Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 141


__ADS_3

Kenzie benar-benar mengimplementasikan perkataannya kedalam kenyataan. ia berupaya mewujudkan suatu keinginan yang lama ia pendam sejak penyekapannya, dan itu ia nyatakan kepada Chiyome pada saat palu sidang Pengadilan Negeri Gorontalo mengetok kebebasannya.


mereka melakukan tamasya ke Pohuwato, menikmati indahnya pantai Molombunae yang bisa digunakan untuk menyelam menikmati indahnya terumbu karang. setelah seharian memuaskan diri menyelami lautan di Molombunae, Kenzie mengajak Chiyome mengunjungi Kediaman Bobihu di desa Buntulia Tengah.


"Ah, kamu datang nggak ngasih tahu. jadinya kami nggak punya persiapan." omel Kartono.


Kenzie tertawa, "Nggak apa-apa. ini juga dadakan. nggak ada rencana cuma ingin refreshing doang." jawab lelaki itu.


Kartono tersenyum, "Ayo masuk..." ajaknya sambil meraih carel milik Kenzie dan membawanya kedalam.


suami istri itu melangkah masuk lalu duduk disofa ruang tamu itu. sementara Azizah muncul dari ruang tengah membawa dua gelas tinggi sirup jeruk dan meletakkannya di meja itu.


"Silahkan nak, mumpung siang gerah, habiskan orson nya ya?" ujar Azizah dengan senyum.


"Orson???" gumam Chiyome dengan heran. baru kali ini ia mendengar istilah itu.


"Iya, orson... minumlah.." ujar Azizah menunjuk gelas berisi sirup jeruk itu.


Chiyome mengangkat gelas dan meminumnya. lho? ini kan sirup jeruk. kenapa manggilnya orson???


Kartono terkekeh. "Aku paham mengapa kamu merasa asing dengan istilah itu. kata itu merupakan istilah umum yang merujuk pada sirup jeruk. kemungkinannya itu merupakan translate salah dengar moyang kita terhadap gaya pengucapan orang-orang nederlinder saat menyebut orange juice dengan lidah pekat mereka sehingga kedengaran menjadi orenson... sehingga moyang kita menjadi latah dan menyebut lemonade sebagai orson."


Chiyome terkekeh merasa geli. "Lucu ya, istilahnya..."


"Kalian mau berapa lama disini? kalau mau lama sebulan, nanti Om ajak keliling Pohuwato, kita lihat obyek wisata. gimana?" usul Kartono.


Kenzie dan Chiyome saling memandang. Kenzie mengangkat ali. Wiffy mau nggak? sekalian melampiaskan rindu... sebulan kita nggak ketemu...


Chiyome tersenyum, Oke deh Hubby... asalkan Hubby senang, Wiffy lakuin deh.


Kenzie menatap Kartono. "Kami nginap sebulan boleh Om?" tanya lelaki itu.


Kartono tertawa, "Bahkan nginap setahun juga nggak apa-apa. ini kan keluargamu juga."


"Kalian tidur dikamar depan ya?" kata Azizah.


"Iya Tante." jawab Kenzie membungkuk sopan dan tersenyum.


"Eh, nggak boleh sebut tante. kalian berdua sebut saja kami Umi dan Abi. bisa kan?" kata Azizah dengan senyum.


"Iya Umi..." jawab Kenzie memperbaharui panggilan terhadap bibinya itu.


Azizah mengangguk dan tersenyum. wanita itu berdiri, "Umi lagi persiapkan makan siang. istirahatlah menyegarkan diri." kata Azizah.


"Makasih Umi. kalau begitu kami permisi ke kamar." ujar Kenzie bangkit dan mengajak Chiyome. dengan menyeret carel itu mereka berdua masuk kedalam kamar.


mereka menatapi ruangan yang tertata rapi. Kenzie meletakkan Carel disisi ruangan dan menaiki ranjang dari spring bed itu. ia menatap Chiyome.


"Wiffy lelah kan? istirahat dulu. tutup pintunya." kata Kenzie.


Chiyome menutup pintu dan menyalakan kipas angin, kemudian melangkah duduk disisi ranjang.


"Kenapa Wiffy? kayaknya ada yang dipikirkan?" tanya Kenzie.


"Apa nggak masalah meninggalkan pekerjaan selama sebulan?" tanya Chiyome balik.


"Kita kan cuti, Wiffy. Hubby sudah hubungi Papa... nanti sebulan Kak Bakri yang handle pekerjaan Hubby sementara kita cuti." jawab Kenzie kemudian memegang tangan Chiyome dengan lembut. "Pokoknya seperti janji Hubby. kita akan menggantikan waktu yang dirampas dari kita selama sebulan."


