Lazuardi Cinta

Lazuardi Cinta
LAZUARDI CINTA # 164


__ADS_3

suasana makan siang itu begitu akrab dan mesra. sayangnya Adnan dan Mariana tidak lagi tinggal di Kediaman itu. sejak Bapu Ridhwan meninggal, rumah peninggalan Bapu Ridhwan jatuh ke Mariana, sehingga keduanya memutuskan pindah dan menetap di Suwawa. lagipula Adnan sudah bukan lagi seorang direktur. ia sudah pensiun dan menikmati hari tuanya bersama istri dirumah peninggalan bergaya belanda itu.


"Sejak kapan kamu dapat kemampuan begitu?" pancing Bakri sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


"Nggak tahu ya?" jawab Trias menerawang lalu menatap Bakri. "Kayaknya sejak aku kehilangan Iyun deh."


"Iyun?" tanya Bakri.


Trias kembali menatapnya. "Memang kenapa Kak?"


"Aku nggak tahu, apa kau termasuk diantara tiga jenis indigo ini. Interdimensional, humanis atau kognisi." ujar Bakri kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


semuanya, termasuk Sandiaga, menatap kearah Bakri. lelaki itu menatapi mereka yang memandangnya lalu menganguk- angguk.


"Baiklah, akan kujelaskan." Bakri meletakkan sendok dan garpunya dipiring. ia menatap satu-persatu wajah pemirsa itu.


"Indigo, adalah istilah yang diperuntukkan bagi seseorang yang nggak biasa." ujar Bakri.


"Abi, kata nggak biasa, berarti merujuk ke arti nggak normal dong. apakah Abah nggak normal?" tanya Sandiaga mengurai analisisnya. semuanya tertawa terkecuali Trias yang langsung menatap Sandiaga dengan masam.


Bakri menjelaskan lagi. "Maksudnya nggak biasa disini yaitu memiliki kemampuan unik yang tak dimiliki oleh manusia normal lainnya. mereka adalah orang pemikir bebas dan sangat pandai melihat sebuah kebenaran. anak-anak indigo bahkan jauh lebih cerdas dari usia mereka sebenarnya."


"Termasuk Sandiaga juga." sela Saripah. gadis itu menatap Chiyome. "Ingat nggak proses naiknya dia ke kelas tiga?"


Chiyome langsung cekikikan mengingat peristiwa itu. "Saburo akan kelihatan tua sebelum waktunya." oloknya membuat Sandiaga langsung menatap wajah ibunya dengan masam.


Trias tersenyum, rasakan! kau kena batunya!!!


Bakri tersenyum. "Mungkin saja. apalagi Sandiaga tipe pembangkang keras yang suka melawan arus. atau seperti Trias yang tidak suka hanyut dalam otoritas yang dianggapnya tak ketinggalan jaman..."


Trias terkekeh dan mengangguk-angguk. "Kurasa Kenzie juga seorang indigo. di sangat idealis."


Bakri mengangkat bahu. "Semuanya bisa terjadi."


"Kak, tolong jelaskan apa itu interdimensional, Humanis dan Kognisi." pinta Chiyome.


"Dalam wilayah indigo, seorang yang mampu menjangkau dimensi lain atau berhubungan dengan makhluk lain dimensi maka dia disebut seorang indigo interdimensional. ketika dia punya anugerah menyembuhkan orang lain, maka dia disebut Indigo humanis. jika dia mampu memutar aliran waktu, maka disebut retrokognisi dan apabila mampu melihat masa depan, maka ia seorang indigo prekognisi." jawab Bakri panjang lebar.


semuanya terdiam. Bakri kembali menyuapkan sesendok makanan terakhir kemulut lalu mengunyahnya. Aisyah menatap suaminya. "Apakah Abi punya?"


"Punya apanya? kemampuan indigo? tentu saja awalnya semua adalah anugerah, tergantung bagaimana merawat dan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. tapi, jika mau jujur. aku nggak suka jadi anak indigo. tantangannya berat." jawab Bakri kemudian menatap lagi Trias. "Tingkat depresi orang indigo lima kali lebih berat dibanding orang normal. karena mereka sangat bijaksana seakan mereka merupakan sosok ratusan tahun yang terperangkap dalam tubuh anak-anak atau orang dewasa yang biasa. sehingga orang indigo rentan dengan penyakit Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gejala gangguan pemusatan pikiran dengan gejala tidak fokus, hiperaktof dan impulsif."


Trias menelan ludah. "Ah, aku nggak begitu juga kali." bantahnya. "Aku selalu fokus belajar, yah... walau nggak bisa dibilang pintar di sekolah. aku nggak kekanak-kanakan..."


