
Cyntia memerhatikan diskusi yang Arthur, Alan dan Sam lakukan sambil sesekali memerhatikan video sebuah girl group musik di ponselnya.
Ada hal menarik yang diperhatikannya dari tarian itu dan ia mulai menyukainya hingga pada akhirnya malah hampir tidak memerhatikan lagi apa yang anggota keluarganya bicarakan dengan sangat serius.
.........
“Tia?”
Cyntia akhirnya mengalihkan tatapannya dari ponsel setelah Sam memanggilnya sebanyak 3 kali. Ia sebenarnya mendengar panggilan itu, namun daya tarik dari gerakan tari girl group yang sedang ditontonnya benar-benar menghipnotis kedua matanya.
“Ya?”
“Bagaimana menurutmu?”
Cyntia yang sejak tadi menyandarkan pinggulnya di meja kerja ayahnya, akhirnya pergi ke sofa di tengah ruangan dan bergabung bersama Arthur, Alan dan Sam.
Setelah mengambil tempat duduk kosong di sebelah Sam, Cyntia memerhatikan video pada laptop di mana ia bisa melihat pertarungan antara lich dan pasukan robot serangga.
“Maaf, ada hal lain yang tadi sedang kuperhatikan. Bisa kau ulangi pertanyaanmu?"
Sam mendengus pelan. Ia tahu Cyntia sedang menonton video musik. Ia juga tahu sepupunya itu sangat tertarik dengan musik dan pernah bercita-cita untuk menjadi seorang seniman musik andai ia tidak memiliki tanggung jawab sebagai penerus Arthur.
“Menurutmu, apa monster-monster serangga ini adalah monster jenis baru?” ucap Sam, mengulangi pertanyaan sebalumnya yang terlewat oleh wanita itu.
“Bukan, mereka bukan monster dari Dungeon."
Sam menatapnya dengan penuh selidik.
"Sepertinya kau sangat yakin?"
"Tentu. Tapi, siapa yang mengirim video ini?”
“Ketua tim pengawas gerbang dari Asosiasi, tuan Griffin.”
“Apa kita bekerjasama dengannya?”
Bukan Sam. Kali ini Alan yang menjawab, “Tidak. Hanya saja, dia sepertinya ingin bekerjasama dengan kita untuk menghancurkan keluarga Lewis. Jadi saat paman meminta video citra satelit pada walikota, tuan Griffin yang malah mengirimkannya langsung pada paman. Dia juga meninggalkan pesan pada email video.”
“Pesan apa, paman?”
“Dia akan membantu kita jika kita ingin menyerang keluarga Lewis.”
“Begitu…,” Cyntia mengangguk pelan sembari menatap kembali pada video.
“Tapi bukan itu yang ingin kami diskusikan padamu, nak,” ucap Arthur.
“Jadi apa yang ingin didiskusikan?”
Sam melirik pada Arthur dan Alan yang duduk di seberangnya, sebelum menanyakan hal yang sudah mereka diskusikan sebelum kedatangan Cyntia.
“Apa kau sebenarnya tahu sesuatu tentang pemimpin gerombolan robot serangga ini?”
Cyntia langsung mengangguk, “Ya. Dia yang menyelamatkanku saat hampir mati di bawah tanah.”
__ADS_1
Sam menghela nafas panjang. Ia juga tahu itu. Cyntia sudah menceritakannya sebelum ia membawa Alvin, demikian juga dengan Loman Griffin yang memberitahu bahwa robot itu mungkin bukan monster Dungeon karena ia bisa berbicara dengan bahasa manusia, juga sepertinya berada di pihak manusia.
Yang ingin Sam, Alan dan Arthur, tahu adalah mengenai identitasnya.
“Maksudku…, apa dia ini Alvin?”
Cyntia tampak tidak terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia malah tersenyum tipis sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Sam, “Kau bisa menanyakan sendiri padanya.”
Sam mengangguk-angguk pelan sembari menatap Alan dan Arthur lagi.
“Jadi benar dia….”
“Kenapa kau berpikir kalau itu adalah dia?”
Sam tersenyum pahit.
“Apa yang kami lihat di aula sudah cukup untuk mengarahkannya ke Alvin,” Sam menatap Cyntia sebentar, lalu menundukkan kepalanya, “Aku tidak tahu kalau dia menyimpan kekuatan sebesar itu diam-diam.” Ia kemudian mengingat lagi saat dirinya mencoba menasehati Alvin ketika mereka berada di tepi sungai.
Cyntia bisa menebak apa yang Sam pikirkan karena ia juga diam-diam telah memerhatikan dan mendengar pembicaraan mereka dari atas pohon pada hari itu.
Ia kemudian memijat-mijat pundak Sam pelan sambil tertawa.
"Tapi..., siapa yang menjadi sponsornya? Apa tidak masalah dia bekerja padamu jika dia sudah memiliki sponsor? Pasti tidak murah membiayainya hingga dia bisa sekuat itu," ucap Alan.
Cyntia terdiam. Ia baru menyadari hal itu. Namun ia tersenyum kembali saat mengingat berapa banyak tabungan yang sudah ia hasilkan selama melakukan raid di Jerman sejak usia 17 tahun.
'Berapapun itu, aku akan menggantinya.'
