
Belati-belati Cyntia terbang melintasi leher kedua malaikat sementara Cyntia mengontrol kedua belati tersebut dengan energi sihirnya.
Setelah berhasil memenggal leher malaikat-malaikat tersebut, Cyntia menarik kedua belatinya lagi, lalu mengarahkan masing-masing belati pada jantung-jantung mereka.
Stab... Stab...!
Cyntia diam beberapa saat, mendeteksi kehidupan pada para malaikat yang mulai memudar dengan indranya, dan akhirnya menghela nafas lega setelah tidak merasakan adanya tanda-tanda kehidupan lagi pada mereka.
'Berhasil...'
Setelah menghancurkan kepala kedua malaikat, Cyntia menghampiri tubuh tanpa kepala mereka, lalu mencabut belatinya dari sana.
Ia menunggu beberapa saat lagi, untuk memastikan kematian kedua malaikat itu, sebelum akhirnya pergi kembali menuju bunker.
......................
Di depan pintu bunker, Reno menyiksa Jack, Sam dan Brooklyn sambil mempermainkan mereka dengan sangat kejam.
Ia menerbangkan tubuh ketiga hunter itu dan membantingnya berkali-kali ke pintu bunker. Bermaksud menghancurkan pintu, sekaligus tubuh ketiga hunter tersebut.
Daaang... Daaang... Daaang...!
Reno merasa puas dengan kekuatan yang ia miliki setelah dewa Zei memberikan kebangkitan instan sebagai seorang hunter padanya.
Karena itulah ia menyukai apa yang sedang dilakukannya saat ini, yang sebenarnya sudah sejak dulu sangat ingin dilakukannya ; menyiksa orang lain yang berani menentangnya.
"Seandainya aku sudah punya kekuatan seperti ini sejak dulu. Mereka pasti tidak akan berani padaku!"
Bayangan wajah dua, dari tiga, orang yang dibencinya tiba-tiba saja muncul dalam benaknya.
'Zayn Cruz... Billy Cruz...'
......................
Setelah beberapa menit terlewat dan sadar jika kekuatannya belum cukup untuk menghancurkan bunker, Reno mulai merasa kesal.
"Sekuat apa sih sebenarnya sihir pelindung bunker itu?!"
Reno menghempaskan tubuh Jack, Sam dan Brooklyn sekali lagi dengan kekuatan yang lebih besar pada bunker, sebelum akhirnya melepaskan mereka dari jerat sihirnya.
Ia kemudian berjalan mendekati Jack, lalu mengeluarkan pisau dari balik jasnya dan meletakkan mata pisau di leher Jack.
"Vina Rufino! Keluar sekarang atau aku akan membunuh suamimu!" seru Reno dengan suara nyaring, sembari menatap kamera CCTV di atas pintu bunker.
"Aku... sudah sering melihat... hunter arogan... Tapi... baru kali ini melihat yang bodoh... sepertimu... Bukankah... dia... adik iparmu?" ucap Sam dengan penuh usaha.
Dengan kondisinya yang sudah terluka sangat parah, untuk bicara pun Sam merasa sangat kesulitan.
Ia berusaha menggantikan Jack, yang telah pingsan, untuk mencegah Reno melakukan kejahatan pada saudari iparnya sendiri.
Wushhh... Stab...!
__ADS_1
Reno melemparkan pisau pada Sam tepat di dadanya.
"Ukh...!"
"Berisik!"
Reno mengambil pisau lain lagi yang tersusun rapi dari balik jasnya.
Kali ini ia mengambil semua pisau yang berada di sana dan melemparkan hampir semua pisau tersebut pada Sam dan Brooklyn yang masih sadar dan menatapnya dengan sorot mata yang membuatnya tidak nyaman.
"Ternyata hunter peringkat S kuat juga, ya?" ucap Reno dengan sedikit kesal.
Ia sudah menyerang dan menyiksa kedua hunter itu habis-habisan untuk membunuh mereka, namun keduanya masih bisa bertahan bahkan tidak kehilangan kesadaran sama sekali walau sudah terluka parah.
Krieeeeettt...
Pintu bunker tiba-tiba terbuka.
Alan Maxwell dan Robert Xavier berjalan keluar bunker terlebih dahulu, diikuti Vina yang berlindung di belakang mereka.
......................
Reno berdiri dengan tidak terburu-buru. Ia menatap tajam pada Vina dari celah yang terbentuk di antara pangkal lengan Alan dan Robert.
