Hunter System

Hunter System
Bab 76 - Airbender


__ADS_3

Alvin akhirnya terbangun setelah pingsan selama seharian penuh.


Ia sebenarnya bukan pingsan lama karena kelelahan setelah melalui pertarungan berat dan disiksa oleh ketiga lich itu. Mina memang sengaja membuatnya tertidur agak lama supaya ia bisa membakar semua lemak di tubuh Alvin, agar Alvin memiliki otot yang lebih baik lagi sebagai seorang petarung.


Mina tahu itu karena ia merasa sedikit tidak nyaman dengan kekakuan yang ia rasa saat menggunakan tubuh Alvin.


......................


Alvin tidak langsung bangkit dari tempat tidur ataupun langsung merasa tidak nyaman berada di tempatnya saat ini berada, walaupun ia tahu ini bukanlah kamar tidurnya.


Ada sesuatu yang membuatnya merasa nyaman di tempat ini. Itu adalah aroma wangi ruangan yang sangat lembut dan menyegarkan pernafasannya.


Barulah setelah sekian menit menikmati aroma menyegarkan yang berasal dari bunga asli dalam vas di samping tempat tidurnya, ia pun beranjak bangun dan duduk ditepian ranjang.


Ia kemudian memerhatikan ruangan yang tidak memiliki hiasan dinding atau perabotan apa pun selain sebuah lemari, sebuah meja kecil, dan ranjang tempatnya berada.


"Ini bukan rumah sakit, kan? Tidak ada bau khas rumah sakit disini."


["Ini apartemen Ivory."]


"Pantas saja..."


["..."]


"Hah?! Apa yang kau katakan tadi?"


["Ini apartemen Ivory."]


Glup...


Alvin ingin beranjak berdiri namun ia membatalkan niatnya saat merasakan aura sihir seseorang sedang berjalan mendekati kamar tempatnya berada.


Ia segera menarik selimut yang tadi menutupi tubuhnya untuk menutupi lagi setengah tubuh bagian bawahnya yang hanya mengenakan celana pendek.


Ia kemudian duduk di tepian ranjang dengan tenang.


"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi?"


["Tadi kau masih tidur."]


"..."


.........


Tak lama kemudian, Ivory membuka pintu dan masuk sambil membawa beberapa potong pakaian yang baru saja dibelinya untuk Alvin setelah Vina menginformasikan ukuran baju dan celananya.


Ivory langsung membalikkan badan saat melihat Alvin duduk di tepi ranjang dengan bertelanjang dada dan hanya menutupi bagian bawah tubuhnya dengan selimut.


"Ah..., m-maaf... Saya akan keluar dulu," ucap Ivory yang langsung keluar dan menutup pintu kamar dengan cepat.


Tapi, tak lama kemudian, Ivory masuk kembali hanya untuk meletakkan pakaian yang dibawanya dilantai, tanpa menatap Alvin.


"I-ini pakaian ganti Anda, tuan Rufino."


"Y-ya... Terima..."


Klik...


Ivory langsung keluar sebelum Alvin sempat menyelesaikan kalimatnya.


Alvin pun menatap pintu itu dengan wajah kaku.


"Kenapa dia langsung pergi?"


["Apa kau pikir dia kakakmu?"]


Wajah Alvin memerah saat menyadarinya. Ia sudah terbiasa berkeliaran setelah mandi dengan hanya menggunakan handuk dan merasa tidak canggung dan malu karena Vina adalah saudaranya. Hal itu tentu berbeda dengan Ivory.


Plak...


Alvin langsung memukul wajahnya dengan satu tangan.


"Aku lupa."


["Tsk... Kau benar-benar menyedihkan."]


"Tapi... Siapa yang melepaskan semua pakaianku?"


["Kau ingin aku menjawab apa? Ivory?"]


"Tolong katakan saja yang sebenarnya."


["Jack. Dia yang membersihkan tubuhmu selama kau pingsan."]


"B-begitu... Jadi Jack ikut kesini?"


["Kenapa kau terlihat kecewa?"]


"Siapa yang menyesal?"


["Kecewa. Aku mengatakan kecewa. Apa kau menyesal?!"]


"..."


["Rimi, dia menyesal karena tidak bisa berduaan dengan Ivory."]

__ADS_1


Alvin mengabaikan Mina dan Rimi yang tertawa cekikikan di dalam kepalanya. Ia berdiri dan pergi mengambil pakaian yang Ivory berikan, lalu mengenakannya.


.........


"Apa subquest nya berhasil walaupun kau yang menyelesaikannya?"


["Ya."]


Alvin membuka jendela statusnya dan melihat ia kini berada di level 90.


"Levelku melebihi target."


["Tidak masalah. Tidak ada Dungeon di dalam quest level 81 dan kau nanti tidak akan mendapatkan experience setelah mengalahkan pengujinya. Yang penting, jangan melakukan raid lagi sebelum kau mengambil quest itu."]


