Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 150


__ADS_3

Chiyome tak jadi membawa putranya. Mariana tentu tak mengijinkan cucu semata wayangnya dibawa-bawa meskipun itu oleh ibunya sendiri. Mariana terlanjur sayang berat dengan anak itu. dan itulah yang membuat Sandiaga (Saburo) menjadi badung.


"Sandi, ingatlah. seorang laki-laki, dilihat bukan dari ukuran besar ototnya atau tidak. tapi seorang laki-laki dilihat dari sejauhmana ia menepati janjinya pada seseorang! kau paham?" selalu begitu pesan Adnan kepada cucunya tersebut. Adnan menyayangi Sandiaga namun tidak seperti Mariana yang memanjakannya.


kebadungan Sandiaga bermula ketika ia diajari Aisyah dengan pelajaran sejarah kebudayaan islam. saat itu diruangan keluarga, ia dan suaminya yang memangku Sandiaga sedang menonton kisah jejak rasul disebuah channel televisi yang biasa menayangkan program edutainment.


"Sandi, Sandi tahu nggak siapa itu Lukman al-Hakim?" celetuk Aisyah tiba-tiba.


Sandiaga menggeleng, "Nggak tahu, Umi.." anak itu memang sering memanggil Aisyah dan Bakri dengan sebutan Abi dan Umi. itupun Aisyah yang sering menyebutnya sehingga Sandiaga latah dan menjadi kebiasaan menyebut keduanya dengan panggilan itu. Aisyah diam sejenak lalu kembali lagi menatap anak dalam pangkuan Bakri.


"Kalau Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasalam?" tanya Aisyah lagi. kali ini Sandiaga menggeleng dan mendecak.


"Ck... nggak tahu Umi" jawab Sandiaga dengan polosnya dan tetap menonton acara tersebut. anak itu merasa konsentrasinya terganggu.


Bakri tertawa, "Jangan ganggu dulu konsentrasinya, dia nggak bakal jawab pertanyaan kamu, sayang. lagian usianya masih belia. mana dia tahu semuanya?" ujar lelaki itu menggeleng-gelengkan kepala.


Aisyah menatap Sandiaga. "Aduh Uyong, gimana sih kamu. semuanya nggak tahu. sebentar lagi kan Mamamu mau masukin kamu ke playgroup. nah... apa Uyong nggak belajar?" tanya Aisyah dengan lembut.


"Sandi nggak belajar Umi." jawab Sandiaga dengan polos.


"Lalu apa masalahnya? kan tiap hari Umi sama Abi ngajak nonton kamu tayangan ini..." kata Aisyah menyinggung tontonan program edutainment religi yang sering mereka simak bersama. Sandiaga akhirnya menghela napas. sebenarnya ia kesal karena Aisyah terus bertanya. namun anak itu diajari agar tak membentak orang tuanya.


"Begini saja Umi..." desah Sandiaga lalu sejenak menerawang dan kembali menatap Aisyah. "Umi kenal nggak dengan Nella Aisyah Pankey?" pancing Sandiaga memicingkan mata.


"Nggak tuh... memang mereka itu siapa?" tanya Aisyah balik.


"Nah....bagaimana kalau... Licu Ka'nang?" tanya Sandiaga lagi.


Aisyah menggeleng lagi. "Memang siapa sih mereka?" tanya jilbaber itu penasaran.


"Naah tuh... sama dengan Umi..." celetuk Sandiaga, "Masing-masing kita kan punya kenalan...." ujarnya dengan tenang.


seketika Bakri tertawa sedangkan Aisyah harus memasang wajah masam melihat Sandiaga tanpa perduli kembali menonton tayangan berikutnya.


...*******...


hari itu di Regina Cafe & Bakery, Jalan M.T. Haryono, Ipilo.



Chiyome duduk menikmati mulai dari Nasi Goreng, Es Teler Durian dengan cemilan Gorengan Pisang Goroho. ia sedang menanti Saripah. setelah mengantarkan Kenzie ke bandara, dengan mengendarai Mac Laren Pirelli kuning itu, Chiyome kembali ke kota dan diperjalanan ia mengontak Saripah melalui perangkat NMT pada dashboard mobil.


🚘 "Halo? Ipah, kamu dimana?" tanya Chiyome.


📱"Saya dikantor. kukira kamu akan kemari." jawab Saripah.


🚘 "Nggak. aku tunggu kamu di Regina Cafe. kamu tahu letaknya kan?" ujar Chiyome.


