
Miyuki tersentak dengan kemunculan Anna yang baru saja berteleportasi tepat ke hadapannya.
Jika Miyuki saja bisa seterkejut itu, Thomas tentu saja jauh lebih terkejut lagi. Saking terkejut dengan kemunculan Anna, ia sampai melompat mundur dan hampir saja pergi melarikan diri.
"Sudah kukatakan jangan suka muncul dengan tiba-tiba!" umpat Miyuki sembari memberikan tatapan kesal pada Anna.
"Maaf..."
"Kau selalu minta maaf tapi terus saja mengulanginya."
"..."
"Sudahlah, cepat cari keberadaannya. Acara pernikahan akan dimulai dalam 20 menit lagi."
Anna tertawa canggung. Ia kemudian memerhatikan seisi ruangan sebentar, lalu naik dan duduk di atas ranjang Alvin.
Sejak kedatangannya, Anna sudah bisa merasakan energi sihir yang terasa sangat samar berada di atas ranjang tersebut dan ia akhirnya melihat ada sebuah lubang berukuran ultra mikro yang tidak dapat dilihat siapa pun bahkan oleh Miyuki yang memiliki pengelihatan super.
"Ketemu."
"Ya?"
"Ada bekas gerbang sihir di sini."
"Apa mungkin dia terpancing masuk kedalamnya?"
"Mungkin saja. Tapi sepertinya dewa atau malaikat telah menjebaknya. Tidak mungkin mereka menutup gerbang jika ingin menghabisinya langsung."
"Dia benar-benar sial."
"Aku akan menjemputnya."
...****************...
Alvin dan Mina masih berjalan santai menyusuri tepian sungai yang akan membawa mereka menuju desa Korda saat sosok gadis remaja tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.
Kemunculan gadis cantik nan anggun yang tidak memancarkan aura keberadaannya itu tentu saja membuat Alvin dan Mina sangat terkejut hingga hampir saja menyerangnya.
Dia adalah sosok petarung terkuat di Bumi yang menurut Alvin dan Mina seharusnya tidak akan mati secepat ini.
"Anna?!"
"Yup. Aku datang," sahut Anna dengan ekspresi cerah yang selalu menghiasi wajah cantiknya.
"A-apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau..."
"Dia demigod," potong Mina.
"Apa?!"
"Kau beruntung. Dia sepertinya menemukan lokasi terbukanya gerbang di kastil."
Anna menatap kagum pada Mina yang bisa menebak bagaimana dirinya bisa sampai ke dunia pengasingan ini.
'Yah... tentu saja Miyuki pasti bisa menebaknya.'
.........
Alvin menelan ludahnya, ia baru ingat jika Anna adalah sosok demigod. Makhluk yang dewi Ann minta pada dewan pengawas Vu untuk diciptakan dari DNA-nya.
"Kau benar-benar bisa ke sini bukan karena telah mati, kan?"
"Aku tidak akan mati cepat."
__ADS_1
Setelah menjawab pertanyaan Alvin, Anna mendongak menatap langit, memerhatikan sebuah titik putih yang baru saja muncul di sana. Ia kemudian melambaikan tangan pada objek tersebut saat objek itu melambaikan tangan terlebih dahulu pada dirinya.
"Jadi dia Serafim penguasa dunia pengasingan?"
"Ya?"
"Dia di atas sana."
Alvin dan Mina melihat ke arah mana Anna melambaikan tangan.
"Kenapa buyut guru tidak turun ke sini?"
"Dia cuma datang sebentar untuk menyapa," sahut Anna. Ia kemudian menurunkan tatapannya, memerhatikan Alvin dan Mina bergantian.
Anna kemudian tersenyum getir lalu berbicara sambil menatap Mina, "Aku datang untuk menjemputnya."
Mina mengangguk pelan, "Terima kasih karena kau sudah datang."
"Untung saja Rin..., maksudku Rimi, mengundang Miyu ke acara pernikahannya. Jika tidak aku tidak akan tahu kalau dia menghilang."
Mina mengangguk pelan. Dia sebenarnya sanksi jika Miyuki akan mau datang dan ia bersyukur karena Miyuki di zaman ini berbeda dengan dirinya saat masih seumuran gadis itu.
"Sudah tahu jika kalian terpaksa harus berpisah, kan?" Anna bertanya sambil menatap Alvin dan Mina dengan ekspresi serius.
"Ya," sahut Mina, mendahului Alvin yang tampak enggan menjawab pertanyaan tersebut. Ia kemudian mendongak, menatap Alvin sembari tersenyum lembut.
"Mina..."
"Kalau begitu ikutlah bersamaku. Gerbangnya berada tak jauh dari sini," potong Anna.
Anna bisa mendengar apa yang kini sedang mereka pikirkan. Ia tahu, keduanya merasa tidak rela untuk berpisah. Karena itulah ia berusaha untuk menengahi keduanya.
Anna tahu jika Mina tidak bisa ikut kembali ke Bumi sementara Alvin juga tidak boleh berada di dunia pengasingan karena dia belum mati.
"Aku tidak boleh membiarkan gerbangnya terbuka lama. Dan lagi acara pernikahanmu akan segera dimulai."
Alvin menundukkan kepala dan tidak mendengarkan kalimat terakhir yang Anna ucapkan karena merasa tidak tega untuk meninggalkan Mina di dunia pengasingan ini.