Alvin mengangguk pelan. Ia melihat experience point nya sudah mendekati level 91.


Ia tidak bertanya apa-apa lagi setelah melihat jendela status, juga tidak membuka hadiah penyelesaian quest seperti yang biasa langsung dilakukannya.


Ia kemudian berjalan mendekati jendela dan menatap pemandangan gedung-gedung tinggi diluar sana, sambil merenungkan pengalaman saat dirinya disiksa ketiga lich di area bos.


["Tidak usah terlalu dipikirkan. Kau sudah cukup kuat untuk ukuran hunter yang baru berlatih selama dua bulan."]


Alvin tersenyum canggung. Ia tahu itu, dia bahkan sudah terlalu kuat untuk hunter yang baru berlatih selama dua bulan. Jika bukan karena bantuan Sistem, dia tidak akan bisa sekuat sekarang. Ia yakin akan hal itu.


Diluaran sana, seseorang bahkan harus menabung hasil raid mereka seumur hidup hanya untuk mengejar peringkat C saja. Bahkan, kebanyakan hunter peringkat tinggi seperti peringkat A dan B, terutama S, adalah orang-orang yang sudah berusia paruh baya saking lamanya mereka menabung untuk mengumpulkan experience point secara perlahan.


Untuk meningkatkan experience, dibutuhkan investasi uang dan waktu yang sangat besar.


Kecuali seseorang secara beruntung bisa mendapatkan kebangkitan awal diperingkat tinggi seperti Jack yang langsung mendapatkan peringkat A, atau seseorang dengan dukungan finansial besar seperti Ivory, Billy dan banyak hunter yang berasal dari keluarga kaya, yang bisa menaikkan peringkatnya dengan uang.


Alvin tahu itu. Jadi dia sangat bersyukur karena Sistem telah membantunya. Ia hanya merasa bahwa dirinya masih belum cukup kuat jika dibandingkan makhluk-makhluk yang kelak akan menjadi lawannya. Ia hanya ingin menjadi lebih kuat lagi agar bisa mengalahkan mereka semua.


Itulah tekad baru yang benar-benar muncul dihatinya setelah tahu bahwa ia masih sangat lemah jika dibandingkan monster-monster yang akan dihadapinya nanti.


.........


"Berapa lama supaya aku bisa sehebat dirimu?"


["..."]


"Apa itu lama? Atau sangat lama?"


["Jangan bandingkan dirimu denganku, ok? Aku Sistem."]


"Apa Sistem bisa memiliki kemampuan instan?"


["..."]


Alvin menghela nafas panjang.


Ia membayangkan lagi kekuatan ketiga monster itu, juga membayangkan bagaimana jika mereka sampai lolos dari sebuah gerbang dan menginvasi umat manusia.


["Kau bersemangat sekali."]


"Aku ingin lebih cepat kuat dan bisa memiliki kecepatan seperti saat kau menggunakan tubuhku."


Mina dan Rimi tersenyum.


["Keluar dulu dari sini. Barulah kau ambil questnya."]


"Tsk... Aku memang ingin segera pergi," sahut Alvin.


["Ku kira kau ingin berlama-lama dirumah seorang gadis..."]


"Hei, aku tidak pernah berpikir seperti itu!"


["Benarkah?"]


"Tsk..., kau ini... Tapi, bagaimana aku bisa sampai kesini? Apa Jack dan Ivory masuk untuk menjemputku?"


[“Mereka tidak memiliki waktu untuk itu. Gerbang tertutup 10 menit setelah aku menghabisi ketiga lich.”]


“Lalu, bagaimana aku bisa keluar?”


[“Berterimakasihlah pada Rimi. Dia yang membawamu keluar.”]


“Hah? Rimi? Apa Rimi keluar dari tubuhku?”


[“Tsk… sudahlah. Ayo pergi dulu dari sini jika kau ingin menyelesaikan quest level 81.”]


“Hmmm… Kalian sok misterius, kan?”


[“Itu bukan hal penting untuk dibicarakan!”]


"Kau galak sekali."


["..."]


"Kau tahu? Suaramu itu sangat imut. Kau tidak cocok berbicara kasar."


["Aku akan mengaktifkan racun!"]


"H-hei... Aku mau keluar menemui Ivory. Kau mungkin bisa membunuh orang lain juga."


......................

__ADS_1


Jack langsung berdiri dan menghampiri Alvin saat melihatnya keluar dari kamar.


Ia menatap Alvin dari ujung kepala hingga ujung kaki, bahkan mengelilingi tubuh pria kurus itu untuk memastikan keadaannya.


“Kau baik-baik saja bro?”


“Ya,” sahut Alvin pelan sambil melirik Ivory yang memerhatikannya juga dari jauh, tapi langsung memalingkan wajahnya saat tatapan mereka saling bertemu.