📱"Oke, aku kesana sekarang." ujar Saripah.


sekarang sudah lima belas menit ia menunggu, Nasi Goreng sudah tandas dan sedikit lagi cemilan pisang goroho akan habis dikudap tanpa sadar karena terus menunggu orang yang belum kunjung datang.


Chiyome mengangkat pergelangan tangannya dan memperhatikan arloji yang melingkar disana. tangan satunya mengaduk es teler durian yang sudah mulai mencari serutan esnya.


untunglah Chiyome menatap jendela dan melihat sebuah bentor tiba dan berhenti. Saripah turun dari bentor itu dan menyerahkan dua lembar uang bergambar Frans Kaisepo. sejenak Saripah memandang Mc Laren kuning itu lalu melangkah memasuki gedung Regina.


ia menemukan Chiyome dan bergegas kesana lalu duduk didepan wanita bermata sipit itu. "Maafkan keterlambatanku. sebelumnya aku masih mensterilkan ruangan direktur dan menguncinya. aku memesan kepada ibu Dewinta agar menerima saja tamu dan bertindak sesuai koridornya sebab pak Bakri kelihatannya nggak masuk kantor."


"Ooh... berarti Kak Bakri absen ya?" kata Chiyome memeriksa agendanya.


"Kamu nggak ikuti suamimu?" celetuk Saripah kemudian ia memanggil pelayan dan memesan gorengan goroho dan minuman es campur.


"Kenapa?" tanya Chiyome kembali sembari menyendokkan kuah es durian ke mulutnya.

__ADS_1


"Kamu nggak ikut dengan suamimu?" tanya Saripah kembali. Chiyome menggeleng lalu menikmati kembali es duriannya.


"Hubby nggak minta, jadi aku nggak maksa." jawab Chiyome.


"Semestinya kau mengikutinya." kata Saripah, "Kemana suami pergi, disitu pula istri mendampingi." tegurnya. "Ini bukan bentuk kekuatiran kalau Kenzie mau selingkuh, bukan... tapi lebih kepada bentuk penguatan moral."


Saripah memperbaiki duduknya. "Kamu tahu nggak? lelaki itu, diluarnya saja kuat. tapi sebenarnya mereka keropos didalam. kita kaum wanita, masih bisa menahan kerinduan sampai batas 4 bulan... tapi lelaki? 3 hari saja mereka sudah nggak sanggup."


tak lama kemudian pelayan datang membawa nampan yang diatasnya terdapat sepiring cemilan pisang goroho dan semangkuk besar es campur. kedua hidangan ringan itu diletakkan di meja, setelah itu pelayan tersebut berlalu.


"Saranku, sekali ini kamu melakukan tindakan nusyus untuk mengantisipasi hal-hal jelek menimpa Kenzie. kamu masih ingat kan? betapa Puspita kemarin-kemarin selalu mencari cara menggoda Kenzie? puncaknya dia menelanjangi diri di hotel hanya untuk menggugah birahi suamimu." ungkit Saripah. "Untung saja Kenzie lelaki berpendirian kuat. coba kalau yang lain? nggak nyadar barang imitasi, pasti diembat juga."


ucapan Saripah barusan menerbitkan tawa wanita bermata sipit itu. Saripah mengangguk memperkuat asumsinya. "Eh, ini benar lho.... laki-laki itu, yang penting nyolot dilubang, langsung digenjot tuh."


"Secara tidak langsung, kamu menuduh Trias seperti itu juga." todong Chiyome.


Saripah tersedak dan makin diketawai Chiyome saat ia terbatuk-batuk dan menghabiskan segelas air putih. sesak napas gadis itu gara-gara ucapan Chiyome.


"Menghayati benar sih?" olok Chiyome.


Saripah menenangkan napasnya lalu menatap lagi Chiyome. "Ikuti saranku... cobalah..." kata Saripah dengan tegas.


"Kalau nanti aku dimarahi, gimana dong?" tanya Chiyome dengan ragu.


"Kamu tinggal minta maaf saja. gampang kan?" kata Saripah menegakkan tubuh menyandarkan punggungnya disandaran lalu mencomot sebuah pisang goroho dan mengunyahnya.


Chiyome menggigit-gigit bibirnya. mata sipitnya menatapi Saripah dan piring berisi pisang goroho itu bergantian. akhirnya Chiyome berdecak kesal campur cemas.


"Kamu bikin aku jadi nggak tenang nih!" omel Chiyome.