Tapi, ia juga harus segera menemui Cyntia yang mungkin sudah salah paham padanya selama berhari-hari karena telah menghilang di hari pernikahan mereka dan harus segera menjelaskan apa yang telah terjadi.
"Acara pernikahannya akan segera dimulai?" Mina mengulangi kalimat terakhir Anna.
Kedua alisnya mengernyit. Kalimat janggal yang baru saja Anna ucapkan membuatnya sedikit bingung.
"Ya."
"Apa hari ini... di Bumi masih hari pernikahan?"
"Hnnn? Ah..., ya. Di sini memiliki perbandingan waktu 1.000:1 dengan waktu di Bumi."
"Benarkah?!" ekspresi Mina berubah ceria seketika.
Ia menatap Alvin lagi lalu meraih kedua tangan pria itu dan menggenggamnya erat.
"Kau belum terlambat! Jika perbandingan waktunya seperti itu berarti baru beberapa jam saja yang terlewat di Bumi."
Alvin akhirnya menyadari apa yang tadi Anna katakan. Tapi, anehnya, ia tampak kurang senang seperti Mina padahal dialah yang harusnya lebih bersemangat.
"Ada apa denganmu? Cepatlah atau kau akan terlambat. Saat aku masuk ke dunia ini, waktu pernikahan akan berlangsung dalam 18 menit lagi," Anna mengingatkan.
Alvin tidak mendengarkan perkataan Anna. Ia masih menatap Mina dan tangan mereka yang tertaut.
"Kelak, kita akan bertemu lagi," ucap Mina sembari melepaskan tangan mereka lalu merangkul Alvin sebagai gantinya.
__ADS_1
Alvin masih tidak mengucapkan sepatah kata pun, termasuk saat merasakan jika Anna telah memindahkan mereka ke dekat gerbang dengan sihir teleportasi.
Berada dalam dekapan Mina membuatnya teringat kembali akan perjuangannya untuk menjadi seorang hunter kuat dengan bantuannya.
Juga saat-saat dirinya merasa dibodohi ketika tahu jika Mina sebenarnya hanya menyamar sebagai Hunter System dan telah 'mengerjainya' hingga akhirnya menjadi lebih kuat dan lebih baik dari hari ke hari.
Justru hal itulah yang pada akhirnya membuat mereka menjadi sangat dekat hingga membuatnya tidak rela untuk berpisah.
Tapi ia juga ingat jika ada kehidupan yang harus dilaluinya jika ingin tinggal di dunia pengasingan dengan normal layaknya penghuni lain.
Jika ia hidup di tempat ini sebagai penyusup, ia tentu akan merepotkan Mina untuk kedua kalinya.
.........
Alvin akhirnya melepaskan rangkulan mereka perlahan dan menatap kedua mata Mina lekat-lekat.
"Kita akan bertemu lagi."
"Tentu. Tapi jangan keburu mati, ok?"
Alvin mengangguk pelan. "Sampai nanti, Mina."
.........
Dengan diikuti Anna, Alvin akhirnya pergi menuju gerbang.
Tapi, saat Alvin sudah berada satu langkah lagi dari gerbang, Mina tiba-tiba memanggilnya.
"Tunggu sebentar," ucap Mina, sembari berlari menghampiri Alvin.
"Ini, hadiah pernikahan kalian," Mina menyerahkan sebuah kotak kayu berukiran indah yang berisi sepasang cincin yang ia tempa menggunakan energi sihirnya secara diam-diam sepanjang malam sebelum mereka terjatuh ke dalam gerbang sihir.
"Ini...," Alvin menatap sepasang cincin indah itu dengan rasa haru, "Terima kasih."
"Selamat atas pernikahanmu, ...Alvin."
Alvin mengalihkan pandangan dari kotak cincin yang berada di kedua tangannya lalu menatap kedua mata Mina yang berkaca-kaca.
Barusan adalah pertama kalinya ia mendengar Mina menyebut namanya.
"Terima kasih..."
Mina kemudian mendorong tubuh Alvin saat pria itu hendak memeluknya lagi, hingga membuatnya terpental masuk ke dalam gerbang, sebelum meminta Anna untuk segera menutup gerbang tersebut.
Dari gerbang yang mulai menyempit itu, Alvin melihat sebaris angka sepuluh yang tiba-tiba saja muncul di kepala Mina, setelah Rimi yang sebelumnya tertidur di alam bawah sadarnya telah aktif kembali.
"Dia..."
"Kalian benar-benar seperti seorang ibu dan anak," ucap Anna pelan. Ia bisa merasakan isi hati keduanya dari apa yang bisa didengarnya dari dalam pikiran mereka.
.........
"Alvin!" Vina berlari menghampiri Alvin setelah melihat adiknya tiba-tiba keluar dari dalam gerbang dan jatuh menghantam dinding ruangan.
"Sebaiknya kalian segera mempersiapkannya. Waktu hanya tersisa 10 menit sebelum kedua pengantin mengucapkan ikrar pernikahan," Anna mengingatkan.
"Y-ya... Alvin... ayo ikuti denganku."
Saat Vina menarik tangannya untuk berdiri, Alvin awalnya bergeming. Namun, tak lama kemudian, saat melihat kembali kotak berukiran indah di tangannya, ia pun akhirnya berdiri dan pergi mengikuti Vina ke ruang rias.
'Kita akan bertemu lagi.'
...****************...
__ADS_1