"Siapa bilang?" sela Saripah mengolok.


Trias menatap tajam calon istrinya sedang Saripah hanya menahan senyum dengan susah payah. Trias kembali mengemukakan pendapatnya.


"Aku nggak agresif. aku orang yang instruktif, dan sosial!" tandasnya lagi.


"Aku juga dong." tambah Sandiaga membuat lainnya tertawa. Bakri tersenyum.


"Iya deh... anaknya Abi bukan indigo ya?" ujar Bakri membuat Sandiaga mengangguk-angguk senang. Trias mendengus.


"Ayo lanjutkan makannya. ahhh... lama-lama nafsu makanku hilang gara-gara masalah indigo ini." omel Trias kembali makan dan membuat Chiyome, Saripah dan Aisyah makin susah payah menahan tawa.


sebab, meskipun mengatakan nyaris hilang selera makan, Trias justru makin banyak menambahkan nasi dan lauk kedalam piringnya lalu makan lagi dengan santai. hal itu tak luput dari perhatian Sandiaga.


"Abah lebay..." olok Sandiaga. "Mengaku kehilangan selera makan tapi nambah makanannya kayak gorila saja."


Bakri tersedak sedang ketiga wanita itu sontak meledakkan tawanya. Trias tenang-tenang saja dan tak perduli. baginya, mengisi nutrisi lebih penting ketimbang menanggapi banyolan calon menantunya yang masih kecil itu.


tak lama kemudian terdengar suara deruman kendaraan. Sandiaga langsung turun dari kursi.

__ADS_1


"Itu Papa!!!" serunya berlari keluar.


Kenzie baru saja menutup pintu Mc Laren Pirelli kuningnya ketika Sandiaga muncul diberanda dan langsung turun menyambutnya.


"Papa!!!!" serunya meloncat kearah Kenzie sambil mengembangkan tangan.


refleks Kenzie melepaskan tas kerjanya dan langsung mengembangkan tangan menangkap tubuh kecil putranya itu. Sandiaga melekat erat dalam pelukan Kenzie.


"Aaahhh.... pendekar kecilku, apa kabarmu? kenapa dihalaman kita banyak berparkiran kendaraan ya?" tanya Kenzie.


"Abah sama Tante Ipah datang. sekarang lagi makan siang sama Abi, Umi dan Mama." jawab Sandiaga.


"Oh ya? kalau begitu kita harus bergegas supaya tak ketinggalan momennya." ujar Kenzie sambil memungut kembali tas kerjanya yang jatuh dan melangkah memasuki rumah dengan memeluk Sandiaga.


dua lelaki itu melintasi dua ruangan dan tiba disana. "Hei, semoga aku belum terlambat." ujar Kenzie.


Chiyome bangkit dan menyendokkan makanan kedalam piring dan meletakkan disisi meja yang biasa ditempati Kenzie.


"Saburo. turunlah dari tubuh ayahmu!" perintah Chiyome.


Sandiaga langsung turun dan menarik tangan ayahnya menuju tempatnya. Kenzie duduk dan mulai mencomoti beberapa lauk dan sayur kedalam piringnya.


"Sudah lama?" tanya Kenzie.


"Baru juga setengah jam." jawab Trias. "Kamu terlalu sibuk sekarang."


"Resiko seorang pekerja." jawab Kenzie mulai menyuapi makanan kemulutnya. Chiyome duduk disisi Kenzie dan tersenyum.


"Bagaimana pekerjaannya? lancar?" tanya Chiyome dengan lembut.


"Lancar sih, lancar... tapi aku kesal." jawab Kenzie kemudian menatap Bakri. "Kakak kenal Romin Bulotio dari Atmajaya, Tbk?"


"Kenapa? dia berulah lagi?" tebak Bakri.


"Brengsek benar! dia menuntut semua proyek kota harus ditangani oleh Atmajaya. proyek revitalisasi jalan trans sulawesi Tombulilato sampai batas gerbang Bolaang Mongondow Selatan, yang sementara dikerjakan PT. Gelora Indah juga dimintanya..." ujar Kenzie meledak-ledak. "Aku nggak tahu lagi, seberapa langgamu orangnya itu."


"Romin Bulotio.... Romin... Bulotio..." gumam Trias mengingat- ngingat. kemudian dia menatap Kenzie dengan alis berkerut. "Lho? bukannya dia sepupu jauhnya Kak Aisyah? Papanya kan nikah dengan sepupunya Tante Fitri yang bermarga Balu, kan?" tebak Trias.


