
Alvin menyerang dua makhluk bersayap dengan melemparkan shuriken sihir pada mereka lalu mengarahkan satu tangannya pada makhluk yang berada di tengah untuk menangkapnya dengan airbender.
Setelah berhasil mencekik makhluk itu dari kejauhan, Alvin ingin langsung menariknya. Namun, daya cengkramannya terlepas begitu saja saat makhluk itu mengebaskan salah satu tangan di depan lehernya.
Alvin hendak mencengkramnya lagi. Tapi ia sudah diserang oleh dua makhluk lain yang lolos dari shurikennya.
Alvin melompat menjauh, menghindari asap hitam yang terarah padanya, namun asap itu langsung mengejarnya bahkan terus mengejar kemanapun ia pergi.
.........
Serangan kini bukan hanya datang dari dua makhluk itu saja, makhluk yang tadi di tangkapnya juga sudah mulai ikut menyerang, begitu juga dengan para prajurit monster yang berada di darat.
Sambil membawa asap hitam yang mengejarnya ke tengah-tengah monster yang berada di darat, Alvin memikirkan kembali ucapan Mina.
Ia bertanya lagi, "Jenis monster yang di darat ini, apa kau pernah bertemu dengan mereka semua?"
Mina memerhatikan monster-monster itu secara cepat.
["Ada beberapa dari mereka yang pernah ku temui. Sebagian besarnya tidak,"] sahut Mina.
"Begitu...," Alvin kemudian bertanya pada Rimi, "Rimi, apa kau juga pernah bertemu mereka?"
Alvin tersenyum. Kecurigaannya pada kedua Sistem itu semakin menjadi-jadi.
Sembari berlarian menyebarkan sihir ketiga makhluk terbang pada monster-monster di darat, Alvin juga mulai menyerang monster-monster di darat itu.
Ia mengeluarkan kedua pasak baja dan menghabisi seluruh monster hitam legam bersayap yang kerepotan mengejar kecepatannya.
Sama seperti saat berada di planet monster, racun yang terserap ke dalam tubuhnya semakin menjadi-jadi setelah ia menghabisi nyawa tiap monster.
Sampai akhirnya Alvin merasakan kapasitas healt pointnya hanya sisa seperempat dari kapasitas yang ia miliki, barulah ia menyerang monster-monster itu tanpa membunuh mereka lagi.
Hanya health point itulah yang selama ini menyelamatkannya. Jika tidak, seluruh racun dan inti Mana beracun para monster yang terserap ke dalam tubuhnya sudah pasti akan langsung menyerang seluruh organ vitalnya.
......................
Sudah puluhan ribu monster yang Alvin hajar dan habisi saat seluruh monster dan ketiga makhluk terbang secara tiba-tiba menghentikan serangan mereka.
Mayat-mayat monster sudah mulai menggunung di sekitar tempat itu dan Alvin berdiri di atas salah satu tumpukan mayat.
"Kenapa mereka berhenti? Tidak mungkin karena lelah, kan?"
["Sulit untuk menebak apa yang ingin makhluk itu lakukan saat kita tidak bisa merasakan energi Mananya."]
"Apa mereka bertiga itu sejenis dewa?"
["Kenapa kau berpikir begitu?"]
"Lihat saja monster-monster yang berada di darat. Mereka semua memiliki sayap tapi mereka tidak terbang sama sekali. Mereka sepertinya takut berada di ketinggian yang sama dengan ketiga bedebah itu."
["Mungkin mereka sejenis ayam? Memiliki sayap tapi jarang terbang."]
"...Mereka terbang saat di Dungeon Kota T dulu."
["Aku cuma bercanda"]
"..."
.........
Salah satu makhluk yang terbang di atas ratusan ribu pasukan monster itu tertawa nyaring sebelum ia berbicara pada pasukan yang berada di darat, sementara dua makhluk lainnya tampak sedang berdiskusi dengan bahasa yang tidak Alvin mengerti.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, monster-monster yang tadinya berdiam diri, mulai bergerak lagi.
Mereka mundur menjauhi area di mana terdapat banyak mayat rekan mereka dan membentuk lingkaran besar mengelilingi area itu.
Setelah lingkaran terbentuk sempurna, salah satu dari tiga makhluk yang berada di udara meneriakkan sebuah kalimat nyaring dan Alvin dapat merasakan perubahan aneh terjadi di tempat itu.
Cahaya remang yang menerangi planet itu semakin bertambah gelap saat asap tipis secara tiba-tiba muncul di langit. Alvin juga merasa jarak pandangnya telah dibatasi.
Ia kemudian melihat ada sebuah tumpukan batu yang membentuk sebuah menara muncul di bawah ketiga makhluk terbang.
"Pilar sihir."
["Jadi seperti ini proses pembentukan Dungeon."]
"Kau juga baru pertama kali melihatnya?"
