
Semua kamera langsung tertuju pada 3 hunter yang baru saja keluar dari gerbang Dungeon.
.........
Setelah 15 hunter tiba-tiba saja keluar lebih awal dari gerbang dengan wajah pucat dan tampak sangat khawatir, semua jurnalis dapat mencium adanya hal tak lazim yang terjadi di dalam sana.
Keyakinan para jurnalis semakin diperkuat lagi saat melihat cara hunter dari guild Flames melaporkan sesuatu pada hunter Asosiasi, yang bertugas untuk menjaga gerbang, yang mereka lakukan dengan berbisik-bisik dan wajah gugup.
.........
Alvin langsung memalingkan wajahnya saat melihat blitz dari kamera para awak media langsung menghujani mereka saat baru saja keluar dari gerbang.
Bersamaan dengan itu, para jurnalis langsung berteriak memanggil nama Ivory dan Jack untuk meminta waktu mereka agar bisa diwawancara.
"Nona Cruz, apa yang sebenarnya terjadi? Apa guild Flames mengalami kegagalan?"
"Tuan Paul, bisa Anda memberitahu kami apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada masalah di dalam sana? Kenapa 15 hunter keluar dari Dungeon terlebih dahulu?"
Melihat keributan yang terjadi oleh teriakan-teriakan para awak media, tim penambang dan pengangkut mayat dari Asosiasi langsung menghampiri Jack dan Ivory, sambil menutupi jalan para jurnalis yang sudah mendesak maju menembus pagar hidup yang dibentuk oleh para tentara yang memang biasanya ditugaskan Pemerintah untuk menertibkan para awak media apabila hal seperti ini terjadi.
"Jack, apa terjadi sesuatu di dalam sana?" tanya kapten tim penambang yang sudah sangat mengenal Jack Paul. Mereka juga kebetulan berada dalam satu divisi di Asosiasi.
"Tidak ada. Kalian bisa menambang dan mengangkut mayat monsternya sekarang. Dia...," Jack menjeda kalimatnya saat ia menoleh sebentar pada Alvin, "Maksud ku... Aku dan nona Cruz sudah membunuh bos Dungeon nya."
Jack terpaksa harus berbohong. Ia ingin merahasiakan kekuatan Alvin sedikit lebih lama. Ia belum tahu apakah Alvin nantinya akan menggunakan kekuatannya untuk mendukung warga Kota T atau tidak.
Jika tidak, dia dan Asosiasi tentu akan berusaha untuk meringkusnya. Tapi, jika dia menggunakan kekuatannya untuk membantu Asosiasi untuk menutup lebih banyak gerbang lagi, maka akan lebih baik jika Asosiasi bisa membangun hubungan baik dengannya.
.........
"Apa?! Apa itu benar?!" seru seorang hunter yang berada dalam rombongan 15 hunter yang lebih dulu keluar dari gerbang.
Ia tidak memercayai hal itu karena ia tahu bos Dungeon itu sepertinya bukan monster peringkat A biasa. Mereka juga sempat melihat bos Dungeon itu bisa mementalkan perlawanan Jack dengan sangat mudah.
Bahkan, salah seorang dari rekannya yang sempat melihat ketua guild mereka menyerang golem raksasa itu, bercerita bahwa golem itu kebal dari sihir api nya.
Karena itulah dia tidak memercayai apa yang Jack katakan.
"Anda tidak memercayai kami?" Jack bertanya balik dengan kening berkerut dan tatapan tidak senang.
Mendapat tatapan mengintimidasi dari seorang hunter peringkat B seperti Jack. Hunter yang masih berperingkat C itu langsung tertunduk dan balik badan untuk kembali pada rekan-rekannya.
"Tapi, dimana Edmund dan Joey?" tanya hunter lain.
Cough...
Jack kemudian melirik pada Alvin yang sedang berdiri di belakang Ivory sambil menunduk untuk berlindung dari tangkapan kamera para jurnalis.