Aisyah hanya bisa mengangkat bahu. "Karakter setiap orang itu nggak sama, Yas... saya saja yang sekandung dengan Kenzie, juga beda sifat. Chiyome yang serahim dengan saya juga berbeda sifat."


Trias mengurut dagunya. "Benar juga ya."


Bakri menghela napas. "Sudahlah... nanti kita pikirkan itu sebentar. aku nggak mau suasana makan siang yang akrab ini menjadi canggung gara-gara memikirkan orang yang tak punya kepentingan dengan kita."


"Tul!!!" seru Kenzie menunjuk Bakri lalu mengangkat tangannya kearah Trias.


PLAK!!!


Trias menyambut memberi toss gaya mereka kepada Kenzie dan mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka.


"Oh ya... bagaimana prosesnya? kudengar dari Om Endi, perhelatannya tinggal dua minggu lagi, kan?" ujar Kenzie sambil memasukkan makanan ke mulutnya.


"Ya... dan kuharap, kalian semua wajib hadir!" balas Trias memelototkan matanya kepada semua yang hadir disana.


Kenzie tertawa. "Pasti... " lelaki itu kemudian menatapi Chiyome. "Masih kau simpan, pakaian pengantin kita sewaktu di Tokyo, Wiffy?"


"Kita akan pakai itu?" tanya Chiyome dengan wajah cwrah dan senyum sumringah.


"Tentu dong, hitung-hitung reunian lagi. kapan lagi mau pakai pakaian itu lagi kalau bukan ke pesta pernikahan?" kata Kenzie sambil mencubit gemas hidung Chiyome.


"Aughsss..." pekik wanita itu dengan lirih lalu tersenyum dan memukul pundak suaminya dengan manja.


"Ahhh.... kalian berdua keterlaluan." ujar Aisyah. "Kenapa tak memakainya pada upacara pernikahan kami?" tuntut jilbaber itu dengan sikap merajuk.

__ADS_1


"Sori, Kakakku yang cantik... tadi juga baru kepikiran... soalnya aku teringat akan pernikahannya Trias sama..." Kenzie menahan kalimat yang nyaris terloncat dari mulutnya dan menatap Trias serta Saripah dengan senyum hambar rasa bersalah. "Sori, Yas...."


Trias menatap Saripah lalu keduanya tersenyum. "Nggak apa-apa kok Ken. santai saja." kata Saripah. "Aku nggak cemburu kok."


Kenzie menggigit bibir atasnya sejenak lalu tersenyum datar saja. "Terima kasih.... maafkan aku."


Sandiaga menatap ayahnya dan Trias bergantian. "Papa kenapa? pernah punya salah sama Abah ya?"


Kenzie menatap Sandiaga dan matanya mulai berkaca-kaca. lelaki itu teringat lagi peristiwa tewasnya Iyun dijalanan Batuda'a. sejenak ia meringis lalu menatap Trias, Saripah dan Chiyome.


"Aduhhh... kenapa kok ada debu masuk ke mataku ya? padahal ruangan ini bersih, kan?" ujarnya dengan senyum namun seperti hendak menangis dan suaranya gemetar.


Chiyome tanggap langsung menyapu pundak suaminya, memberi penguatan moril kepada lelaki bercambang halus itu. Trias sendiri kemudian tersenyum haru dan menarik tisu kertas dari kotak dan memberikannya kepada Kenzie. tanggap lelaki itu meraih tisu kertas itu dan berupaya menyusuti air matanya yang menggenang. namun tidak berhasil. airmata itu terus mengalir.


"Aduh, Wiffy... kayaknya mata Hubby iritasi nih... airmatanya nggak kunjung berhenti..." ujar Kenzie menghadap kepada Chiyome dan tanggap wanita itu langsung memeluknya. tubuh Kenzie bergetar keras dan ia menangis tanpa suara agar Sandiaga tidak terlalu curiga. anak itu sangat pandai menemukan kebohongan.


Trias bangkit dan melangkah menuju Kenzie lalu menyapu pundaknya. "Ken... kamu nggak salah... kamu hanya terlambat tiba ditempat itu..." hibur lelaki tersebut. "Kurasa semuanya sudah digariskan oleh Allah... sekuat apapun kau menarik gas kendaraanmu... kau kalah cepat dari malaikat Izrail... itu takdir Ken..."


Saripah sendiri juga sudah ikut terisak. begitu juga dengan Aisyah. hanya Chiyome dan Bakri saja yang berupaya tegar meski mata kedua-duanya telah merah dan menggenangkan airmata yang pantang diluncurkan.


