Hunter System

Hunter System
Bab 65 - Permintaan Jack Dan Ivory


__ADS_3

Alvin baru saja keluar dari gerbang Dungeon saat ia menerima panggilan dari Jack yang ternyata meneleponnya untuk membahas mengenai penutupan gerbang Dungeon yang hendak dijadikannya gudang penyimpanan.


"Aku sudah mengatakan jika dia ingin agar aku menutup gerbangnya, datang dan temuilah aku," sahut Alvin, merespon ucapan Jack.


《"Bro. Dengarkan dulu. Aku tahu kau kuat. Tapi, untuk kali ini sebaiknya kau turuti dulu saja maunya. Jika kau nanti menemukan Dungeon peringkat A diluar pusat kota, tuan Lex berjanji akan menguruskan semua perizinannya untuk mu."》


"Maaf. Tapi aku tetap menginginkan gerbang ini."


《"Bro, ingat. Dungeon itu berada di tanah yang merupakan wilayah bisnis mereka. Mereka memiliki hak untuk memintanya ditutup dan mereka juga sudah memberikan hadiah untuk menutupnya."》


Alvin bisa mendengar helaan nafas putus asa dari Jack setelah ia mengucapkan kalimat terakhir. Pria itu diam agak lama setelahnya.


Saat tidak mendapatkan tanggapan apa pun dari Alvin, Jack kembali berbicara,《"Bro..., setidaknya bagaimana jika kau mengalah kali ini saja untuk datang menemuinya?"》


"Jack, jujur saja. Apakah akan ada masalah yang berimbas padamu dan tuan Brown jika aku menolak untuk pergi menemuinya?"


Jack diam agak lama sebelum menjawabnya. 《"Ya."》


Setelah mendengar itu, giliran Alvin yang diam cukup lama.


Ia sebenarnya ingin mengeraskan hati dan tidak ingin pergi menemui CEO ZC group itu, mengingat sikap angkuh anak buahnya. Tapi, dia juga tidak ingin menyusahkan Lex dan Jack yang sudah menerimanya dengan baik di Kota T bahkan mau menutupi keberadaannya dari Asosiasi Kota S.


Lagi pula, setelah dipikirkannya lagi, dia belum tahu bagaimana sikap CEO ZC group itu. Siapa tahu dia orang yang bisa diajak bicara baik-baik, kan?


Memikirkan itu, Alvin akhirnya mau untuk mengalah untuk kali ini, walaupun ia sudah pernah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan pernah mau mengalah lagi pada orang angkuh.


"Kalau begitu, aku akan menemuinya."


《"Baiklah,"》sahut Jack cepat, setelah Alvin menyatakan persetujuannya, 《"Akan ku sampaikan pada mereka. Kalau begitu, bisakah kau pergi menemui CEO ZC group besok malam? Aku akan menemanimu."》


"Ya."


《"Baiklah. Terima kasih, bro."》


Setelah ia tadi menyetujuinya, Alvin dapat mendengar suara helaan nafas lega dari Jack. Alvin akhirnya menyadari bahwa posisi Jack mungkin berat juga karena masalah gerbang tersebut.


《"Kalau begitu aku akan mengabarimu lagi nanti sebelum menjemputmu."》


"Ya."


Setelah Alvin menutup panggilannya, ia mengambil boneka dari dalam jendela inventory dan menusuk-nusuknya sampai puluhan kali.


"Dia benar-benar tidak tahu rasa takut, kan? Dia langsung mengadu saat kubebaskan."


["Itu berarti bos nya lebih menakutkan dibandingkan dirimu."]


"Benarkah?"


["Ya."]


"Mari kita lihat siapa yang lebih menakutkan," ucap Alvin geram, sambil terus menusuk-nusuk boneka ditangannya."


["Maksudku, bos nya itu orang kaya raya, kan? Dia bisa saja menyewa hunter peringkat S dari luar negri untuk membunuh orang yang mengganggu bisnisnya. Berhati-hatilah dan jangan sampai mati. Kau baru saja memulai."]


"Aku sudah memikirkan hal itu. Aku memiliki inventory untuk bersembunyi."


["Tsk... Orang seperti mereka tidak hanya akan menyerangmu. Jika mereka tidak bisa menemukanmu, mereka pasti akan mengincar orang-orang terdekatmu."]


Alvin terdiam. Ingat bagaimana Vina terakhir kali diculik.


"... Sial, kau benar. Aku melupakan hal seperti itu."


["Kau bukan lupa. Kau bodoh."]

__ADS_1


"... Terima kasih."


["..."]


......................


Esok paginya, saat Alvin melakukan jogging, secara tidak sengaja ia bertemu lagi dengan Ivory di taman tempat mereka pernah bertemu.


Wanita itu sedang duduk termenung di bangku kursi taman sampai-sampai ia tidak menyadari kehadiran Alvin yang sebenarnya pasti bisa dirasakannya hanya dari aura sihirnya saja.


"Nona Cruz? Anda habis berolahraga juga?"


Ivory yang sedang larut dalam lamunan, tentu saja kaget saat Alvin tiba-tiba menyapanya. Ia bahkan langsung berdiri dan bersikap lucu saat tahu Alvin adalah orang yang berada dihadapannya. Apalagi secara kebetulan ia sedang melamunkan Alvin, juga masa depannya.


"Tuan Rufino?"


Alvin hampir saja tertawa saat melihat wajah terkejut Ivory yang sangat lucu.


["Hei. Dengarkan aku. Ikuti ucapanku. Aku akan membantumu."]


'Apa? Membantu untuk apa?'


["Supaya kau bisa dekat dengannya, bodoh!"]


