
angin bergerak pelan menyapu lembut apapun yang dilaluinya. sang mentari menunaikan tugas sucinya, membagikan cahaya dan radiasi panasnya kepada penghuni bumi menurut kadar yang ditentukan-Nya. setiap unsur yang berkeliaran di seantero alam terus menghampar membaur bersama partikel-partikel, membentuk kesatuan yang disebut dengan kehidupan. barisan awan membentuk pola gumpalan kapas-kapas putih berhias warna kelabu terasa berat oleh titik-titik air yang membentuk karena temperatur dingin memenuhi hamparan lautan angkasa yang membiru.
kota Poso perlahan menggeliat dari tidur malamnya yang nyenyak. berbagai jenis kendaraan bermotor mulai aktif menyusuri urat-urat jalanan berbalut aspal hitam, membawa pengendaranya menuju tempat kerjanya masing-masing.
seiring dengan itu toko-toko dan pusat perbelanjaan mulai beroperasi lagi. pasar mulai memamerkan keramaiannya oleh suara para pedagang yang menjajakan dagangannya bersahut-sahutan dengan para pembeli yang sedang menawar harga.
kantor-kantor pemerintahan kembali dipenuhi para aparat sipil negara yang tengah melaksanakan kewajibannya demi menuntut hak yang dia dapatkan dari pelaksanaan kewajiban tersebut. gedung-gedung sekolah telah lama dipenuhi siswa-siswa yang hendak menuntut ilmu.
nun disebuah rumah besar nan asri yang berada disisi jalan raya trans sulawesi yang melintasi desa Lawanga, duduk diberanda seorang gadis berusia 19 tahun, telah menamatkan pendidikannya disebuah sekolah negeri. gadis itu sedang asyik membaca majalah dan menelan habis seluruh informasi yang disuguhkan oleh lembaran-lembaran majalah tersebut.
sesekali tatapannya terarah ke depan menatapi beberapa kendaraan bermotor yang lalu lalang dijalanan. kemudian ia kembali melanjutkan rurinitasnya yang sempat tertunda.
seorang wanita parobaya muncul diberanda membawa sepiring kue panada dan segelas sirup untuk gadis itu. wanita itu meletakkan piring dan gelas tersebut dimeja dekat gadis itu sedang duduk membaca majalah.
"Minum dulu Aisyah, supaya segar kau beraktifitas." tegur wanita itu.
Aisyah mengangkat wajahnya lalu menyunggingkan senyumnya yang manis itu.
"Apa kau sudah bulatkan tekad mau kuliah di Gorontalo?" tanya wanita parobaya tersebut. Aisyah menjawab pertanyaan wanita itu dengan anggukan saja sambil tersenyum.
"Bibi sudah hubungi ayahmu. keinginanmu untuk melanjutkan kuliah ke Gorontalo, dia sangat senang mendengarnya."
Aisyah mencomot sebiji kue panada dan memakannya dengan pelan. "Beberapa hari lagi akan digelar UMPTN." kata gadis itu dengan semangat.
"Ya sudah... habiskan kue panada itu. sudah mulai dingin." kata wanita parobaya itu sambil tersenyum.
"Makasih.." jawab Aisyah sambil meletakkan majalah diatas meja dan mulai berkonsentrasi menghabiskan satu demi satu kue panada yang dibuat bibinya.
wanita parobaya itu hendak berbalik meninggalkan beranda ketika tangan Aisyah dengan sigap menggenggam pergelangan tangan wanita itu.
"Papa sudah menelpon?" tanya Aisyah.
"Belum.... mungkin dia lagi sibuk dengan pekerjaannya." kata wanita itu dengan lembut. "Biar bibi saja yang menghubunginya. sudah saatnya juga dia memperhatikan putrinya..."
setelah berkata demikian, wanita parobaya itu meninggalkan Aisyah sendirian di beranda.
Aisyah termenung sejenak lalu kembali mengambil majalah dan tenggelam dalam kesibukannya melahap segala informasi yang dituangkan dalam halaman demi halaman pada majalah tersebut.
...*******...
Aisyah duduk dikelilingi oleh beberapa sanak saudaranya. dihadapannya duduk sang bibi, kakak dari ibunya. disamping wanita itu duduk sang paman yang telah mengasuhnya bagai putri mereka. saat ini mereka berkumpul diruang keluarga.
didepan televisi terhampar permadani yang ditiduri oleh putri pasangan suami-istri tersebut bernama Halima, asyik menonton tayangan melodrama korea kesukaannya.
