
Kediaman Lasantu, pukul 23.45 WITA.
Kenzie mondar-mandir diruangan keluarga. sementara Chiyome hanya bisa membelai Sandiaga yang tertidur dipangkuannya. wanita itu menatap wajah Sandiaga yang tertidur tenang. ia tersenyum getir.
ahhh nak... begitu tenang lelapmu... sementara Abi dan Umimu sekarang entah bagaimana keadaan mereka...
Chiyome mengangkat wajah kembali menatap Kenzie yang hanya diam berdiri, sesekali ia melirik kearah Chiyome dan putranya lalu kembali melangkah pelan mondar-mandir diruangan tersebut.
"Hubby..." panggil Chiyome.
Kenzie berhenti melangkah dan menatap istrinya. tepat sedetik kemudian terdengar ketukan di pintu depan, terdengar keras tak beraturan. Kenzie menoleh dan melangkah cepat menuju ke ruang tamu. ia kemudian membuka pintu.
begitu pintu membuka, menyeruaklah Adnan langsung mendorong Kenzie hingga terjajar beberapa langkah ke belakang. menyusul Mariana muncul pula.
"Ken, bilang sama Papa, ada apa?!" tanya Adnan dengan suara baritonnya yang khas itu.
Kenzie menjadi gugup membuat Adnan bertambah curiga. dengan kesal lelaki itu mencengkeram pundak putranya. "Katakan padaku, dimana Ais sama Bakri?"
"Papa... Mama..." sahut Chiyome yang telah berada diruang tamu itu. Adnan menoleh menatap menantunya.
"Adek? mana Kakak?" tanya Adnan.
mendadak, Chiyome langsung menghambur memeluk Mariana dan terisak disana. Mariana makin merasa dadanya berdegup kencang. jika wanita sekuat Chiyome saja menangis, berarti ada sesuatu yang gawat sedang terjadi. Mariana memeluk Chiyome lalu menatap Kenzie.
"Ken, bilang... ada apa?" tanya Mariana mendesak.
Kenzie komat-kamit tak tahu harus berkata apa. dengan menggeram Adnan maju kembali mencengkeram kerah putranya.
"Ken!!!" hardik Adnan.
tiba-tiba terdengar tangisan memilukan. keempatnya kaget. Chiyome langsung tanggap. ia melepaskan pelukan dari Mariana dan berlari ke ruang keluarga. disana Sandiaga terbangun dan menangis dengan keras.
"Saburo... kenapa?" tanya Chiyome dengan lirih dan berupaya menenangkan putranya.
"Mama.... bawa pulang Abi dan Umi, Maa... kasihan mereka..." sedu Sandiaga.
tak lama Adnan dan Mariana muncul diikuti Kenzie dari belakang. lelaki bertubuh kekar itu melangkah mendekato Chiyome dan duduk berlutut dibelakang menantunya.
"Sandi kenapa? kok nangis?" tanya Adnan dengan lembut.
Sandiaga menangis menatap Adnan, "Bapu... bawa pulang Abi dan Umi... kasihan mereka..." sedu Sandiaga lagi.
"Kenapa dengan Abi dan Umi, sayang?" tanya Chiyome dengan lirih dan tercekat.
Sandiaga menangis lagi, "Sandi melihat.... sosok hitam, ia menyiksa Umi, merobek pakaian Umi dan membuat Umi kesakitan... Abi sementara terikat tak berdaya..." sedu Sandiaga.
seluruh anggota keluarga Lasantu terkesiap dengan penuturan Sandiaga. Chiyome langsung pias. jangan-jangan...
"Ken, hubungi Trias!" pinta Adnan.
"Trias juga sementara mencari, Pa... sejak sore dia sudah bergerak." jawab Kenzie.
"Kenapa nanti sore kalian bergerak?! kalian tidak dengar penuturan mimpi anak itu?!" omel Adnan dengan suara keras.
"Kami saja sudah curiga sejak siang tadi ketika mereka tak menjemput pulang Sandiaga dari sekolah." jawab Kenzie tak kalah keras. "Dan tak biasanya, kedua ponsel mereka nggak aktif dalam waktu yang bersamaan... ada apa ini?!"
Adnan menggeram. lelaki itu meraih ponsel dalam sakunya. lelaki itu menghubungi Endi. dirumahnya, Endi yang asyik tidur kaget mendengar deringan dari gawainya. memang lelaki itu tak pernah merubah mode volumenya. modenya tetap saja deringan. sambil mengucek-ngucek mata, lelaki itu menatap layar gawainya.
