
"Bicaralah. Atau aku akan membunuhmu," ucap makhluk itu lagi saat Alvin sudah berada di hadapannya.
"Ya."
Makhluk itu tertawa.
Ia mengangkat tubuh Alvin, menerbangkannya hingga beberapa puluh meter di atas tanah, lalu membantingnya dengan keras.
Baaaaaaaammmm!!!
Debu tebal yang dihasilkan dari kawah yang terbentuk di tanah setelah tubuh Alvin dihempaskan di sana, beterbangan di udara.
Di dalam kawah itu, Alvin terbatuk-batuk dan memuntahkan banyak darah segar lagi.
Selama hidupnya, baru kali ini ia memuntahkan banyak darah hanya dalam beberapa menit saja. Jika dia hanya hunter peringkat S biasa, ia pasti sudah mati sejak tadi.
Alvin terus menyalurkan healing skill ke sekujur tubuhnya sambil masih terbaring telungkup, juga terus terbatuk-batuk.
.........
Setelah kabut debu yang menyelimuti area itu menghilang, Alvin akhirnya bisa melihat pria bermata merah berdiri di atas kawah, bersama sosok monster yang mirip dengan ribuan monster hitam legam bersayap dan monster bertubuh bungkuk. Perbedaan mereka, monster itu memiliki 3 buah tanduk yang mencuat dari dahinya dan ukuran tubuhnya juga jauh lebih besar.
Pria berkulit ungu gelap itu kemudian menepuk-nepuk paha monster raksasa itu sembari berbicara pada Alvin.
"Aku memang tidak akan membunuhmu. Tapi tidak dengan dia," ucacapnya, sembari menatap Alvin dengan tatapan penuh simpatik. "Jika kau bisa membunuhnya, maka kau akan selamat. Jika tidak...," ia menyeringai lebar, "Kau akan mati,"
"Ingat, walaupun dia sama kuat dengan lich necromancer itu, tapi dia adalah petarung. Berhati-hatilah, manusia."
Setelah mengakhiri ucapannya, makhluk itu membuat sebuah gerbang sihir mirip seperti yang wanita berjubah putih buat, lalu masuk dan menghilang di balik gerbang.
......................
["Kau berhasil. Dia sudah pergi."]
Masih dengan terluka dalam parah dan dengan tulang-tulangnya yang belum menyatu sempurna, Alvin langsung bangkit berdiri saat ia merasa tubuhnya sudah bisa digerakkan kembali.
Ia langsung mengaktifkan wujud Hunter Equipment lalu menyerang monster raksasa itu dengan ratusan shuriken yang ia lontarkan dari kedua tangannya berulang-ulang.
Monster raksasa yang awalnya tampak penuh percaya diri itu melebarkan kedua matanya saat ratusan shuriken yang datang berulang terbang dengan sangat cepat dan menancap di sekujur tubuhnya.
Crakkk... Crakkk... Crakkk...!
Tanpa bisa menghindari dan hanya bisa melihat ratusan shuriken yang terbentuk dari energi Mana itu terus-terusan menancap di tubuhnya, monster itu berteriak nyaring, menahan rasa sakit yang kini menjalar ke seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Ia dapat merasakan energi sihir asing yang berasal dari shuriken itu meluap-luap di sekujur tubuhnya, sebelum akhirnya meledak bersama tubuh besarnya.
Boooooooooommmm!!!
Hanya dengan satu serangan, monster raksasa itu meledak. Puing-puing tubuhnya berhamburan di udara. Darahnya yang berwarna ungu gelap membasahi pasir gurun yang tandus.
Setelah menghabisi bos Dungeon itu, Alvin berdiri diam di dalam kawah selama hampir satu jam lamanya, sampai Cyntia dan pasukan serangga datang menemuinya.
"Apa sudah selesai?" tanya Cyntia, saat ia sudah tiba di dalam kawah, di dekat Alvin.
"Ya," sahut Alvin pelan, tanpa semangat.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Cyntia lagi setelah ia merasa ada hal janggal dari suara lemah Alvin.
"Aku baik-baik saja. Ayo kita pergi ke tempat pilar sihir," ajak Alvin. Ia kemudian melangkah perlahan menaiki sisi miring kawah dengan langkah lesu.
"...Ya."
......................
Hal yang paling ditakutkan para hunter Kota T, baik yang berada di depan gerbang maupun yang sedang dalam perjalanan mengungsi dari Kota T, akhirnya tiba.
Walaupun tidak ada penghitungan mundur secara resmi, hunter-hunter itu mulai menghitung mundur di dalam hati mereka saat waktu yang Asosiasi Hunter Kota T katakan sebagai waktu terbukanya sihir pengunci gerbang sudah tersisa 10 detik lagi.
Setelah penghitungan mereka sampai pada angka nol, hunter-hunter dan semua warga Kota T menatap pada layar ponsel mereka dengan hampir tak berkedip, melihat tayangan langsung dari depan gerbang yang disiarkan oleh situs resmi Asosiasi Kota T.