"Lima tahun telah berlalu...sebelum kau meninggalkan kediaman ini, ada baiknya kami akan menceritakan sebab, mengapa kau tinggal disini." kata pamannya.
"Kami hanya tidak mau kau berprasangka, kau tidak diinginkan disini." timpal bibinya dengan nada sendu, "Kami selalu menyayangimu.... tapi ini adalah kesepakatan yang sudah ditetapkan oleh kedua orang tuamu ketika mereka menyelesaika. urusannya di Pengadilan."
Aisyah mulai didera rasa penasaran. sebenarnya ia memang ingin tahu kronologis keberadaannya tinggal dengan keluarga dari pihak neneknya di Poso. mengapa ia tidak tinggal selamanya di Gorontalo. kebenaran itu harus diungkap.
__ADS_1
...******...
Gorontalo, 10 tahun yang lalu....
Aisyah adalah putri tunggal dari pasangan Adnan Lasantu dan Fitri Lasabang. kehidupan rumah tangga laki-istri itu begitu harmonis dan nyaris sempurna. keberadaan Aisyah yang lucu dan menggemaskan menambah kesempurnaan biduk rumah tangga pasangan tersebut.
kebahagiaan itu mulai terasa hambar ketika usia Aisyah beranjak 10 tahun.
seorang kawan kerja Adnan bernama Mariana mulai menunjukkan perhatian lebih kepada lelaki itu. keduanya terjerat dalam lingkaran perselingkuhan. Fitri sendiri mulai merasa sang suami tidak sehangat dulu, sering terlambat pulang, banyak alasan lembur kerja. tanpa setahu Fitri, Adnan menikahi Mariana secara siri.
kecemburuan mulai menggerogoti kepercayaan Fitri yang mulai goyah pada suaminya. ketidak hadiran Adnan selama sebulan tanpa kabar membuat wanita itu benar-benar merasa kacau dan kehilangan selera. isu-isu miring tentang kemesraan yang dipamerkan Adnan dan Mariana dikantornya membuat Fitri merencanakan sebuah cara untuk mengungkap kebenaran tersebut.
kecurigaan Fitri terjawab ketika tanpa sengaja ia memergoki Adnan dan Mariana yang berjalan dan bermesraan disebuah pusat perbelanjaan.
Fitri menguntit pasangan itu hingga ke rumah mereka. dan terkejutlah keduanya ketika menyadari Fitri telah mengetahui keberadaan mereka. Fitri berupaya mengendalikan emosinya. dengan senyum ia menyapa keduanya seakan tak terjadi apa-apa.
"Kau tak mengajakku masuk, mas?" pancing Fitri.
"Oh i-iya....s-silahkan masuk." kata Adnan dengan gagap. ia mempersilahkan masuk wanita yang pernah dicintainya itu. keduanya kemudian menjamu Fitri.
Mariana yang merasa bersalah, memilih tidak hadir dalam ruangan itu. ia mengunci diri di kamarnya.
"Kak... kenapa kaka tidak jujur sama ade." tanya Fitri disela-sela isakannya. "Apa susahnya bilang... kalau Kaka sudah bosan sama Ade... jangan main macam begini..."
(mas, kenapa kau tak jujur? apa susahnya kau katakan... kalau kau sudah bosan padaku... jangan perlakukan aku seperti ini....)
Fitri menyembunyikan wajahnya yang penuh air mata dengan kedua tangannya. sementara didalam kamar, Mariana juga manangis.
(ayah kan sudah tekankan sama kamu... kalau kau sudah bosan, ceraikan aku baik-baik... jangan kau siksa aku seperti ini... tidak kasihankah kau dengan putri kita, Aisyah?... dia terus-terusan memanggilmu... tak adakah terbetik dalam hatimu tentang kami barang semenit saja?)
Adnan seperti pesakitan yang menunggu vonis dari hakim. tak bicara bagai arca hidup. hanya menunduk tak kuasa menatap wajah Fitri. rasa bersalah yang besar lebih kuat menekan tengkuknya hingga tak mampu mengangkat wajahnya. lidahnya kelu.