'Tidak. Terima kasih.'


"Apa Anda sedang melamun, tuan Rufino?"


"A-apa? Oh, tidak..."


Ivory mengernyitkan kedua alisnya. Seingatnya, ia sangat sering melihat Alvin melamun setiap kali mereka bertemu.


Ia juga ingat, Alvin bahkan bisa melamun saat sedang berhadapan dengan monster. Yang lebih parahnya, ia juga terkadang melihat Alvin berbicara sendiri pada udara kosong.


"Apa Anda sedang beristirahat?" tanya Alvin.


Alvin mengangguk pelan lalu duduk di bangku itu terlebih dahulu.


Mereka duduk diam agak lama tanpa berbicara sepatah kata pun.


Tanpa Alvin sadari, Ivory sedang memerhatikannya diam-diam.


Ivory tadinya memang sedang menunggu Alvin di tempat ini. Mengingat Alvin jarang mengaktifkan ponselnya dan tidak membalas dua pesannya, dia jadi enggan menghubunginya lagi.


"Apa Anda sudah berjalan-jalan ke tempat-tempat yang pernah saya sarankan, tuan Rufino?"


"Oh... Saya belum memiliki kesempatan untuk melakukannya."


"Begitu...," Ivory mengangguk pelan. Ada senyuman tipis tersungging di bibirnya. Entah kenapa ia merasa senang mengetahui hal itu. "Malam ini..., apakah Anda mau berjalan-jalan bersama saya?"


"Ya?"


"Maksud saya, saya akan memandu Anda. Yah, itu kalau Anda mau sih..."


["Terima ajakannya."]


'Aku memiliki janji malam ini.'


Alvin mengingat pesan yang Jack kirimkan tadi pagi bahwa mereka akan bertemu dengan CEO dari ZC group malam ini.


["Kau mungkin akan menyesalinya nanti."]


'Sudahlah. Aku memiliki urusan.'

__ADS_1


"Tuan Rufino?"


"Ah... Y-ya... Maaf... Anda mengatakan apa tadi?"


Bukannya tersinggung karena ucapannya tidak didengar, Ivory malah tertawa.


"Anda sering melamun?"


"Apa?"


"Maaf, tapi saya sering melihat Anda melamun."


["Astaga. Wanita ini bahkan selalu memerhatikanmu."]


Alvin mengabaikan ucapan Mina. Ia tahu bahwa Ivory pasti mengiranya sedang melamun saat ia sebenarnya lagi berbicara pada Mina.


"Tidak. Sebenarnya saya sedang memikirkan tentang... Raid..."


"Raid?"


"Ya. Maksud saya..., saya orang baru disini. Agak sudah menemukan tim raid." Sahut Alvin asal-asalan.


Anehnya, ekspresi ceria Ivory tiba-tiba menghilang. Ia malah mengangguk-anggukkan kepalanya pelan sambil mengalihkan tatapannya ke arah taman bunga diseberang mereka.


"Sebenarnya, jika Anda ingin, Anda bisa mengikuti raid bersama guild kami. Tapi...," Ivory menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, "Belakangan ini sepertinya gerbang Dungeon agak jarang bermunculan."


"Gerbang Dungeon jarang bermunculan?"


"Ya. Sebenarnya banyak guild di Kota T yang kesulitan membayar gaji mingguan hunter-hunter mereka karena sangat sedikit sekali gerbang yang muncul akhir-akhir ini. Yah, kami sampai membuat batas-batas wilayah supaya tidak rebutan gerbang."


Alvin mengangguk pelan.


'Mina, apa itu karena aku mengambil banyak bakal Dungeon?'


["Tentu saja."]


'Aku tidak memikirkan sampai kesana.'


"Tapi ini lucu, kan?" ucap Ivory lagi.


"Lucu?"


"Ya. Harusnya kami senang mengetahui bahwa kemunculan gerbang itu berkurang. Karena dengan begitu, dunia agak sedikit damai, kan? Para warga juga pasti lebih menyukai jika hal seperti ini terus terjadi."


"Y-ya... Anda benar..."


Keduanya diam agak lama setelah membahas hal itu.


Karena para hunter sudah terbiasa dengan adanya gerbang yang kini menjadi mata pencaharian utama mereka, mereka justru merasa kecewa saat kemunculan gerbang-gerbang semakin berkurang.


Sifat dasar manusia yang serakah, membuat mereka melupakan bahwa tujuan awal mereka memperkuat diri sebagai seorang hunter sebenarnya adalah untuk menutup seluruh gerbang itu.


Tapi, saat gerbangnya sudah jarang muncul, mereka malah mempertanyakan hal itu lagi, sampai-sampai melupakan tujuan awal untuk menghabisi semua gerbang yang ada.


.........


"Ngomong-ngomong, ini penawaran saya yang terakhir. Apa Anda mau jika saya mengajak Anda untuk jalan-jalan dan makan malam hari ini, tuan Rufino?" tanya Ivory dengan sungguh-sungguh.


Pertanyaan yang disertai dengan tatapan dan raut wajah penuh harap agar Alvin mau menerima ajakannya.


Alvin bisa membaca harapan Ivory dari raut wajahnya. Ia sudah ahli menilai isi pikiran seseorang hanya dari tatapan mata saja, sejak ia sering dirundung saat masih berada di Akademi Hunter dulu.


Menyadari hal itu membuat Alvin terdiam agak lama sebelum akhirnya menjawab permintaan Ivory dengan berat hati.

__ADS_1


"Maaf tapi saya ada janji bertemu dengan seseorang malam ini, nona Cruz."


...****************...


__ADS_2