
Alvin menatap dua hunter peringkat SS yang tersisa, yang tampak ragu dengan tindakan apa yang harus mereka ambil.
Mereka tidak cukup bodoh untuk melanjutkan pertarungan saat melihat empat rekan mereka yang sangat berpengalaman dalam menghadapi monster-monster kuat dan sangat hebat itu dibunuh dengan begitu mudah.
"Tidak mau mencoba menyerangku?" tanya Alvin sambil menatap hunter bertipe Mage yang kini berwajah pucat.
Hunter itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Cobalah."
"T-tidak... S-saya..."
Hunter itu terdiam karena terkejut saat Alvin tiba-tiba mengangkat tangan kiri yang kemudian diarahkannya pada hunter tipe Healer.
Dari telapak tangan itu, kabut es beterbangan dengan sangat cepat menuju Healer malang tersebut.
Tubuh Healer itu langsung membeku saat kabut es menyelimuti tubuhnya dan mengeras seketika.
Setelah tubuh hunter itu membeku, Alvin mengatupkan telapak tangannya dan tubuh hunter yang membeku itu pecah berkeping-keping.
Hanya satu hunter peringkat SS yang kini tersisa. Hunter Mage dengan spesialis flame skill, yang menatap Alvin dengan ketakutan dan tubuh gemetar.
"Tidak mau mencoba menyerang?" tanya Alvin untuk kesekian kalinya.
Hunter itu menggelengkan kepala, lalu berlutut memohon ampun.
"Ampuni saya, tuan... Saya tidak..."
"Tidak ingin mencoba menyerang? Aku tidak akan mengampunimu. Ayo, cobalah," ucap Alvin lagi, tidak membiarkan hunter itu berbicara terlalu banyak.
Mage itu tentu saja tidak berani. Tapi, karena ia tahu pasti akan mati, ia akhirnya menyerang dengan tiba-tiba.
Dengan menggunakan seluruh energi Mana nya, ia melontarkan bola api besar yang ia arahkan pada kepala Alvin.
Alvin tidak bergerak, membiarkan bola api itu menabrak langsung ke kepalanya.
Blasssshhhh...
Setelah bola api itu mengenainya, Alvin menatap jendela status yang sudah dibukanya untuk melihat berapa poin dari health point nya yang berkurang setelah menerima serangan itu tanpa menggunakan self defence.
"Cuma 300 poin?"
["Kenapa memangnya? Pertahananmu memang sudah bagus."]
"Health point ku langsung berkurang 90% saat wanita brengsek itu menepuk tubuhku. Sekuat apa dia sebenarnya?"
["Astaga. Kau masih mengingat hal itu?"]
"Tentu saja. Walaupun dia ini cuma sejenis produk iklan Asosiasi Dunia, tapi dia ini satu dari dua belas hunter terbaik dunia. Lihat, dia cuma bisa mengurangi 300 poin dari 19.000.000 health point yang kumiliki."
["Lebih baik kau mengingat kata-kata wanitamu. Itu lebih bermanfaat."]
"Hah?"
["Saat kita sudah menikah."]
"Kau f**k!"
.........
Alvin menatap hunter Mage itu lagi, yang sedang menatapnya bingung saat melihat ia berbicara sendiri tanpa ada orang lain yang berbicara dengannya.
Dengan tatapan malas, Alvin mengarahkan telapak tangannya pada hunter itu.
__ADS_1
Zlaaaarrrrr... Zlaaaarrrr...!!!
Tubuh hunter itu hangus terbakar dengan kepalanya yang pecah terlebih dahulu setelah petir yang keluar dari telapak tangan Alvin menyambarnya.
Tidak sampai di situ, Alvin kemudian membakar mayat hunter itu dengan flame skill sampai hangus hingga cuma menyisakan tulang-belulangnya saja.
"...Naik level sekarang agak susah ya? Padahal sudah sebanyak ini hunter yang mati."
["Kau bisa pergi ke gedung Asosiasi setelah. Ada banyak hunter juga di sana."]
"..."
................
Setelah menghabisi 6 dari 12 hunter terbaik dunia itu, Alvin menarik dan menurunkan Norman dan Duncan Lewis.
Norman langsung mengumpat dan menyumpahinya begitu ia sudah berdiri di hadapan Alvin. Ia sebenarnya ingin langsung menyerang, namun ia tidak memiliki daya karena sekujur tubuhnya masih terlilit jaring yang mengandung energi sihir sangat kuat.
Pria paruh baya itu sama sekali tidak merasa takut walaupun sudah dipertontonkan pertunjukan bagaimana 6 hunter ternama dunia itu tewas dengan dangat mudah.
Tapi tidak dengan Duncan. Pria itu bahkan sudah gemetar hebat saat Alvin menatapnya dengan tajam.
Alvin akhirnya menangkap rahang Norman Lewis dan membuat mulutnya terbuka lebar saat ia sudah muak dengan umpatan-umpatan yang keluar dari mulutnya.
Sambil masih menatap Duncan, Alvin menyeringai jahat sembari menarik keluar lidah Norman dengan menggunakan airbender lalu mencabutnya hingga putus.
"Huuuuaaaaaahhh...!!!"
Norman berteriak nyaring. Air mata mulai bercucuran dari dua sudut matanya saat merasakan sakit yang luar biasa di dalam mulutnya.
Alvin kemudian melepaskan jeratan jaring dari tubuh Norman.