"Ka... kalau memang Kaka sanang deng dia... nya apa... Fitri som mangalah... biar saja... yang penting Kaka sanang... nanti Fitri som bilang pa dorang keluarga... supaya baku bicara bae-bae... torang baku pisa bae-bae...mudah-mudahan cukup satu kali ini... torang tasala... insya Allah seterusnya...nya mo jadi bagini...:
(mas, kalau memang kau bahagia dengannya. aku terima. aku mengalah. biarlah, yang penting mas bahagia. biar keluarga besar diberitahu. kita akan bercerai baik-baik. cukuplah sekali ini kita berdua melukai hati masing-masing. insya Allah seterusnya tak akan lagi seperti ini...)
Fitri kemudian bangkit dan pamit meski melangkah dengan gontai karena berupaya terlihat kuat dihadapan lelaki yang telah meremukkan sumpah dalam akta pernikahan mereka, menoreh noda dalam kebahagiannya.
Adnan sendiri hanya bisa menangis. tak mampu ia bangkit walau sekedar menghalau kepergian istrinya, memohon maaf dengan berlutut dihadapannya. lelaki itu hanya diam disofa. menumpahkan tangisnya.
Mariana keluar dari kamarnya lalu menghambur kearah suaminya. keduanya bertangisan.
dipengadilan, Fitri menggugat cerai suaminya. berbagai cara dari pihak keluarga dan pihak ketiga, tidak mampu meluluhkan tembok besar yang sudah dibangun Fitri dalam hatinya. Adnan, nama itu kini tidak ada lagi dalam kenangannya. ia sudah dihapus tak bersisa.
pengadilan mengabulkan gugatan cerai Fitri. dengan itu secara resmi mereka bercerai. dalam hal pengasuhan Aisyah, pengadilan memutuskan bahwa Aisyah selama 5 tahun diasuh oleh keluarga Adnan, dan 5 tahun kemudian dikembalikan kepada keluarga Fitri. setelah masa 10 tahun, Aisyah diberi kebebasan untuk memutuskan dimana ia akan tinggal. 5 tahun berlalu dalam masa pengasuhan keluarga mantan suaminya, Fitri kemudian membawa putrinya ke Poso dan menitipkannya pada keluarga dari pihak neneknya.
Fitri kemudian membangun kembali kehidupannya. ia mencari penghidupan sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) bersertifikat. ia tidak memberitahu keluarganya, dimana ia tinggal sekarang. ia hanya rutin mengirimkan uang belanja bulanan untuk biaya kehidupan Aisyah yang sementara hidup dalam kepengasuhan keluarga besar istrinya itu.
...*******...
pasangan itu menyelesaikan kisahnya. makin trenyuhlah mereka menyaksikan gadis tersebut terus menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Sekali lagi... jangan berpikir kami tidak menyayangimu. namun inilah kesepakatannya." kata bibinya seraya membelai pundak Aisyah. "Kau sudah memutuskan melanjutkan pendidikanmu ke Gorontalo bukan? kau akan memperoleh kemudahan disana. mudah-mudahan ayahmu bisa membantu."
Aisyah lama termenung. pikirannya melayang berupaya menyalami cara berpikir kedua laki-istri dihadapannya. akhirnya wajah itu terangkat. setitik air bening membasahi pipi gadis itu.
"Dodoooo... kasian kau nak..." keluh sang bibi langsung memeluknya.
(aduh kasihan kau nak)
"Jika memang itu yang ditetapkan oleh negara kepadaku, aku akan mengikuti apa yang mereka inginkan." ujarnya berupaya tegar. kembali ia menghela napas, kembali juga pipinya kini menganak sungai oleh air mata.
"Ayahmu sudah memesan... kalau ia akan menjemputmu setibanya kau disana." pamannya mengeluarkan HP dan memperlihatkan pesan singkat yang tertulis pada layar sentuh gadget tersebut.
Aisyah sejenak mengambil HP itu dan memperhatikan isi pesan ayahnya, kemudian mengembalikan benda itu kepada pamannya.
"Kalau begitu saya akan berangkat besok." kata Aisyah sambil menyusutkan air matanya dan menatap kedua orang tua itu dengan tatapan yang tegar. "Kebetulan juga UMPTN akan segera diselenggarakan."
"Kami akan mempersiapkan apa-apa yang kau butuhkan nantinya." kata pamannya dengan nada enggan. berat nian ia hendak melepas ponakannya itu. Aisyah telah lama mengisi hari-hari mereka, menambah kegembirahan dan kegairahan dalam keluarga itu. kini kepergiannya akan benar-benar menjadikan kediaman itu menjadi sunyi bagai tak berpenghuni.
