Hunter System

Hunter System
Bab 153 - Dunia Para Dewa


__ADS_3

Hampir semua hunter yang berada di dalam benteng keluarga Maxwell bertanya-tanya kemana Alvin telah pergi.


Semua hunter di Kota S yang tersisa, kini tahu seberapa kuatnya Alvin setelah melihat dia, baik secara langsung maupun melalui rekaman CCTV, menghancurkan hunter-hunter wilayah Selatan dengan sangat mudah.


Mereka sangat berharap Alvin segera datang dan membantu Kota S, juga 4 kota lainnya, untuk bisa keluar dari Dungeon Break besar yang terjadi di pulau tempat mereka berada.


Hanya harapan itulah yang membuat mereka masih bisa bertahan.


......................


Sementara itu, di suatu tempat yang berada di luar alam semesta...


Sosok makhluk yang merupakan dewa penguasa pusaran coklat, galaksi dimana planet monster tempat Alvin terjebak, datang mengunjungi sebuah kediaman salah satu keluarga dewa, keluarga dewa Bazlar, yang berada di dunia para dewa.


Dengan hati mendongkol karena merasa telah diakali makhluk ciptaan dari pusaran ungu, yang berada di bawah tanggung jawab keluarga Bazlar, dewa Voxa masuk ke gerbang kediaman keluarga dewa Bazlar dengan mengabaikan protokol kunjungan yang para malaikat keluarga Bazlar berikan padanya.


Dewa Voxa, malah mengamuk pada beberapa malaikat yang berusaha mencegahnya masuk. Ia menghajar mereka sejadi-jadinya sampai akhirnya Roa Bazlar dengan terpaksa harus keluar dari kediamannya.


.........


"Voxa! Apa yang membuatmu mengamuk di kediamanku?!" bentak dewa Roa, dewa tertinggi di keluarga itu, sang penguasa pusaran ungu.


Dewa Voxa menudingkan telunjuknya pada dewa Roa. "Apa yang Anda inginkan dari para makhluk ciptaan di pusaran saya?! Kenapa Anda membiarkan makhluk ciptaan dari pusaran Anda mengundang makhluk berbahaya dari pusaran pitih dan mengacau di salah satu planet saya?!"


Dewa Roa langsung naik pitam saat melihat dewa dari kasta rendah itu telah berani menudingkan jari padanya.


Ia mengangkat satu tangan dan itu sudah cukup untuk membuat dewa Voxa tercekik dan terdiam.


Begitu dewa Roa menurunkan tangannya, dewa Voxa langsung jatuh dalam posisi berlutut tanpa daya.


"Berbicaralah dengan benar, bedebah! Kau pikir kau siapa?! Berani-beraninya kau menudingkan jari padaku!" umpat dewa Roa.


Dewa Voxa memang dewa dari kasta bawah. Namun, ia tidak pernah merasakan takut pada dewa dari kasta tinggi itu, yang tentu saja jauh lebih kuat dibandingkan dirinya.


Tapi, saat ia ingin mendongak untuk memberikan tatapan marah dan mengumpat balik, ia tak kuasa untuk menggerakkan lehernya, juga membuka mulutnya.


"Keparat ini!" umpat dewa Voxa dalam hatinya.


"Apa yang terjadi?" tanya sesosok yang seluruh tubuhnya terbungkus kain panjang ungu gelap. Hanya bagian wajahnya yang hitam legam saja yang nampak terlihat.


Makhluk yang baru saja keluar dari kediaman keluarga dewa Bazlar itu adalah panglima perang dari keluarga Bazlar, Zei Bazlar.


Walaupun ia memiliki kedudukan yang lebih rendah dari kakaknya, Roa Bazlar, namun dewa Zei adalah dewa terkuat di keluarga mereka.

__ADS_1


Hal itu terbukti dari melunaknya ekspresi dewa Voxa yang sebelumnya tampak tidak kenal takut. Ia tidak mengira jika dewa Zei saat ini sedang berada di kediaman keuarganya.


Dewa Zei adalah dewa yang terkenal dengan kekuatan membangkitkan makhluk apa pun yang telah mati.


Dalam miliaran tahun belakangan ini, dia menjadi sangat terkenal karena selalu berhasil memimpin pasukan undednya untuk memperluas wilayah keluarga Bazlar melalui ribuan perang antar dewa.


Tidak pernah sekalipun dewa Zei mengalami kegagalan hingga ia kini dikenal sebagai panglima perang terkuat di dunia para dewa.


.........


"Bisa Anda jelaskan pada saya, dewa Voxa?" tanya dewa Zei. Suara beratnya yang dalam, ditambah dengan aura keberadaannya, membuat dewa Voxa sedikit gemetar.


"Makhluk dari pusaran Anda telah membawa makhluk berbahaya ke salah satu planet yang berada di bawah tanggung jawab saya, dewa Zei," sahut dewa Voxa dengan agak sopan.


"Bisa Anda tunjukkan pada kami?"


"Tentu. Tapi..."


Dewa Zei melirik pada dewa Roa, kakaknya, dan dewa Roa langsung melepaskan sihir yang mengekang dewa Voxa.


Setelah tubuhnya terbebas dari kekangan yang membelenggu, dewa Voxa melambaikan satu tangannya di udara dan di sana muncul kabut hitam tipis yang kemudian membentuk sebuah layar.


