
pernikahan Aisyah dengan Bakri berjalan dengan sebaik-baiknya. Bapu Ridhwan dan Adnan memastikan pernikahan putrinya tak memiliki masalah, sekecil apapun. sementara Fitri juga bersama-sama Mariana mempersiapkan dengan sangat apik apa yang menjadi kebutuhan dalam pernikahan itu.
para pemangku adat dan para ulama yang diundang menyelenggarakan upacara pernikahan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi profesionalismenya. seorang penghulu duduk bersila menjulurkan tangannya, begitu juga dengan Bakri. ujung jempolnya ditekan oleh penghulu itu. ia memulai akadnya.
penghulu itu membacakan dua kalimat syahadat dan sholawat kepada Nabi Muhammad saw, penghulu itu mulai mengucap ijab.
"Bakri! Bakri! Bakri!" seru penghulu tersebut. "Aku nikahkan engkau dengan putri dari Bapak Adnan Lasantu bernama Aisyah Fatriana binti Adnan Lasantu dengan seperangkat alat sholat. dengan ini, maka anakda Aisyah Fatriana binti Adnan Lasantu telah sah menjadi istrimu. apakah kau terima nikahnya?!" penghulu itu menekan ujung jempol Bakri dan menggoyangnya dengan keras.
"Aku terima nikahnya Aisyah Fatriana binti Adnan Lasantu dengan mahar seperangkat alat sholat tersebut tunai!" balas Bakri mengucapkan qabulnya.
penghulu memandang para hadirin, "Sah?!"
"Saaaahhhhh..." seru para hadirin kompak.
sementara Aisyah dibacakan ijab pula oleh seorang penghulu dengan sehelai kain sarung yang ujungnya dipegang penghulu tersebut sedang ujung lainnya dipegang oleh Aisyah yang mengenakan pakaian adat dibalut sarung.
semua kemudian mengangkat tangan dan berdoa memohon keberkahan bagi kedua mempelai. Kameie tersenyum dengan haru sementara Adnan tersenyum puas. adapun Fitri dan Mariana kompak mengalirkan air mata dan menyelanya dengan sapu tangan.
Bakri kemudian dituntun oleh penghulu melangkah menuju kamar dimana Aisyah duduk disisi ranjang. wanita itu menunduk sejenak lalu mengangkat wajahnya. Bakri menempelkan jempolnya ke dahi Aisyah agak lama.
setelah itu keduanya bersanding diatas ranjang itu, dipotret oleh beberapa anggota keluarga dengan menggunakan kamera dan gawai.
setelah itu acara dilanjutkan dengan makan bersama. para undangan menikmati hidangan yang dipersiapkan oleh tuannya pesta. beberapa hidangan tradisional dan moderen tersaji bersama dimeja makan yang mengular panjang itu.
Kameie sendiri menikmati berbagai sajian itu. ia mengakui betapa banyak rasa yang tersaji disana, unik dan lain dengan hidangan yang biasa dikonsumsinya di Shiga.
acara selanjutnya setelah jamuan siang itu adalah penutup. para tamu menyalami mempelai yang telah duduk bersanding di pu'ade, ditemani anggota keluarga. dengab ramah Bakri menyalami mereka semua.
acara pada hari itu berjalan lancar dan penuh hikmat.
...*******...
kediaman Mantulangi, Suwawa, pukul 20.00 WITA.
acara hanya berlangsung siang hari. itu sudah kesepakatan dari dua keluarga. lagipula dalam pikiran Adnan, menyelamatkan Aisyah dalam perlindungan Bakri adalah hal yang utama. sekarang hal itu telah tercapai.
Kameie dan Fitri telah kembali bersama Kenzie dan Chiyome ke kediaman Lasantu, namun Adnan dan Mariana masih tetap tinggal di Kediaman Mantulangi selama dua hari hingga akhirnya kedua bulenditi itu akan menempati rumah perusahaan.
Bakri menolak hadiah rumah dari Adnan, karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya. Adnan menerima hal itu dengan lapang dada karena ia juga sadar bahwa Aisyah sekarang bukan lagi berada dalam penanggungannya lagi.
Bakri hanya meminta jasa pengawalan karena ia yakin bagaimanapun Stefan tidak rela akan itu. lelaki itu meskipun telah bangkrut, namun tetap saja punya niat yang tak baik terhadap Aisyah.
