Jika dia yang melakukannya, semua orang mungkin akan percaya.”]
‘Ku harap dia bisa percaya padaku.’
Alvin mengingat bagaimana Cyntia yang tidak mau menatapnya sama-sekali. Hal itu membuatnya tidak yakin Cyntia mau mendengarkan dan percaya padanya. Bahkan, menurutnya, Cyntia mungkin akan menolak untuk diajak bicara.
[“Dia akan mau mendengarkanmu. Percayalah.”]
'Entah kenapa, aku agak terharu mendengar kata-katamu kali ini.'
[“...”]
‘Mari kita lihat nanti.'
["Hmmm..."]
'Jadi, kenapa gerbang itu berbeda dengan gerbang lain? Dan apa yang membuatmu senang?’
[“Sepertinya hari ini adalah ujicoba yang dilakukan oleh pembuat Dungeon. Karena itu gerbangnya muncul disini. Kita mungkin akan bertemu makhluk yang melakukan uji coba itu. Karena itulah aku senang."]
Itulah hal yang Alvin ketahui sebelum ia pergi ke lantai 7 hotel, untuk memberitahukannya pada Cyntia.
......................
Cyntia menatap Alvin dengan bingung atas permintaannya. Walaupun demikian, ia akhirnya berbicara pada Alvin dengan setengah berbisik.
“Apa ada hal penting? Aku tidak bisa meninggalkan tempat ini sekarang."
“Ini sangat penting. Tolong percaya pada saya sekali ini saja.”
Cyntia terdiam. Kalimat itu seperti sebuah permohonan dan ia tidak mau Alvin membencinya karena telah mengabaikannya.
Cyntia menatap orang-orang disekitarnya yang juga sedang diam, berusaha menguping apa yang mereka bicarakan.
Saat tatapannya berhenti di Ivory, Cyntia tiba-tiba melangkah maju lebih dekat pada Alvin, lalu berbisik di telinganya.
"Apa kau ingin mengatakan tentang apa yang akan dilakukan George?"
Alvin terkejut mendengarnya. Terutama saat Cyntia mendekat. Tapi, ia tetap diam karena Mina dan Rimi berteriak memintanya untuk berdiri diam dan tidak mundur menjauh.
"Anda sudah tahu itu?"
"Ya. Kami sudah siaga."
Alvin mengangguk.
Cyntia akhirnya mundur selangkah, saat melihat wajah Ivory tampak sedih. Ia kemudian menatap wajah Alvin lagi, lalu tersenyum padanya.
__ADS_1
Senyuman yang tidak akan bisa Alvin lupakan seumur hidupnya. Ini adalah pertama kalinya Cyntia tersenyum padanya sejak mereka bertemu lagi.
"Kau pulanglah dulu. Di sini berbahaya. Nanti malam aku akan menemuimu," ucap Cyntia.
Glup...
["Hei! Kau lupa tujuanmu?"]
"Tia."
Cyntia agak terkejut saat Alvin menyebut namanya dengan tidak formal.
"Y-ya?"
"Akan ada Dungeon Break."
Cyntia mengangguk pelan.
"Hah?"
"Cepat evakuasi orang-orang. Akan ada Dungeon Break di sekitar hotel ini. Akan ada 4 gerbang yang terbuka. Tolong percaya padaku."
Cyntia terdiam beberapa saat. Demikian juga dengan orang-orang yang sedang menajamkan pendengaran mereka untuk mendengarkan pembicaraan setengah berbisik itu.
Baru setelah lebih dari 10 detik, Cyntia akhirnya merespon, "Aku mengerti."
Cyntia kemudian menoleh dan memanggil ketiga pengawalnya.
'W-wow... Dia langsung percaya?'
["Haaah..."]
"Ya, nona Tia?" ucap Sarah yang baru tiba di dekat Cyntia dan Alvin.
“Tolong evakuasi semua orang. Minta juga pada pihak hotel untuk segera mengosongkan hotel ini.”
“Apa situasinya seberbahaya itu, nona? Serangannya akan dimulai?”
“Bukan tentang itu. Akan ada Dungeon Break.”
“Apa?!”
“Lakukan sa…”
Cyntia langsung melompat ke depan Arthur sebelum ia menyelesaikan kalimatnya untuk menangkap sebuah pisau terbang berkekuatan sihir besar, juga berkecepatan tinggi.
Orang-orang tidak ada yang menyadari datangnya serangan itu.
Mereka sebelumnya kaget saat mendengar akan ada Dungeon Break dan lebih kaget lagi saat melihat Cyntia dan Alvin tiba-tiba melompat ke depan Arthur.
Sebelum semua orang di aula tahu akan adanya Dungeon Break, suasana ruangan lebih dulu kacau saat puluhan pria bertopeng kulit masuk ke dalam aula itu lalu mengunci pintunya.
...…...
“Jika kalian semua tidak ingin mati, menyingkirlah ke dekat tembok. Kami hanya akan berurusan dengan keluarga Maxwell!”
Seru pria ramping yang berdiri di posisi terdepan puluhan pria bertopeng kulit.
Untuk memberikan efek kejut, pemimpin gerombolan itu langsung menyerang orang-orang yang berada di dekatnya dengan melemparkan pisau kecil yang langsung menewaskan mereka.
Setelah pemimpin gerombolan melakukan aksinya, semua orang berlarian menepi ke dekat tembok, hingga kini hanya ada anggota kekuarga Maxwell dan anggota keluarga Zayn di tengah aula.
Pemimpin gerombolan akhirnya datang mendekati orang-orang terpandang itu.
.........
Cyntia terkejut melihat kecepatan gerak Alvin. Walaupun Alvin tidak berhasil menangkap pisaunya, bisa menyadari adanya serangan itu saja sudah membuat Cyntia kaget.
__ADS_1
Ia melihat para pengawalnya yang berperingkat S pun tidak menyadari adanya serangan. Demikian juga dengan ayahnya, Sam dan Felix yang juga berperingkat S. Mereka tidak menyadari adanya serangan itu.
......................