Adnan? nggak biasanya dia nelpon jam begini...
Endi menguap lebar lalu mengaktifkan panggilan.
📱"Halo, Bro..." sapa Endi dengan suara lesu.
📱"Sori Bro, mengganggu tidurmu..." ujar Adnan.
📱"Santai jo Bro... ada apa?" tanya Endi. suaranya sudah normal kembali.
📱"Ais sama Bakri diculik! kerahkan anak buahmu untuk mencarinya." pinta Adnan.
Endi langsung terbangun dari tidurnya.
📱"APA? AIS DICULIK?! JANGAN NGEPRANK KAMU, NAN!!!" seru Endi dengan keras.
📱"INI SUNGGUHAN! AKU MINTA KAU SEGERA BERTINDAK!" balas Adnan.
__ADS_1
📱"Tenang Bro. aku keluar sekarang." ujar Endi.
Adnan mengangguk.
📱"Aku tunggu beritamu." kata Adnan kemudian menutup pembicaraan seluler. lelaki itu menatap Kenzie.
"Kau ikut aku!" ujarnya lalu menatap Chiyome. "Adek, jaga Sandi sama Mama!"
"Iya, Pa." jawab Chiyome.
Adnan mengangguk lalu mengajak Kenzie keluar saat itu juga. jam telah menunjukkan pukul 00.36 WITA.
...******...
Aisyah tersadar dari pingsannya. pemerkosaan yang berulang-ulang itu benar-benar menguras tenaganya. Aisyah mematikan nafsunya dan sebagai gantinya, alat genitalnya memberikan reaksi mendingin sehingga menderita lecet ketika terjadi penetrasi alat kejantanan Stefan ketika menjebol liang persenggamaannya. Aisyah merasa perih dibagian garba peranakannya.
dengan memijiti bagian bawah perutnya, Aisyah merayap turun dari balai-balai bambu itu. dan berjalan dengan sesekali mengaduh akibat nyeri yang sangat pada area pribadinya, Aisyah berjalan terbungkuk-bungkuk, menyeret langkahnya yang sempoyongan keluar dari ruangan tersebut.
ia mengamati ruangan yang lapang dipenuhi tumpukan kotak-kotak kayu dan kardus. lalu kembali menyeret langkahnya dengan sesekali meringis kesakitan dan terisak karena tak sanggup menahan sakit dari lorong ******** yang perih akibat hujaman yang kasar dari si pemerkosa itu.
Aisyah kembali mengamati ruangan yang gelap meski tak gulita karena sebagiannya diterangi nyala lampu dari luar yang merembes masuk dan menerangi sebagian ruangan yang dikenainya. ia menemukan sesosok tubuh yang meringkuk dalam posisi terikat dikursi. jilbaber itu mendekatinya. ketika mendekat, matanya membelalak.
"Bakri!!!" serunya.
Bakri tersadar dari tidur ayamnya. lelaki itu mendongak.
"Ais!!" serunya pula.
Aisyah menghambur dan memeluk Bakri lalu terisak lagi. Bakri mendesah.
"Sudahlah Ais. aku mengerti. kamu nggak salah... bajingan itu yang salah." ujar Bakri dengan lemah.
"Maafkan aku..." sedu Aisyah.
"Sudah... jangan menangis lagi." pinta Bakri. "Kita harus segera keluar dari tempat ini. lepaskan ikatan yang membelitku!"
Aisyah bergegas membuka belitan-belitan lakban yang digunakan untuk mengikat Bakri ke kursi. dengan sekuat tenaga, Aisyah merobek-robek lakban.
akhirnya Bakri berhasil melepaskan diri dari ikatan itu. ia bangkit dan mengurut pergelangan tangannya yang keram. Bakri menatap Aisyah yang masih duduk bersimpuh menahan rasa perih pada area sensitifnya.