Jack mengabaikan pertanyaan hunter itu lalu berbicara lagi pada petugas penambang, "Tolong periksa jurang yang berada di balik semak. Lokasinya ada di dekat pilar sihir. Hunter Joey Garin dan Edmund Green terjatuh kedalam jurang saat mereka ingin bersembunyi di dalam semak."
"A-apa? Bagaimana bisa hunter peringkat B seperti mereka seteledor itu?"
Jack mengangguk-angguk, seakan menyetujui kata-kata rekannya itu.
"Mereka memang bodoh. Nah, kuserahkan pada mu, ok?" ucap Joey lagi, sambil menepuk pelan pundak hunter itu lalu meninggalkannya pergi menghampiri Alvin.
.........
"Bro, ayo kita pergi dari sini," ajak Jack dengan setengah berbisik sambil menunjukkan jalan pada Alvin agar mereka bisa pergi dengan tenang diantara keributan yang terjadi oleh para awak media.
"Tuan Rufino, tunggu dulu," pinta Ivory yang langsung mengejar Alvin saat Jack sudah membawanya pergi.
__ADS_1
"Ya?"
"Apa saya boleh meminta kontak Anda?"
"Itu...," Alvin menggaruk-garuk kepalanya. Ia masih belum hafal nomor kontaknya yang baru dan dia sekarang sedang meninggalkan ponsel dalam kantong jaketnya di dalam bus.
"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih dengan benar dan ingin mengundang Anda untuk makan malam." ucap Ivory lagi, saat melihat Alvin sepertinya keberatan untuk memberikan nomor kontaknya.
"I-itu tidak perlu, nona Cruz," sahut Alvin, saat mengingat Rimi sudah mengambil inti Mana semua monster yang masih berada di dalam Dungeon. Justru dia yang harus berterimakasih atas semua inti Mana itu.
["Kau terlalu bertingkah. Kapan lagi kau bisa memiliki nomor kontak seorang wanita semanis dia?"]
'Kau banyak bicara! Aku lupa nomor ponsel ku!'
["..."]
<08xxxxxxx> sahut Rimi tiba-tiba.
'T-terima kasih Rimi.'
"Ah... baiklah. Kalau begitu, terima kasih sudah membantu kami menyelesaikan raidnya, tuan Rufino." Ucap Ivory yang kemudian tersenyum pahit sambil menundukkan kepalanya. Ia tahu bahwa Alvin mungkin merasa tidak nyaman dan ingin menolak ajakan makan malam darinya.
Untuk mengalihkan perhatian para jurnalis dari Alvin dan Jack yang hendak pergi menyelinap dari tempat itu, untuk pertama kalinya, Ivory akhirnya pergi kehadapan para jurnalis dan bersedia untuk dimintai wawancara.
["Kau terlambat Rimi. Anak asuh kita sudah ditinggalkan... Ckckck..."]
'...'
......................
Setelah Ivory mengalihkan perhatian para awak media, Alvin dan Jack akhirnya bisa menyelinap pergi menuju bus, dimana Alvin meninggalkan jaket dan ponselnya.
"Bro, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?"
Alvin menghela nafas pelan. Ia bisa menebak apa yang kira-kira ingin Jack tanyakan padanya.
"Apa aku harus menjawabnya?" Alvin bertanya balik.
Jack tersenyum canggung.
"Kau tidak perlu menjawabnya jika merasa tidak nyaman."
"Aku akan mendengarnya dulu. Apa itu?"
"Apa kau selama ini menyembunyikan kekuatanmu?"
"Aku tidak akan membunuh bos Dungeon tadi jika ingin menyembunyikannya," sahut Alvin.
"Bukan begitu. Maksud ku, apa kau sebenarnya memiliki kekuatan lain yang kau sembunyikan?" Saat melihat ekspresi bingung di wajah Alvin, Jack melanjutkan. "Begini... Sebenarnya, kami mengamatimu beberapa minggu belakangan ini dan kami melihatmu bisa membuka sebuah gerbang Dungeon."
Alvin tiba-tiba tersenyum tipis saat mendengar pengakuan itu. Dia juga tahu kalau Jack dan beberapa rekannya telah mengamatinya selama ini.
