Hunter System

Hunter System
Bab 154 - Dewi Ann


__ADS_3

Mendengar getaran pada suara dewa Roa, dewa Voxa tersenyum tipis.


Sambil menundukkan kepalanya, ia juga melirik pada dewa Zei yang sebelumnya berbicara dengan angkuh namun kini tampak jelas sedang menahan agar gemetar di tubuhnya tidak terlihat jelas.


'Bukankah tadi kalian menganggapnya remeh? Kalian baru pertama kali ini bertemu dengan dewi Ann, kan? Gelarnya sebagai dewi perang legendaris itu bukan omong kosong. Kalian merasakan sendiri sekarang!'


Dewa Voxa tertawa di dalam hatinya.


"Saya hanya berkunjung, dewa Roa," sahut dewi Ann dengan senyum dan tatapannya yang sangat anggun dan berwibawa.


Namun, beberapa detik kemudian, dewi Ann tiba-tiba mengernyitkan alisnya saat merasakan hawa keberadaan salah satu dewan pengawas para dewa yang tiba-tiba saja hadir juga di tempat itu.


Sosok bola kristal berwarna abu-abu tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.


Bola kristal abu-abu tersebut adalah dewan pengawas keluarga dewa Bazlar yang harusnya turun ke kuil suci keluarga dewa Bazlar jika ia muncul di tengah-tengah keluarga tersebut.


Kemunculan sosok itu saja sudah sangat membuat dewi Ann heran. Apalagi dia tidak muncul di kuil suci.


Dewi Ann bertambah heran saat bola kristal tersebut juga berubah ke wujud aslinya, wujud yang menyerupai manusia sama seperti wujud para dewa, dewi dan para malaikat.


"Ada apa dengannya?" pikir dewi Ann, heran.


......................


Dewan pengawas para dewa biasanya tidak menampakkan wujud aslinya secara sembarangan kecuali mereka hendak berperang.


Dewan pengawas itu bernama, Re. Setelah ia menampakkan wujud aslinya, tekanan sihir memenuhi seluruh area kediaman keluarga dewa Bazlar.


Dewa Voxa, yang merupakan dewa dari kasta terendah bahkan sudah jatuh berlutut dengan tubuh gemetar akibat tekanan sihir dari dewan Re.


Hal yang hampir sama juga di alami dewa Roa dan dewa Zei. Walaupun mereka tidak jatuh berlutut seperti dewa Voxa, setidaknya mereka merasakan kesulitan untuk mempertahankan kedua kaki untuk bisa tetap berdiri tegak.


Para malaikat bahkan langsung pergi meninggalkan tempat itu. Mereka tahu, jika mereka tetap berada di sana, mereka tidak akan sanggup bertahan dari aura keberadaan dewan Re dan mereka pasti akan mati hanya dalam beberapa menit.


Di antara mereka, hanya dewi Ann saja yang tampak tidak terpengaruh oleh aura sihir itu.


Dewi anggun yang memiliki rambut panjang sepinggang dengan warna cerah pirang-platinum itu tersenyum pahit pada dewan Re sebelum mengucapkan satu kalimat yang membuat dewan Re, yang harusnya dapat memusnahkan dewa manapun dengan mudah, langsung salah tingkah.


"Apa yang Anda lakukan, dewan Re? Kenapa Anda menunjukkan wujud asli Anda? Apa Anda mau menantang saya berkelahi?"


Dewan Re berusaha memaksakan sebuah senyuman.


Sebelumnya, ia yakin jika dirinya dirinya yang memiliki level di atas para dewa, bisa mengalahkan dewi Ann yang sangat terkenal itu.

__ADS_1


Namun, saat ia sudah berhadapan langsung dengan dewi perang yang sudah selama puluhan miliar tahun tidak pernah lagi menunjukkan dirinya di dunia para dewa, ia baru sadar jika dirinya hanyalah seonggok debu di hadapan dewi perang legendaris itu.


'Apakah cerita itu bukan isapan jempol belaka? Apa dia juga lebih kuat dibandingkan dewan pengawas agung dan Serafim?'


Glup...


Merasa melakukan kesalahan karena sudah memancarkan aura sihirnya secara berlebihan, dewan Re akhirnya memaksakan untuk tertawa.


"Kau terlalu serius Ann..." ucap dewan Re, sembari menatap manik mata keemasan dewi Ann, "Apa kau berani bertarung dengan dewan pengawas sepertiku?" ucap dewan Re, berharap dewi Ann akan menjawab 'tidak' agar ia bisa menjaga wibawanya.


Namun, jawaban dewi Ann justru di luar dugaannya.


"Saya hanya akan mengampuni kelancangan Anda satu kali ini saja. Bahkan dewan pengawas agung dan Serafim tidak akan berani menunjukkan kekuatan mereka saat saya ada," sahut dewi Ann.


