Hunter System

Hunter System
Bab 110 - Memutuskan Hubungan


__ADS_3

'Aku lupa kalau dia menyamarkan energi Mana* nya sejauh **hunter** peringkat F. Ku kira dia tadi hunter biasa yang kebetulan lewat*.'


["Hmmm... Jangan khawatir."]


'Bicara memang mu..dah...'


Alvin menatap bingung pada Cyntia saat wanita itu tiba-tiba tersenyum canggung padanya.


"Apa aku mengganggu?"


"Mengganggu?"


"Kelihatannya ada hal penting yang ingin kalian bicarakan," sahut Cyntia, sembari menatap Shiva, juga dengan tatapan canggung.


"Ya?" Alvin merasa heran dengan sikapnya, "Sebenarnya tidak ada lagi yang ingin kami bicarakan," sahut Alvin sembari melepaskan genggaman Shiva pada pergelangan tangannya dengan paksa.


Cyntia agak kaget saat melihat Alvin memperlakukan Shiva dengan kasar. Ia kembali menatap Shiva yang sejak tadi menatapnya tidak suka sembari memerhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Aku akan menunggu di mobil, ok?" ucap Cyntia pelan sembari melirik pada Alvin.


"Ya?"


"Kalian bisa berbicara dulu. Aku akan menunggumu. Tidak usah terburu-buru," ucapnya lagi.


Cyntia kemudian menatap Shiva sekali lagi dan tersenyum penuh simpatik dengan sangat tulus padanya sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan mereka. "Saya permisi. Maaf jika mengganggu."


'Apa dia marah?'


["Tidak."]


'Apa?!'


Alvin membuka skill kesukaan dan melihat skor Cyntia masih berada pada angka 7. Ia pun merasa lega.


["Astaga. Ku kira kau takut padanya. Ternyata kau suka jika dia suka padamu dengan skor 7?"]


'Ya.'


["...Rupanya kau suka hidup di tepi jurang."]


'Aku tidak peduli.'


["F**k..."]


......................


“Oh jadi kau sudah memiliki teman wanita hingga kau ingin mengabaikanku?”


Alvin mengernyitkan kedua alisnya dan menatap Shiva dengan bingung.


'Bagaimana dia bisa berpikir begitu?'


“Sudahlah," ucap Alvin pelan.


“Sudah? Apa yang ingin kau katakan?"


"Tidak ada."


"Tatapanmu itu... Kau sedang merendahkanku?"


Alvin tidak menggubrisnya lagi. Ia meninggalkan Shiva, pergi menyusul Cyntia.


Merasa kesal karena terus diabaikan, Shiva yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya lagi, hendak berlari menyusul Cyntia, bermaksud untuk menyerangnya. Dari aura energi Mana nya, ia tahu wanita itu hunter berperingkat F. Jadi tidak akan masalah jika dia sedikit menciderainya.


Tapi, saat ia melewati Alvin, pria itu menangkap tangannya hingga membuat langkahnya terhenti.


Alvin menarik Shiva hingga mendekat padanya dan menatapnya tajam.


“Cukup sampai disini! Kau ingin menyerangnya?! Kau tidak sayang nyawamu?!” ucap Alvin sembari menatap kedua mata Shiva dengan sangat marah.


Walaupun Shiva terbiasa berpura-pura tidak mengerti apa yang Alvin ucapkan, kali ini ia tidak bisa berpura-pura tidak tahu jika Alvin sangat marah.

__ADS_1


Ia dapat merasakan aura membunuh yang sangat kuat dari Alvin. Tubuhnya pun gemetar. Ia ingin menarik tangannya namun Alvin benar-benar menggenggamnya dengan sangat kuat, hingga membuat kulit tangannya sampai mengelupas.


“Jangan ganggu aku lagi dan jangan pernah berbicara padaku lagi jika kita kebetulan bertemu. Tolong ingat itu."


“Al-alvin…, tapi selama ini bukankah kita…”


"Sudahlah. Hentikan sandiwara busukmu itu. Kau selama ini tampak bersimpatik padaku hanya untuk dilihat teman-temanmu bahwa kau orang yang baik dan peduli pada orang yang dirundung. Kau cuma memanfaatkanku untuk menaikkan nilai mu.”


Shiva menelan ludahnya. Ia tidak menyangka Alvin akhirnya menyadari hal itu.


Alvin melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Shiva. Ia juga menyembuhkan kulit tangan Shiva yang terkelupas oleh cengkramannya dan akhirnya pergi meninggalkan Shiva tanpa berbicara apa pun lagi.


Shiva ingin mengejarnya, namun ia takut jika Alvin akan benar-benar melukainya.


Tidak memiliki daya apapun, dengan perasaan marah, Shiva akhirnya menatap ke arah Cyntia yang sudah duduk di belakang kemudi, di dalam mobil sportnya. Ia ingin mengingat wajah wanita itu agar lain kali jika mereka bertemu, ia bisa memberikan pelajaran padanya.


"Wanita brengsek!" umpat Shiva.


.........


Cyntia langsung membuka pintu dan turun dari mobilnya saat melihat Alvin sudah berjalan ke arahnya.