“Syukurlah. Kami sangat khawatir saat melihatmu keluar dengan keadaan mengerikan dan kau langsung pingsan begitu saja.”


“Aku keluar sendiri?”


“Kau lupa?"


Alvin terdiam. Mengingat-ingat lagi kejadian saat itu. Ia hanya ingat bahwa ia langsung kehilangan kesadaran saat Mina mengembalikan tubuhnya.


Tapi, Alvin akhirnya mengangguk.


"Kau benar. Aku agak lupa..."


Jack tersenyum padanya dan menatapnya dengan tatapan penuh rasa hormat. "Kau sudah bekerja keras. Kau menyelamatkan kota ini."


"Ah... Tidak juga...," sahut Alvin pelan, sambil menggaruk-garuk kepalanya, merasa canggung. Hanya ia yang tahu bahwa Mina lah yang telah melakukannya.


‘Jadi maksudmu tadi, Rimi juga bisa mengendalikan tubuhku?’


[“Ya. Dia bisa melakukannya saat kau pingsan. Aku tidak bisa karena aku hanya memiliki izin sebanyak 3 kali untuk mengambil alih tubuhmu. Dan kesempatanmu untuk menggunakan kekuatanku kini hanya tersisa satu kali.”]


‘…’


[“Hnnn?”]


‘Kalian mengerikan!’


[“Mengerikan? Kau harusnya berterimakasih! Kau akan mati dan terkubur di dalam Dungeon jika kami tidak menolongmu!”]


'...'


["Apa lagi?!"]


‘… Terima kasih.’


“Bro?”


Alvin tersadar dari lamunannya saat Jack mengejutkannya.


“Ah… ya…”


Alvin kemudian berjalan melewati Jack dan pergi menuju sofa dimana Ivory duduk. Ia kemudian menatap ponselnya yang berada diatas meja, juga melihat sebongkah kristal berwarna abu-abu tua disamping ponselnya tersebut.


Ivory melihat kemana arah Alvin menatap, lalu berbicara padanya, “Saya sudah menghubungi Vina dan mengatakan bahwa Anda baik-baik saja disini,” ucap Ivory pelan.


“Terima kasih...,” sahut Alvin yang kemudian duduk di sofa bulu itu, di dekat Ivory. Ia kemudian menunjuk bongkahan kristal di meja, “Apa ini saya yang membawanya?” tanya Alvin. Ia menebak bahwa Rimi mengambil dan membawa item itu untuknya.


“Ya. Anda membawanya keluar dari dalam Dungeon.”


“Begitu.”


"Benda apa ini? Aura sihirnya sangat aneh, berbeda dari kristal sihir biasa," tanya Jack, yang sudah bergabung bersama mereka.


"Oh... Ini..."


Alvin mengambil kristal itu dan langsung melihat informasi kristal dari jendela transparan yang muncul dihadapannya.


...°•°•°•°•°•°•°...


...Item Name : Airbender...


...Rarity Level : A+...


...Function : Controlling all animate and inanimate objects by manipulating the air...


...•°•°•°•°•°•°•...


'Pengendali udara? Apa ini skill telekinesis milik lich itu?'


["Item ini memang dibuat Rimi dari sihir milik lich, tapi mereka berbeda. Telekinesis itu adalah sihir mengontrol kekuatan yang berasal dari sebuah benda. Sedangkan skill dari item ini akan membuatmu bisa mengontrol makhluk hidup dan benda mati dengan memanipulasi udara disekitarnya,"]


["Tapi, kau membutuhkan latihan pengontrolan aliran udara yang lebih intens untuk bisa mengunakannya sebaik lich menggunakan sihir telekinesis. Keahlian ini tidak meningkat sesuai level. Kau harus melatihnya sendiri."]


'Aku mengerti. Jadi, apa skill ini masuk dalam skill job Mage juga?'


["Tidak. Kau bisa menggunakannya saat menggunakan job apa pun."]


'Itu sangat bagus!'


.........


"Bro?"


"Ah... Ya...," sahut Alvin, terkejut saat Jack tiba-tiba mengajaknya berbicara lagi.


Ia bisa melihat Jack dan Ivory saling bertatapan. Ia tahu mereka pasti bingung karena dia tampak sering melamun. Ivory pernah mengatakan hal itu padanya.


"Ini tidak berguna," ucap Alvin sembari memecahkan kristal itu di tangannya.

__ADS_1


Walaupun Alvin mengatakan benda itu tidak berguna, namun Jack dan Ivory curiga bahwa benda itu mungkin sangat berguna saat mereka melihat benda itu langsung berubah menjadi asap berwarna abu-abu, lalu terserap kedalam pori-pori tubuh Alvin setelah pria itu menghancurkannya.


...****************...


__ADS_2