Nada bicaranya memang terdengar biasa. Ia juga mengucapkan kalimat itu tanpa adanya nada marah sama-sekali. Namun, apa yang dikatakannya tentu saja bukanlah sebuah ancaman kosong.


Dewan Re bergidik. Ia kini akhirnya tahu jika dirinya pasti akan mati jika berani melawan dewi perang legendaris itu. Ia memerhatikan, hanya dengan caranya bernafas saja dewan Re tahu jika dewi Ann jauh lebih kuat dibanding dirinya.


Energi sihir dewan Re sebenarnya sangat mengerikan. Bahkan dewa Zei yang sangat kuat saja sampai menahan nafasnya, khawatir jika energi sihir dewan Re sampai terhisap olehnya, tubuhnya akan meledak.


Karena itulah tidak ada yang berani berbicara semenjak dewan Re menampakkan wujud aslinya.


.........


"Sepertinya ada hal penting yang ingin Anda sekalian bicarakan. Maaf jika saya berkunjung tanpa memberikan kabar terlebih dahulu, dewa Roa. Saya akan pergi sekarang. Lain kali saya akan mengirimkan utusan terlebih dahulu jika saya ingin berkunjung," ucap dewi Ann.


Ia kemudian berbalik pergi setelah dewa Roa menanggapi ucapannya dengan mengangguk-anggukkan kepala karena masih tidak berani bernafas.


......................


Dewa Voxa melangkahkan kakinya dengan tertatih-tatih setelah mengalami luka dalam yang cukup parah.


Setelah dewi Ann pergi dari kediaman keluarga dewa Bazlar, dewan Re membentak dan mengusirnya hingga teriakannya itu membuat dewa Voxa terluka dalam.


Saat dewa Voxa hendak masuk ke portal yang akan membawanya kembali ke kediamannya di dunia para dewa, dewi Ann mencegatnya.


"Dewi Ann?"


"Maaf telah mencegat perjalanan Anda, dewa Voxa."


"T-tidak... Tidak masalah..."


Dewi Ann menatap 3 malaikat dari keluarga dewa Bazlar yang sedang berdiri di belakang dewa Voxa.

__ADS_1


Ia kemudian membuat sebuah pelindung bercahaya keemasan yang memisahkan dirinya dan dewa Voxa dari para malaikat tersebut.


Setelah mereka berada di dalam pelindung tersebut, dewi Ann kembali berbicara, "Ada yang saya ingin tanyakan pada Anda, dewa Voxa."


"T-tentu... Apakah itu, dewi Ann?"


"Apa yang terjadi di sana?"


Mata dewa Voxa bergerak-gerak kesana kemari. Ia juga menundukkan kepalanya, bingung apakah dia harus berbohong atau mengatakan hal yang sebenarnya.


Ia memang tidak tahu kenapa dewan Re sampai menunjukkan rupa aslinya, padahal dewan pengawas tidak sepantasnya menunjukkan rupa asli mereka kecuali mereka ingin bertempur atau sedang kehabisan energi Mana.


Namun ia harus mengatakan kenapa dirinya sampai berada di kediaman dewa kasta tertinggi jika tidak ingin dicurigai telah melakukan suatu hal yang sebenarnya tidak dia lakukan.


"Sebenarnya saya berada di sana untuk meminta keluarga dewa Bazlar agar memindahkan kembali makhluk ciptaan yang makhluk ciptaan dari pusaran mereka bawa ke pusaran saya, dewi Ann."


"Anda dan mereka tidak sedang merencanakan atau malah sudah berbuat sesuatu yang salah, kan?"


"T-idak..., tidak... Saya mana berani melakukan hal yang melanggar perintah Absolut? Saya juga tidak pernah mengganggu kehiduapan para makhluk ciptaan, dewi Ann."


Dewi Ann mengangguk, lalu menepuk pundak dewa Voxa dengan sangat-sangat lembut. Namun, tepukan itu membuat tubuh dewa Voxa panas dingin, saat energi sihir dewi Ann yang sangat tipis saling bersentuhan dengan energi sihirnya.


'Gila! Kekuatan macam apa ini?!


"Saya percaya pada Anda. Lalu, dari pusaran manakah makhluk ciptaan itu berasal?"


Dewa Voxa berkeringat dingin. Itu adalah pertanyaan yang paling tidak dia inginkan.


"Dia..., dari pusaran putih, dewi Ann."


Dewi Ann tersenyum.


"Sudah saya duga."


"Ya?"


"Tidak apa-apa. Dan Anda tidak ingin mengembalikannya sendiri?"


"Saya mana berani bersinggungan dengan keluarga Anda, dewi Ann."


"Pilihan yang baik. Baiklah. Maaf telah mencegat Anda," ucap dewi Ann, mengakhiri pembicaraan mereka.


Dewi Ann menghapus pelindungnya, lalu mempersilahkan dewa Voxa pergi kembali melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke pusaran coklat, wilayah kekuasaannya.

__ADS_1


__ADS_2