"Kalau begitu, Aisyah pamit ke kamar bibi... paman..." kata gadis itu lalu bangkit dan melangkah meninggalkan ruang keluarga. Halima, putri mereka ikut bangkit mengekori langkah Aisyah hingga gadis itu masuk ke kamar dan menutup pintunya. tak lama kemudian Halima kembali dan memandang kedua orang tuanya dengan kejengkelan yang luar biasa.
"Kiapa papa iyo akan tu mau om Adnan? Papa nya tau saya nya sanggup baku pisa dengan kakak?"
(mengapa ayah mengiyakan permintaan om adnan? tahukah ayah, aku tak sanggup berpisah dengan kakakku,?)
setelah melampiaskan kekesalannya, Halima yang juga tak sanggup mempertahankan ketegarannya berlari masuk ke kamar sambil menangis.
gadis tanggung itu membuka pintu kamar, mendapati Aisyah yang duduk ditepi ranjang sementara memunggunginya. Halima sadar Aisyah sedang menangisi dirinya sendiri. tak tahan dengan perasaan yang mengharu biru, Halima langsung menubruk dan memeluk Aisyah. keduanya tenggelam dalam tangis bersama-sama, menghabiskan waktu yang mulai beranjak larut.
...*******...
Aisyah menatapi bis berukuran besar yang di cat putih dengan garis biru. sebuah lambang roda ban yang dipasangi sayap yang terkembang tercetak pada badan bus itu. tulisan DAMRI terpampang disamping logo perusahaan angkutan itu.
hingar-bingar di terminal trans Poso sudah berlangsung sejak jam 7 pagi. Aisyah mengedarkan pandangannya. setidaknya merupakan kenangan bahwa ini adalah hari terakhirnya berada dikota itu.
deretan mobil-mobil angkut berjejer. sebagian dari mobil itu dipasangi sound system, memperdengarkan lagu-lagu populer yang didendangkan oleh para biduanita ternama. ada juga lainnya memperdengarkan musik non-stop berirama disco.
para kernet dan calo-calo angkutan berseru-seru mempromosikan pelayanan tiap jasa angkutan yang dilayaninya dengan imbalan beberapa lembar ribuan rupiah sekedar pembeli rokok maupun modal untuk main judi online.
Aisyah menghembuskan napas dengan pelan. dibelakangnya, kedua paman-bibinya menatapi punggung gadis itu ketika ia mulai mengangkat kaki menaiki tangga bus. Aisyah mencari nomor kursi yang akan didudukinya sesuai dengan nomor yang tertera pada karcis. ia mendapatkannya dan duduk dengan tenang disisi jendela.
"Kirimi kami kabar, sesampainya kau disana." pesan bibinya.
Aisyah mengangguk pelan sambil memperbaiki ransel dalam pelukannya. tak banyak barang dibawanya. hanya beberapa stel pakaian dan map berisi file-file penting untuk persiapan UMPTN.
pamannya merogoh kantung mengeluarkan dompet dan membukanya. ia mengeluarkan 5 lembar kertas merah bergambar Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta dengan nominal 100.000 rupiah. lelaki itu menyerahkannya ketangan Aisyah. gadis itu kembali mengangguk pelan dan menyimpan uang pemberian pamannya disaku celana jins nya.
"Salam sama Halima bibi..." kata Aisyah.
sang bibi hanya mengangguk, "Halima mengunci diri terus dikamar. dia belum rela kehilangan kamu."
sang paman berdiri dibelakang istrinya, tenggelam dalam kebisuannya. hanya sorot mata yang mengungkapkan sedalam apa rasa pedihnya harus berpisah dengan kemenakan yang sudah ia anggap bagai putri kandungnya.
namun ini adalah ketetapan yang telah dimaklumkan bersama. saat ini, mereka harus melepaskannya. suka atau tidak suka. rela atau tidak rela.
__ADS_1
penumpang telah banyak mengisi bangku-bangku kosong dalam bus. sang sopir yang tadinya asyik ngopi bareng teman-teman sopir kini naik ke dalam bus dan mulai menjalankan mesinnya.
tak berapa lama, bus itu mulai berjalan meninggalkan terminal transit kota Poso. Aisyah menyaksikan lambaian tangan terakhir dari bibinya. tak berapa lama bus mulai melaju dijalanan kota hingga beberapa saat kemudian bus itu meninggalkan kota Poso, membelah hamparan hijau hutan. hari mulai beranjak petang. perjalanan itu akan menghabiskan waktu sehari dua malam agar selamat sampai tujuan. []