
Alvin sejak tadi hanya berdiri saja di dekat gerbang, menyaksikan bagaimana pasukan serangga menghabisi lich yang berdatangan hendak menuju gerbang dibelakangnya.
Ia sangat senang melihat pasukan lich peringkat S yang ingin keluar dari gerbang itu terlihat jelas tidak sanggup bertahan dari gempuran pasukan serangga.
Strategi dan formasi bertempur yang ia kirimkan pada pasukan serangga, membuat formasi pasukan lich hancur berantakan dan tewas setelahnya.
Alvin baru mengembalikan pasukan ke portal habitat mereka, saat ia melihat bos Dungeon dan kedua pendampingnya datang.
Mengingat ia pernah disiksa oleh monster berjenis sama, Alvin tidak ingin menyerahkan ketiga lich itu pada pasukan serangga, demi membalas dendam pribadinya.
[“Kau terlalu berlebihan. Mereka ini memang monster berjenis sama tapi bukan mereka yang dulu menyiksamu.”]
“Aku tidak peduli. Mereka dari jenis Dungeon yang sama, kan?”
[“Kau cuma terlalu pendendam saja,”]
“Aku tidak peduli.”
Alvin mengganti job nya ke Warrior, lalu maju menyerang dua lich pendamping yang juga sudah maju menyerang.
Lich pendamping bertipe Tank langsung menggunakan aggro padanya.
Walau levelnya masih berada di bawah lich itu, anehnya, Alvin tidak terpengaruh aggro lawan sama sekali. Ia bahkan bisa dengan bebas menyerang siapapun yang diinginkannya.
Alvin menghajar lich tipe Assassin yang tidak bisa melarikan diri dari cekikkannya sampai wajahnya hancur sebelum akhirnya pecah, sementara ia hanya membiarkan lich Tank di belakangnya menebas-nebas tanpa arti.
Kostum yang wujudnya sedang aktif itu benar-benar sangat kuat bahkan tak tergores sedikitpun walau lich peringkat SS itu sudah berusaha untuk menusuknya di satu titik berkali-kali.
“Aku benar-benar suka kostum ini!”
[“Benarkah? Bukankah kostumnya norak?”]
“Selera seseorang bisa berubah seiring bertambahnya usia.”
[“Bukankah usiamu baru bertambah tiga bulan saja sejak hari itu?”]
“…Mina, maafkan aku."
["Kau f**k!"]
"..."
Setelah lich Assassin tewas, Alvin berbalik dan menghancurkan kepala lich Tank sama seperti caranya menghancurkan kepala lich Assassin.
.........
Alvin tertawa saat baru menyadari bahwa bos Dungeon itu ternyata sejak tadi sedang berusaha untuk menjeratnya dengan telekinesis.
Tawanya semakin nyaring saat melihat dua lich yang baru di bangkitkan itu kebingungan mencari keberadaannya karena mereka tidak memiliki mata lagi untuk melihat.
Mereka juga tidak bisa tahu posisi keberadaan Alvin melalui energi Mana karena kostumnya memiliki kemampuan untuk menghilangkan aura energi sihirnya sama sekali.
“Kau ingin melihat bagaimana telekinesis itu?” ucap Alvin sambil menatap bos Dungeon, lich Mage peringkat SSS, yang kebingungan.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Alvin mencengkeram leher lich Mage dari jauh dengan menggunakan airbender skill.
Ia kemudian mengeluarkan pedang dari jendela inventory lalu melayang-layangkan pedang itu didepan tubuhnya sendiri, dengan ujung pedang menghadap tubuh lich Mage tersebut.
Lich Mage berusaha melepaskan cengkraman jarak jauh Alvin dengan segala upaya. Ia juga sudah berusaha menembakkan sihir melalui kedua telapak tangannya pada Alvin, namun arah serangannya selalu teralihkan saat Alvin menggoncang-goncangkan tubuhnya dari kejauhan.
"Haha..., ini menyenangkan. Pantas saja dia dulu mempermainkanku seperti ini."
["Dia ini bukan yang dulu."]
"Diamlah."