Adnan menyanggupi. ia memerintahkan 20 orang pengawal pilihan untuk memastikan keselamatan kedua laki-istri itu, terutama Aisyah.
malam itu di beranda, dua lelaki itu bercengkerama, Bakri yang kini telah masuk dalam lingkar dalam keluarga Lasantu mendapat tempat tersendiri dibenak Adnan. diberanda rumah itu, ditemani oleh dua gelas besar kopi torabika dan sepiring kue brownies, mereka mempercakapkan hal tentang masa depan.
"Kelak, kau akan jadi orang nomor dua di Buana Asparaga.Tbk menemani putraku dalam mengendalikan perusahaan ini." ujar Adnan sembari menyeruput sedikit air kopi tersebut.
"Saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya, Pah." jawab Bakri dengan santun.
Adnan mengangguk. "Aku sebenarnya sudah lama ingin pensiun. kurasa, inilah saatnya." lelaki itu mencomot kue brownies dan mencicipinya. "Kelak setelah dua hari kalian menikmati libur, aku akan mengadakan rapat direksi dan akan mengumumkan pengunduran diriku."
"Apakah itu tidak akan berimbas pada statistik perusahaan? para investor mungkin akan keberatan dengan pengunduran diri Papa." ungkap Bakri.
"Iklim itu pasti akan datang. namun, itu hal yang lumrah... itu sunnatullah... setiap perubahan pasti akan menyebabkan disequilibrum sehingga perlu diadakan penanganan yang sebaik-baiknya." ujar Adnan kemudian menampar lembit pundak Adnan, "Dan itu tugas kalian berdua, bagaimana meyakinkan investor agar tetap bersama-sama kita dalam membangun perusahaan."
"Apakah Kenzie sudah mengetahui hal ini?" pancing Bakri.
"Dia tahu atau nggak, itu bukan masalahnya. Kenzie dengan bakat otodidaknya sudah mampu membaca iklim dan bisa memprediksi segala sesuatunya. apalagi disisinya ada Chiyome. sangat klop! kalian bertiga adalah aset berharga perusahaan." jawab Adnan.
"Aku sempat membaca berita di Octa FX, Papa memborong semua saham dari perusahaan Muara Jaya dan memaksa perusahaan tersebut menjadi anak perusahaan Buana Asparaga.Tbk, apa benar?" pancing Bakri.
"Kamu tahu, milik siapa perusahaan itu?" balas Adnan memancing.
Bakri mengerutkan dahinya. "Stefan?" tebaknya.
SNAP!!!
Adnan menjentikkan jarinya. "Benar..."
"Papa melakukan pembobolan?" tanya Bakri.
"Bukan aku, tapi Kenzie." jawab Adnan, "Lalu dia mengirimkan pasukan dan menghancurkan lumbung-lumbung logistik mereka hingga dalam semalam jumlah poin saham Muara Jaya mengalami kritik penurunan 88 persen hingga terancam pailit."
"Lalu dia menghubungi Papa untuk segera mengakuisisi perusahaan itu." tebak Bakri lagi.
__ADS_1
"Cerdas..." puji Adnan.
"Tapi, bukankah tindakan fisik tersebut akan memancing aparat berwenang untuk bertindak?" ujar Bakri.
"Iya. tapi aku langsung menampol mulut-mulut rakus mereka agar jinak dan tak mempersalahkan diri sendiri." jawab Adnan dengan tersenyum.
"Papa sadis juga ya?" sindir Bakri.
"Sadis sih nggak, hanya memberikan pelajaran supaya jangan macam-macam dengan keluarga Lasantu." jawab Adnan dengan enteng.
"Apakah Stefan akan tetap menjadi pimpinan anak perusahaan itu?" tanya Bakri.
"Nggak. dia nggak punya apa-apa lagi sekarang. saham yang dimiliki keluarganya hanya tinggal 22 persen saja. itupun, mungkin sudah dibeli pula oleh pialang-pialang saham lainnya." jawab Adnan kemudian menatap Bakri. "Kedepan, setelah perusahaan itu selesai melakukan revitalisasi finansial mereka, kau yang akan kutempatkan di perusahaan itu."
"Aku merasakan firasat buruk tentang itu." ujar Bakri dengan wajah yang tak tenang.
"Mengapa? kau takut Stefan akan melakukan segala cara untuk merebut kembali miliknya?" pancing Adnan membuat Bakri mengangguk. Adnan menggeleng, "Nggak akan. anak itu dan keluarganya sudah tamat. mereka kubiarkan hidup dari sisa saham karena aku nggak suka memotong leher orang kendatipun mereka pernah melakukan kesalahan terhadap keluargaku. tapi, jika mereka berniat hendak mengkonsolidasikan sumber daya mereka, kurasa sama dengan melangkah dihamparan awan."