'Jadi dia sepertinya bukan ingin memata-mataiku saja dan menjebakku nanti. Dia tidak akan mengaku jika berniat jahat.'
Alvin diam untuk beberapa saat. Memikirkan jawaban apa yang sebaiknya harus ia berikan.
Dia memang memiliki pilihan untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Tapi, pertanyaan seperti itu pasti akan terus mengejarnya sampai ke masa akan datang.
Tidak mungkin dia bisa menghindar dari Asosiasi, terutama saat ia ingin tinggal dengan nyaman di Kota T ini. Jadi, jika ia dan kakaknya ingin tinggal menetap tanpa adanya tekanan, dia setidaknya harus memiliki 'orang dalam' yang akan terus mendukungnya.
__ADS_1
Alvin akhirnya menatap Jack lagi dan menjawab pertanyaan itu.
"Suatu saat, aku akan menceritakannya pada mu. Saat kita sudah lebih akrab," sahut Alvin dengan senyum bersahabat di akhir kalimatnya.
Mendengar itu, kecanggungan Jack langsung menguap dan ia pun tertawa.
"Ah... Ya... Ya... Kau benar...," sahut Jack di sela tawanya. Ia kemudian menyodorkan tangannya pada Alvin untuk mengajaknya berjabat tangan. "Kalau begitu, mari kita sering-sering bertemu, bro."
Alvin menyambut uluran tangan Jack dan menjabat tangannya.
"Tentu."
"Dan terimakasih sudah membantu Kota T hari ini."
"Membantu?"
"Ya. Dengan membantu menutup satu gerbang Dungeon, kau sudah membantu menyelamatkan jutaan warga Kota T."
"Ah..., begitu..."
["Mari kita lihat. Apa mereka masih berterima kasih padamu saat tahu semua inti Mana pada monster-monster itu menghilang?"]
'...'
["Tapi, kurasa dia akan menjadi sahabat yang baik bagimu. Sebaiknya kau jangan mengabaikannya."]
'Ya. Aku tahu itu.'
......................
Jack sebenarnya ingin mengantarkan Alvin pulang ke rumahnya, namun karena Alvin masih memiliki hal lain yang ingin dilakukannya, ia terpaksa harus menolak tawaran itu.
["Kau tidak pergi ke Dungeon quest dari Rimi?"]
"Nanti."
["Huh? Bukannya kau sudah menantikannya?"]
"Aku akan menyimpannya sampai saat aku sudah berada di level 65."
["Huh? Ada apa dengan mu?"]
Alvin mengabaikan pertanyaan itu. Ia hanya agak trauma karena selalu hampir mati saat melakukan quest dari Rimi. Dia hanya ingin memperkuat statusnya terlebih dahulu sebelum mengambil quest itu.
Quest itu memang tidak memiliki hukuman. Tapi, jika ia sampai mati saat menjalankan quest nya, bukankah itu jauh lebih berat dibandingkan sebuah hukuman? Karena pemikiran itu, Alvin akhirnya memilih untuk sedikit lebih bersabar.
["Kau masih punya dua kesempatan untuk menggunakan kekuatan tersembunyi dari ku. Jangan khawatir, kau belum akan mati."]
"Bisakah kau tidak membaca pikiran yang ku pikirkan untuk diriku sendiri?"
["Aku hanya mengingatkan siapa tahu kau lupa."]
"..."
.........
Alvin akhirnya meminta Raymond untuk menjemputnya.
Mereka kemudian pergi ke Dungeon dari peta yang Alvin miliki, untuk melakukan raid hariannya.
Selain menjalankan quest harian, mingguan, dan bulanan, Alvin juga sudah terbiasa melakukan raid harian sebanyak 3 kali dalam satu hari dan itu sudah menjadi rutinitas perusahaannya setiap hari.
__ADS_1
Selain untuk mengumpulkan harta dari Dungeon, ia juga ingin meningkatkan levelnya sebelum pergi ke Dungeon quest yang Rimi berikan.
...****************...