Hunter System

Hunter System
Bab 129 - Akhir Dari Kehidupan Sang Diktator


__ADS_3

Apa yang Alvin lakukan selanjutnya membuat Raymond langsung memalingkan wajah.


Alvin menusukkan pisau ke pergelangangan tangan Duncan, lalu mengiris daging pada lengan pria itu dengan perlahan sampai ke sikunya.


"Huaaaaa... Apa yang kau... Aaaaaaa...!!!"


Duncan berteriak-teriak nyaring dengan histeris saat merasakan perih mengerikan ketika bilah pisau itu melewati seluruh tulang di lengan kanannya saat Alvin memfilet daging di lengan itu.


Setelah selesai pada sisi itu, Alvin memutarkan tangannya sedikit, lalu mengulangi hal yang sama secara terus-menerus sampai seluruh daging di tangan kanan Duncan hampir bersih seluruhnya, menampilkan tulang tangannya yang terbungkus oleh darah segar.


Duncan sudah berusaha mengalirkan seluruh energi sihir ke tangannya, namun sihir yang ia gunakan untuk memperkeras otot tangannya sama sekali tidak berguna. Tenaga Alvin terlalu kuat untuk bisa dilawannya.


Alvin menatap wajah Duncan yang penuh dengan ingus dan air mata setelah ia selesai dengan pekerjaannya.


Ia kemudian mengangkat tangan yang kini menampilkan tulang berlumur darah untuk memperlihatkan pada Duncan.


"Kau... Kau... Huwwaaaaaahhh... Kau iblis!" Duncan mengumpat-umpat sambil menangis histeris melihat lengan kanannya itu telah kehilangan sebagian besar dagingnya. Emosi bercampur aduk antara marah dan benci memenuhi perasaannya saat ini.


Duncan yang biasanya sangat mementingkan penampilan itu tidak menyangka jika ia harus hidup tanpa memiliki daging di sebelah tangannya lagi.


"Bukankah ini indah?"


"Setan! Kau gila!" umpat Duncan di sela tangisnya.


Alvin hanya tersenyum lalu mengabaikannya. Ia beralih menatap Norman Lewis yang juga sedang menangis sembari berteriak-teriak dengan tidak jelas dengan mulutnya yang sudah tidak memiliki lidah.


Setelah puas melihat reaksi pria paruh baya itu, Alvin kemudian mencengkram meja kayu yang Duncan baringi, mencabut sedikit kayu dari meja itu untuk membuat beberapa lidi sate.


Ia kemudian memotong-motong daging yang didapatkannya dari lengan Duncan, mengiris-irisnya dengan rapi, lalu menusukkannya pada lidi sate tersebut. Ia juga mengambil lidah Norman dan melakukan hal serupa juga pada lidah tersebut.


Alvin kemudian membakar daging itu di atas telapak tangannya hingga benar-benar menjadi daging panggang, lalu menyimpan 5 tusuk daging panggang itu di inventory.


["Apa ini makan malam ku?"]


'Persembahan untuk hantu gentayangan.'


["Kau f**k!"]


......................


Setelah Duncan dan Norman Lewis terlihat sedikit lebih tenang, Alvin akhirnya berbicara.


"Ada hal yang ingin ku ceritakan," ucap Alvin. Ia menatap Norman yang juga sedang menatapnya dengan tatapan penuh kemarahan.


"Tsk... Pak tua ini benar-benar..."


Alvin mencongkel kedua bola mata Norman, lalu memasukkan satu bola mata itu ke mulut Norman, sementara bola mata lainnya ia masukkan ke mulut Duncan.

__ADS_1


Keduanya langsung muntah-muntah sesaat setelah Alvin memasukkan bola mata kedalam mulut mereka. Begitu juga dengan Raymond yang sedang mengambil video tindakan kejam Alvin, juga Vina dan Thomas yang menyaksikan dari tempat yang agak jauh.


Hanya Jack yang terlihat tenang. Ia sudah terbiasa melihat orang-orang di Pusat Pengolahan melakukan hal menjijikan seperti itu saat mereka bermain-main dengan mayat monster.


Setelah ayah dan anak itu agak tenang kembali, yang sebenarnya karena kelelahan menangis dan kehabisan darah, Alvin melanjutkan apa yang ingin ia katakan.


"Sebenarnya aku yang membuat Brondy lumpuh seperti itu," ucap Alvin. Ia kemudian menatap Duncan yang pengecut dan Norman secara bergantian, ingin memerhatikan reaksi kedua orang itu setelah tahu kebenarannya. Namun, ia tidak melihat reaksi apa pun dari keduanya. Alvin akhirnya melanjutkan, "Aku juga yang sudah membunuh Miranda dan 19 anak buahnya."


Kedua hunter itu tetap tidak bereaksi apa pun.


'Ada apa dengan mereka? Apa mereka tidak merasa marah setelah tahu semua itu?'