Tapi, semua orang mulai merasa heran saat 10 menit sudah berlalu, terutama saat 1 jam terlewat sejak waktu yang ditentukan, namun belum ada satupun monster yang keluar dari gerbang.
Para penonton lebih terkejut lagi setelah satu setengah jam berlalu dan gerbang itu tiba-tiba saja menghilang sepenuhnya tanpa ada monster yang pernah keluar walaupun, setahu mereka, tidak ada hunter yang melakukan raid sama sekali.
.........
"Gerbangnya menghilang?"
"Apa mereka berdua berhasil menghancurkan pilar sihirnya?"
"Tapi, dimana mereka? Apa mereka terkubur di dalam Dungeon?"
Pertanyaan-pertanyaan itu saling disuarakan para hunter yang berada di depan gerbang saat gerbang itu tiba-tiba saja menghilang.
Melihat kegaduhan itu, Lex yang sedang berusaha menahan tangis harunya, berjalan ke tengah-tengah mereka dan berbicara dengan suara nyaring.
"Tuan-tuan. Terima kasih sudah datang ke tempat ini demi melindungi Kota T," ucap Lex dengan suara nyaring di awal pembuka pidato tidak resminya, untuk membuat perhatian semua hunter tertuju padanya.
__ADS_1
Setelah semua hunter berbalik dan menatap padanya, Lex melanjutkan, "Gerbangnya sudah berhasil ditutup dan kita semua sudah selamat. Sekarang kita bisa kembali ke keluarga kita masing-masing dan merayakan keberhasilan ini," ucap Lex dengan suara bergetar, sembari menggenggam erat sehelai kulit hitam di salah satu tangannya.
"A-apa... Tapi..., apa yang terjadi pada mereka, tuan Brown? Mereka belum keluar, kan?" ucap Robbie Cale dengan wajah khawatir.
Lex berjalan menghampiri pria itu. Ia tersenyum lembut lalu menyerahkan pesan yang dituliskan di atas sehelai kulit monster padanya. Itu adalah pesan yang Alvin tinggalkan pada Lex secara diam-diam sesaat setelah ia dan Cyntia keluar dari gerbang dengan menggunakan ghost skill.
Robbie segera membuka lembaran kulit yang Lex serahkan padanya.
"Monster dan pilarnya sudah berhasil ditaklukkan. Tolong informasikan ini pada semua warga Kota T tanpa memberitahu identitas kami."
Robbie mendongak, menatap Lex kembali sembari menyerahkan lembaran itu pada Revi yang juga langsung membaca pesan di dalamnya.
Ivory juga membaca pesan itu, lalu menatap ke arah koper yang Cyntia titipkan padanya, namun koper itu sudah lenyap.
Tak lama kemudian, mereka semua mendengar suara mesin mobil menyala, lalu mobil sport dark-pink yang terparkir agak jauh dari tempat mereka berada, pergi meninggalkan lokasi itu.
"Mereka berhasil...," gumam Ivory.
"Ini nyata, kan? Peringkat apa sebenarnya kedua hunter itu?" ucap Revi pelan.
.........
"Tuan Brown, siapa mereka ini?" tanya Lowe Frostman, satu-satunya hunter yang tidak tahu siapa dua hunter yang masuk ke dalam gerbang, setelah ia juga membaca pesan itu. "Dan..., kapan mereka menyerahkan pesan ini pada Anda? Saya tidak melihat ada orang yang keluar dari gerbang." Ucap Lowe dengan ekspresi bingung.
Lowe menatap hunter-hunter di situ, namun mereka tidak terlihat keheranan seperti dirinya. Berbeda dengan Lowe, hunter-hunter itu sudah tahu siapa Alvin dari cerita ketua guild mereka.
Dan lagi, saat Alvin keluar dari Dungeon peringkat A dulu, ia juga melakukan hal yang sama. Keluar diam-diam tanpa terlihat.
Lex tersenyum padanya. Wajahnya juga sudah tidak muram lagi. Ini adalah pertama kalinya Lowe melihat ekspresi kegembiraan, kekaguman dan rasa hormat dari pria paruh baya itu.
"Mereka sepertinya tidak ingin identitasnya diketahui, tuan Frostman. Anda sudah membaca pesannya, kan?"
"Y-ya?"
Lex menepuk pelan pundak Lowe. Senyumnya semakin lebar.
"Anda mungkin bingung kenapa masih ada hunter yang menyembunyikan identitas mereka di saat mereka memiliki prestasi, kan?"
Lowe mengangguk.
"Anda sebaiknya tidak memikirkan hal itu. Anggap saja mereka pahlawan tanpa nama," ucap Lex yang kemudian, untuk pertama kalinya setelah 2 hari, tertawa.
"..."
__ADS_1
"Apakah Anda memiliki waktu luang? Saya akan menjamu Anda dengan benar sebagai perwakilan Asosiasi Pusat yang mau datang membantu."
......................