Saripah mengembangkan tangan. "Ini hanya saran seorang teman. that's your ops... take it or leave it..." ujarnya.


kalimat barusan membuat Chiyome terprovokasi. wanita otu menghabiskan air esnya dan meraih dompet lalu mengeluarkan selembaran uang lima puluh ribuan dan meletakkannya di meja. wanita itu kemudian berdiri.


"Kamu mau ikut nggak?" tanya Chiyome.


"Lho? kamu kan bodyguard pribadiku. gimana sih?" omel Chiyome.


"Sori Chiyo. bukan bermaksud membantah." ujar Saripah dengan senyum. "Keberadaanku disana hanya akan menjadi obat pembunuh nyamuk dan pastinya aku akan baperan melihat kamu dan Kenzie mesra-mesraan dihadapanku."


Chiyome menggeram lalu pergi meninggalkan Saripah yabg tersenyum-senyum sendiri. tak la gadis itu tersadar dan langsung mengejar Chiyome yang sudah keburu masuk kedalam Mc Laren P1kuning itu.


"Hei, makananku dibayarin juga kan?" serunya.


namun mobil kuning mewah itu terlanjur keluar dari parkiran dan melaju meninggalkan area kafe. Saripah masuk lagi kedalam sambil menggerutu.


"Sialan... aku nggak bawa uang lebih..." omelnya pelan.


diraihnya lembar daftar menu dan meneliti harga hidangan yang tertera disana. ia kemudian menatap lembaran uang lima puluh ribuan lalu mendesah lega.


"Ahhh.... alhamdulillah... memang Chiyo, biar pemarah masih juga mikiri perut orang lain... ah memang is the best itu orang." puji Saripah dan kembali menghabiskan hidangannya dengan tenang.


...*******...


pesawat komersial yang ditumpangi Kenzie tiba di bandara Soekarno-Hatta pada pukul 18.00 WIB (6 petang). lelaki itu menyusuri bangunan dan ternyata ada dikerumunan ada seseorang yang mengangkat sebuah papan bertuliskan namanya dan jabatannya.


Kenzie melangkah tenang mendekati orang itu. si lelaki itu menatapnya dan menurunkan papan. "Anda, Kenzie Lasantu? CEO Buana Asparaga.Tbk?" tanya lelaki itu.


"Ya, saya." jawab Kenzie.


"Silahkan pak." ujar lelaki itu. "Saya dari Trans Luxury diperintahkan oleh panitia untuk menjemput bapak." tambahnya.


Kenzie mengamati seragam lelaki itu. sebuah logo perusahaan Trans Luxury tersemat didada kirinya. "Baiklah... Abadi... antarkan aku segera." ujar Kenzie melihat nama pada papan nama lelaki tersebut.

__ADS_1


lelaki itu memandu Kenzie yang menenteng kopor melintasi kerumunan para pengunjung dan penumpang yang memadati ruangan luas pada bandara tersebut. berkat panduan lelaki itu, keduanya tiba didepan. disana ada sebuah mobil travel yang telah menanti mereka.


"Silahkan pak." ujar lelaki itu membuka pintu belakang mobil. Kenzie masuk kedalam sedang kopornya dibawa oleh lelaki itu ke bagasi belakang. setelah itu si lelaki beranjak masuk kedalam mobil, duduk di kursi kemudi.


"Bisa berapa cepat kamu ngebut?" pancing Kenzie.


"Wah, saya malu pak." ujar lelaki itu sambil menjalankan mesin mobil dan mulai mengemudikan kendaraan twrsebut keluar dari kompleks bandara.


"Malu kenapa?" pancing Kenzie.


"Wah... saya kuatir tuan nggak akan kuat dengan saya." jawab Abadi.


"Nggak kuat gimana? memang kamu bisa seberapa cepat sih?" pancing Kenzie.


"Asal bapak jangan salahkan saya." pinta Abadi, "Saya ini hanya rakyat kecil yang mencari rejeki dengan mengemudi. kalau bapak kenapa-napa gara-gara saya, kan saya bisa dipecat pak."


Kenzie tersenyum jahil. "Coba, tunjukkan secepat apa kamu." tantangnya. "Kalau kamu bisa membawaku keluar dari Jakarta menuju Bandung hanya dalam waktu 1 jam, aku kasih kamu bonus!"


Abadi kaget dan menatap Kenzie lewat kaca spion. "Ini benaran Pak?"