Chiyome tersenyum lalu mengangguk. "Oke deh Hubby..."


Kenzie ikut tersenyum namun kali ini senyumannya nakal dan menggoda. Chiyome kembali tersenyum. ia tahu arti senyuman itu.


direbahkan dirinya disisi Kenzie dan menyamping menatap wajah yang selalu menghiasi mimpinya selama sebulan dalam penyekapan itu. wajah itu agak tirus namun tak mengurangi ketampanan lelaki itu. jemari lentik wanita itu terulur menjamah pipi suaminya.


"Apa yang dilakukan perempuan palsu itu hingga membuat suamiku menderita?" desis lirih Chiyome.


mendengar ungkapan itu, Kenzie tanpa sadar mengalirkan airmata, teringat akan tindakan pelecehan yang dilakukan Puspita berulang kali. Kenzie sendiri sudah tak mampu menghitungnya. ia benar-benar merasa kotor dalam penyekapan itu. Puspita benar-benar bukan manusia. makhluk itu adalah monster.


Kenzie memalingkan wajah pelan ke arah lain. Chiyome kemudian berinisiatif menindih tubuh kekar suaminya dengan tubuhnya.


"Maaf jika kataku barusan menyinggung perasaan Hubby." ujar Chiyome dengan lembut.


Kenzie menatap istrinya, "Apa Wiffy masih menerima tubuh kotor yang sudah tercemar ini?"

__ADS_1


Chiyome menekan telunjuknya ke bibir Kenzie. "Itu hanya seonggok tubuh Hubby. biarlah dia menikmatinya. dan dia sudah mendapatkan karmanya. Wiffy bersyukur... dia tidak mengambil hati Hubby... itulah yang membuat Wiffy tetap mencintai Hubby... seperti biasanya." ujar Chiyome dengan lembut.


makin deras airmata yang membanjiri kelopak mata dan pipi lelaki itu. "Tapi.... dia telah mengotori kehormatan dan harga diri Hubby... dia telah mencabik pagar ayu kita berdua... Hubby merasa...."


"Ssstttt.... sudahlah Hubby... kalau hanya untuk membersihkan tubuh Hubby dari kotoran.... Wiffy ahlinya.." ujar Chiyome dengan senyum nakal.


dengan pelan nan pasti wanita itu membuka kemeja dan menggerayangi tubuh suaminya. desah napas Chiyome begitu dirasakan Kenzie dan lelaki itu menggeliat. hingga akhirnya wajah Chiyome mendekat dan mendekati wajah Kenzie lalu bibir keduanya mulai merapat dan memulao permainan olah bibir bercampur liukan lidah dalam relung liang mulut.


permainan itu makin memanas dan keduanya memasuki fase inti dimana tanpa sadar Kenzie sendiri yang menelanjangi dirinya. Chiyome senyum dan mengetahui rasa percaya diri suaminya muncul bersama libido yang yang dibangkitkannya. tanpa menunggu, wanita itu pun menelanjangi dirinya. keduanya kembali bergumul bagai ular yang saling membelit. desah napas bercampur lenguh dan pekik pelan bersahutan memenuhi ruangan yang sempit itu. Kenzie mulai ganas mempermainkan dan menyusu di payudara istrinya. Chiyome menengadah.


dan keduanya mendesis ketika sama menyatukan alat reproduksi mereka kemudian saling memacu dalam setiap hentakan yang menghujam bertalu-talu, seirama dalam desah napas dan lenguhan yang terdengar. berkali-kali mereka mencapai kulminasi bahkan Chiyome merasakan multiorgasme namun Kenzie belum menghentikan permainan. gerakan itu terus berlanjut bersama dengan bunyi kecil ranjang yang menguik. dalam permainan ke lima, barulah Kenzie mengalirkan mata airnya membasahi ceruk danau milik Chiyome. wanita itu mencium dan menggumuli bibir suaminya untuk menambah sensasi kulminasi itu.


keduanya rubuh dalam napas yang saling memburu. Chiyome tersenyum lagi dan menatap Kenzie. "Hubby sangat perkasa..." pujinya dengan lirih.


Kenzie tersenyum. kepercayaan dirinya pulih. Chiyome berhasil mengembalikan kehormatannya sebagai lelaki dan sebagai suami.


"Makasih... Wiffy..." ujarnya lirih.


"Jangan merasa Hubby sendirian... Wiffy selalu ada disisi Hubby..." ujar Chiyome kemudian kembali menikmati dua belah bibir sensual milik suaminya. ia mengecup, mengulum, ******* dengan pelan dan mempermainkan lidahnya disana lalu menatap Kenzie dan tersenyum nakal. wanita itu tak berniat mengeluarkan milik suaminya dalam kepitan dinding liang peranakannya.


