
Melihat pelanggannya diremehkan, pria muda yang sejak tadi melayani Alvin dengan ramah itu akhirnya menghampiri Alvin dan mengajaknya untuk pergi ke lantai dua, takut jika Alvin tersinggung hingga ia akhirnya pergi meninggalkan toko tersebut.
"Tuan, apa Anda mau melihat-lihat produk di lantai dua?"
Tapi, pria yang baru saja turun dari lantai dua tadi langsung pergi menghalangi jalan mereka.
"Apa yang kau lakukan? Di atas masih ada seorang pelanggan penting," ucapnya pada pria yang lebih muda. Sikapnya bahkan menunjukkan penolakan pada Alvin agar ia tidak naik ke atas.
"Tuan ini juga pelanggan kita," sahut pria yang lebih muda, sambil bergerak dengan sedikit kikuk. Terlihas jelas bahwa ia takut pada seniornya itu, tapi juga tidak ingin pelanggannya merasa kecewa dan akhirnya pergi.
["Wow... Wow... Apakah akan ada konflik lagi? Gunakan voodoo mu padanya. Aku sudah membuatkan 3 boneka untukmu,"] ucap Sistem tiba-tiba, dengan nada suara ceria.
'Tidak diperlukan.'
["Huh? Apa yang akan kau lakukan?"]
Alvin mengabaikan Sistem.
Ia mengambil salah satu belati dengan harga yang paling murah dari dalam kotak lalu menyerahkannya pada pria muda yang sejak tadi melayaninya dengan baik.
"Tolong buatkan nota untuk belati ini," pinta Alvin padanya.
Pria muda itu terkejut saat Alvin tiba-tiba menyodorkan belati itu dihadapannya. Tapi, ekspresi wajahnya terlihat gembira seketika.
Walaupun yang Alvin pilih itu adalah produk yang sangat murah, namun ia tetap sangat bersyukur. Biarpun sedikit, ia akan menerima bonus penjualan dari belati itu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, juga adik-adiknya.
"Tsk... Lihat, dia mengambil yang paling murah, kan? Untung saja kau tidak repot-repot mengantarnya ke atas," ucap pelayan yang lebih tua dengan suara berbisik di telinga pelayan yang lebih muda. Setelah itu, ia pergi meninggalkan mereka dengan wajah dan langkah yang sama angkuhnya.
.........
Setelah pria yang lebih muda mengeluarkan nota dari mesin kasir, Alvin bertanya padanya, "Apa pelanggan diizinkan memberi tips pada pelayan disini?"
Pelayan itu agak kaget mendengarnya. Ia sudah senang hanya dengan bonus yang akan ia terima dan tidak berharap hunter macam Alvin akan memberi tips layanan padanya.
"Ya, tuan."
"Berapa tadi harga belatinya?"
"5.000 dollar, tuan."
Alvin mengeluarkan sebuah tas kecil dari kantong jaketnya, lalu membuka resleting tas itu dengan pelan sambil mengangkatnya tinggi dan memiringkan bagian atasnya ke arah pelayan yang tadi meremehkannya.
Alvin kemudian mengeluarkan beberapa lembar kartu yang kesemuanya berwarna gold, lalu menyerahkan selembar kartu pada pria muda dihadapannya sambil berkata, "Ambil saja kembaliannya."
Pria muda itu mengambil uang elektronik dari tangan Alvin dan terkesiap saat melihat nominalnya.
"Tuan! Ini sangat banyak."
"Tidak masalah." Sahut Alvin yang kemudian berbalik dan hendak pergi meninggalkan toko itu.
"T-tuan belatinya...," ucap pria muda itu yang lupa memberikan belati dan nota pada Alvin.
Alvin berbalik, lalu berbicara pelan di dekat telinganya, "Kau ambil saja. Gunakan itu untuk menusuk seniormu tadi kalau kau kesal padanya."
Setelah mengatakan itu, Alvin menyelipkan lagi sebuah kartu nama di saku kemeja pelayan itu.
"Kalau kau ingin pekerjaan yang lebih baik dengan bayaran yang sangat bagus, hubungi orang yang ada di kartu nama ini. Katakan saja Alvin yang memberimu kontaknya. Ingat namaku, ok?"
Alvin menepuk pelan pundak pria muda itu sebelum ia berbalik dan pergi meninggalkannya.
Tapi, seseorang tiba-tiba berdiri menghalangi jalannya.
__ADS_1
Orang itu adalah pria yang lebih tua, pelayan angkuh yang tadi turun dari lantai dua.
Melihat banyaknya kartu gold yang merupakan uang elektronik pecahan tertinggi di tas penyimpanan uang elektronik Alvin dan seberapa besar Alvin memberikan tips pada rekannya, tentu saja ia sangat tergiur.
Ia menebak bahwa Alvin adalah hunter peringkat S yang sedang menyamarkan energi sihirnya.
Hal itu dia simpulkan hanya dari pecahan uang elektronik yang Alvin miliki, karena pecahan dengan jumlah sebanyak yang Alvin miliki biasanya hanya dibawa-bawa oleh seorang hunter peringkat A keatas.
Seorang hunter peringkat C dan B biasanya hanya memiliki pecahan uang silver karena bayaran mereka yang tidak sebesar hunter peringkat A.
Kesimpulan kedua ia ambil dari energi sihir Alvin. Semua hunter tahu bahwa hanya seorang hunter peringkat S yang bisa menyamarkan energi Mana mereka. Ia merasakan energi sihir Alvin hanya berada pada kisaran peringkat F sama sepertinya. Tapi, dengan bukti sebanyak apa kartu gold yang Alvin miliki, ia yakin bahwa Alvin adalah hunter peringkat S yang sedang menyamarkan energi sihirnya.