["Caramu salah. Harusnya kau ceritakan itu dulu baru menyiksa mereka. Kau sudah melakukan hal yang lebih mengerikan pada mereka terlebih dulu, jadi mereka tidak terlalu terganggu dengan hal yang tidak ada hubungannya dengan diri mereka sendiri."]


'...Begitu.'


["Anggap ini pengalaman. Lain kali berdiskusilah dulu denganku jika kau ingin menyiksa seseorang."]


'Baiklah...'



["Dia yang bertanya."]


<...>


'...'


.........


Mendengar itu, Duncan kembali menangis sambil meronta-ronta lemah berusaha melepaskan ikatan di tubuhnya dari meja. Wajahnya sudah tampak sangat pucat akibat banyak kehilangan darah dari satu lengannya yang telah di filet.


"Alvin... Alvin... Tolong maafkan aku... Ampuni aku..." pinta Duncan dengan suara lemah di sela tangisnya.


"Beritahu aku di mana persembunyian pria bertopeng yang kau bayar untuk menyerangku tempo hari. Siapa namanya? Hair dryer?"


"The Destroyer..."


"Ya."


"D-dia di Beijing."



'...B-begitu...'


Alvin menatap Duncan yang menangis dengan suara lemah, lalu menepuk-nepuk pipinya pelan, lalu mulai mencengkram rahangnya.

__ADS_1


"A-apa... yang ingin... kau lakukan? Bukannya..."


"Bukannya apa? Aku cuma bertanya, tidak berjanji untuk tidak membunuhmu," ucap Alvin, memotong ucapan Duncan yang ia tahu ingin mengatakan hal tersebut.


"Kau..."


Crakkk!


Alvin mencabut rahang Duncan sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.


Ia kemudian menatap Norman lalu melemparkan dagu Duncan itu tepat ke bagian belalai Norman Lewis dan langsung memecahkan bijinya ketika bertabrakan dengan benda tersebut.


Bukannya kasihan, Alvin malah mendecak kesal saat melihat pria paruh baya itu meronta-ronta sampai terjatuh dari kursi dan bergulingan di lantai. Ia kemudian berjongkok di samping Norman, lalu menahan tubuhnya yang menggelepar.


"Itu pembalasan untuk kakakku dan mungkin banyak wanita lain yang kau 'sakiti'!" umpat Alvin dengan menggeram. Ia kemudian berdiri lalu mendekat pada Duncan.


Alvin menekan dada Duncan perlahan. Ia terus menekan dada pria itu sambil menatap matanya yang merah saat ia menekannya semakin kuat.


Raymond memalingkan wajah saat tahu apa yang akan Alvin lakukan pada pria malang itu, terutama saat mendengar suara nafas Duncan yang naik turun dengan mengerikan antara merasakan sakit yang amat sangat, juga mengalami sesak nafas saat Alvin terus menekan dadanya.


Suara tulang patah mulai terdengar saat tangan Alvin menekan semakin dalam, sebelum akhirnya menghancurkan tulang dada Duncan, juga jantungnya.


Alvin menatap wajah Duncan yang sudah tewas dengan kedua matanya yang terbuka lebar.


Tangannya tiba-tiba bergerak sendiri, mencabut kedua biji mata Duncan, lalu memasukkannya ke dalam kerongkongan pria tersebut.


'Mina?'


["Aku tidak suka meliat matanya."]


'...'


Setelah membersihkan darah di kedua telapak tangannya, Alvin mengambil ponselnya dari tangan Raymond dan menyimpannya.


Ia kemudian menatap Norman Lewis, yang juga sudah meregang nyawa, lalu menatap ke sekeliling ruangan dan melihat ada puluhan orang sedang menyaksikan apa yang sejak tadi ia lakukan sambil bersembunyi.


"Kalian semua, keluar sekarang!" seru Alvin sembari menatap orang-orang itu.


Mereka adalah para pekerja di kastil Lewis, manusia biasa yang tidak memiliki energi Mana sama sekali.


Para pekerja itu menatap ke arah pintu, pada monster serangga yang sudah menghabisi semua hunter di luar dan sedang diam menunggu perintah Alvin disana.


Jika bukan karena monster-monster itu, para pekerja tentu saja sudah melarikan diri sejak tadi.


"Pantas saja," gumam Alvin sebelum memanggil semua pasukan serangga untuk masuk kembali ke sarang mereka.


Para pekerja langsung lari berhamburan keluar dari kastil setelah monster-monster itu menghilang.

__ADS_1


Alvin kemudian meminta Jack, Thomas dan Raymond untuk mencari dokumen-dokumen penting di dalam kastil itu, juga mengambil semua rekaman CCTV, sementara ia sendiri pergi membawa Vina ke sebuah lokasi yang menunjukkan banyak titik putih di area yang terletak di luar kastil.


......................


__ADS_2