Crakkkkk!!!
"Huuuuuuaaaaa...!!!"
Alvin kemudian memukulkan kedua tangan Norman pada kedua tempurung kaki pria paruh baya itu hingga menghancurkan kedua lututnya.
Kraaaakkkk!!!
Norman langsung terjatuh tanpa daya saat sudah tidak memiliki kekuatan lagi di kedua lutut kakinya yang patah tertekuk ke arah yang salah.
Alvin membiarkan Norman berteriak-teriak tidak jelas sambil bergulingan di lantai agak lama untuk membuat efek ketakutan pada Duncan.
Setelah ia merasa Norman cukup kehabisan darah yang terus mengalir keluar dari mulut dan kedua tangannya yang putus, barulah ia menutup dan mengeringkan semua luka dari tangan dan lidah yang putus itu dengan healing skill.
Alvin hanya menutup semua lukanya dan tidak meregenerasi lidah dan kedua tangan Norman.
Norman masih saja menatap marah pada Alvin. Tidak ada rasa takut di wajahnya.
Melihat itu, Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa heran dengan kekeraskepalaan orang yang sepertinya tidak mengenal rasa takut itu.
"Karena kau bermental baja, kau ku izinkan menunggu sebentar. Aku akan mengurus itu nanti," ucap Alvin sembari menunjuk ke arah ************ Norman.
Ajaibnya, raut wajah Norman langsung berubah. Pria paruh baya itu kini menatapnya dengan rasa takut.
.........
Alvin menarik sebuah kursi, lalu duduk di atasnya, sementara Duncan sudah berlutut di hadapannya sambil menangis keras dan sudah terkencing-kencing sejak tadi.
"Lihatlah hunter gagah yang dulu mengancamku. Apa yang sedang kau lakukan? Bukannya kau dulu menggertakku?"
__ADS_1
"Tidak... Alvin, tolong..."
Plak...!
"Diam!" bentak Alvin setelah memukul pipi Duncan hingga gigi-gigi di sisi pipi yang terkena pukulannya itu patah seluruhnya.
Duncan langsung berusaha menahan tangisnya sebisa mungkin, namun ia masih tetap sesenggukan.
Alvin membuka mulut Duncan. Ia kemudian mengambil lidah Norman dari lantai dengan airbender, lalu memasukkannya ke dalam mulut Duncan.
Duncan langsung muntah saat tahu benda apa yang baru saja Alvin masukkan ke dalam mulutnya.
Alvin kemudian menoleh saat mendengar suara beberapa orang muntah dari arah belakangnya.
Raymond dan Thomas yang menyaksikan apa yang baru saja Alvin lakukan pada Duncan, muntah-muntah juga. Begitu juga dengan Vina yang memuntahkan isi perutnya di tubuh Jack saat wanita itu tidak sengaja menabraknya ketika memalingkan wajah.
'Bukankah tadi aku memintanya untuk menutup mata? Padahal aku sudah merusak jaket olahragaku.'
["Pakaianmu sudah penuh darah. Apa lagi yang kau keluhkan?"]
'Darah bisa di cuci.'
["Untuk apa kau punya banyak uang?"]
'...Kau benar, aku lupa.'
["..."]
......................
Crank...!!!
Duncan membelalakan kedua matanya saat melihat pisau yang ia tikamkan ke arah jantung Alvin dengan kekuatan sihir itu langsung patah sebelum berhasil menyentuh tubuhnya.
Duncan melihat kesempatan baik saat Alvin lengah ketika ia sedang menoleh dan memerhatikan kakaknya. Namun, ia akhirnya menyesali perbuatan liciknya itu setelah melihat hasilnya.
Duncan menangis dengan sangat keras sembari bersujud dan membentur-benturkan kepalanya ke lantai, di hadapan Alvin.
"Ma-maafkan saya... Tolong... Huaaaahhh...!"
Alvin menangkap tengkuk Duncan lalu menyeretnya dan membaringkan pria itu di atas sebuah meja lebar yang berada disitu dan mengikatnya dengan jaring pada meja tersebut.
Alvin kemudian menerbangkan tubuh Norman Lewis lalu mendudukkannya di salah satu kursi yang berada di sekitar meja.
Alvin menatap Norman, yang kini sudah mulai merasa ngeri padanya, lalu tersenyum pada pria paruh baya itu.
"Lihatlah apa yang akan kulakukan pada putramu. Ini akan sangat menarik. Tolong jangan berkedip," ucap Alvin yang kemudian menyeringai jahat.
Setelah berbicara pada Norman, Alvin merobek lengan jas Duncan, lalu mengambil pisau Duncan yang tadi ia taruh di kantong jaketnya.
"Masih ingat pisau ini?" tanya Alvin sambil melambai-lambaikan pisau itu di depan wajah Duncan.
"A-apa yang ingin kau lakukan?!" seru Duncan dengan nada putus asa, merasa ngeri melihat pisaunya yang berada di tangan Alvin.
Alvin mengabaikannya. Ia memanggil Raymond lalu menyerahkan ponselnya pada pria itu dan memintanya untuk mengambil rekaman video atas apa yang akan dilakukannya.
"A-apa yang ingin kau lakukan bro?"
"Aku sering melihat penempa kita melakukan ini."
"Apa?"
"Arahkan saja kameranya dengan benar."
__ADS_1
Raymond mengangguk, lalu mengarahkan kamera pada Alvin.