Hunter System

Hunter System
Bab 116 - Monster Magma


__ADS_3

Alvin berusaha menggapai apa pun dengan kedua tangannya untuk menghentikan tarikan dari bawah yang terus berusaha menenggelamkan tubuhnya semakin jauh ke dalam tanah, namun usahanya tersebut sia-sia.


Pasir di sekitarnya itu berubah menjadi sangat lembut hingga ia tidak mendapat sesuatu untuk menahan laju tubuhnya yang terus terperosok.


Ia terus terperosok masuk ke dalam tanah hingga akhirnya terjatuh ke dalam gua.


Buaaakkkkk…!


Daaaang!


“Ughhhh…!”


Alvin langsung terpental lagi sampai menghantam dinding gua begitu ia terjerumus masuk ke dalam gua. Ia bahkan belum sempat memijakkan kedua kakinya di lantai gua saat serangan itu datang.


Ia juga belum sempat terjatuh ke lantai gua, setelah ia menghantam dindingnya, saat suatu kekuatan tak terlihat membuat tubuhnya melayang-layang sebelum ia di banting lagi ke langit-langit gua.


Danggg!!!


Gua itu terlihat bergetar hebat saat tubuh Alvin menghantamnya.


Ia kembali di hantamkan ke dinding gua sampai berkali-kali sebelum akhirnya dihempaskan dengan sangat keras ke lantai gua yang sangat keras.


Alvin diam tak bergerak. Tidak ada suara denyut nadi yang terdengar dari tubuhnya di tempat yang sangat sunyi itu.


.........


Melihat lawan tampak telah mati, monster bertubuh hitam legam yang tadinya bersembunyi di kegelapan itu akhirnya keluar dari persembunyiannya.


Ia menatap makhluk yang tergeletak mati di lantai gua itu dengan seringai lebar.


Ia kemudian berjongkok lalu menekan-nekan tubuh Alvin yang sekeras batu sambil menggumam dengan bahasa yang aneh.


Setelah puas mengamati tubuh lawan yang tak bernafas, ia meraih salah satu kaki besi Alvin dan menyeretnya masuk ke dalam kegelapan lorong gua.


Tapi, saat masih berada di tengah jalan, monster hitam legam itu merasa lehernya tiba-tiba tercekik.


“Jadi kau ada di bawah tanah, hah?!”


Alvin terus mencengkram leher makhluk itu dengan airbender menggunakan tangan kiri, sementara ia mulai menembakkan flame dengan tangan kanannya.


Atas perintah Mina, Rimi tadi telah menahan pergerakan denyut jantung Alvin hingga ia tampak seperti mati, agar lawan menghentikan serangan dan Alvin baru menyerang balik saat ada kesempatan.


...…...


Api yang langsung menyala dengan sangat besar itu mulai membakar seluruh tubuh makhluk hitam legam itu.


Namun, saat api sudah mulai melahap habis tubuh monster itu, gua tempat mereka berada tiba-tiba runtuh.


Dinding-dinding gua melunak, berubah wujud menjadi pasir dan menenggelamkan Alvin, juga monster itu di dalamnya.


"Lagi?!"


Alvin tidak bisa menghindari langit lorong gua yang runtuh menimpanya, hingga pasir kembali mengubur tubuhnya dan ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.

__ADS_1


‘Gila! Aku tidak bisa bergerak.’


[“Tsk… padahal dia tidak terlalu kuat tapi skill dan strateginya benar-benar merepotkan.”]


Alvin merasa suhu pasir yang menguburnya mendingin. Ia juga mulai kesusahan bergerak, padahal sejak tadi ia berusaha menggerakkan tubuhnya berharap bisa ‘berenang’ dalam pasir untuk menuju ke atas.


[“Pasir-pasirnya membatu. Dia berusaha menguburmu dengan sihir.”]


‘Apa yang harus ku lakukan?’


[“Tunggu saja.”]


‘Hah?!’


[“Tidak ada ide. Melawan musuh yang memanfaatkan kekuatan alam memang sangat merepotkan. Tunggu saja sampai dia mengeluarkanmu.”]


‘Aku bisa mati kehabisan nafas…’


[“...”]


Alvin baru sadar jika dia ternyata bisa bernafas dengan sangat normal. Ia juga tidak merasakan sesak apa pun walaupun tertimbun di dalam tanah.


[“Kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang bernafas. Kau bahkan bisa berbicara selama masih berada di dalam kostum ini. Kostum ini bisa memberikanmu udara segar selama lebih dari 3 tahun.”]


‘Bagaimana dengan makan?’


[“Nah, kau mungkin akan mati karena lapar dan haus.”]


[“Kau juga bisa menggunakan waktumu untuk tidur jika kau mau. Selama kau masih dalam mode Mage, pasukan seranggamu itu tidak akan menghilang.”]


‘Serangga… Aku akan memanggil beberapa laba-laba untuk menggali tanah ini.’