"Semoga saja begitu." ujar Bakri dengan pelan.
Adnan tertawa, "Sudahlah. jangan dipikirkan. sekarang tugasmu adalah membahagiakan Aisyah agar ia tak terkurung dalam memori masa lalunya."
Bakri hanya tersenyum datar. Adnan bangkit lalu meraih gelas tinggi yang masih berisi air kopi. ia menatap Bakri.
"Papa kedalam dulu ya?" ujar Adnan.
"Silahkan Pa. saya masih ingin disini." ujar Bakri.
Adnan mengangguk lalu melangkah meninggalkan beranda. tak lama kemudian Aisyah muncul. diwajahnya masih ada sisa-sisa bekas make-up tadi siang. wanita itu duduk disisi Bakri.
"Suamiku lagi melamun apa?" tanya Aisyah dengan senyum menatap Bakri.
Bakri menoleh menatapi istrinya, "Nggak, aku hanya ingin meresapi kebahagiaan malam ini."
"Kebahagiaan?" gumam Aisyah menautkan alisnya namun wanita itu tersenyum.
"Iya, meresapi kebahagiaan... aku baru saja melantikmu menjadi permaisuri dalam kehidupanku." jawab Bakri membuat Aisyah tersipu dan tersenyum senang.
Aisyah menatap langit malam. "Wah langitnya cerah ya?" ujarnya menunjuk gemerlapan konstelasi-konstelasi bintang yang bertaburan bagai manik-manik yang memancarkan cahaya berkelipan.
Bakri ikut menatap angkasa malam dan menghembuskan napasnya dengan pelan. Aisyah menatap lelaki disisinya. ada yang beres kelihatannya.
"Kamu menyesal?" tanya Aisyah tiba-tiba.
"Menyesal gimana?" Bakri balik bertanya menatap Aisyah dengan alis bertaut.
sejenak Aisyah menarik napas lalu menghembuskannya dengan pelan, dan melanjutkan bicaranya. "Kau menyesal... karena aku bukan perawan?" tanya wanita itu dengan lirih.
Bakri menoleh lalu mengisyaratkan Aisyah mendekat. wanita itu mendekatkan wajahnya.
BLETAKKK.... AUGHHH....
Bakri tiba-tiba menjitak dahi Aisyah membuat wanita itu mengaduh dan menekan pelipisnya dengan tangan.
"Sakit tau!" semburnya.
"Dasar nggak punya pikiran kalau ngomong." gerutu Bakri.
"Lalu, kenapa kok diam saja dari tadi?!" sembur Aisyah dengan kesal.
"Kamu pikir, aku nikahi kamu karena perawanmu itu?! asbun benar lidahmu ya?!" sindir Bakri.
Aisyah membalikkan tubuhnya membelakangi Bakri. wanita itu sebal. Bakri menahan tawa lalu mencolek pinggang Aisyah hingga wanita itu terlonjak.
"Isssyyyy.... apaan sih?!" geram Aisyah tiba-tiba berbalik dan memukul dada Bakri dengan kuat. Bakri membiarkan tangan kecil istrinya meninju dadanya sekuat emosinya.
"Menghadaplah kepadaku." pinta Bakri.
"Ogah!!!" ujar Aisyah dengan ketus.
Bakri tersenyum dan berdiri. tiba-tiba lelaki itu meraih tubuh istrinya dan memondongnya gaya bridal. Aisyah mulanya terkejut lalu meronta meskipun tanpa suara. namun pondongan itu terlalu teguh hingga Aisyah tak mampu melepaskan dirinya. akhirnya wanita itu hanya menyembunyikan wajahnya dalam pondongan itu. Bakri membawanya ke kamar.
Aisyah kemudian di dudukkan disisi ranjang. wanita itu kembali memberenggut dan memunggungi Bakri. lelaki itu tersenyum dan mencolek lagi dagu Aisyah dari belakang.
semula Aisyah meronta membuang wajahnya kesamping. Bakri menggeram lalu menarik tubuh Aisyah hingga ia terbaring telentang diranjang. Bakri mengepung tubuh wanita itu dengan keempat tungkai tubuhnya yang menjejak permukaan rantai.