"Tuan, apa Anda tidak melihat-lihat produk kami yang ada di lantai dua terlebih dahulu?" ucap pelayan itu sambil memasang senyum bisnis di wajahnya.
"Ada banyak produk buatan penempa Mina di atas sana. Dia adalah penempa baru yang namanya sudah sangat terkenal dalam satu bulan belakangan. Anda pasti tidak akan kecewa saat melihat kualitas produk-produknya." Ucap pria itu lagi dengan penuh semangat.
'Lihat, orang-orang seperti mereka ini hanya perlu disiksa dengan uang, kan? Tidak perlu menyakiti mereka secara fisik. Cukup siksa hatinya saja!'
["Lihat, orang kaya baru yang ingin memamerkan kekayaannya dari hasil penjualan sampah yang kubuang."]
'Terima kasih.'
["Hei!"]
.........
Alvin tidak menggubris pelayan itu. Ia berjalan mengitari tubuhnya lalu berjalan terus menuju pintu toko, sampai ia akhirnya berhenti lagi saat mendengar seorang wanita memanggilnya.
"Tuan Rufino?"
Alvin langsung berbalik saat mendengar suara yang sedikit familiar ditelinganya.
"Nona Cruz?"
"Apa Anda ingin membeli perlengkapan raid?"
"Tidak..., saya hanya melihat-lihat."
"Ah... Begitu..."
Alvin kemudian melirik pada pelayan yang tadi meremehkannya. Wajah terkejutnya itu terlihat sangat lucu saat tahu bahwa Ivory Cruz yang terkenal bahkan menyapanya dengan sangat sopan juga sampai terburu-buru menghampirinya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, nona Cruz."
"Tunggu."
"Ya?"
"Tolong tunggu sebentar," pinta Ivory.
Wanita itu kemudian berbalik lalu pergi menghampiri seorang pelayan wanita yang tadi menemaninya di lantai dua. Setelah berbicara beberapa saat, ia akhirnya kembali lagi pada Alvin.
"Ayo kita pergi," ucap Ivory yang kemudian berjalan mendahului Alvin. Ia membukakan pintu untuk pria itu dan baru keluar saat Alvin sudah keluar mendahuluinya.
Melihat sikap Ivory yang sangat sopan dan ramah pada Alvin. Pria yang tadinya mengejek Alvin merasa marah dan sangat menyesali sikapnya tadi.
"Sial! Aku sudah melepaskan seseorang yang sangat kaya!" umpatnya dalam hati, menyesali sikapnya yang bodoh.
Tapi, ia kemudian termenung sambil menatap ke arah pintu. "Sebentar... Namanya tadi Rufino, kan? Dan wajahnya..."
Ia mengambil ponselnya lalu memeriksa situs resmi milik Asosiasi Kota S dan menemukan wajah Alvin berada di halaman depan situs dengan kalimat besar di bagian atas fotonya yang bertuliskan 'Buronan'.
__ADS_1
"Gila! Aku mendapatkan seorang buronan! Tapi, kenapa hadiahnya hanya 10.000 dollar?"
......................
"Apa Anda sedang berjalan-jalan, tuan Rufino?"
"Tidak juga. Bagaimana dengan Anda, nona Cruz?"
"Saya hanya sedang mencari-cari hadiah untuk adik saya. Dia baru saja diterima di Akademi Hunter."
"Apa Anda sudah menemukan hadiah untuknya?"
Raut wajah Ivory berubah. Ia terlihat sedikit sedih. Wanita itu kemudian menggelengkan kepalanya.
"Saya menemukan set armornya. Tapi tidak dengan pedangnya. Produk buatan penempa Mina itu sangat langka. Produknya sangat cepat habis."
["Tsk... banyak sekali orang-orang yang menggilai sampah."]
'Mina kita sangat terkenal dan sombong ya Rimi?'
["Bagaimana kalau kita akhiri saja hidup kita bertiga? Aku akan meledakkan racun di dalam kepala si tuan Rufino ini."]
'...' <...>
.........
"Apa job nya?" tanya Alvin lagi, pada Ivory.
"Dia seorang Warrior."
"Oh kebetulan sekali. Sebenarnya, saya memiliki sebuah pedang bagus buatan penempa itu." Ucap Alvin.
"Ya?"
"Saya punya sebuah pedang buatan Mina." Alvin mengulangi kalimatnya.
"A-anda serius?! Apa Anda bersedia menjualnya pada saya?!" seru Ivory penuh semangat. Wajahnya kembali berbinar.
["Ternyata kau ahli juga ya mendekati wanita?"]
'Kau salah paham!'
["Jangan khawatir. Aku akan membuatkan pedang yang bagus untuk kelancaran hubungan kalian."]
'Kau f**k!'
["..."]
Saat Alvin masih berbicara santai sambil berjalan-jalan dengan Ivory, seorang wanita tiba-tiba menghampiri Alvin dari arah belakang dan langsung merangkul lengannya.
"Kenapa kau meninggalkanku?!" ucap Vina dengan raut wajah kesal.
Alvin yang baru ingat bahwa ia datang ke pusat perbelanjaan ini bersama kakaknya, tentu saja terkejut.
"Ah... M-maaf aku lupa..."
"Lupa?! Kau gila!"
Melihat seorang wanita tiba-tiba datang dan langsung merangkul lengan Alvin, Ivory yang tadinya berjalan sedikit agak jauh dari Alvin, langsung melangkah mundur untuk menjaga jarak agar terlihat lebih jauh lagi.
__ADS_1
["Oh, astaga. Wanita manis itu salah paham."]