Reno menyeringai lebar sembari mengulurkan tangannya ke arah mereka.
"Kemarilah, adik ipar...," pinta Reno dengan seringai lebar dan sorot mata liar.
Reno menatap tidak suka pada Alan. Ketenangan Alan yang terlihat jelas, juga cara Alan menatapnya, mengingatkannya pada cara Zayn dan Billy Cruz tiap kali memandangnya dengan maksud mengintimidasi.
Tiap kali kedua bosnya di masa lalu itu menatap padanya, ia merasa dipandang seperti budak pesuruh dan ia sangat tidak menyukainya.
.........
Sebenarnya, Alan memang hanya sedang memancing kemarahan Reno.
Begitu perhatian Reno terfokus padanya, Robert menggesekkan kakinya pada daun kering, yang memenuhi seluruh tanah di dalam hutan itu, sebagai tanda bagi Vernon dan Sarah yang sejak tadi bersembunyi di balik pintu bunker untuk bertindak.
Kresekkk...
Kedua hunter peringkat S itu keluar dari balik persembunyian mereka, melesat cepat untuk menyergap Reno.
Sayangnya, perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh.
Reno bisa menyadari kedatangan Vernon dan Sarah jauh lebih cepat dibandingkan pergerakan mereka.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Reno mengarahkan tangannya pada kedua penyerangnya itu.
"Mati, brengsek!"
Srat... Srat...!
__ADS_1
Tapi, bukannya Vernon dan Sarah yang terpental oleh serangan sihir Reno. Reno lah yang terkejut saat Vernon dan Sarah berhasil menerjang dan membantingnya ke tanah.
Brakkkk...!
.........
Reno telah kehilangan kedua lengannya.
Cyntia datang dan membuntungi kedua lengan Reno tepat sebelum pria itu menembakkan sihir pada Vernon dan Sarah.
"Breng..."
Bammmm...!
Cyntia menginjak mulut Reno, sebelum semua kalimat umpatan tersembur dari mulutnya.
Srat... Srat... Buak...!
Cyntia juga memotong kedua kaki Reno, lalu menendangnya menjauhi Vernon dan Sarah yang tadinya sedang berjongkok di sisi kiri dan kanan pria itu.
"Bawa Jack dan Vina ke dalam," pinta Cyntia pada Vernon dan Sarah, sementara ia sendiri masuk sebentar ke dalam bunker, memanggil Erfhina Xavier untuk memulihkan kondisi semua hunter yang cidera.
Setelah itu, Cyntia mendatangi Reno yang terkapar tanpa daya.
Ia berjongkok di samping pria itu dan berbicara dengan nada dingin padanya.
"Aku akan membunuhmu setelah Alvin kembali," ucap Cyntia.
Ia sengaja membiarkan Reno hidup karena mengira jika satu-satunya jalan untuk Alvin dan semua hunter yang dijemputnya untuk bisa kembali dari planet monster hanyalah gerbang cincin raksasa.
Tapi, tak lama kemudian, gerbang cincin itu tiba-tiba runtuh bersamaan dengan fenomena alam aneh dan gempa besar yang terjadi secara bersamaan.
"Apa yang terjadi?" Cyntia berdiri, menatap khawatir pada keruntuhan gerbang cincin raksasa.
Ia kemudian menatap Reno yang sudah berlinang air mata, yang sedang merasa kesakitan sekaligus menyesali kelalaiannya hingga bisa diserang Cyntia dengan mudah, untuk meminta penjelasan padanya.
Tapi, melihat mulut Reno yang telah remuk, Cyntia tahu jika ia sudah bertindak gegabah dan kini sedikit menyesalinya.
'Sial, aku terlalu terbawa kemarahan dan bertindak berlebihan.'
Cyntia berpaling, lalu berbicara pada Erfhina yang masih berada di luar bunker dan sedang memerhatikan langit yang berada di balik rimbunnya dedaunan.
"Fhin, apa kau bisa memulihkan mulutnya?"
Erfhina yang masih tertegun dan merasa sedikit takut melihat fenomena aneh yang baru saja terjadi pada alam, tersadar dan menoleh pada Reno, setelah Cyntia berbicara padanya.
Ia berjalan menghampiri Reno, memeriksa cidera tulang rahang yang telah remuk oleh serangan Cyntia, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku cuma bisa menghentikan pendarahannya. Butuh seorang Healer peringkat S untuk meregenerasi tulang-tulangnya."
...****************...
__ADS_1