["Tentu saja. Jika aku sudah pernah melihat hal ini sebelumnya, aku pasti akan memberitahukannya padamu."]
"Bagaimana denganmu, Rimi?"
Alvin tertawa.
"Mina."
["Hnnn?"]
"Jika aku selamat dari sini, ayo kita bicara."
["Kau ingin melamarku?"]
"...F**k!"
"..."
......................
Teriakan salah satu makhluk terbang membuat perhatian Alvin terarah padanya.
Beberapa saat setelah itu, ia merasakan mayat-mayat monster yang berada di bawah kakinya bergerak seakan mereka hidup kembali.
Perasaan itu bukan hanya hayalan Alvin saja, mayat-mayat itu benar-benar bergerak dan hidup.
Menghindari sergapan monster yang baru saja bangkit dari kematian, Alvin menggunakan airbender untuk terbang di atas mayat hidup itu.
Melihat semua mayat hidup tidak ada yang terbang mengejarnya, Alvin mengalihkan perhatiannya lagi pada ketiga makhluk terbang.
'Apa mereka benar-benar sejenis dewa? Bahkan undead itu tidak berani terbang.'
Alvin kembali bergerak kesana kemari, menghindari serangan-serangan sihir jarak jauh undead yang sudah mulai menyerang.
Kali ini, Alvin berusaha menghindari setangan sambil mendekati ketiga makhluk terbang.
Setelah berada di dekat mereka, ia meningkatkan kecepatan hingga membuat ketiga makhluk itu terkejut saat mereka tidak bisa melihat gerakannya.
Sraatttt... Sratttt...!
Dua tebasan Alvin berhasil memenggal leher dan tangan dua makhluk yang tidak bisa mengikuti kecepatannya, lalu mengejar satu makhluk yang sempat pergi menjauh secara refleks saat merasakan bahaya dari pria itu.
Saat sudah meningkatkan penggunaan energi Mananya, Alvin benar-benar cepat. Bahkan, walaupun dengan menggunakan airbender, ia bisa mengejar kecepatan makhluk terbang yang sudah memaksimalkan kecepatannya untuk melarikan diri darinya.
Ia menangkap makhluk itu, lalu memotong lehernya.
__ADS_1
Sratttt...!
"Ternyata mereka tidak terlalu kuat..."
["Tapi tubuh mereka bisa menyatu lagi."]
Wushhh...
Alvin berkelit kesamping saat serangan sihir membokonginya, lalu menatap pada dua makhluk terbang yang menjadi targetnya di awal.
Kedua makhluk yang baru saja dipenggalnya itu sudah kembali normal. Kepalanya tersambung, juga tangannya.
Sama seperti dua makhluk terbang itu, makhluk ketiga yang baru ia penggal juga sudah menyatukan tubuhnya kembali.
"Menarik... Akhirnya aku menemukan lawan yang akan membuatku bertarung dengan bersungguh-sungguh lagi."
["Health pointmu cuma tersisa 5%. Cepat bunuh mereka."]
"Aku masih memiliki banyak health point pada Hunter Equipment."
["...Kau benar. Aku melupakannya. Tsk..., terlalu lama bergaul denganmu membuatku jadi pelupa juga."]
Alvin mengernyitkan kening sembari menghindari serangan ketiga makhluk terbang.
"Sistem bisa lupa?"
["..."]
"Kita benar-benar harus bicara setelah semua ini berakhir."
["Tentu. Tapi jangan bersedih jika aku menolakmu."]
"..."
["..."]
"Tapi sebenarnya makhluk apa mereka ini? Apakah mereka ini dewa? Aku sangat penasaran kenapa kita tidak bisa merasakan energi Mana mereka."
"Mereka bukan dewa. Mereka malaikat," sahut seorang wanita yang entah kapan telah berada di samping Alvin, terbang di dekatnya.
Tap...
Alvin merinding saat tiba-tiba mendengar suara wanita itu hingga ia secara tidak sengaja menyerangnya.
Wanita cantik berambut pirang-platinum, yang sebenarnya tidak memancarkan aura sihir sama sekali, bukan hanya membuat Alvin merinding. Ia juga bisa menangkap serangan refleks Alvin dengan sangat mudah, bahkan tulang di tangannya langsung remuk seketika.
Kretakkkk...
"F**k!"
"Jangan panik. Aku bukan musuhmu."
Wanita itu tersenyum padanya sembari melepaskan lengan Alvin yang terkulai karena tulang di balik dagingnya telah remuk.
'Bukan musuh? Tapi apa yang dia lakukan pada tanganku?'
"Aku tidak sengaja melakukannya."
Glup...
Alvin terdiam. Kedua matanya melebar, menatap wanita cantik yang memiliki kulit berkilauan itu dengan perasaan ngeri.
"B-bagaimana bisa kau membaca pikiranku?"
__ADS_1