Dalam layar itu terlihat sesosok makhluk yang sedang mengamuk menghabisi ribuan monster pengepungnya di sebuah planet bercahaya redup yang merupakan salah satu planet dari pusaran coklat yang berada di bawah tanggung jawab dewa Voxa.


Dewa Zei menyeringai. Ia merasa lucu karena makhluk ciptaan di pusaran coklat yang terkenal brutal dan menjadi buah bibir di dunia para dewa ternyata dapat dibasmi semudah itu oleh makhluk dari pusaran putih hanya dengan seorang diri saja.


Dewa Voxa diam sejenak. Ia sebenarnya sedikit mendongkol, namun tidak berani menunjukkannya.


Jika hanya sesimpel itu, dia tidak akan repot-repot datang meminta pertanggungjawaban.


"Saya tidak berani melakukannya," sahut dewa Voxa, menjawab pertanyaan dewa Zei.


Dewa Zei dan dewa Roa tertawa bersamaan.


"Apa karena Anda takut pada keluarga dewa Arnix?"


Dewa Voxa mengangguk dengan tegas.


Dewa Zei dan dewa Roa kembali tertawa. Kali ini mereka tertawa dalam waktu yang agak lama sampai dewa Zei akhirnya memanggil 3 malaikat tertinggi dari keluarga Balzar.


"Bawalah mereka bersama Anda. Bukakan gerbang menuju salah satu planet di pusaran ungu. Mereka akan menanganinya," ucap dewa Zei.


Terlihat jelas kekhawatiran pada ekspresi dewa Voxa.

__ADS_1


Ia khawatir jika keluarga dewa Arnix, yang berasal dari kasta yang sama tingginya dengan keluarga dewa Bazlar, akan mempertanyakan tentang malaikat yang berani mencampuri urusan para makhluk ciptaan, namun ia akhirnya tidak mau memikirkannya lagi.


'Toh mereka yang akan berurusan dengan keluarga dewa Arnix. Apa peduliku?'


Dewa Voxa menghapus layar di hadapan mereka. Ia mengangguk pelan pada dewa Zei lalu pamit untuk undur diri. Dia bahkan berani mengabaikan dewa Roa, penguasa tertinggi di kediaman keluarga Bazlar itu.


Tapi, saat dewa Voxa hendak pergi, salah satu malaikat keluarga dewa Bazlar datang dengan langkah terburu-buru bahkan hampir menabraknya.


"Yang mulia," ucap malaikat itu setelah ia berlutut di hadapan dewa Roa.


"Katakan."


"D-dewi Ann dari keluarga dewa Arnix datang berkunjung," sahut malaikat itu.


Ketiga dewa yang berada di teras kediaman keluarga dewa Balzar terdiam.


Dewa Roa dan dewa Zei saling bertatapan, sementara dewa Voxa pergi menepi dari gerbang, takut jika ia sampai menghalangi jalan dewi perang dari pusaran putih itu.


"Apa dia mengatakan tujuan kedatangannya?" tanya dewa Roa dengan suara pelan.


"Tidak, yang mulia. Dewi Ann hanya mengatakan bahwa beliau ingin berkunjung saja."


Glup...


Dewa Roa menoleh lagi pada dewa Zei yang tampak sedikit gelisah walaupun ia sudah berusaha menyembunyikan kegelisahan tersebut, sementara dewa Voxa yang berdiri di dekat gerbang dapat melihat kegelisahan di wajah dewa Zei.


"Apa dia mengetahui perbuatan kita?" tanya dewa Roa pada dewa Zei yang ia pikir bisa menerka maksud kedatangan dewi Ann.


Dewa Roa berbicara dengan setengah berbisik hingga dewa Voxa harus berusaha menajamkan pendengaran untuk bisa mendengar apa yang dewa Roa ucapkan.


"Saya akan memberikan tanda pada yang mulia dewan Re. Jika dia hendak menyergap kita, saya rasa kita masih bisa mengalahkannya," sahut dewa Zei, juga dengan setengah berbisik.


Sementara dewa Roa memerintahkan malaikat itu untuk membawa dewi Ann masuk, dewa Zei secara diam-diam mengirimkan tanda pada dewan Re, salah satu dewan pengawas para dewa yang terkenal sangat kuat, bahkan jauh lebih dibandingkan dewa Zei yang terkenal mengerikan.


Semua dewa tahu siapa dewan Re. Hanya dewan pengawas agung dan Serafim, malaikat kasta tertinggi yang berada langsung di bawah sang pencipta para dewa, Absolut, saja yang bisa mengalahkannya.


......................


Baru saja dewi Ann melewati gerbang utama keluarga dewa Bazlar, suasana menjadi tegang.


Padahal, dewi berparas cantik itu tidak terlihat datang dengan ekspresi bermusuhan.


Dewi Ann bahkan menyapa dewa Roa, dewa Zei dan dewa Voxa dengan sangat ramah. Tapi, sapaannya itu tidak langsung disambut dengan hangat oleh ketiganya.

__ADS_1


Aura keberadaan dewi perang legendaris dari pusaran putih itu benar-benar membuat mereka gemetar hingga dewa Zei yang sebelumnya merasa sangat percaya diri pun sudah merasa ketakutan padahal dewi Ann hanya berdiri saja di sana.


"S-selamat datang di kediaman saya, Ann," ucap dewa Roa dengan suara sedikit bergetar. "Hal apa gerangan yang membawa Anda datang berkunjung ke kediaman kami, Ann?"


__ADS_2