"Iya..." jawab Kenzie memperlihatkan kartu kreditnya. "Saya kasih bonus lima juta!"


tergiur tantangan berhadiah yang ditawarkan Kenzie. lelaki itu langsung menginjak pedal gas hingga kendaraan yang dikemudikannya langsung melaju dan melesat dijalanan yang penuh dengan kendaraan yang lalu lalang. bahkan gilanya, si lelaki itu melakukan manuver gila-gilaan, menyalip mobil-mobil yang dilewatinya. hebatnya, meski kendaraan itu melaju diatas 289 Km/jam, namun sang sopir tenang-tenang saja. bahkan ia masih sempat-sempatnya mengupil dengan santainya.


...*****...


Chiyome benar-benar dilanda ketidak tenangan. apalagi hingga jarum jam menunjukkan pukul 10 malam, samg suami belum juga menghubunginya. ucapan Saripah benar-benar merasuk dalam benaknya.


Mariana melihat jelas mimik anak menantunya itu. wanita itu memberanikan diri bertanya, "Kenapa Nou? ada sesuatu yang merisaukan kamu?"


Chiyome menatap mertuanya. ia terpaksa menerbitkan senyum lalu menggeleng pelan dan pura-pura serius menatap layar televisi, menonton tayangan On The Spot. namun Mariana adalah seorang ibu. ia sudah berpengalaman membaca raut wajah. serapi apapun Chiyome menyamarkan kegundahannya, tetap saja terdeteksi oleh wanita itu.


"Kamu merindukan Ken-ken?" tebak Mariana lagi.


Chiyome kembali menatap kedua mertuanya. Adnan juga memperhatikan anak mantunya itu. terpaksa Chiyome kembali mengangguk pelan. Mariana tersenyum lalu maju merengkuh mesra menantu kesayangannya itu.


"Sudah.... tenang saja. mungkin Kenzie masih dalam perjalanan menuju tempat tujuan." ujar Mariana menghibur.


"Ya dihubungi saja." usul Adnan, "Supaya rasa rindu terobati." goda lelaki itu.


"Papa... jangan usili Adek dong." tegur Mariana.


Adnan mengangkat tangan dan kembali menonton tayangan itu sambil tetap tersenyum. Chiyome menyadari sesuatu.


"Loh? Sandiaga mana?" tanya Chiyome.


"Oo... sudah ditidurkan Aisyah." ujar Mariana kemudian menunjuk jarum jam yang menunjukkan pukul 11 malam. "Anak itu, seperti biasanya... pinginnya tidur bersama Aisyah dan Bakri. kenapa ya?"


"Uhm... Kak Ais dan Kak Bakri selalu memanjakannya." jawab Chiyome dengan kesal. "Anak itu, semuda itu dia sudah pandai menjilat orang. bagaimana kalau sudah besar nanti?" omelnya lagi.


Adnan tertawa pelan. "Mirip Kenzie masih kecil. maunya tidur dengan neneknya. Mamanya saja sampai stres. Kenzie nggak akan pernah tidur dan bermain jika bukan bersama Nenek dan mendiang kakeknya."


Chiyome membulatkan mata sipitnya. "Berarti kelakuan Hubby nyantol di Sandiaga ya?" wanita itu kemudian tersenyum."Biar deh kalau begitu.... ahhh... dasar, buah nggak jatuh jauh dari pohonnya..."


"Ya sudah.... istirahat saja sana. wajah Adek tuh kelihatan letih sejak pulang tadi. memang lagi ngelayap kemana sih, pulangnya nanti jam 9 malam begini?" selidik Adnan.


"Lagi ngobrol sama Ipah di Cafe Regina..." jawab Chiyome. ia kemudian menatap ayah mertuanya. "Papa... Kenapa Kak Bakri nggak masuk kerja?"


"Ooo... Bakri nggak masuk kerja karena sedang mempersiapkan sebuah eksplorasi baru. ini menjanjikan dan harus diambil peluangnya oleh Bakri." jawab Adnan.


"Memang proyek apa sih Pah?" tanya Chiyome.


"Masih sementara dirundingkan dengan kaum politisi dan pejabat ditingkat DPRD kota Gorontalo." jawab Adnan.

__ADS_1


Chiyome mengangguk-angguk kemudian bangkit. "Ma.. Pa... Adek ke kamar dulu ya." ujarnya pamit.


Chiyome melangkah menuju kamar dan mengunci diri didalam. benaknya kembali memutar memori percakapan Saripah dengannya di Cafe Regina beberapa jam lalu. akhirnya setelah menimbang dan menghitung tiap resiko yang ada, Chiyome memutuskan untuk menyusul Kenzie esoknya. bagaimana pun, rasa penasaran dalam benaknya harus terjawab sepenuhnya. []


__ADS_2