"Mari kita keluar..." ujar Bakri kemudian memapah tubuh Aisyah.
tenaga orang yang berupaya lolos dari maut memang bertambah dua kali lipat. Bakri berhasil membuat pintu itu membuka sedikit. lelaki itu kemudian mendatangi Aisyah dan kembali memapahnya.
keduanya keluar bergiliran melewati pintu itu dan mendapati sebuah halaman luas penuh semak tinggi. pepohonan ganggang nampak bertebaran disana menandakan bangunan itu berada dekat pantai. suasana diluar gelap gulita dan hanya ditemani nyala artifisial bias lampu tenaga surya yang terdapat di sekitaran area gedung besar itu.
keduanya kembali melangkah dan saling menguatkan. terdengar kokok ayam bersahut-sahutan. keduanya tetap mengayunkan langkah hingga akhirnya menemukan mobil milik Chiyome yang mereka pakai.
namun langkah mereka terhenti ketika pintu mobil terbuka dan keluarlah Stefan dari sana. ia menyeringai.
"Kalian berdua mau kemana?" Stefan dengan gaya mengejek.
Bakri memicingkan mata. ia melepas pelukannya pada Aisyah dan melangkah ke depan memperisai istrinya.
"Kau sengaja menunggu disini untuk menangkap kami lagi?" tebak Bakri dengan berdiri tegap bersikap siaga.
"Tepat sekali... kau cerdas juga ya?" puji Stefan tapi dengan gaya yang mengejek.
"Kali ini, keinginanmu nggak akan tercapai." ujar Bakri.
"Ayolah Bakri... nggak usah sensi begitu..." kata Stefan sambil bercakak pinggang. "Aku hanya ingin berterima kasih padamu, kau sudah membiarkan aku menyebadaninya." ujar lelaki itu mengangguk ke arah Aisyah yang berdiri gemetaran. "Wahhh... Bakri... aku nggak menyangka bisa menggilirnya tiga kali berturut-turut!"
"Stefan!!! cukup mulut kotormu bicara." hardik Bakri. lelaki itu memasang postur bersiap menyerang. kedua kakinya terpancang tegak, satunya didepan dan tangan kanannya terarah kedepan dengan jemari yang terpentang lebar sedang tangan kiri menyilang antara wajah dan leher juga dengan jari mementang lebar.
Stefan tertawa. "Aku bukan Stefan yang dulu, Bakri." ejeknya kemudian memasang postur bertinju. "Baiklah, akan kuperlihatkan kepada istri kita berdua, aku lebih perkasa daripada kau."
Bakri menoleh menatap Aisyah. "Menyingkirlah Ais... carilah pertolongan." ujarnya dengan lirih.
...*****...
dua orang lelaki duduk disebuah warung yang menyediakan minuman keras. beberapa botol pinaracci berdiri tegak dengan isi yang kosong. keduanya baru saja menegak gelas terakhirnya.
"Aaahhh... sialan, masa kita cuma dibayar begitu oleh congok bule itu?!" gerutu lelaki berambut ikal.
"Ahhh... kau benar... semestinya... sebelum..." lelaki berkepala lonjong itu sejenak bersendawa lalu meneruskan bicaranya. "Sebelum kita bawa ke dia... kita kan... bisa ... pakai .... perempuan... itu... hik.."
__ADS_1
"Iya.. dia... cantik juga... ya?!" puji si rambut ikal yang mulai sempoyongan.
"Kamu tahu nggak?... jilbaber hamil itu?... montok lho..." ujar dikepala lonjong dengan mata yang setengah tertutup. "Waktu aku mengikatnya ditiang.... nggak sengaja tersenggol... ***********... montok man... aku remas saja sekalian... heh, asssoyyy..."
keduanya tertawa dan kembali menegak sisa minuman. tanpa mereka sadari, sepasang mata memperhatikan keduanya. ia kemudian menulis sesuatu pada layar ponselnya dan mengirimkan pesan tersebut. setelah itu ia kembali memperhatikan kedua lelaki itu.
...*****...
Trias memperhatikan layar ponsel. ia membuang napas. Aldi yang menatapnya kemudian bertanya. "Kenapa?"
"Stephen menemukan orang mencurigakan di warteg bagian selatan kota. kita kesana untuk memastikan." ujar Trias langsung menekan pedal gas.
Maung hitam miliknya langsung melaju menyusuri jalanan protokol menuju selatan dan membelok ke komplek pertokoan di kampung cina, Biawao. Mobil itu berhenti beberapa jarak dari warteg yang diisyaratkan oleh Stephen. opsir itu masih berada didalam memperhatikan dua orang yang sudah mabuk berat.
Trias dan Aldi turun dari mobil dan melangkah cepat memasuki warteg tersebut. dipintu ia mengedarkan pandang dan menemukan Stephen dipojokan memberi isyarat ke dua lelaki berambut ikal dan satunya berkepala lonjong yang sudah tertidur karena mabuk berat.
