Hunter System

Hunter System
Bab 99 - Dungeon Break Di Pusat Kota S


__ADS_3

Crashhhh…


Cyntia menepis bilah-bilah es dengan kedua tangannya. Ia juga melompat mundur beberapa langkah saat 10 orang yang dikiranya sebagai hunter itu sudah maju menyerang.


"Apa di dalam Dungeon itu ada monster yang bisa menggunakan hipnotis?" gumam Cyntia, sembari menatap mata berapa penyerang yang sangat jelas terlihat tanpa emosi apa pun. Ia semakin yakin bahwa para penyerangnya ini adalah hunter yang terkena sihir hionotis.


Walaupun mereka menyerang secara berkelompok juga dengan formasi menyerang yang sangat rapi, tetap saja mereka bukanlah lawan Cyntia. Ia bisa menghajar puluhan hunter itu dengan mudah, hanya menggunakan tangan kosong.


Tapi, lama kelamaan, Cyntia mulai kewalahan menghadapi hunter-hunter itu karena harus bertarung tanpa membunuh mereka. Mereka bahkan tidak pingsan setelah ia berusaha memukul dengan keras.


Cyntia, yang belum tahu jika mereka itu sebenarnya lich, merasa enggan untuk membunuh saat ia merasa orang-orang itu sedang dalam pengaruh hipnotis.


.........


Barulah saat Brooklyn datang untuk meminta bantuan, Cyntia akhirnya tahu bahwa mereka sebenarnya adalah monster Dungeon.


“Mereka lich?”


“Ya, nona Tia. Vernon dan Sarah tadi tidak sengaja membunuh salah satu dari mereka saat mereka ingin menyerang rombongan di balai kota. Mereka kemudian berubah menjadi mayat hidup. Mereka lich.”


“Begitu.”


Setelah Cyntia mengetahui hal itu, ia akhirnya tindak sungkan-sungkan lagi untuk mengunakan skill nya dan langsung menghabisi semua lich tersebut.


Walaupun monster-monster itu agak merepotkan karena ia harus membunuh mereka dua kali, tapi Cyntia bisa menghabisi mereka semua hanya dalam waktu kurang dari 10 menit setelah ia bertarung dengan sungguh-sungguh.


...…...


“Nona Tia, ayo kita kembali ke balai kota, mereka meminta saya untuk mencari Anda untuk membantu."


"Kalian ke balai kota?"


"Ya. Di sana ada bunker untuk persembunyian. Walikota menyarankan kami kesana untuk menyembunyikan tuan Arthur dan anggota keluarga Cruz."


Cyntia mengangguk, namun ia masih ragu meninggalkan gerbang dihadapan mereka itu.


“Kita masuk dulu dan hancurkan pilar sihirnya,” ucap Cyntia.


“Biar saya yang menghancurkannya. Anda segeralah bantu tuan Arthur, nona.”


Cyntia menatap gerbang itu sekali lagi. Ia juga menatap mayat-mayat lich yang tampaknya tidak bangkit kembali. Itu berarti, ia menduga, necromancer nya sudah mati dan berada di antara mayat monster-monster tersebut.


Setelah Cyntia berbalik pergi, Brooklyn juga berbalik untuk pergi ke gerbang. Namun, Cyntia tiba-tiba menarik tangannya.


“Ya, nona Tia?”


“Ikut aku. Nanti saja urus gerbangnya.”


“Ya?”


Cyntia menatap gerbang itu lagi. Ia sebenarnya memiliki perasaan tidak nyaman pada gerbang tersebut.


“Seandainya monster di dalam sana sudah habis, tidak akan ada masalah jika gerbangnya dibiarkan dulu. Tapi jika masih ada monster yang mengantri untuk keluar, bukankah itu berbahaya?”

__ADS_1


Glup…


Brooklyn tiba-tiba merasa gugup. Jika di dalam sana masih ada monster, ia sudah pasti akan mati karena satu monsternya saja memiliki peringkat yang sama dengannya.


“Ayo kita selamatkan orang-orang kita dulu,” ajak Cyntia.


'Aku juga tidak yakin necromancernya akan mati semudah itu. Mungkin mereka masih di dalam Dungeon.'


......................


Norman Lewis mulai gusar saat tim humas Asosiasi mendatanginya bolak-balik ke ruang kerjanya.


Panggilan telepon dari warga di pusat Kota S terus berdatangan saat mereka yang terkepung oleh pasukan lich tak kunjung mendapatkan bantuan.


Kemarahan Norman semakin menjadi-jadi saat tahu bahwa The Destroyer yang hebat itu tidak bisa dihubungi.


"Apa dia langsung pergi begitu saja setelah menyelesaikan tugasnya?" tanya Norman pada Duncan yang masih berusaha untuk menghubungi anak buah The Destroyer.


"Saya tidak tahu ayah, teleponnya tersambung tapi mereka tidak mau menerimanya."


"Apa dia gagal?"


Duncan menggeleng, "Tidak mungkin. Semua misi yang ia jalani selalu berhasil. Dia hunter pembunuh nomor satu di guild kami."


"Tsk... Kalau begitu kenapa dia belum juga memberitahukan hasil dari misinya?"


Duncan yang juga tidak tahu mengapa, hanya bisa diam sambil terus berusaha menghubungi The Destroyer.


Saat itu, kepala tim pemantau gerbang datang.


"Apa itu?"


Kepala tim pemantau menghampiri Norman Lewis, lalu menyerahkan tabletnya.