["..."]
__ADS_1
Lich Mage yang ditarik dengan kekuatan airbender semakin mendekati ujung pedang yang tajam. Ia akhirnya hanya bisa melawan kekuatan airbender dengan mendorong sihir telekinesisnya ke arah tubuh Alvin, agar tubuhnya tidak tertarik semakin dekat pada ujung pedang yang tajam.
Alvin dan lich Mage akhirnya saling beradu tenaga. Alvin menarik, lich berusaha mendorong untuk menolak kekuatan itu.
Melihat serunya adu kekuatan mereka, Mina dan Rimi bersorak dengan sangat nyaring untuk memberikan semangat pada Alvin.
["Tarik! Tarik... Kau lemah! Aku akan meracunimu jika kau kalah!"]
"..."
Lich mulai berteriak putus asa saat ujung pedang lancip Alvin sudah masuk menusuk bajunya, kulitnya, hingga daging pucatnya yang tanpa darah itu.
Teriakan lich semakin nyaring saat ujung pedang akhirnya menusuk jantung sihir di dalam tubunya.
Crakkkk...!
Alvin dapat mendengar sorakan gembira Mina dan Rimi setelah lich itu mati.
Tapi, Mina tetap saja mengomel setelahnya.
["Tsk... Kenapa kau lemah sekali? Latih lagi kekuatan fisikmu!"]
"Tapi itu menyenangkan, kan? Kau terdengar sangat menikmati momennya."
["..."]
"Ngomong-ngomong, kenapa lich SSS ini lebih mudah dikalahkan dibandingkan si brengsek bertopeng itu? Aku yakin jika si brengsek itu masih memiliki energi Mana penuh, aku tidak akan bisa membunuhnya dengan mudah walaupun sudah mendapatkan kekuatan baru ini."
["Itu karena mereka tidak secerdas manusia walaupun mereka berwujud manusia. Kekuatan tanpa teknik bertarung dan trik dalam bertarung, tidak akan terlalu berguna saat mereka menemukan lawan dengan level sepadan,"]
["Serangga-seranggamu juga akan bertarung dengan gaya mereka sendiri jika kau tidak berbagi pikiran pada mereka."]
Alvin mengangguk-angguk kecil.
"Jadi kau menganggapku sama dengan mereka?! Aku bisa berpikir karena ada kau yang membantuku?!"
["Kau sendiri yang mengatakannya."]
"Kau...!"
["Kau sebenarnya cerdas. Kau hanya kalah cerdas jika dibandingkan dengan aku dan Rimi."]
Sigh...
Alvin menoleh pada lich di dekat kakinya, lalu mengambil bongkahan kristal yang keluar dari dadanya.
Rimi menahan nafas saat memerhatikan Alvin sedang mengamati item itu. Ia sebenarnya membuat item itu dari skill lich untuk mengujinya saja.
Beberapa saat kemudian, Mina akhirnya memulai ujian yang ia dan Rimi sepakati.
["Buang item itu."]
Alvin terkejut saat mendengar Mina memintanya untuk membuang item untuk pertama kalinya.
"Buang? Kenapa? Bukankah ini item langka?" tanya Alvin, sembari menatap ke layar transparan di hadapannya.
...°•°•°•°•°•°•°...
...Item Name : Necromancer...
...Rarity Level : S...
...Function : Awakening and control corpses...
__ADS_1
...•°•°•°•°•°•°•...
Alvin tidak mendengar Mina menjawabnya.
Merasa bingung dengan hal itu, ia menatap lagi pada bongkahan kristal di tangannya, sebelum akhirnya membuang kristal tersebut.
Setelah membuang kristal itu, ia bisa mendengar Mina dan Rimi menghela nafas lega.
"Jadi saat aku pingsan waktu itu, item yang sama juga sebenarnya bisa kau buat, Rimi?"
"Jangan memberikanku item peringkat S lagi jika cuma untuk mengujiku. Lain kali aku akan mengambilnya."
<...> ["..."]
Alvin akhirnya menghancurkan pilar sihir, lalu menghabiskan waktu untuk menambang semua kristal sihir sementara menunggu gerbang Dungeon terbuka kembali.