Trias mengangguk. Stephen bangkit melangkah mendekayi dua orang itu, begitu juga dengan Aldi. dengan serentak kedua opsir itu mencengkeram kerah pakaian kedua preman itu dari belakang dan menyeretnya keluar.
kedua orang itu tak bisa melakukan pembelaan diri karena terlanjur mabuk berat. mereka pasrah digelandang oleh Stephen dan Aldi kedalam Maung hitam milik Trias.
"Kita akan mengorek keterangan mereka disuatu tempat.
...*****...
sementara Adnan dan Kenzie berada dirumah Endi. ketiga lelaki itu berdiri dengan gelisah. Endi mengurut dagunya sejenak lalu menatap Kenzie.
"Ken, sudah cari tahu sama Trias, belum?" tanya Endi.
sigap Kenzie langsung meraih gawai dalam sakunya dan menghubungi Trias.
📱"Halo, Yas? gimana?" tanya Kenzie dengan tak sabar.
📱"Sementara dalam penyelidikan Ken. kami mencurigai dua orang yang sekarang kami sekap dalam mobil. kami mau menginterogasinya di suatu tempat." jawab Trias.
📱"Bawa kerumah!" ujar Kenzie.
📱"Ke rumah kamu?" tanya Trias.
📱"Ya ke rumah kamu lah." ujar Kenzie.
📱"Gila kamu! Ipah bisa keguguran melihat aku membawa dua orang mabuk untuk dipermak!" sembur Trias.
📱"Bukan ke rumah itu, tapi disini, dirumahmu... dirumah Om Endi!" ujar Kenzie meralat permintaannya barusan.
📱"Oooo kesana? bilang dong!" omel Trias. "Oke, kaki ke sana sekarang!"
...******...
BYURRRR.... MUAHHH...
dua orang itu kaget mendapat semburan air yang dinginnya bagai es. Trias memang sengaja mencampur air seember itu dengan pecahan es dan membiarkannya melarut. setelahnya ia menumpahkan air seember itu dikepala dua orang yang terikat ketat dihalaman belakang rumahnya.
dua orang itu gelagapan bangun dan menyadari tubuh mereka terikat dibatang pohon pisang. dihadapan mereka berdiri beberapa orang. Trias sengaja menjauh dan meminya teman-temannya tidak ikut campur.
Adnan maju mencengkeram kerah pakaian si rambut ikal sementara Endrawan mencengkeram kerah pakaian si kepala lonjong.
"Katakan dengan jujur agar aku nggak melesakkan tinjuku ke wajah brengsek kalian ini!" ancam Adnan mengangkat tinjunya yang kepalannya besar.
dua orang itu mengangguk-angguk ketakutan. wajah Adnan dan Endi memang tersamar dalam gulita malam sehingga tak bisa dikenali oleh dua lelaki tersebut.
Adnan mengeluarkan ponselnya dan membuka gambar Aisyah lalu memperlihatkannya kepada dua orang itu.
"Kalian kenal perempuan ini?!" tanya Adnan.
dua orang itu terkesiap dan saling berpandangan satu sama lain. Trias bisa menduga bahwa mereka mengenal Aisyah. Adnan memperketat cengkramannya.
"Katakan!!!" desak Adnan.
kedua orang itu serentak menggeleng. Endi mendengus dan langsung melesakkan pukulan bertubi-tubi ke perut si kepala lonjong tanpa ampun. lelaki berkepala lonjong itu termuntah-muntah menahan kesakitan.
"Mereka tahu dimana keberadaan Aisyah!" ujar Endi dengan geram. "Mereka takut mengatakannya."
Adnan mengangguk. "Baik... kalau begitu jangan salahkan kami!" ujar Adnan mengeluarkan sebuah toolkit dan mengambil sebuah pisau lipat dari sana. ia menempelkan benda itu dijakun si rambut ikal.
"Sebaiknya jujurlah... aku tak segan menggorok lehermu jika kau tak mengatakan dimana keberadaan putriku, sekarang!" ancam Adnan menekan bilah tajam pisau lipat itu hingga mengiris daging si rambut ikal.
__ADS_1
si rambut ikal meringis kesakitan dan akhirnya mengangguk. Adnan melonggarkan tekanannya. si rambut ikal akhirnya bicara.
"Kami berdua mengantar mereka ke sebuah gudang tak terpakai dikawasan tanjung keramat." jawab si rambut ikal pada akhirnya. []