“Ngomong-ngomong, apa kau belum menemukan jejak George?” Giliran Cyntia yang bertanya pada Sam.
Sam menggelengkan kepalanya, “Dia sepertinya sudah meninggalkan Kota S. Tidak ada mata-mata kita yang melihatnya selama 3 hari belakangan ini.”
Cyntia mengangguk pelan.
Semua orang bisa melihat tidak adanya ekspresi marah ataupun kecewa pada wanita itu.
Sejak kehadirannya tadi, mereka bisa melihat wajah cerahnya yang disertai oleh senyuman bahagia.
“Apa yang terjadi?” tanya Arthur, saat sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi untuk tahu apa yang membuat anak semata wayangnya itu tampak berseri.
“Ya, ayah?"
“Wajahmu nampak cerah. Apa ada hal baik yang terjadi padamu?” tanya Arthur lagi dengan tatapan penuh selidik.
Senyum Cyntia semakin merekah.
Ekspresi itu membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut menjadi bingung.
Sudah beberapa hari sejak ia kembali ke Kota S, Cyntia tampak sangat murung. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat Cyntia berwajah cerah dan ceria.
“Ya, ayah.”
“Apa itu?” tanya Arthur.
__ADS_1
Namun kedua alis Arthur tiba-tiba terangkat saat ia teringat kata-kata Cyntia tentang orang yang ia sukai. “Apa ini tentang pria yang kau sukai?”
“Ya.”
Arthur tampak sedikit bingung. Ia bertukar pandang pada Alan dan Sam yang secara tidak kebetulan juga langsung menatapnya dengan hampir bersamaan, saat mendengar apa yang Cyntia baru saja ucapkan.
Alan dan Sam merasa khawatir karena mereka tahu Arthur sudah membuat janji pada Zayn Cruz untuk bisa mendekatkan putra-putri mereka.
Pada saat itu, ponsel Cyntia kebetulan berbunyi. Cyntia menerima panggilan itu sebentar, sebelum akhirnya pamit undur diri pada ketiganya.
“Orang-orang saya sudah menemukan George, saya akan menjemputnya sekarang,” ucap Cyntia sambil menatap Arthur.
“A-apa? Bagaimana mereka bisa menemukannya?” tanya Sam terkejut.
“Aku belum tahu,” sahut Cyntia. “Kalau begitu saya pergi dulu ayah, paman, Sam.”
Ketiga pria itu hanya menganggukkan kepalanya pelan sembari menatap kepergian Cyntia.
Mereka saling bertatapan lama setelah itu, sebelum Alan membuka percakapan lagi.
“Apa kau akan merestui hubungan mereka?” tanya Alan pada Arthur.
Semua orang disitu tahu bahwa Cyntia menyukai Alvin. Jadi Arthur tahu bahwa Alvin lah yang Alan maksud.
Arthur tersenyum.
“Aku cuma mau mencarikannya suami yang pantas, yang bisa mendukungnya disaat sudah menggantikanku,” ucap Arthur pelan. Ia kemudian menoleh lagi ke arah pintu sebelum akhirnya menatap Alan dan Sam. “Tapi jika mereka saling suka, kenapa aku harus melarangnya?”
Alan dan Sam menghela nafas lega setelah mendengar jawaban itu dari Arthur. Awalnya mereka mengira Arthur akan sedikit keberatan karena ia sudah berjanji pada Zayn.
“Tapi, tolong jangan beritahu Marco. Dia bisa syok. Biarkan hubungan mereka berjalan secara alami dulu,” ucap Arthur lagi sebelum akhirnya tertawa dengan suara nyaring.
...****************...
Setelah Cyntia pergi, Alvin membuka pesan-pesan yang ia terima di ponselnya.
Di antara pesan itu ada pesan dari Sam dan Alan Maxwell. Lalu ada juga dari Jack, Raymond dan tentu saja Vina yang menanyakan kabarnya, juga menanyakan tentang stok produk mereka.
Setelah membalas semua pesan, Alvin membuka peta pertemanan. Ia mencari titik merah redup yang tadi dilihatnya sebelum keluar dari kamar untuk menemui Cyntia.
Setelah memastikan lokasi keberadaan titik merah redup itu, ia mengaktifkan ghost skill dan pergi meninggalkan rumahnya menuju lokasi itu sambil melakukan quest jogging.
......................
Alvin tiba di sebuah vila mewah di pinggiran Kota S yang berjarak 50 kilometer dari rumahnya dalam waktu 10 menit, hanya dengan berlari.
Dengan ghost skill yang masih aktif, ia langsung masuk ke vila itu lalu berbaur dengan banyak hunter muda yang sedang berkumpul disana.
Ia mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan dan tahu bahwa mereka semua kini sedang mengalami rasa frustasi akibat keserakahan mereka yang sudah terlanjur percaya akan hasutan George.
Setelah mereka mengetahui kabar bahwa keluarga utama Maxwell telah berhasil lolos dari Dungeon Break, George membawa mereka semua untuk melarikan diri dan bersembunyi di vila ini. Sejak saat itulah mereka mulai menyesali keputusan salah yang telah mereka ambil.
Karena merasa tidak ada pembicaraan penting di antara para hunter junior dari guild Maximus itu, Alvin akhirnya pergi ke lantai dua di mana George berada.
__ADS_1