__ADS_1
"Katakan padaku Aisyah.... apakah kau mencintaiku?" tanya Bakri dengan lembut.
Aisyah menatapnya lama dan akhirnya ia mengangguk. Bakri tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Kamu nggak keberatan, aku menagih hakku sekarang?" tanya Bakri dengan lembut.
"Jangan sakiti aku." pinta Aisyah memelas.
Bakri tersenyum. "Aku tak akan menyakiti wanita yang kucintai. tapi jika kau masih merasa trauma akan kejadian itu. aku tak akan memaksa. aku bisa menagihnya lain kali."
Bakri baru saja hendak beranjak ketika tangan Aisyah memegangnya. Bakri menatapi istrinya dan mengangkat alis.
"Masuki diriku.... sekarang..." pinta Aisyah pada akhirnya.
...********...
Chiyome membelai dada bidang suaminya. keduanya tiduran telanjang tanpa selimut menutupi tubuh mereka yang mengkilap akibat peluh yang membanjir karena melakukan persetubuhan sebanyak lima kali dalam sekali tempur. wanita itu beberapa kali mengalami multi orgasme dalam permainan itu. desah napas mereka meskipun pelan masih tak beraturan tarikannya.
"Hubby..." panggil Chiyome disela napasnya yang masih memburu pelan.
Kenzie menoleh menatapi istrinya yang juga menatapnya. "Kenapa Wiffy?"
"Menurut Hubby.... Kak Ais sudah bahagia sekarang?" tanya Chiyome dengan sangsi.
Kenzie tersenyum, "Tentu... dia menikahi lelaki yang mencintainya."
"Tapi... Wiffy kok masih kuatir ya?" gumam Chiyome.
"Kuatirnya dimana?" tanya Kenzie.
"Apakah Stefan tidak akan mengganggu mereka lagi?" tanya Chiyome.
"Itu akan kita lihat nanti." jawab Kenzie sambil membelai rambut Chiyome dengan pelan. "Aku hanya berharap, tidak ada lagi masalah dalam keluarga ini."
"Wiffy akan tetap melakukan pemantauan." ungkap Chiyome.
"Hubby juga akan melakukannya. yang jelas, tugas kita yang satunya belum selesai." ujar Kenzie.
"Tugas yang mana, Hubby?" tanya Chiyome.
"Lho? sudah lupa? itu lho, menyelidiki si Puspita." jawab Kenzie.
"Ah ya.... Wiffy ada firasat untuk itu." ujar Chiyome.
"Apa?" tanya Kenzie.
"Kelihatannya, kunci jawabannya ada pada kepala Administrasi dan Tata Usaha SMUN 3, Hubby." ujar Chiyome.
"Kayak Ujian Nasional saja pake kunci jawaban." olok Kenzie tertawa, "Menurut Wiffy, orang itu mencurigakan?"
Chiyome mengangguk, "Instingnya Wiffy yang bicara."
Kenzie lama terdiam. pikirannya menjelajah ke hari yang mana mereka mencari tahu tentang Puspita. Kenzie memang tidak memperhatikan terlalu dalam perilaku orang itu. akhirnya Kenzie mengangguk.
"Kita akan melakukannya bersama lagi, kali ini?" pancing Kenzie.
"Tentu dong, tapi bagi tugas." kata Chiyome.
"Wiffy hubungi Tangan Ketiga. bobol sistim informasi SMUN 3. kita akan melakukan cocoklogi wajah-wajah semua orang di sekolah itu. pasti ada diantara alumni yang wajahnya mendekati wajah Puspita." ujar Chiyome.
"Terus Wiffy?" ujar Kenzie.
"Wiffy akan menculik orang itu dan menginterogasinya, swsuai dengan kemampuan Wiffy." ujar Chiyome.
"Wiffy nggak akan membunuh orang itu, kan?" tanya Kenzie dengan kuatir.
"Ya, nggaklah Hubby." jawab Wiffy. "Tapi, sedikit menyiksanya, boleh, kan Hubby?" rengeknya.
Kenzie kembali lama terdiam menimbang-nimbang. akhirnya lelaki itu mengangguk.
"Ada syaratnya..." ujar Kenzie dengan senyum.
"Apa?" tanya Chiyome.
"Main lagi, yuk?" ajak Kenzie sambil meremas payudara istrinya.
__ADS_1
Chiyome tertawa, "Kalau itu syaratnya, ayo mah...".
dan mereka pun kembali bertanding dalam dalam pergumulan itu. []