Chiyome kembali menyandarkan kepalanya didada bidang suaminya yang naik turun mengatur napasnya.


"Hubby..." panggil Chiyome.


"Uhmmm?" gumam Kenzie.


"Wiffy ingin punya anak lagi..." ujar Chiyome kemudian menengadah menatap Kenzie. "Hubby mau, kan?"


"Tentu... kita akan buat anak lagi." ujar Kenzie.


"Dalam bulan ini?" desis Chiyome dengan senyum nakalnya lagi.


"Deo Volente..." jawab Kenzie.


Kening Chiyome mengerut. itu istilah asing baginya. Kenzie cepat meralat. "Insyaa Allah..."


Kening Chiyome masih tetap mengerut. Kenzie kembali senyum. "Dua kata tadi artinya sama... Jika Allah menghendaki... Insyaa Allah... Deo Volente.."


"Hubby... esok kita kemana lagi?" tanya Chiyome.


namun pertanyaan itu tak mendapatkan tanggapan. Chiyome mengerutkan alis dan kembali menengadah menatap Kenzie. tak lama kemudian ia tersenyum kembali melihat wajah Kenzie yang pulas dalam tidurnya setelah memberikan bakti seorang suami kepada istrinya. Chiyome tersenyum lagi dan menyandarkan kepalanya kembali didada suaminya, masih berbaring menindih suami membiarkan tonggak perkasa sang suami menyusut dalam belitan daging labia minoranya. kedua mata Chiyome yang sipit mengatup dan ia menyusul tidur dalam posisi tersebut.


...******...


Saripah kembali off to duty karena atasannya, Chiyome sedang cuti bersama suaminya. gadis itu memilih kembali beraktifitas di perkebunan orang tuanya yang berhektar-hektar itu. keluarga Saripah memang pekebun yang sukses dan banyak membantu pasokan sayuran segar dipasar Sentral. sebagai sesama pedagang akar rumput, ayahnya Fahrizal Hamid kenal dengan Endrawan yang sukses sebagai pemasok daging segar, meskipun memang tak ada seorangpun dipasar sentral yang tahu bahwa Endrawan termasuk salah satu anggota direksi inti Buana Asparaga.Tbk yang meraksasa bisnisnya itu.


setelah Trias memacari Saripah, kedua lelaki itu jadi lebih akrab. satunya juragan daging dan satunya juragan sayur. klop sudah hubungan mutualisme yang terjalin antar keluarga itu.


sejak bekerja di Buana Asparaga.Tbk sebagai pengawal pribadi Chiyome, Saripah selalu mendapat transaksi via rekening pribadinya, gaji sebesar IDR. 10.000.000.K.- setiap bulannya, meskipun dia dalam posisi off to duty seperti sekarang ini.


Saripah asyik memeriksa tangkai-tangkai tanaman Markisa yang agak layu untuk disiangi. sapaan seseorang menghentikan kegiatannya. suara lelaki yang sangat dikenalnya dan begitu dirindukannya. Saripah menoleh.


Trias berdiri dengan tubuh tegak yang agak tirus. pakaiannya seragam siswa polri tanpa tanda pangkat dan hanya dipasangi badge sulaman logo SPN Batudaa dilengan kirinya dan papan nama sulam pada bagian atas saku kanan seragamnya. senyum terkembang dari bibir pemuda itu. Trias memanggul ranselnya ke belakang.


"Yas..." ujar Saripah pelan dan melangkah mendekati calon bintara tersebut.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Trias.


"Alhamdulillah... kamu sendiri?" balas Saripah dengan hati yang berdebar. ya Allah... mengapa aku tak mampu menahan debaran jantungku... lelaki ini... semakin mempesona....


"Kau sudah bisa memastikannya." jawab Trias mengembangkan tangan. "Tak ada pelukan selamat datang untukku?" pancingnya.


Saripah menghambur dan memeluk pria itu dengan penuh kerinduan, menghirup bau lelaki yang lekat karena bekas keringat yang belum kering dari pakaiannya yang kusam. Trias melepaskan ransel dan balas memeluk Saripah kemudian mencium ubun-ubun gadis itu.


"Aku lama sekali menunggumu..." desah Saripah dengan suara serak.


"Makanya aku datang menyambangimu." jawab Trias. "Aku belum pulang ke rumah lho, langsung kemari."


Saripah tersenyum lalu melepas pelukannya. "Kau sudah selesai pendidikan?" tanya Saripah.


"Belum... aku baru dapat surat penugasan magang ke polsek dungingi. baru saja melapor dan minta ijin melakukan persiapan, sebelum melaksanakan magang pertamaku." ujar Trias.