Sandiaga mengulurkan tangan menyentuh punggung ayahnya. "Papa.... apa aku membuat Papa dan Abah sedih?... aku minta maaf Papa... aku janji tak akan membuat Ayah sedih lagi."


Kenzie melepaskan pelukan Chiyome dan segera menyusut airmatanya lalu berbalik menatap Sandiaga. "Siapa bilang Papa sedih?" ujar Kenzie berkelit. "Papa tadi bilang, mata Papa kemasukan debu, jadinya iritasi..."


"Aahhh.... Papa bohong!" bantah Sandiaga. "Sudah jelas, Papa nangis, pake acara peluk segala... minta ditenangin sama Mama, sama Abah... ih Papa lebay... kayak anak-anak."


"Te huma'apa tiii... Papa nggak nangis! siapa bilang Papa nangis heh?! siapa bilang?!" ujar Kenzie dengan memelototkan matanya menantang Sandiaga.


"Itu mata Papa merah seperti tendelenga...masih mungkir! jujur saja Papa. aku nggak gampang dibohongi. kemarin saja kalian berdua main dokter-dokteran di dojo, keterlaluan sekali.." omel Sandiaga.


sontak Kenzie langsung membekap mulut anak itu membuay Sandiaga gelagapan berupaya melepaskan diri sedang Chiyome langsung jengah dan tertawa canggung sementara Aisyah dan Bakri susah payah menahan tertawa.


Trias mengerutkan keningnya. "Main dokter-dokteran? di dojo? maksudnya apa?" selidiknya pada Chiyome.


"Nggak! nggak apa-apa! nggak usah dengarkan celotehan anak kecil." ujar Chiyome tanpa sadar menggaruk kepalanya.


"Ih... masa Si Abah nggak ngerti? itu lhoooo..." jawab Saripah memberi isyarat dengan jari tangan kanan membentuk lingkaran dan telunjuk kirinya menuju ke lingkaran itu.


Mata Trias melebar dan langsung menatap Kenzie yang masih sementara berjuang membekap mulut putranya yang melakukan perlawanan keras.


"Serius kamu?! di dojo?!" seru Trias tak percaya. "Astaga, Ken... mbok ya ngelakuin begituan jangan ditempat umum. nafsumu itu sudah kayak kuda liar saja. yang penting birahi naik saja, langsung mbat saja. kamu sudah mengotori pandangan suci calon mantuku ini!!!" seru Trias dengan gusar.


Kenzie menatap Sandiaga. "Dasar anak nggak bisa pegang rahasia!" umpat Kenzie.


"Eeeitttt.... Ken!!!" tegur Aisyah dengan garang. "Berani kamu marahi dia disini, kupisahkan kalian berdua darinya!" ancam jilbaber tersebut. "Aku sumpah akan membawa Sandiaga ke Suwawa tinggal dengan kakek-neneknya, atau aku dan Bakri akan membawanya ke Poso dan kami akan tinggal disa a selamanya! pilih!"


Kenzie terhenyak. "Kak, kok kesitu urusannya? ini masalahku sama anak terlalu pintar ini, bukan sama kalian."


"Hei, Ken. Sandiaga sudah kuanggap anakku sendiri! jangan berani kau turunkan tangan jahat padanya! awas!" kata Aisyah menudingkan telunjuknya ke wajah Kenzie.


"Iya, iya... kami janji." kata Chiyome mengalah dan menyuruh Kenzie melepaskan bekapannya.


sandiaga tersenyum penuh kemenangan. ia mengangkat telunjuknya keatas. "Hah!!! Papa... kamu nggak akan bisa menyentuhku sekarang. aku punya kartu AS kalian."


"Dasar anak Ya..." umpat Kenzie.


JLEB!!!


semuanya kaget dan menatap kearah meja. disana tertancap garpu yang sengaja dihujamkan Chiyome. wanita itu menatap Kenzie dengan tajam lalu menampakkan senyum datar.


"Coba ucapkan lagi, Hubby.... anak yakuza, kan?" ujar Chiyome dengan pelan namun tatapannya memancarkan aura membunuh.


Kenzie langsung menampakkan senyum paling lebar, memamerkan barisan giginya yang rapi bagai biji ketimun. wajahnya pias dan memucat.

__ADS_1


"Nggak... maksudku... anak yang kusayang..." kilahnya sambil menyapu-nyapu punggung Sandiaga dengan mesra.


anak itu tersenyum senang, sedang Trias, Saripah, Aisyah dan Bakri susah payah menahan tawanya melihat Kenzie ketakutan ditatapi segitu rupa oleh istrinya.[]


__ADS_2