[“Jika ide itu berguna, aku sudah memberitahumu sejak tadi. Kau berada dalam pengaruh sihir. Jika mereka menggali, mereka juga akan terjebak di dalamnya. Kau justru akan mengurangi kekuatan tempur di depan gerbang.”]


‘F**k!’


[“Bersabarlah dan amati apa yang akan lawan lakukan selanjutnya.”]


‘Baiklah. Tapi, apa mereka baik-baik saja?’


[“Monster-monster itu memang tidak bisa mati. Tapi mereka tidak bertambah kuat seperti lich setelah bangkit dari kematian. Mereka bukan lawan yang sepadan untuk wanitamu, apalagi ada ratusan serangga yang membantunya.”]


‘Begitu…’


[“Mari kita tunggu saja…”]


Baru saja Mina selesai berbicara, tanah yang sebelumnya mulai padat itu tiba-tiba menjadi lembek. Dari dalam kostumnya, Alvin bisa merasakan tubuhnya terseret jatuh semakin dalam, sampai akhirnya ia benar-benar terjatuh saat tubuhnya menemui ruang kosong.


“Spider Webs!”


Alvin melontarkan jaring ke arah depan, berharap jaringnya akan menemukan dinding gua saat ia melihat sungai magma berada di seluruh area luas yang tepat di bawahnya.


Karena jaringnya tak kunjung menemukan target, ia menggunakan ice dew dengan energi Mana yang cukup besar agar tidak langsung mencair saat bersentuhan dengan magma itu.

__ADS_1


Saat sudah mendarat di atas es buatan, Alvin dengan cepat menatap sekitarnya untuk mencari dinding gua, karang, atau benda keras apa pun agar ia tidak tenggelam ke dalam sungai magma, tapi ia tidak menemukan adanya dinding ataupun karang disana.


Hanya ada lautan magma tak berujung di tempat itu.


Saat es sudah semakin mencair, ia menggunakan airbender dari kedua telapak kakinya untuk bisa melayang di atas lautan magma tersebut.


"Sial, monster itu benar-benar mempermainkanku!"


Alvin segera bergeser saat merasakan serangan datang dari arah belakang dan melihat sebuah tangan api raksasa yang menyala-nyala lewat di samping tubuhnya.


Ia kemudian berbalik dan melihat monster magma raksasa berdiri di atas lautan magma.


Monster itu menggerakkan tangan lain untuk meraih tubuh Alvin, namun Alvin langsung mementalkan tangan raksasa itu dengan airbender.


"Thunderbolt!"


Zlarrr... Zlarrrr... Zalarrr!!!


Petir besar menyambar-nyambar kepala monster magma itu sampai puluhan kali hingga kepala monster pecah tak berbentuk.


Tidak sampai di situ, Alvin menembakkan ice dew berkekuatan besar untuk membekukan seluruh tubuh monster magma raksasa, lalu menembakkan thunderbolt lagi padanya.


Zlaaarrr... Zlaaarrrr... Zlarrrr...!!!


Tubuh monster yang telah dibekukan itu langsung hancur saat petir menyambar di seluruh bagian tubuhnya.


.........


Setelah menghancurkan monster itu, Alvin berbalik kembali. Ia langsung menyerang monster magma raksasa yang baru saja muncul dari dalam sungai magma dengan ice dew, lalu menghancurkannya juga dengan thunderbolt.


Hal itu ia lakukan terus berulang kali, tiap monster-monster magma keluar dari sungai magma di bawahnya.


Tapi, semakin lama, semakin banyak monster yang keluar dari sungai magma itu.


Karena ia saat ini hanya bisa menggunakan satu job hunter saja, Alvin mulai kerepotan saat monster raksasa semakin banyak bermunculan dan menyerangnya secara bersamaan.


"Mina... Sepertinya aku akan mati kali ini..."


["Ya. Kita tidak memiliki jalan kali ini...,"] sahut Mina. Suaranya terdengar lesu.


"A-apa?! Kenapa kau juga... Arghhh..."


Satu tangan monster berhasil menghantam tubuh Alvin hingga ia terpental jatuh ke dalam sungai magma.


"Brengsek!"


Alvin berusaha untuk keluar dari dalam sungai magma yang sangat panas itu. Andai Hunter Equipment tidak melindungi tubuhnya, ia pasti sudah hangus terbakar oleh magma yang sangat panas membara.


Ia melontarkan spider webs ke salah satu monster untuk dapat keluar dari dalam sungai yang sudah menenggelamkan tubuhnya sampai ke batas pinggang. Namun, usahanya sia-sia karena jaringnya langsung terbakar saat bertemu dengan tubuh monster.


Saat ia masih memikirkan cara untuk keluar dari dalam sungai magma itu, salah satu monster raksasa menerjang dan mendorongnya jauh ke dalam lautan api yang panas membara.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2