“Kita pergi sekarang?” tanya Cyntia dengan tatapan penuh simpatik yang membuat Alvin kebingungan.


“Maaf membuatmu menunggu.”


“Tidak apa-apa. Kau sebenarnya bisa menggunakan lebih banyak waktu jika kau ingin.”


“Tidak. Kami sudah selesai bicara."


Cyntia tersenyum pahit. “Baiklah,” sahutnya. Ia kemudian menatap pintu mobil di dekatnya sebelum menatap Alvin lagi, “Kau ingin menyetir?”


“Aku tidak memiliki lisensi mengemudi. Juga... tidak bisa mengemudikan mobil.”


"Oh... itu tidak masalah. Aku akan mengajarimu nanti.”


“..."


“Terima kasih.”


Setelah Alvin masuk ke dalam mobil, Cyntia memutar tubuhnya. Ia menatap Shiva yang sedang menatap mereka dari tempat yang tidak begitu jauh lalu menundukkan kepalanya pada wanita itu sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam mobil.


.........


Begitu mereka pergi, Shiva mengambil ponselnya lalu mencari-cari profil Cyntia di situs resmi Asosiasi Hunter Kota S untuk tahu latar belakang wanita itu.


Dari mobil sport yang dikendarainya saja, ia tahu Cyntia pasti dari keluarga hunter kaya raya dan ia pun memulai penyelidikannya dari anggota keluarga hunter terpandang di Kota S.


Sayangnya, Shiva sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Cyntia di daftar hunter Kota S karena keluarga Maxwell memang tidak mendaftarkan Cyntia di Asosiasi Kota S. Cyntia terdaftar sebagai hunter Jerman.


“Siapa sih dia? Apa dia dari luar kota?”


Shiva akhirnya pergi dengan perasaan mendongkol. Tapi langkah kakinya terhenti ketika ia tiba-tiba teringat wajah seorang hunter wanita yang sangat mirip dengan Cyntia.


"Tidak mungkin dia, kan?"


Ia mengambil ponselnya kembali untuk mengecek sebuah video. Itu adalah video mengenai Dungeon Break beberapa hari lalu.


Di video itu, dia melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Cyntia sedang bertarung sendirian melawan ribuan lich, yang dikatakan sebagai monster peringkat S, di depan gedung balai kota.


“D-dia… wanita ini?!”


Ia kemudian mengingat kata-kata Alvin tadi dan menggigil saat membayangkan bagaimana nasibnya jika Alvin tadi tidak segera menarik tangannya.


......................


"Kenapa kau tampak sangat membencinya?" tanya Cyntia setelah mereka berkendara cukup jauh dari lokasi mini market.


"Apa terlihat begitu?"


Cyntia tersenyum lembut sebelum kembali berbicara, "Wajahmu tampak jelas tidak nyaman berada di dekatnya. Dan dia juga terlihat sangat frustasi."

__ADS_1


"..."


"Tidak apa-apa jika kau tidak ingin menceritakannya. Maaf."


"T-tidak... Aku cuma tidak nyaman membicarakannya lagi."


"Oh... Kau tidak perlu merasa bersalah. Aku yang harus minta maaf..."


'Ada apa dengannya?'


["Ternyata dia bisa membaca ekspresi wajah orang dengan baik."]


'Apa maksudmu?'


["Aku hanya membantumu kali ini saja. Dengar nasehatku baik-baik. Jika kau kebetulan bertemu dengan wanita yang memiliki skor 4, jauhi dia,"]


["Wanitamu ini bisa menilai wanita mana yang menyukaimu dengan tulus seperti Ivory. Dia tahu siapa saingannya."]


'...'


"Kenapa kau menatapku seperti itu?"


"Ya?"


Cyntia tertawa saat melihat Alvin tampak salah tingkah setelah terpergok sedang memandangi wajahnya terlalu lama.


"Apakah kau suka penampilanku?"


"Ya?"


Alvin menatap pakaian yang Cyntia kenakan.


"Y-ya... Kau seperti..."


"Hnnn?"


"Idol."


"Apa kau suka?"


"Y-ya..."


"Ku pikir kau akan menganggapku aneh."


"A-apa? Itu tidak... mungkin."


Cyntia melirik Alvin saat mendengar kalimatnya sempat terputus dan merasa sedikit heran saat melihat wajah Alvin tampak tegang.


"Apa terjadi sesuatu?"


Alvin menoleh lagi pada Cyntia.


"A-apa kita bisa lebih cepat lagi?"


"Kau sedang terburu-buru?"


Alvin tidak langsung menanggapi pertanyaan itu. Ia membuka peta bakal gerbang Dungeon lalu memeriksa lanskap Kota T.


Seperti yang baru saja Mina katakan, ada sebuah titik merah yang sangat besar muncul di Kota T.


"Ada gerbang Dungeon peringkat S yang baru saja muncul di Kota T," sahut Alvin setelah memastikannya sendiri.


"..."


"..."


"K-kau serius?!"


Alvin tidak menjawab pertanyaan itu. Sebagai gantinya, ia menunjukkan nama di layar ponselnya pada Cyntia.


Alvin baru saja menerima panggilan dari Lex Brown. Cyntia sudah pasti tahu siapa orang itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2