"Kami sudah mendapatkan tangkapan citra satelit. Keluarga Maxwell sedang bertarung di balai kota melawan hunter-hunter asing," ucap pria itu sambil ikut menatap layar.


Norman memerhatikan video siaran langsung satelit. Ia kemudian menatap Duncan, "Apa orang-orang ini anak buah The Destroyer?"


Duncan mendekat lalu memerhatikan layar. Ia kemudian menggeleng, "Sepertinya bukan, ayah. Mereka biasanya mengenakan topeng."


"Lalu siapa mereka ini? Dan dimana The Destroyer?"


Norman kemudian menggeser layar, memindahkan tangkapan kamera ke lokasi Royal Hotel dan ia kaget saar melihat hotel itu kini sudah menjadi puing-puing.


Saat mereka masih kebingungan, kepala tim keamanan datang melapor.


"Tuan, ada kabar penting," ucap kepala tim, sambil melirik ke layar tablet.


Ia kemudian meminta izin untuk mendekat, lalu berbicara kembali sambil menunjuk layar.


"Ini..., mereka ini lich, tuan. Mereka monster-monster dari Dungeon."


"Apa?!"

__ADS_1


Setelah mendapatkan laporan dari dua kepala bagian di Asosiasinya, Norman akhirnya mengetahui situasi yang terjadi.


Setelah kedatangan mereka, kepala tim humas kembali datang dan mengatakan bahwa stasiun berita ingin membeli hak siar.


Tahu jika nama keluarga Maxwell akan melambung tinggi jika televisi lokal menyiarkan bagaimana keluarga itu berusaha memerangi Dungeon Break, Norman dengan terpaksa menolak permintaan itu, walaupun ia tahu jika dirinya baru saja menolak uang yang sangat besar dari hasil pembelian hak siar.


"Ayah, bukankah ini kesempatan baik? Setelah mereka kelelahan sehabis bertarung melawan monster-monster itu, bagaimana kalau kita menyergap keluarga Maxwell itu?"


Norman mendelik.


"Lalu, apa gunanya kita membayar rekan guild mu itu?!"


Duncan terdiam.


"Tapi, tuan. Saya juga mendapat laporan kalau hunter-hunter dari guild Superkraft bersiaga di luar area Dungeon Break," ucap kepala tim humas.


"Lalu, apa masalahnya?" tanya Norman dengan dahi berkerut.


"Begini... tapi ini cuma asumsi saya tuan..."


Kepala tim humas akhirnya memberikan sebuah asumsi yang entah bagaimana sama persis seperti ide Mark Friedl.


Norman langsung meledak saat mendengar pandangan dari kepala tim humas itu.


"Jadi dia mau menjatuhkanku?!"


"I-itu cuma pemikiran saya saja, tuan."


Norman diam sampai beberapa lama.


"Kau ada benarnya. Ayo bentuk tim untuk menyergap mereka setelah mereka menyergap keluarga Maxwell," ucap Norman, sembari menyeringai lebar.


Pada akhirnya, tim hunter utama yang Asosiasi miliki, pergi untuk bersiaga di luar wilayah gerbang Dungeon Break, di sisi yang berlawanan dengan hunter-hunter dari guild Superkraft.


Dengan keunggulan bisa mengetahui keadaan di pusat terjadinya Dungeon Break dari siaran satelit, Norman merasa bahwa mereka akan bisa meringkus keluarga Maxwell dan guild Superkraft sekaligus.


......................


Di salah satu area dekat gerbang Dungeon Break, di balai kota, Cyntia adalah satu-satunya hunter yang menjadi pertahanan warga sipil dari serbuan para monster.


Setelah sebelumnya berkeliling di sekitar area salah satu gerbang untuk menghabisi monster yang sedang berpatroli mencari siapapun manusia untuk mereka bunuh, Cyntia dan Brooklyn akhirnya pergi ke balai kota untuk menyelamatkan keluarganya.


Ia awalnya memang masih bisa bertarung tanpa kesulitan untuk membunuh semua lich yang bertumpuk di area bawah tanah balai kota.


Namun, saat lich Mage dan dua pendampingnya datang dan ikut bertarung, Cyntia akhirnya mulai kerepotan saat harus bertarung sambil melindungi semua warga sipil yang terjebak di situ untuk bersembunyi.


Apalagi saat lich Mage membangkitkan lagi pasukannya yang sudah tewas dan pasukan lich dari gerbang lain juga mulai berdatangan. Cyntia akhirnya benar-benar kewalahan.


Ada 4 lich berperingkat SS dan dua lich berperingkat SSS yang kini mengeroyoknya, sementara ia juga harus fokus melindungi sebuah pintu menuju lorong bunker di mana semua keluarga Maxwell dan keluarga Cruz sedang bersembunyi, juga puluhan warga sipil yang berada di kiri-kanannya.


Cyntia yang sudah sangat kelelahan setelah bertarung habis-habisan untuk mencegah semua lich, akhirnya hampir mencapai batasnya.


Ia hampir kehabisan energi Mana setelah banyak menggunakan sihir, namun lich Mage yang selalu menghidupkan pasukan itu benar-benar membuatnya kewalahan.

__ADS_1


Dia juga sudah mencoba untuk membunuh dua lich Mage, namun serangannya selalu dibelokkan oleh sihir telekinesis.


"Astaga, apa aku akan mati disini?" gumam Cyntia dengan nafas tersengal dan pandangan yang sudah mulai kabur.


__ADS_2