"Kukira kau sudah lulus dari pendidikan secaba polri." kata Saripah dengan senyum lalu memperbaiki kerah kemeja seragam yang membuka.

__ADS_1


"Sudah nggak sabar ingin dipinang ya?" goda Trias.


"Ya..." jawab Saripah singkat dan tersipu.


"Kamu mau ikut aku nggak?" pancing Trias.


"Kemana?" tanya Saripah setengah berbisik.


"Kita ke resto ya, sebentar malam. nanti aku traktir deh." ujar Trias dengan senyum.


"Oke deh." jawab Saripah.


"Ya sudah... aku pulang dulu ya? ni seragam sudah bau nih." ujar Trias membuat Saripah tertawa.


"Memang..." olok Saripah menutup hidungnya.


...*****...


malam itu Trias berdandan serapi dan seanggun mungkin. kepala plontosnya ditutupinya dengan topi snapback hitam. tubuh kekar yang tirus mirip Bruce Lee itu dibalutnya dengan kaos hitam dan jaket flight hitam juga celana hitam pudar. sepatunya kets hitam saja. pemuda itu mengendarai sepeda motor lamanya, Honda CBR yang dimodifnya dengan gaya klasik itu, melaju dijalanan menuju rumah kediaman Saripah di Moodu.


lelaki itu tiba dan melangkah santai menaiki tangga beranda. "Assalam alaikum...." sapa Trias.


"Wa alaikum salam." terdengar seruan jawaban dari dalam dan muncullah Fahrizal Hamid. ia sejenak kaget melihat pemuda itu.


"Eh? Trias? kapan datangnya?" sambut Fahrizal seraya mengisyaratkan masuk.


"Tadi Om." jawab Trias.


Fahrizal tertawa meralat pertanyaan, "Maksudku, sejak kapan kau tiba? apakah pendidikanmu sudah selesai?"


"Belum Om. saya baru saja mau magang ini." jawab Trias.


"Ayo duduk. kupanggilkan Ipah ya?" kata Fahrizal sembari kedalam sedang Trias duduk disofa beranda itu.


tak lama kemudian muncul Saripah mengenakan hoodie putih bertudung dan celana jins belel. kaki putihnya hanya dibalut oleh sandal cako saja. rambut panjangnya dimahkotai topi bucket.


"Lama nunggunya?" tanya Saripah.


"Nggak. ayo buruan pamit." ajak Trias.


"Sudah tadi, sekalian kubawa namamu. beliau ijinin. ayo." ajak Saripah.


"Ayo..." balas Trias dengan sumringah.


keduanya berboncengan dengan diriang diatas punggung sepeda motor Honda CBR itu. menyusuri jalan S. Botutihe teris membelok ke Panca Wardana menuju selatan hingga menemukan simpangan jalan tak simetris, Trias membelok ke kanan menuju barat menyusuri jalan 23 Januari. Ipilo.



kendaraan itu berhenti di Cafe & Resto Nasu Nasu. Trias memarkir kendaraannya dihalaman yang dipenuhi kerikil itu.


keduanya masuk dan mencari tempat untuk mojok. ada beberapa pemuda yang melihat dan sebagiannya menatap Saripah dengan tatapan mengagumi. hal itu tak luput dari tatapan peripheral Trias yang awas.


mereka menemukan tempat dan duduk disana. Trias tetap memperhatikan para pemuda yang memandangi Saripah dengan tatapan kagum tapi segan terhadap Trias.


"Banyak juga yang liatin kamu ya?" sindir Trias menatap Saripah.


"Oh ya?" goda Saripah kemudian terkikik kecil. Trias mendengus.


"Boleh nggak aku colok mata mereka yang kegenitan satu persatu?" tanya Trias.


Saripah kembali terkikik dan menggeleng dan mengusap-usap lengan pria itu supaya dia menahan diri.


"Mereka kan punya mata. biarkan saja..." kata Saripah, "Anggap saja mereka cuci mata." goda Saripah lagi.


"Cuci saja mata mereka pakai Bayclin!" gerutu Trias.


Saripah lagi-lagi cekikikan. apalagi wajah Trias sangat lucu kalau mengerutu karena cemburu namun menggemaskan. sangat mirip seperti Squidwork.



Saripah membiarkan saja pacarnya memasang ekspresi Squidwork itu. dengan geli, ia memesan hidangan dan memanggil pelayan. setelah itu Saripah tetap mengelus-ngelus lengan Trias, berharap pria itu tak melampiaskan kecemburuannya kepada mereka yang mengagumi.


bisa-bisa terjadi turnamen MMA di tempat ini....[]

__ADS_1


__ADS_2