......................
The Destroyer langsung melarikan diri saat gerbang Dungeon tiba-tiba muncul dan secara kebetulan menyelamatkannya dari kematian.
Melihat penjahat itu melarikan diri, tentu saja Cyntia langsung berusaha untuk mengejarnya.
Cyntia memang khawatir pada Alvin. Tapi, ia tahu Alvin akan baik-baik saja setelah melihat kekuatan Alvin yang sepertinya telah disembunyikannya selama ini.
Berkat kecepatannya larinya, Cyntia akhirnya berhasil mengejar The Destroyer. Tapi, saat ia sudah berhasil mendesak hunter itu, puluhan hunter bertopeng lain datang dan mengeroyoknya.
Setelah bertarung selama 1 menit, Cyntia akhirnya berhasil menghabisi 18 hunter bertopeng yang mengeroyoknya. Namun sayangnya, The Destroyer dan belasan hunter bertopeng lain sudah berhasil melarikan diri darinya.
Dengan perasaan mendongkol, Cyntia menatap ke enam arah berbeda, dimana arah-arah itu adalah arah dari energi sihir yang bisa dirasakannya. Para hunter bertopeng telah pergi ke enam arah berbeda untuk mengecohnya.
Kesal karena para penjahat itu berhasil meloloskan diri, Cyntia akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang untuk sedikit mengurangi kekesalannya.
"Haaaaahhh... Berurusan dengan manusia memang lebih merepotkan dibandingkan berurusan dengan monster."
.........
Dalam perjalanannya kembali setelah gagal menangkap The Destroyer, Cyntia secara kebetulan melewati salah satu gerbang yang ia duga sebagai gerbang dari Dungeon Break yang Alvin katakan dan ia pun pergi menghampiri gerbang tersebut.
Secara mengejutkan, Cyntia melihat puluhan orang keluar dari gerbang itu saat ia masih dalam perjalanan.
“Manusia? Hunter?" Cyntia mengernyitkan kedua alisnya setelah merasakan aura sihir orang-orang yang baru saja keluar dari gerbang. "Kenapa banyak hunter peringkat S di sini? Apa Norman Lewis yang menyewa mereka? Apa mereka sudah menghabisi monster di dalam sana?” pikirnya.
Merasa penasaran dengan adanya 50 lebih hunter berperingkat S itu, Cyntia akhirnya menghampiri mereka lebih dekat lagi.
Dalam perjalanannya menghampiri hunter-hunter yang berpakaian ala masyarakat Eropa tahun 1950an itu, Cyntia sedikit merasa curiga.
“Kenapa hunter-hunter ini melakukan raid tanpa mengenakan set armor? Walaupun ini gerbang peringkat rendah bukankah itu dilar…” Cyntia menghentikan langkah kakinya.
Ia kemudian menatap gerbang yang dirasanya bukanlah gerbang dari Dungeon peringkat rendah itu dengan heran.
'Ini bukan gerbang Dungeon peringkat rendah. Tidak mungkin mereka akan baik-baik saja tanpa set armor melawan ratusan monster walaupun mereka semua peringkat S. Lagian, Norman Lewis yang pelit itu tidak mungkin menyewa hunter peringkat S sebanyak ini, kan?'
.........
“Permisi. Apa Anda semua baru saja melakukan raid di dalam sana?” tanya Cyntia pada salah seorang hunter dalam barisan.
Hunter itu tidak menjawabnya.
Saat sudah berhadapan dengan mereka sedekat ini, Cyntia baru menyadari ada hal yang janggal dari orang-orang itu, selain penampilannya.
Mereka semua memiliki tatapan mata kosong, seakan tak bernyawa atau seperti orang yang sedang dalam pengaruh hipnotis.
“Mata ini…, apakah mereka terkena sihir hipnotis?” pikirnya.
Saat ingin bertanya lagi, Cyntia mengurungkan niatnya ketika merasakan ada aura dari energi sihir yang menyerangnya dari arah belakang barisan.
__ADS_1